MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
NASI GORENG HANTU


__ADS_3

Kenapa dia? Kenapa wajahnya jadi gitu ya? Apa dia mengenal Kenzo? Batin Andara penuh tanya.


Vano dan Kenzo saling memandang dengan tatapan tajam. Vano terlihat menahan emosinya dan jari-jari Kenzo terlihat meremas kaleng hingga penyok.


Duh mampus beneran nih aku!! Apa Vano mendengar teriakan Kenzo tadi ya? Andara mulai panik. Ia berpikir Vano sedang cemburu pada Kenzo. Andara menatap kedua sahabatnya yang juga memperhatikan kejadian tersebut.


Tak lama, Kenzo pun langsung turun dari bus dan kembali ke rombongannya. Vano juga langsung mengubah raut mukanya dan berjalan mendekati Andara, tersenyum singkat kemudian duduk di sampingnya sambil menutup mata. Pandangan menyelidik langsung diterima Andara dari Amel dan Karla.


Bus akhirnya meninggalkan Universitas Merah Putih dan kembali ke SMA langit biru. Selama perjalanan, Vano hanya diam dan menutup mata.


"Mau minum sayang? Kamu kenapa? Apa kamu mengenalnya? Lelaki tadi yang ku maksud." Andara memberanikan diri bertanya.


Vano membuka mata, tersenyum hangat pada Andara dan menggenggam tangannya. Vano meremas pelan tangan Andara namun tatapan matanya terlihat sangat tersiksa.


"Aku baik-baik saja." Vano tersenyum dan kembali menutup matanya.


Andara tahu, ia tidak akan mendapat jawaban.


Drrt.. Drrt..


Pemberiantahuan pesan masuk di whatsapp grup.


TRALALA TRILILI


Amel : pokoknya sampai sekolah Dara kudu langsung cerita kronologis lengkapnya. Wajib!!!


Karla : bener!! Gak boleh banyak alesan. Ini mencurigakan!!

__ADS_1


Amel : kamu selingkuh Dara?


Hah.. Apa lagi sih mereka ini. Andara mendesah melihat pesan dari teman-temannya. Ia tidak membalasnya.


***


Tak lama setelah bus sampai di sekolah, Andara melihat mata Vano yang masih menutup. Ia pun menggoncang tubuhnya.


"Sayang, bangun, uda sampai nih." Ujar Andara lirih.


Vano mengerjapkan matanya, melihat sekeliling dan tersenyum pada Andara.


"Makasi cantik, aku ketiduran ternyata." Jawab Vano.


"Tinggal setengah hari, kabarnya gak ada pelajaran setelah ini, mau langsung pulang?" Tanya Andara.


Mereka pun turun dari bus, dan menuju tempat Vano memarkir mobilnya. Sebelumnya mencapai mobil Vano, tangan Andara ditahan oleh Karla.


"Mau melarikan diri ya? Cerita dulu ada apa tadi? Udah buruan ke kelas aja, kita ceritanya di sana." Karla berbisik di telinga Andara.


"Iya nih, jangan harap kamu lolos dari kita. Imbuh Amel, jiwa bergosipnya meronta-ronta.


" Jangan sekarang, Vano kondisinya kayak kalian liat tadi. Aku nemenin dia dulu." Tolak Andara.


Amel dan Karla serempak melihat ke arah Vano yang ternyata sudah berada di dalam mobilnya.


"Ntar sore deh, kita ke rumah Amel. Kita ngomongin ini di sana. Lagian uda lama banget kan kita gak menjajah rumah kamu, Mel?!" Imbuh Andara.

__ADS_1


"Oke deh, setuju. Ntar kita ke rumah Amel ya, sekalian nginep situ aja gmn? Lama nih ga pajamas party bareng kalian. Lagian kamu jg di rumah sendiri kan Dara." Karla menyetujui usul Andara.


"Eh gak usah. Jangan. Gak bisa. Maksudku, jangan ke rumahku dulu." Amel menjawab dengan gugup. Wajahnya berubah menjadi pucat.


"Kamu kenapa sih, Mel? Aneh banget tau gak!" Andara memandang Amel dengan heran.


"Karena rumah Dara lagi sepi, mending di sana aja, jadi kan bisa leluasa ceritanya. Pokoknya jangan di rumahku lah, aku bosen pengen main di luar rumah juga kan?!" Amel memberi solusi.


"Astaga, dasar aneh, biasanya juga kita giliran tempat mainnya." Karla pun kebingungan dengan tingkah Amel.


Sial!! Gimana pun caranya mereka gak boleh main ke rumah. Batin Amel.


"Tau lah, di mana aja boleh, aku mau nemenin Vano dulu. Ntar kabari aja di mana jadinya." Andara berkata sambil berjalan menuju mobil Vano.


Andara pun langsung masuk ke mobil. Sesampainya di dalam mobil, dilihatnya kepala kekasihnya itu bersandar di kursi pengemudi dalam keadaan mata tertutup.


"Sayang, kamu kenapa sih? Hmm.. Kamu mau sendiri dulu di sini? Gak masalah kok sayang aku. Lagian anak-anak rencananya mau main ke rumah Amel." Andara memberanikan bertanya lagi.


Masih tidak ada jawaban. Andara semakin bingung. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena menemui Kenzo. Ia berpikir, kemungkinan Vano melihatnya saat bertemu Kenzo sewaktu ia menyerahkan kaleng minuman tadi.


"Sayang, aku masuk ke dalam kelas dulu ya sama Karla dan Amel. Nanti aku mau ke rumah Amel. Kabari aku ya kalau kamu sudah lebih tenang." Andara bergegas membuka pintu mobilnya.


Namun sebelum seluruh badannya sempat keluar dari mobil, sebuah tangan hangat yang sangat dihafal menahan lengannya.


"Jangan pergi. Jangan jauh dariku. Tetaplah disini, berada di sisiku selalu. Jangan tinggalkan aku, ku mohon." Lirih Vano berbicara sambil memandang Andara. Matanya sayu, terlihat sangat terluka dan lelah. Wajahnya memancarkan rasa sakit yang teramat sangat.


Tiba-tiba Andara melihat, cairan bening menetes dari pelupuk mata lelaki yang dicintainya ini. Andara merasa dadanya sangat sesak melihat pemandangan ini.

__ADS_1


Kamu kenapa sebenarnya sayang? Ada apa ini? Apa ada yang kamu tutupi dariku? Batin Andara lirih, air matanya pun ikut menetes.


__ADS_2