MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
MALAM KEAKRABAN


__ADS_3

"Pemilik sebelumnya?" Karla tidak sengaja berteriak. Bu Natasya menoleh sambil mengangkat kedua alisnya. Dengan cepat Karla menutup mulutnya dengan tangan.


"Baru seminggu pindah? Pemilik sebelumnya? Tante membeli rumah ini dari siapa? Tante kenal pemilik sebelumnya?" Andara bertanya tiada henti.


Bu Natasya tertawa melihat raut wajah Andara yang lucu.


"Iya, suami saya membelinya sebulan lalu. Tapi baru kami tempati seminggu ini. Kami juga tidak tahu siapa pemilik sebelumnya. Kami membeli lewat jasa jual beli properti. Apa teman kalian tidak memberitahu kalau dia pindah?"


Andara dan Karla sangat bingung. Bagaimana bisa Amel menyembunyikan hal seperti ini. Tidak memberitahu mereka sama sekali. Setidaknya mereka bisa membantu saat pindahan. Mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran Amel. Atau Amel sedang menjahili mereka? Seperti itulah pikiran Andara dan Karla mendengar kenyataan bahwa rumah tersebut bukan lagi rumah Amel.


Segera mereka pamit pada Bu Natasya dan meminta maaf karena sudah mengganggunya.


"Dara, kita cari Amel di mana?"


Andara hanya menggeleng lemah. Tiba-tiba dia mengeluarkan telepon selulernya. Mengajak berswafoto Karla di depan rumah tersebut.


"Penting ya foto gitu sekarang?" Karla jengkel.


"Kita kudu nemuin Amel, Kar. Percaya aku deh. Sini." Andara menarik Karla, dan segera mereka berswafoto. Andara langsung mengetik pesan pada Amel.


Mel, kamu di mana? Atau di mana rumahmu sekarang?


Andara mengirim pesan disertai fotonya dan Karla yang berada di rumah lama Amel. Ia segera keluar dari rumah itu. Meminta maaf dengan pak satpam yang telah mereka curigai. Dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Begitu mereka masuk mobil. Telepon seluler Andara berdering. Andara langsung menerimanya dengan mengaktifkan pengeras suara.


"Halo, di mana kamu Mel?"


Tiba-tiba terdengar suara tangis dari seberang telepon. Andara dan Karla pun langsung ikut meneteskan air mata.


"Amel, kamu kenapa? Kenapa gak cerita sama kita. Kamu di mana sekarang?" Desak Karla.

__ADS_1


"Aku di Graha Pelangi nomor 7." Amel menjawab dengan terisak.


"Tunggu, kita secepatnya ke sana. Kamu tenang ya sayang. Tungguin kita." Andara menjawab sambil menangis. Ia memutus panggilan dan sejenak melirik telepon selulernya, masih juga belum ada berita dari Vano. Ia menghela nafas berat, tangannya langsung menyalakan mobil dan berangkat menuju alamat itu.


***


Sampailah mereka di rumah Amel yang baru. Rumah yang lebih kecil dari rumah sebelumnya. Namun memiliki taman yang lebih luas. Di samping garasi terdapat bangunan, yang jika dilihat dari luar sepertinya diperuntukkan sebagai ruang produksi kue-kue buatan mama Ita. Ada ruangan kecil di depannya, sebuah kantor kecil.


Andara memencet bel di pintu. Kepala Amel menyembul dari balik pintu. Matanya merah dan sembab.


"Mel.."


Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Andara dan Karla. Mereka bertiga menangis bersama sambil berpelukan.


----------------------------------------------------------------------------------


Maaf cerita ini diacak ya. .


"Pemilik sebelumnya?" Karla tidak sengaja berteriak. Bu Natasya menoleh sambil mengangkat kedua alisnya. Dengan cepat Karla menutup mulutnya dengan tangan.


"Baru seminggu pindah? Pemilik sebelumnya? Tante membeli rumah ini dari siapa? Tante kenal pemilik sebelumnya?" Andara bertanya tiada henti.


Bu Natasya tertawa melihat raut wajah Andara yang lucu.


"Iya, suami saya membelinya sebulan lalu. Tapi baru kami tempati seminggu ini. Kami juga tidak tahu siapa pemilik sebelumnya. Kami membeli lewat jasa jual beli properti. Apa teman kalian tidak memberitahu kalau dia pindah?"


Andara dan Karla sangat bingung. Bagaimana bisa Amel menyembunyikan hal seperti ini. Tidak memberitahu mereka sama sekali. Setidaknya mereka bisa membantu saat pindahan. Mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran Amel. Atau Amel sedang menjahili mereka? Seperti itulah pikiran Andara dan Karla mendengar kenyataan bahwa rumah tersebut bukan lagi rumah Amel.


Segera mereka pamit pada Bu Natasya dan meminta maaf karena sudah mengganggunya.


"Dara, kita cari Amel di mana?"

__ADS_1


Andara hanya menggeleng lemah. Tiba-tiba dia mengeluarkan telepon selulernya. Mengajak berswafoto Karla di depan rumah tersebut.


"Penting ya foto gitu sekarang?" Karla jengkel.


"Kita kudu nemuin Amel, Kar. Percaya aku deh. Sini." Andara menarik Karla, dan segera mereka berswafoto. Andara langsung mengetik pesan pada Amel.


Mel, kamu di mana? Atau di mana rumahmu sekarang?


Andara mengirim pesan disertai fotonya dan Karla yang berada di rumah lama Amel. Ia segera keluar dari rumah itu. Meminta maaf dengan pak satpam yang telah mereka curigai. Dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Begitu mereka masuk mobil. Telepon seluler Andara berdering. Andara langsung menerimanya dengan mengaktifkan pengeras suara.


"Halo, di mana kamu Mel?"


Tiba-tiba terdengar suara tangis dari seberang telepon. Andara dan Karla pun langsung ikut meneteskan air mata.


"Amel, kamu kenapa? Kenapa gak cerita sama kita. Kamu di mana sekarang?" Desak Karla.


"Aku di Graha Pelangi nomor 7." Amel menjawab dengan terisak.


"Tunggu, kita secepatnya ke sana. Kamu tenang ya sayang. Tungguin kita." Andara menjawab sambil menangis. Ia memutus panggilan dan sejenak melirik telepon selulernya, masih juga belum ada berita dari Vano. Ia menghela nafas berat, tangannya langsung menyalakan mobil dan berangkat menuju alamat itu.


***


Sampailah mereka di rumah Amel yang baru. Rumah yang lebih kecil dari rumah sebelumnya. Namun memiliki taman yang lebih luas. Di samping garasi terdapat bangunan, yang jika dilihat dari luar sepertinya diperuntukkan sebagai ruang produksi kue-kue buatan mama Ita. Ada ruangan kecil di depannya, sebuah kantor kecil.


Andara memencet bel di pintu. Kepala Amel menyembul dari balik pintu. Matanya merah dan sembab.


"Mel.."


Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Andara dan Karla. Mereka bertiga menangis bersama sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2