
Mata Bunda Rania membulat, tangannya sontak langsung menutup mulutnya yang terbuka. Terlihat mulutnya membuka kemudian menutup kembali. Ia bingung harus mengatakan apa. Tidak tahu harus merespon seperti apa setelah mendengar cerita dari Ayah Josh.
"Jadi maksudnya?" Bunda Rania hanya mampu bertanya singkat dan tidak jelas.
"Aku pun belum memastikan berita ini sayang. Aku belum bisa memutuskan harus bagaimana bersikap. Aku belum jelas anaknya yang mana yang sudah dijodohkan, bisa jadi kakaknya Vano kan? Mengingat Vano masih SMA." Ayah menimpali.
"Tapi sayang, kamu tadi bilang Bima Wicaksono? Sepertinya aku tidak asing dengan namanya?"
"Dia kakak tingkat kita jaman kuliah dulu. Sainganku memperebutkan dirimu sayang. Untungnya dia juga sudah dijodohkan dengan pilihan orang tuanya, yaitu istrinya sekarang." Jawab Ayah Josh sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kenangannya.
"Jadi, mereka masih menganut tradisi itu ya. Tradisi menjodohkan anak-anak mereka." Bunda berucap lirih.
"Ya begitulah sayang. Untunglah orang tuaku dulu tidak seperti itu, dan aku pun akan menjadi orang tua yang tidak memaksakan cinta pada anak-anak." Ayah Josh menanggapi perkataan Bunda Rania.
"Lalu, dari yang kamu ketahui, kapan hal itu akan resmi dilaksanakan?" Bunda Rania kembali bertanya.
"Kalau tidak salah dengar, resminya akan dilakukan begitu mereka lulus sekolah." Jawab Ayah Josh sambil memandang lekat mata Bunda Rania.
"Astaga itu tidak lama lagi.. Dara.. Bagaimana Dara sayang? Apa dia sudah tau hal ini?" Bunda Rania terkejut hingga menutup mulutnya dengan tangan.
"Entahlah sayang. Aku ingin kita menyimpan dulu berita ini, sampai aku benar-benar sudah memastikannya. Karena belum tentu juga Vano yang sudah dijodohkan, bisa jadi kakaknya kan?" Ayah Josh menenangkan istrinya.
"Kita harus menyiapkan mental Dara sayang, jaga-jaga kalau berita ini benar, dan Vano yang sudah dijodohkan." Suara Bunda Rania tertahan.
"Mengingat keluarga mereka yang selalu memilihkan pasangan untuk anak-anaknya, aku khawatir, jangan-jangan Vano juga sudah disiapkan pasangannya." Ayah Josh menebak kesimpulan yang mungkin terjadi.
Ayah Josh dan Bunda Rania bergeming. Menatap lurus kedepan. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing tentang masa depan anaknya.
**
Selepas Ayah Josh berangkat ke kantor, Bunda Rania menyiapkan segala perlengkapan dirinya untuk mengikuti perjalanan dinas suaminya. Tak lupa, ia pun menyiapkan kebutuhan suaminya.
__ADS_1
Jika melihat alur cerita keluarga Vano, kemungkinan kehidupan Vano juga sudah ditetapkan dari awal untuk selalu mengikuti tradisi keluarganya, sepertinya akan sulit melepas diri dari tradisi itu, Dara yang harus bersiap untuk melepas Vano, desah Bunda Rania lirih dalam hatinya, sambil terus memasukkan keperluan dirinya dan suaminya dalam koper.
Tiba-tiba Bunda Rania menarik nafas panjang, mengingat betapa gembira anak gadisnya kemarin. Bunda Rania tidak menyangka anak gadis semata wayangnya itu akan terlibat dengan kejadian seperti ini. Tak lama kemudian, Bunda pun keluar dari kamar, menuju kamar tidur paling ujung di koridor rumahnya.
Tok.. Tok..
Bunda Rania masuk ke dalam kamar Willy, membangunkan lelaki itu seperti permintaannya tadi pagi.
"Will, bangunlah, sudah jam 10. Kau harus bersiap." Ujar Bunda Rania sambil mengelus lembut rambut anak lelakinya.
"Aaahh kenapa cepat sekali Bun banguninnya." Willy mengerjapkan matanya sambil menguap lebar.
"Ini anak, nafasnya bau banget, kayak habis makan bangkai deh!! Cepet bangun Will, gosok gigi yang bersih, kalau perlu pakai deterjen biar ilang tuh bau jigong!!" Teriak Bunda Rania.
"Bau nafas anak bayi kan seger Bun." Willy berkilah.
"Kamu mah anak bayi dinosaurus Will." Semprot Bunda Rania.
"Bunda dong dinosaurusnya." Balas Willy sambil cekikikan.
"Lha kalau bukan anak Bunda, anak siapa dong? Dulu gimana sih bunda pas ngelahirin Willy?" Willy mulai protes.
"Kayaknya Ayah salah ambil bayi deh waktu mau pulang dari RS." Bunda menjawab dengan santai.
"Astaga.. Tega bener Bun!!" Willy merajuk.
Sambil terpingkal, diusapnya kepala anak lelaki manjanya itu. "Uda mandi sana, siap-siap dulu, Bunda mau siapin pesenan katering dulu." Ujar Bunda sambil beranjak dari kasur.
"Bunda, apa Ayah menceritakan sesuatu?" Willy menahan tangan Bunda Rania.
Bunda Rania menatap Willy dalam dan lama. Kemudian menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu menyadarinya ya?"
Willy hanya mengangguk.
"Nanti ketika semuanya sudah jelas, Ayah akan kembali menceritakannya. Sekarang Bunda juga belum bisa menceritakan semuanya. Hanya saja--" Bunda tidak melanjutkan ucapannya.
Bunda Rania menatap Willy lama. Ia tau kalau anak lelakinya itu mengetahui hal ini, pasti tanpa basa-basi segera memberitahu Andara dan menyuruhnya menghindar dari Vano.
"Tentang keluarga Vano ya Bun? Apakah masalah serius?" Willy dapat menebak arah pembicaraan Bunda Rania.
Bunda mengangguk lemah.
"Apa ini terlalu berat untuk Dara hadapi?" Lirih Willy bertanya.
"Bunda hanya berharap yang terbaik untuk Dara, untuk kebahagiaan Dara." Lirih Bunda menjawab.
"Aku juga hanya ingin dia bahagia Bun." Willy mendesah.
"Oiya Will, minggu depan Bunda nemenin Ayah. Ada perjalanan dinas ke Negara Z."
"Bareng dong Bun kita berangkatnya? Dara diajak aja Bun" Willy memberi saran.
"Dia mau persiapan ujian akhir sekolah Will. Biar dia sama Bi Inah aja lah. Lagian sekarang ada Vano, jangan-jangan malah Dara uda gak mau diajakin pergi lagi." Bunda menjawab dengan agak kesal.
"Bun, apa ga masalah masih membiarkan Dara dekat dengan Vano kalau ada hal yang serius?" Tanya Willy ragu.
Bunda terdiam. Yang dikhawatirkan terjadi.
"Sebaiknya Dara mengetahui dulu permasalahannya, biar dia bisa bersiap dan mengambil sikap Bun." Imbuh Willy.
Bunda menghela nafas berat.
__ADS_1
"Kita rahasiakan semua ini dari Dara dulu Will sampai Ayahmu mengetahui dengan jelas kabar itu, sebenernya juga Ayah masih ragu karena belum mendapat informasi yang pasti." Bunda menatap Willy lekat. Bunda yakin Dara akan baik-baik saja Will, batin Bunda menimpali.
Willy hanya terdiam menatap Bundanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa menjadi rumit gini sih? Jika hanya akan membuat Dara terluka, harusnya dilepas dari awal saja. Untuk apa dipertahankan jika akhirnya tetap terpisah dan semakin terluka. Batin Willy lirih.