
"Jadi, ini kekasihmu yang kamu ceritakan tadi, Al?" Pak Fabian tersenyum penuh ironi saat bertanya pada Aldrich. Setidaknya itu yang ku rasakan.
Apa? Kekasih? Sejak kapan? Astaga, apa yang harus aku lalukan sekarang? Ah sial, kenapa jadi terjebak di situasi seperti ini sih?!
Aldrich tersenyum dan menunduk sebentar sebelum menjawab.
"Hmm dia.." Aldrich hanya menggantung kalimatnya. Wajahnya merona. Apa Kak Al? Ah sudahlah Kay, jangan menambah beban otakmu untuk berpikir yang terlalu berat.
"Jadi ini yang kamu maksud hasil dari ospek kemarin? Yang kamu tenangkan saat di taman kemarin?" Cerca Pak Fabian. Aldrich membelalakkan matanya dan aku hanya menatap bingung pada pembicaraan mereka. Taman apa? Otak, ayo berpikirlah dengan cepat!
"Bagaimana, Bapak tau?" Aldrich bertanya dengan terkejut. Tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis.
Pak Fabian hanya tersenyum sebagai jawaban namun aku tahu senyum itu akan berakhir dengan sebuah tuduhan..padaku.. Hah!
"Mana hasil penelitianmu?" Tanyanya sejurus kemudian.
"Ah iya, akan saya serahkan via email siang ini Pak." Aldrich menjawab dengan mantap. Pak Fabian mengangguk.
"Oiya Pak, kemarin Kay ikut saya ke kebun teh dan saya jelaskan tentang proyek yang sedang Bapak kembangkan. Dan dia ingin ikut proyek itu, tapi hanya sebagai pengamat saja Pak saat saya penelitian. Apakah boleh Pak?" Aldrich meminta izin untukku dengan suara lirihnya.
Mata Pak Fabian berganti menatapku, alisnya bertaut dan wajahnya sangat mengerikan menurutku. Mungkin karena aku tahu ada maksud lain dibalik tatapannya. Aku seketika bergidik.
"Jadi dia ini yang kemarin menemanimu mengambil sampel ke kebun teh?" Aku mendengar nada sinis dalam kalimatnya. Dia segera mengalihkan pandangannya padaku, pandangan menuduh.
"Benar Pak. Dia yang menemani saya. Dia--" Aldrich belum menyelesaikan kata-katanya saat suaranya disela.
"Apa kamu yakin tidak akan ada masalah saat mengajaknya? Aku rasa sebaiknya dia tidak perlu ikut dulu. Biar dia beradaptasi dulu dengan lingkungan di sini. Aku khawatir, langsung ikut penelitian akan membuatnya kaget." Mata Pak Fabian menatap Aldrich penuh maksud.
Ah aku tahu, aku hanya akan membuat rusuh proyekmu. Benar seperti itu kan? Aku memang hanya gadis kemarin sore yang baru lulus sekolah. Baiklah. Aku mengerti. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak, aku kecewa dengan setiap kata-katanya.
Atau jangan-jangan dia? Ah sangat tidak mungkinkan kalau dia..dia..dia cemburu? Haha apa yang kamu pikirkan, Kay! Jangan mengambil kesimpulan tanpa mengetahui kepastiannya.
"Aku rasa Kay tidak akan membuat masalah jika dia hanya melihat saja Pak. Sekalian untuk mengenalkannya pada dunia penelitian yang sebentar lagi juga akan digelutinya." Aldrich mencoba membelaku. Dia bersikeras mengajakku. Terima kasih senior tampan!
Tak sengaja aku tersenyum saat mendengar ucapannya. Namun seketika senyumku pudar saat aku tak sengaja menatap mata elang yang melirikku. Astaga mata itu! Awas jatuh Pak, bola matanya! Ingin sekali ku teriakkan itu padanya.
"Akan aku pikiran dulu, Al." Suara itu sudah memutuskan. Aku mendesah, rasa kecewa menyelimuti hatiku.
Aldrich melirikku, kakinya menginjak kakiku di bawah meja. Aku tersentak dengan segera menatap Aldrich dengan penuh tanya. Aldrich tersenyum menatapku. Aku balas tersenyum.
"Al, bisakah tinggalkan kami berdua? Saya rasa saya perlu mewawancarainya sebelum memutuskan dia boleh bergabung atau tidak dengan proyek yang sedang kita jalani." Pak Fabian tiba-tiba mengeluarkan suara yang langsung membuat jantungku kembali berdebar kencang.
__ADS_1
Jangan! Tolong jangan tinggalkan aku berdua dengannya, Kak Al. Hal yang paling ingin ku hindari hari ini adalah dia.
"Benarkah Pak? Bapak akan mempertimbangkan Kay untuk mengikuti proyek itu? Baiklah Pak jika begitu. Saya permisi dulu. Saya akan ke ruangan himpunan untuk mengirim hasil penelitian." Aldrich pamit dengan sopan pada Pak Fabian. Wajahnya berbinar saat mendengar penjelasan Pak Fabian.
Oh bodohnya! Apa kamu tahu Kak Al, aku yakin seyakin-yakinnya, dia itu hanya sedang berusaha mengurungku dalam sangkarnya?! Dia sedang berusaha menjauhkan aku dari jangkauanmu. Tolong jangan keluar Kak. Aku sungguh takut saat ini.
Aldrich berdiri dan hendak meninggalkan ruangan Pak Fabian. Saat ia melangkah di depanku, refleks aku menahan tangannya. Dia menoleh menatapku, memberiku senyumam dan sebuah anggukan kepala. Matanya seakan berkata, "tenanglah, kamu baik-baik saja."
Yang tidak diketahui Aldrich adalah, aku tidak akan baik-baik saja jika ditinggal berdua dengan Pak Fabian. Aldrich mengusap lembut puncak kepalaku sebelum keluar dari ruangan.
Mata Pak Fabian menatap punggung Aldrich dengan tajam. Saat Aldrich sudah keluar dengan sempurna dari ruangannya, matanya beralih menatapku.
Mata tajam itu seakan mengulitiku. Aku menunduk dengan telapak tangan dingin yang ku pilin sendiri. Aku sungguh tak tahu harus bertindak seperti apa pada saat ini.
"Jadi, dia kekasihmu? Cepat juga kamu mendapatkannya." Suara sinis Pak Fabian terdengar menusuk di telingaku.
Aku bergeming. Entah apa yang harus aku lakukan. Menjawab sepertinya hanya akan menambah masalah. Tubuhku semakin tegang.
Ku lihat ada sepasang kaki mendekatiku. Entah seperti apa rupaku saat ini. Yang ku tahu, tubuhku semakin kaku. Rasa waswas menyelimuti setiap rongga tubuhku. Apa yang akan dilakukannya?
"Kamu menghindariku, ternyata sibuk menjalin kisah baru. Setiap pagi menatap rumahku, tapi disini kamu bermesraan dengan seniormu. Hah, kamu benar-benar luar biasa, Mikha." Cibir Pak Fabian padaku. Ia mendudukkan dirinya di meja sofa, tepat di depanku. Aku semakin menunduk.
"Jawab aku! Apa pertemuan terakhir kita tidak ada artinya? Apa kurang jelas saat aku mengatakan tunggu aku? Apa kamu tidak tahu maksud perkataanku bahwa kamu milikku? Atau kamu lupa dengan semua ucapanku?" Cerca Pak Fabian dengan suara yang semakin meninggi. Amarah jelas terluapkan di dalamnya.
"Lihat dan jawab aku, Mikha!" Suara Pak Fabian terdengar memekakkan telingaku.
"Sebaiknya saya kembali dulu Pak Fabian." Aku sudah menemukan sedikit keberanianku kembali. Aku menjawabnya dengan kalimat resmi yang biasa ku gunakan. Namun sebenarnya, aku bertingkah seakan aku tidak mengenalnya. Aku masih terlalu pengecut untuk menghadapi dirinya.
Dengan segera aku mengambil tasku dan berdiri hendak keluar dari ruangan. Namun gerakanku kalah cepat, sepasang tangan yang kokoh telah menahan tubuhku. Aku kembali digeret tangan itu dan di dudukkan ke sofa.
"Kamu mau ke mana? Menemui kekasihmu itu? Mau bermesraan lagi di taman seperti tempo hari?" Mata itu semakin nyalang menatapku. Aku membuang pandanganku.
"Jawab aku, Mikha! Dan tatap mataku!" Kali ini Pak Fabian menarik daguku, memaksaku untuk melihat wajahnya. Aku menatap wajah marah namun sangat ku rindu, yang ada di hadapanku.
"Saya sudah tidak ada keperluan lagi di sini, Pak Fabian. Jadi saya ingin pulang. Izinkan saya keluar Pak Fabian." Jawabku tegas sambil menahan cairan hangat yang tampaknya sudah menggenangi pelupuk mataku.
Wajah Pak Fabian semakin mengeras, matanya membelalak saat mulutku berbicara.
"Sebut namaku sekali lagi!" Perintahnya.
Aku menatapnya bingung. Apa lagi ini maksudnya? Bukankah aku sudah menyebut namanya?
__ADS_1
"Cepat, Mikha! Panggil aku dan sebut namaku sekali lagi." Suara tegasnya tidak ingin dibantah.
"Pak Fabian." Jawabku singkat sambil membuang mukaku.
"Kamu sungguh mengujiku, Mikha. Baik, aku ikuti keinginanmu. Sekarang kamu ingin keluar ruanganku bukan? Kamu ingin pulang kan? Baiklah, aku antar kamu sekarang dan aku akan membawamu dulu ke ruang himpunan. Akan aku katakan semuanya pada kekasihmu itu siapa aku bagimu. Ayo!" Bentak Pak Fabian.
Ku lihat tubuhnya sudah berjalan menjauhiku, bergegas menuju mejanya dan mengambil kunci mobil juga ponselnya. Dengan segera Pak Fabian mencengkeram tanganku dan menarikku untuk berdiri. Ia mengambil tasku dan membawaku menuju pintu ruangannya. Sebelah tangannya sudah menyentuh gagang pintu saat otakku kembali merespon.
Otakku langsung memberiku sinyal bahaya. Dan tubuhku sontak bergerak, menyuruhku untuk bertahan. Dengan segera aku menghalangi langkahnya. Aku menyandarkan tubuhku pada pintu dan berusaha menahan tubuh kekarnya dengan kedua tanganku agar ia tidak membuka pintu.
Aku terus menahannya dan menunduk, dengan tak tahu malu air mataku meloloskan diri.
"Jangan keluar. Jangan keluar seperti ini Pak Fabian. Ku mohon." Aku terisak.
Aku mendengar ******* kasar nafasnya. Ku lirik tangannya masih menyentuh gagang pintu.
"Apa kamu bilang, Mikha? Aku tak mendengarnya." Sindiran tajam itu masuk ke telingaku.
"Kita bicarakan ini lain kali, Pak." Sahutku. Dan jawabanku sukses membuatnya berkecak pinggang.
"Jangan mengujiku lagi, Mikha. Aku punya batasku sendiri." Suara itu tidak lagi ramah.
Aku tahu yang dia maksud, tapi entah kenapa otakku melarangku mengatakannya meski hatiku sangat menginginkannya.
"Mikha!" Kesabaran lelaki itu seperti sudah diujung tanduk.
Aku sangat tahu, setiap bersamanya, otak dan hatiku tidak pernah sinkron. Mereka selalu membuatku kebingungan. Dan kali ini, hatiku kembali memenangkan pertarungan. Aku mendongakkan wajahku yang dipenuhi air mata. Aku menatap wajah yang selalu ku rindukan selama ini.
"Aldrich bukan kekasihku, Bang Arka."
Air mataku kembali mengalir deras saat aku mengucapkan nama itu. Ya nama itu yang sudah memporak-porandakan hatiku. Nama yang selalu ku rindukan. Nama lelaki yang masih menjadi suami orang. Nama yang sudah membuatku melakukan banyak kebodohan.
"Gadis pintar! Selamat datang kembali. Akhirnya kamu sudah mengenaliku lagi, Mikha."
Tubuh kekar itu merengkuhku. Membawa tubuhku ke dalam pelukan hangatnya. Pelukan yang selama ini aku rindukan. Aku semakin membenamkan wajahku di dadanya. Mencium bau tubuh Bang Arka dan menyuruh otakku untuk menyimpannya. Bau harum mint, sangat khas lelaki.
Apa kamu tahu Bang, aku sangat merindukanmu? Aku tahu ini salah, tapi hatiku sudah mulai menamai rasa itu, entah sejak kapan.
Bang, aku rasa, aku mencintaimu.
Dan aku ingin meneriakkan itu padamu, Bang.
__ADS_1