
Andara, Karla dan Amel yang posisinya agak jauh dari panggung, berjinjit untuk dapat melihat dengan jelas wajah tunangan Vanya yang dari tadi membuat mereka penasaran.
Tubuh lelaki itu membelakangi para tamu. Dan pandangan para tamu yang berada di belakang terhalang oleh hiasan balon dan bunga yang cukup tinggi. Saat berada di tengah panggung, wajahnya terhalang oleh tubuh pembawa acara.
Kenzo menguatkan kembali pelukannya pada tubuh Andara. Didekapnya dengan erat tubuh gadis itu, seakan ia takut tubuhnya akan hancur. Dia sama sekali tidak melihat ke arah panggung.
"Duh gak jelas nih, ketutupan kue, maju dikit yuk." Ajak Karla.
Andara dan Amel beranjak ke depan. Wajah tunangan Vanya tertutup kue dan sebagian tertutup badan pembawa acara yang juga tinggi. Terdengar lagi suara pembawa acara yang menggoda pasangan itu.
"Aduh Om, Tante, kalau ada satu lagi yang gantengnya kayak ini, saya mau juga dong ditunangin." Ujar pembawa acara itu menoleh pada orang tua tunangan Vanya yang ikut naik ke atas panggung.
"Baiklah sebelum kita potong kuenya, boleh dong ganteng kita kenalan?" Tanya pembawa acara.
"Jadi siapa nih namanya? Udah berapa lama kenal Vanya? Dan apa langsung jatuh cinta saat melihat Vanya pertama kali, jadinya langsung mau ditunangkan gitu? Siapa nih yang jatuh cinta duluan?" Cecar pembawa acara.
"Kita ditunangkan dari kecil dan kita tumbuh besar bersama. Bertemu hampir setiap hari, dan selalu saling membantu, tentunya dengan kebersamaan sekian tahun ini kita jadi semakin saling mencintai, makanya bisa sampai ke tahap ini. Kita sama-sama saling membutuhkan sih, saling melengkapi. Kalau masalah siapa yang cinta lebih dulu, hmm sepertinya kita saling mencintai dari awal. Benar kan cantik?" Jawab calon suami Vanya dengan lancar sambil menatap wajah Vanya dengan mesra.
Vanya mengejapkan mata beberapa kali. Bibirnya tersenyum kaku, wajahnya terlihat bingung. Dia seperti baru sekali ini mendengar tunangannya berkata seperti itu. Tapi tak lama kemudian, wajah bingungnya berubah cerah lagi. Senyum merekah menghiasi bibirnya. Ia mengangguk dengan semangat, menempelkan badannya lebih dekat dengan tunangannya.
Terdengar suara teriakan riuh para tamu undangan saat tunangan Vanya menyelesaikan kalimatnya, diiringi dengan tepuk tangan yang meriah sebagai penyemangat. Berpuluh pasang mata berbinar, menatap takjub dan iri pada pasangan yang terlihat sedang kasmaran itu.
"Oh oh oh.. Jadi panggilan sayangnya cantik nih? Oh aku juga mau dong ada yang manggil cantik." Teriak pembawa acara menggoda pasangan yang sedang berdiri di atas panggung.
Terdengar lagi sorakan dan tawa riuh dari tamu undangan menyaksikan tingkah pembawa acara yang sangat pandai menghidupkan suasana.
__ADS_1
"Ooh aku meleleh. Kapan giliranku digituin sama cowok ya? Umurku yang setua ini kalah sama Vanya yang baru 17 tahun. Aduh ganteng, punya saudara kembar gak? Mau satu dong yang model begini. Pada baper semua kan yang disini? Sama dong." Kembali pembawa acara itu melontarkan guyonan.
Andara, Amel dan Karla yang mendengar suara calon suami Vanya, mendadak terdiam. Suara yang tidak asing bagi mereka. Suara yang sangat mereka kenal. Mereka bertiga membeku.
Kenzo diam memperhatikan respon ketiga sahabat itu. Kenzo hanya mengikuti langkah kaki Andara tanpa melihat ke arah panggung sama sekali. Jantungnya berdetak kencang menunggu reaksi dari gadis pujaannya. Tangannya terkepal kuat menahan amarah, mendengar suara yang juga tidak asing baginya.
Cih, dasar sialan!! Ingin ku sobek mulut busukmu itu. Di hadapan orang berkata apa dan di hadapan Dara berkata apa, munafik!!Untung saat ini aku memeluk Dara, otakku masih bisa berpikir jernih karena Dara ada di depanku. Karena Dara butuh aku sekarang. Jika tidak ada Dara, entah apa yang akan aku lakukan padamu saat ini. Umpat Kenzo kesal, di dalam hatinya.
Ketika sampai di tempat yang lebih dekat dan dapat melihat dengan jelas suasana panggung, dengan kompak Andara, Amel dan Karla menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Mata mereka melotot. Suara mereka tertahan.
Karla berkali-kali mengusap matanya, berharap penglihatannya salah. Mulai terdengar isakan pelan dari mulut Amel. Sedangkan wajah Andara sudah sangat pucat, tubuhnya dingin dipenuhi keringat. Nafasnya memburu, jantungnya bertalu. Seketika badannya terasa lemas.
"Ini mataku kayaknya harus periksa deh, pasti mataku harus pakai kacamata ini." Karla masih mengusap matanya dengan kuat.
"Itu bukan dia kok, aku yakin bukan dia. Ini mungkin kebetulan aja wajahnya sama." Amel berkata lirih sambil terisak.
"Iya bener, itu cuma orang yang mukanya sama doang kok. Aku yakin itu, ya kan? Kalian juga yakin kan?" Suara Karla terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku harus telepon dia, pasti ini gak benar. Dia ada di rumahnya kok. Dari tadi dia gak keluar. Itu bukan dia. Itu orang lain. Itu tunangan Vanya. Kebetulan aja mukanya mirip." Andara dengan tubuh gemetar, berusaha mengambil telepon selulernya dari dalam tas.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Andara kesulitan membuka tasnya. Berulang kali Andara mencoba, namun tetap tidak berhasil. Sampai tangan kanan Kenzo menyentuh punggung tangan Andara yang telah berubah menjadi sedingin es. Lelaki itu menggenggam erat tangan Andara seakan memberi kekuatan. Tangan kirinya mengambil tas Andara dan kembali memeluk Andara dari belakang. Kenzo menatap Andara dengan sangat tenang.
"Kamu kenapa Ken? Aku mau telepon, aku yakin itu bukan dia, bener kan?" Andara balik menatap Kenzo, mencoba mencari celah jawaban kebohongan dalam sorot matanya. Kebohongan yang mungkin dapat menutupi ketakutannya saat ini. Namun Andara tidak menemukannya. Sorot mata Kenzo sangat jujur, sorot mata yang tidak ingin Andara lihat untuk saat ini.
Amel dan Karla menatap Kenzo heran. Melihat Kenzo yang tenang dan tidak terkejut dengan kehadiran lelaki itu di atas panggung, membuat mereka berpikir bahwa Kenzo mengetahui semua ini. Terlebih dengan tingkah aneh Kenzo beberapa saat lalu saat menyuruh Andara meninggalkan tempat ini.
__ADS_1
"Ken, jangan bilang.." Amel tidak mampu meneruskan kata-katanya.
"Jangan coba menutupi dari kita Ken, itu siapa? Bukan dia kan?" Karla bertanya.
"Bukan itu bukan dia. Itu bukan dia!! Aku yakin itu bukan dia." Andara menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran buruk dari otaknya.
Kenzo menatap Karla dan Amel bergantian. Ia mengangguk dengan mantap. Karla dan Amel menutup mulutnya lagi, kemudian langsung memegang tangan Andara, mencoba menguatkan sahabatnya itu.
"Kalian jangan seperti ini itu bukan dia!!" Bentak Andara.
Kenzo menguatkan pelukan, menarik kepala Andara hingga bersandar pada dada bidangnya.
"Ada aku sayang, aku yakin kamu kuat. Ada aku yang menopangmu!! Jangan takut, kamu gak sendiri. Aku sayang sama kamu, aku akan menjagamu." Ujar Kenzo lirih di puncak kepala Andara. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
"Itu memang dia." Kenzo menambahkan ucapannya dengan lirih sambil mengecup puncak kepala Andara.
Tubuh Andara bergetar makin kuat saat Kenzo menyelesaikan kalimatnya. Air matanya meleleh tanpa henti.
"Kamu bohong Ken, kamu bohong!! Kamu cuma pingin aku jauh darinya." Ucap Andara disela-sela isakannya.
Kenzo tidak menjawab, hanya semakin menguatkan pelukannya, berharap bisa memberikan kekuatan tambahan pada gadis pujaannya.
"Ken.. Kenzo. Jangan lepaskan aku. Ken.. Kenzo aku mau pergi dari sini segera." Andara memegang erat tangan Kenzo. Berharap dirinya masih dapat berdiri dengan tubuh Kenzo sebagai penopang. Air matanya sudah mengalir deras tak terbendung, Andara hanya mampu menunduk.
Kenzo mengangguk. Dia menuntun Andara untuk berbalik dan segera meninggalkan tempat acara. Baru beberapa langkah, terdengar suara dari atas panggung yang membuat mereka berhenti melangkah.
__ADS_1
"Jadi, si tampan calon suami Vanya ini, namanya siapa sih?" Tanya pembawa acara dengan genit.
"Nama saya.."