
Buuugg..
Kenzo jatuh tersungkur. Vano memukulnya. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Aaahh.. " Andara, Karla dan Amel memekik bersamaan. Seketika, mereka berlima menjadi pusat perhatian.
Amel dan Karla langsung berlari membantu Kenzo. Andara menatap nanar Kenzo dari kejauhan. Tangannya sibuk menahan tubuh Vano agar tidak menyerang Kenzo lagi.
"Apa harus mengulang kejadian tiga tahun lalu baru kamu sadar, huh?" Kenzo tertawa mengejek.
Vano yang mulai melangkah maju untuk menyerang Kenzo lagi, ditahan oleh Andara.
"Udah sayang, ku mohon.. Tenanglah. Aku di sini, aku tepat di sisimu, aku gak akan kemana-mana." Andara memeluk Vano dari belakang, mulai terdengar isak tangisnya.
Kenzo yang mengetahui Andara menangis, wajahnya terlihat sangat tersiksa.
"Cukup Andara, jangan menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis." Kenzo bangkit menuju Andara.
Melihat Kenzo yang akan menghampiri Andara, Vano yang masih diliputi amarah siap untuk menyerang lagi. Untunglah, Karla dan Amel menahan tangan Kenzo agar ia tidak bisa mendekat ke Andara.
__ADS_1
"Kamu sungguh akan menyakitinya Van. Kali ini aku benar-benar gak akan melepas Andara. Aku gak akan membiarkan dia terluka, aku gak suka melihatnya menangis." Kenzo menatap tajam pada Vano.
"Dia pacarku, aku yang akan menjaganya. Aku yang akan melindunginya." Vano menjawab tegas.
"Kamu yakin kakimu udah kuat sekarang?"
Kenzo meminta tangannya di lepaskan. Ia berjalan menghampiri Andara yang masih memeluk Vano, tersenyum dan mengusap pucuk kepalanya, "jangan menangis lagi, kamu jelek kalau nangis. Ini biasa terjadi di antara anak laki-laki. Tenang aja, aku ga kenapa-napa kok."
Vano menepis tangan Kenzo dari kepala Andara.
"Jangan pernah menyentuhnya!!"
"Aku akan menjagamu, jangan khawatir cantik." Kenzo tak menggubris perkataan Vano. Ia tersenyum menenangkan Andara.
"CUKUP.. AKU BILANG CUKUP!! JANGAN SALING MENYAKITI. KUMOHON!!" Andara menangis tersedu-sedu.
Vano yang mendengar teriakan Andara akhirnya tersadar dan langsung memeluknya. "Maafkan aku cantik. Kita pulang sekarang, aku antar kamu pulang sekarang cantik. Tenanglah."
Vano melihat pada Karla dan Amel yang sedari tadi diam memperhatikan. "Aku antar Dara pulang dulu, kalian juga segera ke rumah Dara. Tolong tetap temani Dara malam ini."
__ADS_1
Karla dan Amel mengangguk setuju.
Dengan segera Vano membawa Andara menuju mobilnya. Ia melirik sekilas pada Kenzo saat melewatinya. Sesampainya di mobil ia meminta gadis itu menunggu sebentar. Andara yang masih khawatir dan terkejut langsung menarik tangan Vano.
"Jangan berkelahi lagi dengan Kenzo. Ku mohon." Ia terisak pelan.
"Iya cantik.. Aku hanya mau ngambil tas di lapangan basket kok."
Andara mengangguk. Ia menunggu Vano di samping mobilnya.
Drrt.. Drrt..
Pesan masuk di telepon seluler Andara.
08xxxx
Andara, jangan menangis lagi. Ku mohon. Tetap lah tersenyum apapun yang terjadi. Kamu harus selalu tersenyum bahagia. Ada aku di sampingmu.
Membaca pesan dari Kenzo, entah mengapa Andara semakin kencang menangisnya. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya namun ada juga ragu yang menggelayuti.
__ADS_1
Andara merasakan tubuhnya yang mulai lemas. Entah kemana kekuatannya menghilang. Ia merasa kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi. Andara pun langsung duduk bersimpuh dengan terisak.
Ada apa ini? Aku sungguh gak tau apapun. Apa yang sebenarnya pernah terjadi diantara mereka? Aku harus gimana? Jerit Andara di dalam hati.