
Vano membawa Andara pulang dalam diam. Tidak ada pembicaraan apapun selama perjalanan. Semua larut dalam pikiran masing-masing.
Kenzo sialan!! Bagaimana dia bisa bertemu Dara? Apa aja yang udah dikatakannya pada Dara? Sejauh apa hubungan mereka? Dasar Kenzo brengsek!! Aku sungguh belum siap mengatakannya pada Dara. Vano mengumpat Kenzo dalam hati. Amarah masih menguasai tubuhnya. Ia mencengkeram kemudi dengan kuat.
Andara yang sedari tadi diam-diam memperhatikan perubahan raut muka Vano merasa sangat kebingungan. Ia ingin menuntut kejelasan pada Vano tentang peristiwa hari ini, namun ia mengurungkan niatnya, melihat wajah Vano yang masih diliputi ketegangan.
**
"Aku ganti baju dulu." Andara langsung menuju kamarnya di lantai dua, sesaat mereka sampai di rumah Andara.
"Hmm.." Vano mengangguk dan langsung merebahkan dirinya di kursi ruang tamu.
Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Berharap bisa mengusir bayangan gelap yang seketika menyeruak keluar di pikirannya. Ia mendesah kasar. Lelah, tubuh dan pikirannya sangat lelah. Hingga tak sadar tiba-tiba ia tertidur.
Andara yang sudah berganti baju, menuruni tangga dan melihat Vano dari kejauhan. Ia berjalan mendekat, mengamati wajah lelah dan kesakitan di depannya.
Ada apa denganmu sayang? Apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa yang tidak bisa kamu ceritakan dengan jujur padaku? Kapan kamu siap mengatakannya? Apa begitu berat hingga kamu menundanya lebih lama? Batin Andara lirih.
Tidak tega membangunkan Vano, Andara pun berniat untuk kembali ke kamar. Namun ia merasa harus meredakan amarah Vano dulu jika nantinya Vano sudah bangun. Baiklah, aku mau masak aja, sapa tau dia tergoda masakanku terus cerita deh. Andara pun berjalan menuju dapur.
**
"Hai Bun. Uda mau take off ya?" Andara menjawab panggilan video dari Bunda Rania ketika ia sedang menggoreng ikan.
"Iya Dara, bentar lagi take off. Kamu lagi apa? Gimana hari ini di sekolah?" Tanya Bunda Rania.
Sesaat Andara ingin menceritakan kejadian yang tadi siang dia alami di sekolah. Tapi diurungkannya. Dia merasa belum jelas dengan kondisi yang ada. Jadi dia memutuskan untuk merahasiakan dulu dari Bunda Rania.
"Ini lagi masak Bun, buat makan malam."
"Makan malem sama siapa?" Bunda pura-pura polos.
"Ya sama Vano lah. Sama Karla dan Amel juga. Bentar lagi mereka ke sini."
"Coba Bunda liat, kamu masak apa? Ati-ati kalau masak, jangan sampai ngeracunin mereka lho." Bunda tertawa menggoda.
"Iiih enak aja, Dara ini anaknya juragan katering, jadi masak mah kecil," Andara pamer, sambil menjentikkan jari kelingkingnya. Terdengar suara Bunda Rania terkekeh di seberang telepon.
"Tuh liat, ikannya lagi berendam, tinggal nunggu sampai berubah jadi golden brown. Gini mah gampang, sambil tidur juga bisa." Andara menyombongkan diri.
__ADS_1
"DARA!!" Bunda Rania berteriak ketika layar telepon selulernya menampilkan gambar ikan di penggorengan.
"Kenapa? Ada apa Bun? Apa yang salah?" Andara kebingungan melihat reaksi Bunda Rania.
"Kalau masak ikan tuh, kepala ikannya jangan berhadapan gitu dong." Bunda Rania menjelaskan.
"Lha, emang kenapa Bun? Biasanya Bunda juga gini."
"Gak lah, Bunda ga pernah gitu goreng ikannya. Cepet ubah posisinya. Dijajar selang-seling gt, kalau habis kepala berarti ikan disebelahnya ekornya." Bunda memerintahkan dengan tegas.
"Emang kenapa sih Bun, gini aja lah."
"Ini anak, dikasih tahu orang tua gt banget. Itu ntar ikannya gak mateng-mateng, lama banget matengnya."
"Hah? Masa sih Bun? Kok bisa sih?" Andara mulai kebingungan.
"Ya bisa lah, ntar mereka kebanyakan ngobrol, gak mateng-mateng deh ikannya."
Andara menepuk jidatnya keras. Terdengar tawa riuh Bunda Rania dan Ayah Josh dari ponselnya.
"Ya udah deh Bun, biarin aja mereka ngobrol, mereka juga kan makhluk sosial. Bunda ati-ati ya, Dara mau masak lagi"
**
Tak lama setelah Andara menyelesaikan masakannya, Amel dan Karla datang dan langsung menuju dapur membantu menyiapkan makan malam.
Saat masuk rumah Andara tadi, mereka melihat Vano yang tertidur di sofa ruang tamu. Karla yang sudah sangat penasaran langsung menyerbu Andara dengan banyak pertanyaan.
"Ceritain, ada apa sebenarnya? Kenzo sama Vano uda kenal? Kenal di mana? Kenzo anak mana sih? Mereka kayak musuh bebuyutan ya, kenapa bisa gt? " Bisik Karla karena khawatir terdengar oleh Vano.
"Aku belum tahu ceritanya Kar, dia langsung tidur begitu sampai."
"Sumpah, saking takutnya ngeliat kejadian tadi, rasanya aku bisa makan semua ini." Amel menimpali sambil menunjuk makan malam yang sudah disediakan Andara.
"Dasar gentong!!" Sahut Andara dan Karla bersamaan.
"Hmm.. "
Tiba-tiba mereka terdiam, mendengar suara Vano. Mereka menyaksikan Vano yang tiba-tiba bangun dan berjalan keluar rumah sambil menelepon.
__ADS_1
"Siapa itu? Kenzo? Dia dari tadi gak beneran tidur ya? Duh denger semua omongan kita dong?" Amel bersuara.
Andara menyusul Vano, berjalan ke depan rumah meninggalkan sahabatnya. Andara mencari keberadaan Vano. Akhirnya ia melihat Vano menerima panggilan di samping mobilnya. Andara pun mendekat.
"Iya aku tau, besok kita bicara di kafe biasa" Suara Vano menjawab pertanyaan dari penelepon. Kepalanya menunduk.
"..."
"Iya.. Dia tadi ke sekolah. Dia kenal Dara."
"..."
"Entahlah.. Besok aku menjemputmu dulu. Dara? Gak besok aku sendiri aja."
Andara semakin bingung mendengar namanya disebut. Tidak begitu lama Vano menyudahi panggilannya dan berbalik badan. Ia terkejut melihat Andara yang sudah ada di belakangnya. Andara diam, menatap Vano tajam.
"Hai cantik, sudah lama di situ?" Ujar Vano gugup.
"Iya. Sepertinya udah cukup lama sampai rasanya aku berhak untuk mendapat penjelasan." Andara tidak ingin lagi menunda keinginannya untuk mengetahui rahasia kekasihnya itu.
Vano berjalan mendekati Andara, memegang kedua pipinya, mengecup puncak kepalanya. Matanya menatap lekat pada mata Andara.
"Bersabarlah cantik. Aku akan memberitahumu tapi gak sekarang. Aku ingin bersiap dulu."
"Kalau kamu bersiap, apakah aku harus bersiap juga? Aku rasa ini bukan sesuatu yang baik melihat reaksi Kenzo dan reaksimu tadi. Apa ini akan berakhir buruk? Seberapa buruk? Apa aku akan menghilang? Menghilang ke mana? Sepertinya aku harus bersiap juga sepertinya." Andara bicara dengan berani, meski hatinya sudah bergejolak tak beraturan dan suaranya bergetar hebat.
Deg..
Vano merasakan pukulan yang keras di hatinya. Pukulan yang langsung mengenai titik sensitifnya. Pukulan yang membuat banyak luka baru dan membuka luka lamanya. Pukulan dari gadis yang dicintainya.
"Siapa yang meneleponmu? Aku rasa bukan Kenzo. Apa yang akan kamu bicarakan di kafe bersamanya? Apa kalian sedang merencanakan agar aku tidak jadi menghilang?" Andara masih terus bertanya.
"Kamu gak akan menghilang, kamu gak akan kemana-mana, kamu akan tetep ada di sisiku, aku yang akan melindungimu, bersabarlah." Vano merengkuh tubuh gadis itu. Membawanya ke dadanya dan memeluknya sangat erat.
Air mata keduanya menetes. Dengan terisak Andara bertanya.
"Aku takut tapi aku juga bingung. Aku bingung bagaiman bersikap. Aku harus gimana?"
Hanya keheningan yang ada. Vano tidak memberinya jawaban.
__ADS_1