MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
SISI LAIN


__ADS_3

"Sayang, makasi untuk malam ini. Makasi untuk semuanya. Makasi, makasi dan makasi. Entah aku harus mengucap apa lagi." Ucap Kenzo tanpa henti.


Andara dan Kenzo sudah berada di dalam mobil. Selepas farewell party tadi usai, mereka berfoto bersama dengan teman-teman dan membereskan sedikit barang bawaan mereka.


"Udah deh Ken, dari tadi ngomongnya itu mulu. Bosen tau gak." Rengek Andara.


"Biar gak bosen, kita jalan-jalan dulu yuk? Kamu pingin kemana sayang? Ini sebagai bentuk ucapan terima kasihku." Kenzo berucap dengan tulus.


Andara membalik badannya hingga berhadapan langsung dengan Kenzo. Ia menarik nafas panjang.


"Ken, bisakah kita saling membantu tanpa perlu memikirkan akan memberi balasan dari setiap bantuan yang kita terima? Kamu banyak membantuku, tapi kamu gak pernah minta balasan. Sekarang aku membantumu, bisakah kamu bersikap sewajarnya? Maksudku, tanpa kamu merasa harus membalasku?" Andara mencerca Kenzo dengan berbagai pertanyaan.


Kenzo terdiam, meresapi tiap kata-kata Andara. Seketika ia memeluk Andara dan berkata, "makasi sayang, untuk selalu bersamaku. Bisakah kita seperti ini terus? Rasanya aku gak bisa jauh darimu. Kamu benar-benar penenang merekku sendiri."


Andara terkekeh mendengar pernyataan Kenzo.


"Ken, pinter banget sih ngegombalnya, belajar darimana?"


"Belajar dari Andara Atmajaya." Kenzo menjawab ketus.


Andara terkekeh mendengar suara Kenzo yang kesal. Ia menyentuh bahunya, mengusapnya pelan. Gadis itu merasa tubuh Kenzo menegang.


"Apa kamu udah merasa baikan Ken? Aku disini bersamamu." Tanya Andara dengan tersenyum.


Kenzo mengangguk, tangannya menggenggam tangan Andara yang ada di bahunya. Menolehkan kepala dan mencium ringan tangan Andara.


"Aku baik-baik aja, selama kamu bersamaku. Sekarang kita mau ke mana sayang?" Tanya Kenzo mengalihkan perhatian Andara.


"Hmm aku juga gak tau. Apa kamu tau tempat tenang dan juga indah?"


"Kamarku?" Kenzo menggoda Andara.


"Aaww.. Sayang! Sakit tau." Suara teriakan Kenzo memecah keheningan malam. Andara memukul dengan keras lengan Kenzo.


"Kamu sih, mesum terus bawaannya." Andara protes.


"Hahaha kamu tuh, lucu banget. Aku mana berani Yang nyentuh kamu. Bisa digorok beneran sama Mami Papi dan Ayah Bunda. Bisa-bisa langsung dicoret dari daftar menantu idaman Yang." Kenzo terkekeh.


"Hmm.. Baiklah, karena kamu menggemaskan, aku mau bawa kamu ke tempat yang super indah, mau?" Tanya Kenzo.


Andara mengangguk tanda setuju. Kenzo pun melajukan mobilnya menjauhi SMA Granatala. Sekolah yang membawanya menemui jalan takdir yang tak pernah dibayangkannya.


***


"Wuaaahh.. Ini keren banget Ken!" Andara berteriak sambil berlari keluar dari mobil. Ia berdiri di tepi jalan yang sedikit menanjak dan membentangkan tangannya, merasakan semilir angin malam yang menerpa tubuhnya.


Kenzo datang dari belakang, menyampirkan jaketnya ke tubuh Andara seraya memeluk tubuh mungil itu erat.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu kedinginan." Bisik Kenzo.


Andara tersentak, merasakan tubuh hangat Kenzo yang memeluk dirinya. Ia tak menolak, seakan menikmati semuanya.


"Dari mana kamu tau tempat ini Ken?" Tanya Andara dengan mata yang masih memandang hamparan pepohonan di bawahnya dan gemerlap bintang di atas mereka. Seakan di ujung sana, pepohonan dan bintang itu menyatu.


Kenzo menyandarkan tubuhnya ke mobilnya dengan menarik Andara untuk ikut serta. Mereka berdua tetap saling berpelukan sambil menatap hamparan bintang.


"Ini namanya bukit berbintang, aku menamainya seperti itu. Kamu lihat, disana pohon itu seakan menyatu dengan langit malam yang berbintang. Indah banget kan?" Kenzo tak menjawab pertanyaan Andara, matanya masih menikmati keindahan alam di hadapannya.


"Kamu tau sayang, aku itu susah tidur. Kadang malam-malam aku ke sini. Sampai aku merasa ngantuk dan lelah, baru aku pulang. Aku takut gelap, seperti yang kamu tau, tapi aku suka kegelapan yang ada di sini. Sangat tenang. Awalnya aku emang merasa takut, tapi aku mencoba mencari batas maksimalku. Aneh kan?" Imbuh Kenzo. Andara diam dan hanya mendengarkan.


"Bagiku ini seperti terapi. Pikiran dangkalku menyimpulkan, kalau di sini aku gak takut gelap, berarti seharusnya di tempat lain aku juga gak akan takut gelap lagi. Aku terus mencari jawaban atas rasa penasaranku. Aku terus mencari perbedaan gelap di sini dan di tempat lain. Sampai aku menemukan jawabannya beberapa saat lalu." Kenzo kembali bersuara.


"Jadi apa perbedaan yang kamu temukan Ken?" Andara sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Kenzo semakin mengeratkan pelukannya.


"Keindahan dan kehangatan." Jawab Kenzo singkat.


"Hah?" Andara kebingungan.


"Di bukit berbintang ini, meskipun gelap dan dingin, namun aku menemukan keindahan. Awalnya aku takut, namun rasa takutku tersamarkan oleh keindahan yang disajikan. Perlahan, ketakutan itu menghilang, berganti dengan kekaguman." Kenzo menerangkan.


"Kalau kegelapan di tempat lain?" Andara kembali bertanya.


Andara bergeming. Gadis itu berpikir keras tentang ucapan Kenzo.


"Tapi aku masih gak paham Ken. Maksudnya apa sih ya?" Andara masih penasaran.


"Hahaha kepo nih." Goda Kenzo.


"Dasar! Aku beneran penasaran tau gak sih Ken! Hmm Ken, kalau kamu udah nemuin obat manjur buat traumamu, aku jadi gak bisa bantu lagi dong." Andara terdengar menggerutu.


Kenzo tersenyum dalam kegelapan. Kepalanya disandarkan pada bahu Andara, hidungnya didekatkan di telinga Andara. Lelaki itu sedang menghirup wangi gadis yang ada dipelukannya. Berusaha memberitahu otaknya untuk mengingat keharuman yang ada dipelukannya.


"Masa kamu gak tau sih Yang? Beberapa kali traumaku kambuh saat aku udah mengenalmu dan semua itu teratasi hanya dengan satu jalan keluar." Kenzo menggantung kalimatnya.


Andara masih tampak berpikir keras.


"Saat aku terjebak di dalam lift di perusahaan kakek, aku bisa lolos karena apa?" Tanya Kenzo, berusaha mengingatkan.


Andara kembali berpikir.


"Ah aku ingat. Kamu cerita kalau waktu itu kamu melihat fotoku di ponselmu." Andara langsung menjawab saat ingatannya tentang hari itu muncul.


"Hmm bener," Ujar kenzo, "dan hari ini, saat di panggung tadi, apa yang bikin aku tenang kembali? Padahal kamu tau sendiri, anak-anak gak ada yang sanggup nenangin aku kan?" Imbuh Kenzo.

__ADS_1


Andara berpikir dan setelah mengumpulkan kepingan ingatannya,ia pun tersenyum diam-diam.


"Jangan senyum-senyum sendiri, aku tau kamu lagi senyum sekarang. Ah aku tau, kamu udah nemu jawabannya kan?" Tebak Kenzo.


Andara mengangguk. Kenzo tersenyum dan mengecup pipi kanan Andara.


"Iya kamu benar. Kegelapan di tempat lain sepertinya akan mudah aku hadapi, jika aku bersamamu, atau melihatmu entah itu hanya foto atau dirimu langsung, dan bahkan suaramu! Kamulah kehangatan dan keindahan untukku."


"Entah apa yang menyebabkan semua ini. Namun aku bersyukur saat menyadari hal ini dengan segera. Mungkin karena alam bawah sadarku memberitahukan diriku bahwa ada seorang gadis yang aku cintai, yang harus aku jaga dan lindungi, jadi otakku menyuruh jiwaku untuk menenangkan diri."


"Karena itu, aku selalu memintamu untuk tetap disampingku. Kamu boleh bilang kalau aku egois. Namun biarlah, karena aku tak ingin kehilangan dirimu, sayang. Selain karena aku tulus mencintaimu, kamu juga ternyata merupakan obat penenang milikku sendiri. Hanya milikku. Kamu lihat kan, selama ada kamu, aku gak butuh obat penenang lagi bahkan kepalaku tidak merasa nyeri sedikit pun." Kenzo mengakhiri ceritanya.


Tanpa terasa air mata Andara sudah meloloskan diri. Malam ini sungguh malam yang indah bagi Andara. Akhir sekolah yang sangat dinantikannya. Akhir sekolah yang sesuai impiannya, berkesan dan penuh makna. Membuat kenangan bersama teman-teman dan juga orang terkasih. Benar-benar sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi Andara.


"Ken, bisakah kamu membuka kadomu sekarang?" Andara bertanya.


Kenzo mengernyitkan dahinya. Bingung dengan ucapan Andara yang tidak menanggapi ceritanya.


"Itu kadoku, kenapa kamu nyuruh buka sekarang sih? Kan terserah aku mau buka kapan sayang!" Suara Kenzo sedikit tinggi. Hatinya masih kesal karena Andara tak sedikit pun mengacuhkan ucapannya.


"Aku udah bilang Kenzo, itu kado untukmu tapi kamu hanya meminjam padaku." Andara menjelaskan lagi dengan menekankan kata meminjam.


Kenzo mendengus, kesal dengan kelakuan Andara.


"Ada ya orang ngasih kado tapi statusnya hanya pinjaman. Apa sih isinya? Jadi penasaran." Kenzo berucap dengan kesal.


Ia segera melepas pelukannya dan berjalan membuka pintu belakang mobilnya. Mengambil kotak coklat yang berisi kado kelulusannya. Kenzo membawa kotak itu ke hadapan Andara.


"Ini kadoku? Tapi aku pinjem? Jadi habis aku buka aku kembalikan ke kamu?" Cerca Kenzo dengan nada tak percaya.


Andara terbahak-bahak melihat reaksi Kenzo. Gadis itu hanya bisa mengangguk dengan penuh semangat untuk menjawab setiap pertanyaan dari Kenzo. Dan semua itu semakin membuat Kenzo kesal.


"Hah baiklah. Ayo segera buka dan kembalikan lagi ke pemiliknya. Eh Yang, beneran di kembalikan? Nanti kamu bintitan lho!" Kenzo menyumpahi.


"Eh amit-amit. Jangan sampai lah. Pokoknya kembaliin nanti habis dibuka, entar kamu juga punya sendiri kok." Andara berteriak.


Kenzo semakin mengerutkan dahinya. Lelaki itu berpikir keras untuk menebak kado kelulusannya.


"Apa sih Yang? Makin aneh deh. Ini apaan? Bukan yang iya-iya kan?" Kenzo menjadi ragu untuk membukanya. Ia menggoyangkan kotaknya, dari pelan menjadi cepat. Berharap bisa menebak isinya dari suara yang ditimbulkan.


"Mikirnya jangan kemana-mana Kenzo!! Ya udah kalau gak mau buka, sini kembaliin aja." Andara ikut kesal. Tangannya hendak meraih kotak coklat itu kembali, namun segera diangkat lebih tinggi oleh Kenzo.


"Eh jangan, ini kan kadoku. Iya deh, iya, nanti dikembalikan. Aku buka ya." Ujar Kenzo setengah sewot.


Kenzo menurunkan kotaknya. Diletakkan di bagian depan mobilnya.


"Yakin nih dibuka sekarang terus langsung dibalikin?" Sekali lagi Kenzo memastikan.

__ADS_1


Andara mengangguk dengan diiringi ******* kasar dari Kenzo. Dengan perlahan Kenzo membuka pita yang ada di atas kotak itu. Lelaki itu menyentuh penutup kotak dan membukanya. Ia tersentak memandang isi di dalam kotak. Tubuhnya membeku, matanya menatap tajam ke arah dalam kotak itu. Kenzo masih terdiam memandang isi kado kelulusannya.


__ADS_2