
Malam itu kediaman keluarga Atmajaya ramai kembali dengan kedatangan Willy yang sudah selesai melaksanakan KKN. Ditambah dengan Kenzo yang sedari tadi belum pulang. Karena sifat Kenzo yang mirip dengan Willy, dapat dipastikan rumah Andara kini semakin rame. Mereka sedang berbincang-bincang penuh kehangatan di ruang keluarga, memakan oleh-oleh yang dibawa Willy sambil mendengarkan pengalaman Willy selama KKN.
"Dara ke mana sih Bun?" Willy yang sejak datang tadi belum melihat adiknya, akhirnya bertanya.
"Lagi keluar." Jawab Bunda Rania singkat sambil melirik Kenzo. Yang dilirik hanya meringis.
"Lagi pacaran sama Vano, nonton ke bioskop." Imbuh Kenzo acuh.
"Nih anak gak ada otaknya kali ya Bun, udah tau cewek yang disukai udah punya pacar, masih aja setia nungguin, udah gitu masih aja mau bantuin Bunda bungkusin pesenan. Mau ngambil hati camer kamu?" Tuduh Willy sambil tertawa.
"Emang gitu sih rencananya kak. Tapi sekalian mau manfaatin keahlian Bunda buat tambahan uang saku." Kenzo menjawab jujur.
Semua bingung dengan jawaban Kenzo.
"Yah, Kenzo mau ajakin Bunda bikin konten masakan. Ntar Kenzo yang bantu nyuting deh. Sama bikin ngedit dikit-dikit, yang ngedit banyak biar kak Willy." Kenzo meminta izin pada Ayah Josh sambil mengangkat alisnya pada Willy dengan tatapan penuh arti.
"Kok jadi aku yang ngedit banyak?" Willy merasa dirugikan.
"Ntar bayarannya dibagi deh Kak. Ya kan Bun?" Kenzo langsung menodong Bunda Rania.
"Belum apa-apa uda mikir bayaran. Itu juga kalau ada yang nonton kali Ken." Seru Bunda Rania.
"Eh tapi ide Kenzo bagus lho sayang. Jadi tiap masak kamu rekam aja. Ntar ditambahin apa gitu biar menarik. Ya kan Ken?" Ayah Josh memberi tanggapan. Beliau setuju dengan ide Kenzo yang dirasa memberi peluang dan keuntungan lebih besar untuk istrinya.
"Itu sama aja kayak promosi lho sayang. Ntar kamu kasih keterangan kalau kamu itu pengusaha katering." Imbuh Ayah Josh yang sepemikiran dengan Kenzo.
"Kok sama sih sama perkataan Kenzo tadi? Boleh juga sih dicoba tapi mulai kapan ya? Bunda pinjem kameramu ya Will?" Bunda mulai setuju.
Belum sempat Willy menjawab tiba-tiba ia merasa ada yang memeluk dari belakang.
"Kak Willy, kangen banget." Andara yang sudah datang langsung memeluk kakaknya.
"Kapan kamu datang? Gak denger suaranya." Willy membalik badannya, membalas pelukan Andara dan mengecup pucuk kepalanya.
"Dari tadi kalian ngobrolnya serius banget, Dara ketok-ketok pintu dari tadi gak ada yang jawab." Ujar Andara sewor.
"Lha ngapain kamu ngetok pintu? Kan ada bel? Bikin sakit tangan aja ketok-ketok." Kenzo menimpali sambil tersenyum jahil.
"Eh bocah, kenapa masih di sini sih? Pulang sana, ngapain sih ke sini mulu." Andara yang melihat wajah jahil Kenzo mendadak emosi.
"Ini karyawan Ayah sama Bunda sekarang, kamu gak bisa suruh dia sesukamu." Ayah Josh membela Kenzo.
Merasa banyak dukungan, Kenzo merasa bangga. Senyumnya tercetak jelas di bibirnya. Andara yang kebingungan hanya bisa melongo.
"Karyawan?" Andara bertanya dengan wajah kebingungan.
"Udah pacaran aja sana, jangan ganggu kita yang lagi serius rapat." Kenzo berkata dengan jemawa.
"Rapat?" Andara semakin bingung.
Willy yang sudah menahan tawanya tidak tahan lagi untuk menggoda adiknya. Ia sudah lama tidak melihat wajah lugu adiknya.
"Iya rapat tanggal pertunangan kalian berdua." Goda Willy dengan senyum jahilnya.
"Hah?" Andara semakin kebingungan.
"Mau dong Ayah, Bunda ditunangin sama Dara." Tiba-tiba mata Kenzo berbinar.
__ADS_1
"Emang kamu siapaku? Ngimpi aja!!" Ujar Andara kesal sambil melempar kunci mobilnya pada Kenzo.
Andara langsung naik ke lantai dua begitu tawa menggelegar dari seluruh keluarganya ditambah dengan Kenzo terdengar. Dia merasa tidak ada yang membelanya. Dengan kesal ia memasuki kamarnya.
Di dalam kamar Andara banyak menebak kira-kira apa yang dibicarakan keluarganya dengan Kenzo. Andara terkadang merasa risih Kenzo ada di rumahnya dalam waktu yang lama. Dia tidak ingin Vano menjadi salah sangka.
Namun, di lubuk hatinya yang lain, Andara merasa bahagia melihat Kenzo ada di rumahnya. Sejujurnya Andara merasa senang, Kenzo tidak menjauhinya dan tetap memperlakukan dirinya dengan baik meski kini dia memutuskan untuk menerima Vano kembali. Melihat Kenzo bersama keluarganya kadang membuat Andara miris dan iri, mengapa Kenzo bisa membaur secara alami bersama keluarganya tapi tidak dengan Vano.
Drrtt.. Drtt..
Ponsel Andara berdering. Andara mengambil dan melihatnya. Pesan dari grupnya.
Tralala Trilili
Amel
Girls, besok temenin aku ya dateng ke ulang tahun anak temennya Mama. 🥺
Karla
Mama Ita ke mana?
Amel
Mama lagi banyak undangan, waktunya hampir bersamaan. Makanya Mama nyuruh aku dateng ke sebagian undangannya. Temenin ya girls, kita roadshow.
Andara
Berapa undangan emangnya yang bakal kita datengin? Undangan apa aja?
Amel
Andara
Cocok!! Berarti gak usah makan malem dong ini nanti, biar besok bisa muat makan banyak nih perut 😂😂
Karla
Bener banget tuh. Pasti makanan enak berlimpah. Eh tapi, pertunangan remaja apaan sih?
Andara
Miss kepo!! Eh tapi penasaran juga sih 😝
Amel
Tau ah. Kata mama gitu. Ga ada tulisannya juga di undangannya. Cuma tempat sama waktu aja.
Karla
Oke deh. Besok kudu siap jam berapa nih? By the way, pakai mobil siapa nih?
Andara
Pakai mobilku aja. Lagi males nih di rumah, pasti ketemu bocah itu lagi. Ini aja dia belum pulang dari rumah
Amel
__ADS_1
Ke sunatan dulu ya jam 9. Kenzo maksudnya?
Karla
Serius masih di situ dia? Dia tau kan kamu tadi keluar sama Vano?
Andara
Iya dia tau. Dia kayak cuek, aah gak tau ah, jangan bahas dia lagi. Aku mandi dulu ya.
Andara menyudahi percakapannya. Ia memikirkan Kenzo yang tiada bosan mengunjungi rumahnya bahkan sekarang dia lebih akrab dengan orang tua dan kakaknya. Andara memutuskan untuk segera mandi dan berganti pakaian.
Setelah menyelesaikan semuanya, Andara segera turun untuk bergabung dengan keluarga. Saat menuruni tangga, dia melihat Kenzo yang tanpa canggung berbaur dengan keluarganya. Kenzo duduk berdampingan dengan Willy. Tampaknya mereka sedang berbincang-bincang dengan serius. Ayah Josh sesekali menanggapi obrolan mereka.
Andara mengambil duduk di dekat Bunda Rania. Ia menatap Kenzo yang sama sekali tidak memperhatikan kedatangannya.
"Bun, aku besok nemenin Amel ke undangan ya? Amel disuruh Mama Ita mewakili ke beberapa undangan." Ucap Andara begitu tiba di meja makan. Dia berbicara pelan, khawatir Kenzo tiba-tiba menyambar ingin ikut juga menghadiri undangan.
"Oh iya, tadi Mama Ita juga cerita, besok dia dapet banyak undangan, sampai bingung datengnya gimana. Akhirnya Amel yang disuruh mewakili ya? Ya udah sana ikut aja, kasian Amel kalau sendiri." Bunda Rania menjawab dengan lembut.
"Undangan apa sayang?" Kenzo yang matanya memancarkan kecurigaan tanpa sungkan bertanya dan memanggil Andara dengan sebutan sayang dihadapan orang tuanya.
"Gak ada hubungannya sama kamu. Undangan sunat, puas kamu!!" Jawab Andara sewot namun tetap menjawab pertanyaan Kenzo.
Wajah Kenzo yang semula tegang dan curiga kini berangsur kembali normal setelah mendengar jawaban Andara. Andara yang mendengar pertanyaan Kenzo seketika waswas.
"Kenapa? Jangan bilang mau ikutan. Ini acara cewek-cewek tau!!" Tanya Andara penuh curiga dan penekanan.
"Yeee GR.. Siapa yang mau ikut? Dikiranya aku gak ada kerjaan gitu. Aku besok juga sibuk tau!!" Kenzo membalas tak kalah sewot.
"Ken besok kesini lagi aja, kita omongin proyek terbaru kita tadi." Willy ikut nimbrung.
"Besok beneran gak bisa kak, aku ada perlu." Tolak Kenzo.
Mereka pun melanjutkan makan malamnya. Sampai kemudian Ayah Josh memecah kesunyian.
"Eh tapi undangan sunat beneran Dara?" Ayah Josh bertanya, memastikan pendengarannya tadi benar.
"Iya Ayah, bener undangan sunat." Andara menjawab sambil menunduk.
Terdengar suara Kenzo dan Willy yang menahan tawa.
"Gak masalah. Yang penting udah niat dateng buat nemenin Amel." Bunda Rania mengelus punggung Andara. Ia tahu anak gadisnya sedang malu.
"Mama Ita itu ngasi undangan yang sesuai sama umurmu, bocah!!" Kenzo menekankan kata bocah, karena selama ini Andara selalu memanggilnya dengan sebutan itu.
Kenzo senang bisa membalas Andara. Ia tertawa terbahak-bahak. Willy menyodorkan tangannya untuk ber-hi five. Kenzo menyambutnya penuh senyuman.
"Bunda.." Andara mulai merengek.
"Tengkar mulu, ntar dari benci jadi cinta lho." Ayah Josh menggoda.
"Mau banget Yah." Tanpa malu Kenzo menjawab segera.
Andara menghadiahi Kenzo dengan tatapan membunuh. Bukannya takut, Kenzo malah tertawa seneng. Menurutnya wajah Andara yang marah sangatlah lucu dan menggemaskan. Seluruh keluarga pun tertawa melihat tingkah mereka.
Kenapa sih sepertinya Ayah, Bunda bahkan Kak Willy pengen ngedeketin Kenzo sama aku? Kan aku udah sama Vano!! Aku juga udah berjanji bakal nungguin Vano sampai hubungan kami disetujui orang tuanya. Kenapa Ayah Bunda ga ngertiin banget sih. Batin Andara kesal. Ia pun bergegas masuk ke kamarnya. Meninggalkan semua orang dalam keadaan bingung.
__ADS_1