
"Tanyakan apa yang ingin kamu ketahui sayang, aku akan menjawabnya." Ujar Kenzo.
"Itu luka apa? Kenapa bisa sampai seperti itu? Itu bukan luka sedikit Ken, itu hampir memenuhi bahu dan lenganmu. Itu sakit Kenzo, itu bukan luka main-main, itu luka terbakar." Andara memberondong Kenzo dengan pertanyaan sambil terisak.
"Tenanglah sayang. I'm fine. Kalau kamu seperti ini, aku malah gak pengen cerita lagi lho. Tenanglah. Hei liat aku sayang." Ujar Kenzo sambil terus mengusap punggung Andara.
"Lihatlah aku sayang, aku baik-baik saja. Udahlah, tenang dulu. Aku akan menceritakannya sayang. Asal kamu berjanji, kamu akan baik-baik aja. Bisakah kamu berjanji?" Kenzo bertanya.
Andara mengangguk sebagai jawaban. Ditatapnya mata lelaki itu dalam. Kenzo balik menatap mata Andara, ada binar kebahagiaan di dalamnya. Terbesit dalam benaknya, untuk membagi sedikit rasa sakit dalam dirinya. Berharap lukanya dapat terkikis dengan hadirnya gadis pujaannya itu.
"Ini emang luka bakar. Tepatnya, luka bekas sulutan putung rokok. Dan ini, yang membentuk lajur ini adalah bekas cambukan." Kenzo menjelaskan.
Andara kehilangan kata-kata. Yang bisa ia lakukan hanya menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berharap isakannya bisa teredam.
"Tenanglah sayang." Kenzo hanya mampu berucap itu.
Andara terus menangis. Kenzo kembali merengkuh gadis itu. Andara semakin histeris, wajahnya dibenamkan di dada bidang lelaki itu.
Setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Kenzo, Andara mampu menguasai dirinya. Dengan perlahan ia menatap wajah Kenzo.
"Siapa? Siapa yang melakukannya Ken? Orang kejam mana yang sampai hati melakukan itu semua?" Tanya Andara dengan terisak.
"Orang jahat yang telah menculikku dan menyekapku." Dengan enteng Kenzo menjawab, seperti tanpa beban.
"APA??" Keterkejutan Andara sudah sampai puncaknya.
"Santai sayang. Aku udah bilang, aku baik-baik saja. Aku udah aman." Kenzo menenangkan Andara.
"Ini alasan kamu bilang habis kumat? Apa kamu memiliki trauma, Ken?" Tanya Andara setelah berhasil menyatukan kepingan puzzle yang sempat menjadi pertanyaannya.
Kenzo tersenyum menatap Andara. Gadis cantik itu sungguh sangat peka.
"Gadis pintar. Ini yang bikin aku makin cinta sama kamu, Yang." Ujar Kenzo sambil menarik lembut hidung Andara.
Entah kenapa hatiku sakit sekali Kenzo, saat melihatmu tersenyum sambil menyembunyikan lukamu. Salah apa yang menyebabkan kamu sampai harus menanggung rasa sakit itu? Batin Andara berbisik. Tangisnya kembali pecah.
"Sekarang kamu tau, aku bukan lelaki sempurna. Aku punya trauma dan bahkan aku butuh obat penenang. Jadi, masih bolehkah aku berharap padamu?" Tanya Kenzo.
Andara mengangkat kepalanya dan dengan segera memukul bahu Kenzo.
"Jangan ngelawak kalau pas gini!!" Teriak Andara.
"Lha siapa yang ngelawak Yang. Ini semua ungkapan kata hatiku yang terdalam sayang." Jawab Kenzo.
"Ceritakan lagi." Tuntut Andara.
"Apanya?" Tanya Kenzo.
"Ya yang masalah tadi. Kok bisa-bisanya sih kamu santai banget gt?" Cerca Andara.
__ADS_1
"Bisa makin menggila aku kalau gak santai." Jawab Kenzo.
"Kenzo!!" Teriak Andara penuh amarah.
"Iya iya sayang. Gak usah teriak lagi ah." Ujar Kenzo.
Kenzo menarik Andara, merebahkan tubuh mereka di sandaran kasur. Kenzo terus memeluk Andara erat, seakan Andara adalah kekuatannya untuk dapat terus berdiri. Andara hanya diam dan mengikuti semua yang dilakukan Kenzo. Lelaki itu pun menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku kan pernah cerita sayang, aku balik ke sini waktu aku SD kelas 2. Aku balik kesini tepat sebulan setelah aku dibebaskan dari penculik yang menyekapku. Setahun setelahnya aku terus menjalani terapi untuk menghilangkan traumaku. Tapi ya gitu deh. Trauma itu gak hilang, hanya saja aku berusaha menekannya agar tidak semakin membuat khawatir Kakek, nenek dan juga orang tuaku." Kenzo menjelaskan.
"Luka itu kamu dapat saat diculik?" Tanya Andara.
"Ya begitulah. Mereka sedikit menyiksaku dengan sundutan bara rokok. Dan cambukan dari rotan." Jawab Kenzo.
Andara yang mendengar penuturan Kenzo kembali menangis.
"Siapa sih Ken yang tega ngelakuin itu semua ke anak kecil? Tega banget sih Ken. Salah kamu apa?" Andara terus terisak.
"Mungkin karena nama belakangku ada Harjantonya, hehe.." Kenzo berkelakar.
"Jangan becanda Ken. Nyebelin tau gak kamu itu." Andara memukul tangan Kenzo.
"Aku harus begini sayang, agar otakku tidak mengingat semua kenangan buruk itu." Kenzo menjawab jujur.
Andara langsung mengangkat kepalanya, menatap Kenzo dengan lekat.
"Ketika aku di culik selama 2 hari itu, aku disekap dalam ruang tertutup yang gelap dan di situ aku disiksa terus. Mereka meminta tebusan dan menanyakan alamat rumahku. Aku terus bungkam. Semakin aku bungkam, semakin sering mereka menyiksaku. Entah berapa kali cambukan dan sundutan rokok yang aku terima. Dan alam bawah sadarku merekam itu semua."
"Itu sebabnya aku sangat membenci semua tindakan kekerasan dan sewenang-wenang. Apalagi yang sampai merugikan orang-orang yang tidak bersalah. Karena itu, aku benci mantan pacarmu yang b*g* itu. Maaf sayang, tapi aku sungguh gak bisa mentolerir tindakannya dan keluarganya, meski mereka semua bilang kami sudah seperti saudara. Hah aku gak sudi punya saudara seperti itu. Apalagi jika yang diusiknya adalah orang-orang kesayanganku."
"Sejak kejadian itu, aku rutin menjalani terapi selama setahun. Namun ternyata trauma itu membekas sampai sekarang. Tapi kamu jangan bilang-bilang ya. Hehe.."
"Hah kenapa gitu?" Andara bertanya.
"Aku menutupinya. Aku berusaha bertarung dengan traumaku sendiri. Aku gak mau lagi menyusahkan semua orang. Jadi kalau aku pas kumat, dulu aku bisa histeris dan bahkan sampai pingsan. Sekarang aku hanya akan merasa pusing dan jantungku berdebar. Jika parah, pandanganku sedikit kabur tapi gak sampai pingsan. Aku pakai tidur sebentar juga hilang. Kalau kumatnya agak parah, aku butuh obat penenang, seperti tadi."
"Kamu ingat sahabatku yang juga kakak dari pacar pertama Vano? Dia mengajariku mengontrol traumaku. Dia mengajakku rutin berlatih taekwondo. Sejak kejadian penculikan itu, aku memang langsung dimasukkan ke sekolah bela diri, ya sekedar untuk berjaga-jaga. Namun aku tidak rutin melakukannya. Hingga aku kumat tepat di hadapan Kakak Laras. Dia menamparku habis-habisan hingga aku sadar. Setelah itu aku menceritakan semuanya padanya. Sejak itu juga dia membantuku mengontrol traumaku dan mengajakku rutin berlatih taekwondo, untuk melampiaskan amarahku yang terpendam dan kenangan burukku. Kamu orang kedua diluar keluargaku yang tau traumaku sayang, maafkan aku." Kenzo menutup ceritanya dengan terkekeh.
Andara memukul bahu Kenzo lagi.
"Becanda mulu!!" Ujar Andara.
"Kamu tau sayang, aku dulu cuek dengan orang sekitar, namun kejadian itu membuatku menjadi orang yang beda. Aku jadi semakin pintar bercanda, karena dari situ aku bisa menyembunyikan lukaku. Dan kamu, sekali lagi, menjadi gadis pertama yang mampu memporak porandakan pertahananku. Kamu yang mampu membuatku membuka topengku. Di depanmu, aku menjadi Kenzo yang sebenarnya. Kamu udah melihat wajahku yang sebenarnya. Aku yang sakit, yang terluka, aku yang penuh amarah dan aku juga yang penuh cinta. Jadi, aku gak akan melepaskanmu. Karena kamu istimewa." Ujar Kenzo menjelaskan.
Andara langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan Kenzo. Menangis dalam pelukannya.
"Kamu tau, kamu itu sumber kekuatanku sayang. Jadi, tetaplah di sampingku." Lirih Kenzo berujar tepat di telinga Andara.
"Kenzo, jadi tadi di tempat Kakek, kamu kenapa? Terkurung lagi di tempat gelap?" Dengan berbisik Andara bertanya.
__ADS_1
"Hehe tadi tuh, liftnya berhenti mendadak Yang. Tinggal dua lantai lagi padahal. Listriknya tau-tau mati. Kan serem Yang, hehe.." Kenzo bercerita sambil cengengesan seperti semua itu bukan masalah besar untuknya.
"Terus?" Andara menuntut.
"Ya aku jongkok aja sih Yang. Sambil merem. Sambil megang handphone dan ngelihatin ini." Ujar Kenzo sambil memperlihatkan layar depan ponselnya yang terdapat foto Andara.
"Kamu--" Suara Andara tersedat.
"Kan aku udah bilang, kamu itu sumber kekuatanku. Aku cuma ingat, hari ini aku harus nunjukin kamu lagu itu tadi." Kenzo tersenyum sangat tampan.
"Kenzo.. Aku.. Aku.. Aku.." Andara gugup.
"Iya aku tau, kamu cinta sama aku. Udah tenang. Aku disini, tepat di sampingmu." Kenzo meneruskan kalimat Andara.
"Terus Ken, dulu gimana kamu bisa bebas?" Tanya Andara.
"Gak tau, Papi dan Mami yang melacakku. Pokoknya tau-tau aku bebas aja gitu." Kenzo menjawab acuh tak acuh.
"Dan tadi, luka tadi, kenapa kamu seperti tadi saat lukamu ku sentuh? Kamu seperti marah. Hmm wajahmu menakutkan Ken. Ada apa?" Cerca Andara.
"Sayang, luka itu sembuh sekitar 2 minggu setelah kejadian. Namun bekasnya terasa sampai sekarang. Ketika disentuh, rasanya seperti baru kemarin aku mengalaminya. Jadi, maafkan aku. Itu hanya gerakan reflek untuk melindungi diri." Kenzo menjelaskan sambil meraup kedua pipi Andara.
"Jangan pergi dariku, ku mohon. Aku yang akan terus berlari padamu dan aku juga akan menunggu hingga kamu siap mendampingiku." Kenzo berbisik lirih.
Andara semakin tak kuasa menahan tangisnya.
"Diamlah sayang atau aku kecup bibirmu yang terus berisik itu." Ancam Kenzo sambil terkekeh.
Namun entah kenapa, gadis itu malah semakin kencang menangis.
"Jangan menggodaku sayang." Ujar Kenzo.
Kenzo menatap dalam manik coklat Andara, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Andara. Bibirnya semakin mendekat untuk meraih bibir Andara, kemudian..
Braaakk..
"Dasar soang!! Gak Papinya, gak anaknya sama-sama doyan nyosor. Astaga!! Kapan Kakek bisa tenang dan leha-leha, selesai urusan Betrand sekarang ganti Kenzo. Apa salah Kakek di masa lalu sih?"
Andara dan Kenzo terperanjat mendengar pintu kamar Kenzo terbuka lebar dan menampilkan wajah Kakek yang sudah melotot menghadap wajah Andara dan Kenzo. Gadis itu langsung mendorong tubuh Kenzo dan menundukkan kepala. Wajahnya sudah memerah. Sedangkan Kenzo hanya terbahak-bahak mendengar kata-kata kakeknya.
"Anak muda Kek. Kayak gak pernah muda aja." Kenzo membela diri.
"Jangan asal sosor Kenzo! Ada tahapnya, romantis dikit napa." Kakek berbicara.
"Aaww.. Hei sweet heart, kenapa aku dipukul sih?" Nenek yang muncul dari belakang tiba-tiba memukul punggung Kakek.
"Sama-sama keturunan soang, jangan saling menghina. Kayak sendirinya bukan soang aja. Dasar, tukang sosor semua." Nenek berbicara lantang.
"Andara, sayang. Ayo turun kebawah, kita makan malam." Ajak nenek. Yang langung disambut dengan gembira oleh Andara. Ia segera berlari menggandeng tangan nenek dan berjalan bersama menuju ruang makan.
__ADS_1