MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
SEPENGGAL KISAH RAIN


__ADS_3

"Karena bajumu udah sedikit kotor, gimana kalau sekalian kita kotorkan lebih banyak? Dan sedikit dibasahi mungkin?" Ujar Vano sambil menaikkan alisnya.


Andara semakin bingung. "Apa maksudnya?" Akhirnya Andara mampu bertanya.


Vano tidak menjawab. Ia menarik tangan Andara dan menuntunnya lebih dekat dengan bibir Danau Biru.


"Ayo kita coba pinjam rakit Bapak nelayan itu." Ujar Vano sambil berjalan.


"Gak mau!!" Tiba-tiba Andara berteriak dan menarik tangannya.


"Kenapa cantik?" Vano bingung.


"Aku.. Aku.. Aku gak bisa berenang sayang, aku takut tenggelam. Mereka gak punya pelampung juga kan?!" Andara mengaku.


"Cantik, ada aku. Kamu tenang aja. Aku yang menjagamu, aku gak akan membiarkan kamu terjatuh, bahkan tenggelam." Vano mencoba menenangkan.


"Tapi aku--" Kata-kata Andara terputus.


"Percaya sama aku cantik, aku gak akan membiarkan kamu terluka. Aku janji!" Vano memotong perkataan Andara. Mencoba meyakinkan Andara.


"Baiklah.." Andara mengangguk ragu.


Mereka pun melanjutkan berjalan menuju sekumpulan Bapak-bapak yang sedang bersiap untuk menebar jala.


"Permisi pak, bolehkah kami ikut menaiki rakit itu?" Vano meminta izin.


"Tapi rakit kami tidak ada tempat duduknya nak, dan tidak ada pegangannya." Jawab salah satu Bapak nelayan. Wajahnya tampak ragu melihat Andara yang ketakutan dan baju yang dikenakannya.


"Tidak apa-apa Pak, kami hanya ingin melihat Bapak menebar jala dari dekat. Pacar saya belum pernah melihatnya," Ujar Vano sambil melirik Andara. Ia tersenyum meledek.


"Baiklah kalau begitu nak. Tapi hati-hati melangkah ya. Sebenarnya rakit ini aman jika tidak banyak gerakan." Akirnya Bapak nelayan tersebut mengizinkan.


"Terima kasih, Pak." Ucap vano sopan. Seketika matanya melihat jeriken plastik kosong di samping jala yang siap disebar.


"Pak, itu jeriken akan dipakai untuk apa ya?" Tanya Vano.


"Oh itu jeriken tempat air jahe nak, untuk bekal minum kami. Tapi sudah dipindahkan ke cerek." Jawab nelayan itu.


"Boleh kami pinjam Pak?"


"Boleh nak, tapi untuk apa?" Tanya nelayan itu kebingungan menatap Vano.

__ADS_1


Vano langsung mengambil jeriken itu, diikuti tatapan penuh tanya dari Andara dan Bapak nelayan.


"Nih bawa ini, anggep aja ini pelampung." Ucap Vano sambil menyerahkan jeriken ke tangan Andara.


Wajah Andara memerah malu tapi tetap menerima jeriken yang diberikan Vano. Nelayan itu tertawa melihat tingkah mereka.


"Ayo nak naik sekarang, Bapak sudah mau menebar jala." Nelayan itu mengajak Andara dan Vano.


"Baik Pak." Jawab mereka bersama. Kemudian mengikuti langkah Bapak nelayan menaiki rakitnya. Nelayan itu menjalankan rakitnya sampai hampir ke tengah Danau Biru.


Sudah hampir 15 menit mereka menaiki rakit. Andara masih terlihat tegang namun matanya berbinar. Terlihat sangat menikmati suasana dan pemandangan di sekitarnya.


Vano berdiri berhadapan dengan Andara. Kedua tangannya memegangi lengan Andara sambil tersenyum melihat tingkah Andara yang memeluk erat jeriken di dadanya.


Kemudian Vano mengambil handphone dengan salah satu tangannya. "Kamu tau cantik, aku harus mengambil fotomu, aku pingin tahu reaksi kak Willy melihatmu seperti ini," Kata Willy sambil tertawa dan mengambil foto Andara beberapa kali.


Andara yang tidak berani bergerak, hanya bisa memandang Vano dengan geram.


**


Hampir satu jam mereka ikut menebar jala. Sampai akhirnya Bapak nelayan menepikan rakitnya untuk beristirahat. Dan kembali ke tempat berkumpul mereka tadi.


"Terima kasih pak," Sahut Andara dan Vano bersamaan.


Andara mengambil gelas yang berisi air jahe dan langsung meneguk habis isinya. Segernya, dari tadi datang belum minum, haus banget ternyata. Batin Andara.


"Hahahah haus ya? Maaf, lupa gak bawa minum tadi. Gak ada persiapan sama sekali sih," Vano tertawa nyaring. Wajah Andara tersipu malu.


"Terima kasih Pak, sudah mengizinkan kami naik rakit Bapak. Kami permisi pulang dulu." Pamit Vano setelah menghabiskan minumannya.


"Kita pulang sekarang cantik, biar gak terlalu malem sampai rumah." Ajak Vano sambil menggenggam tangan Andara.


Andara mengangguk. Mereka pun berjalan menyusuri tanah rerumputan.


"Tunggu sebentar," Vano terhenti, mengeluarkan handphonenya kembali. "Uda waktunya mengganti wallpaper di sini." Imbuhnya sambil menggoyangkan handphonenya.


"Kalau dulu aku selalu ke sini sendirian, sekarang aku bisa ke sini bersamamu, cantik." Ucap Vano sambil mencium lembut kening Andara.


Andara tersipu malu. Ia hanya menundukkan kepalanya. Vano pun langsung mengambil foto Andara. Mereka juga mengambil foto bersama beberapa kali berlatar belakang Danau Biru. Sebelum akhirnya melanjutkan berjalan kaki menuju mobil Vano.


**

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Andara terlihat kelelahan.


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu kalau udah sampai," Vano menyadari wajah kelelahan Andara.


"Gak mau, aku mau nemenin kamu nyetir," Jawab AndaraAndara keras kepala.


Tetapi karena kelelahan, Andara pun tertidur tak lama setelah menjawab.


"Dasar keras kepala!! Uda tau capek masih aja ngotot mau nemenin nyetir," Gumam vano. Ia melirik Andara yang sudah tertidur pulas dan merapikan anak rambut yang berantakan di dahi Andara.


**


Andara dan Vano menepati janjinya. Mereka sampai di rumah Andara sebelum petang. Andara segera membersihkan badan dan mengganti pakaiannya.


Vano menunggunya di ruang keluarga, sambil menonton film. Selesai membersihkan badan, Andara pun bergabung dengan Vano untuk menonton film.


"Cantik, setelah lulus kamu mau kuliah di mana?" Vano tiba-tiba menoleh dan bertanya pada Andara.


"Aku sih belum tau," Jawab Andara jujur. "Kalau kamu di mana sayang?"


"Kok belum tahu sih? Emangnya impianmu apa? Cita-citamu apa? Jangan-jangan kamu belum memilih jurusan ya?" Cecar Vano.


Impianku, mau jadi Nyonya Alvano Pradana, iish aku mikir apa sih!! Batin Andara sambil menggelangkan kepalanya. Mengusir pikirannya yang sembarangan.


"Aku beneran belum mikir sayang. Emangnya kamu uda tahu mau ngambil jurusan apa?" Tanya Andara.


"Ya tau lah, aku mau ngambil jurusan manajemen bisnis di Universitas Merah Putih. Kamu kok bisa sih belum memilih jurusan, padahal uda mau pendaftaran lho. Bentar lagi juga uda mau tes," Vano berkata tegas.


"Enaknya aku milih apa dong?" Andara malah bertanya.


"Ya kamu pingin dimana kuliahnya? Nantinya pingin mengembangkan diri ke bidang apa?" Vano balik bertanya.


Ditanya berulang kali oleh Vano, membuat Andara semakin bingung.


"Hah, aku gak tau, aku bingung. Nanti deh aku tanya Ayah Bunda dulu kalau mereka uda pulang," Jawab Andara ketus.


Vano tertawa terbahak melihat raut muka Andara yang bingung dan marah. Terlihat lucu di mata Vano. Akhirnya mereka menyudahi pembicaraan tentang memilih jurusan.


Setelah makan malam, Vano pun pamit pulang.


"Kunci pintu dan jendela ya. Selamat malam, selamat istirahat cantik," Ujar Vano sambil mengecup kening Andara. Kemudian ia masuk ke mobil dan mengemudikannya menjauhi rumah Andara.

__ADS_1


__ADS_2