MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
PESAN LANSIA


__ADS_3

Pagi itu, beberapa hari pembicaraan antara Ayah Josh, Bunda Rania dan Andara di dalam mobil, Andara termenung di kamarnya. Menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Banyak sekali yang dipikirkan gadis itu namun senyum manis selalu tercetak di bibir merahnya.


Semoga langkah yang ku ambil ini benar. Jadi aku tinggal memberitahu Amel dan Karla. Andara bergumam dalam hati.


Andara bangkit dari kasurnya dan bergegas bersiap untuk ke sekolah. Gladi bersih persiapan upacara kelulusannya yang besok akan dilakukan di gedung serba guna SMA Langit Biru.


Setelah selesai dengan persiapannya, Andara turun ke lantai satu rumahnya untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan.


"Pagi semua." Andara menyapa Ayah Josh, Bunda Rania dan Willy yang sudah siap di meja makan.


"Pagi sayang." Jawab Bunda Rania dan Ayah Josh kompak sambil menerima ciuman selamat pagi dari Andara.


"Kamu yakin dengan pilihanmu Dara?" Tanya Willy setibanya Andara di sampingnya.


Andara mengangguk sebagai jawaban.


"Ini tuh gak sebentar lho Dara, kamu kuliah setidaknya empat tahun baru lulus dan ini semua berpengaruh pada masa depanmu. Kamu sanggup? Kalau ada masalah ditengah jalan gimana? Empat tahun Dara! Bukan empat hari atau empat jam." Ujar Willy dengan nada tinggi.


"William, biarkan Dara mengambil keputusannya sendiri dan mari kita beri Dara kepercayaan untuk dapat bertanggungjawab penuh atas keputusan yang diambilnya." Ayah Josh bersuara, membungkam protes dari Willy.


"Andara, kamu yakin? Sudah siap dengan segala resiko yang mungkin kamu terima?" Ayah Josh bertanya dengan serius pada Andara.


"Aku gak pernah seserius ini mengambil keputusan Yah. Entahlah tapi aku merasa ini keputusan yang tepat untukku dan untuk semuanya." Jawab Andara.


"Halah bilang aja kamu belum bisa move on dari seseorang dan lagi pingin menghindari seseorang. Pikiran kamu itu mirip buku yang terbuka Dara, gampang banget ditebak." Willy menimpali.


Andara tertunduk sambil tersenyum mendengar ocehan kakaknya.


"Biarkan saja Willy. Asalkan dia yakin dengan pilihannya dan hatinya, Bunda percaya dia akan baik-baik saja." Bunda Rania ikut menimpali.


"Ayo sarapan dulu." Ayah Josh bersuara, menghentikan semua perdebatan yang terjadi.


Semua mengangguk dan memakan sarapannya dengan tenang.


"Apa Ayah sudah melakukan yang Dara pinta?" Tanya Dara disela-sela makannya.


"Semua sudah beres, kamu tak perlu khawatir. Lakukan saja bagianmu dan selesaikan tugasmu dengan benar." Ujar Ayah Josh tegas.


"Ingat Dara, sekali kamu masuk, kamu tidak akan semudah itu keluar. Kamu sanggup?" Willy kembali mempertanyakan keseriusan Andara.


"Aku akan berusaha Kak." Jawab Andara.


"Ini bukan main-main Dara. Jangan lakukan jika masih ada sedikit aja ragu dihatimu. Jangan mempertaruhkan masa depanmu." Bentak Willy.


"Turunkan suaramu Willy." Ayah Josh mengingatkan.


"Yah.." Willy hendak protes.


"Biarkan Andara lebih dewasa dengan cara ini Willy. Dia akan mengambil banyak pelajaran dari keputusannya ini." Bunda Rania yang bersuara.


"Sudahlah. Selesaikan makan kalian dan bersiaplah." Ayah menengahi.


Mereka pun kembali makan dengan tenang. Setelah selesai dengan ritual makan pagi yang penuh drama hari ini, Andara pun bersiap ke sekolah.


"Hari ini selesai jam berapa Dara?" Bunda bertanya.


"Gak lama Bun, mungkin jam 11 udah kelar. Tapi aku mau ke mall Bun sama Amel dan Karla. Kita mau beli gaun, bolehkan Bun?" Tanya Andara.


"Boleh aja. Kenzo ikut?" Tanya Bunda Rania.


Baru saja Andara mau menjawab namun suaranya terhenti oleh suara lain dari belakang yang menjawab pertanyaan Bunda Rania.

__ADS_1


"Ikut dong Bun. Kenzo bakal nganterin Dara kemana pun, tenang aja Bun." Kenzo yang menyambar pembicaraan mereka, menjawab untuk Andara.


"Eh dateng-dateng main sambar aja. Enak aja, hari ini kamu gak ikut Ken! Ini urusan cewek, nanti kamu ngintip, gak jadi bikin kejutan deh." Cerocos Andara.


Kenzo menaikkan alisnya dan sudut bibirnya terangkat sedikit.


"Jadi, ada kejutan untukku?" Tanya Kenzo dengan nada menggoda.


"Eh!!" Andara yang tersadar langsung membungkam mulutnya sendiri.


"Hahaha.." Riuh suara tawa terdengar menggema di ruang makan itu.


"Makanya beli rem, pasang tuh di mulut, biar gak bablas aja kalau ngomong. Keceplosan kok sering banget, Dara!!" Willy menoyor kepala adik kesayangannya. Disambut tawa yang terus berkumandang.


***


"Kalian mau kemana sih Yang? Aku ikut dong." Kenzo masih merengek seperti biasanya, setibanya dia mengantar Andara di SMA Langit Biru.


"Gak boleh Ken, hari ini khusus cewek-cewek. Kamu ntar pulang sekolah kan mau latihan juga. Ntar juga pulang latihan aku yakin kamu udah nongkrong di rumah, iya kan? Kamu datang aja pas promnight Ken, besok malam. Paginya kamu gak usah ikut, kan kamu juga harus nyiapin acara di Granatala." Cerocos Andara sebelum turun dari mobil.


Hari ini hari terakhir masa sekolah untuk Andara dan Kenzo. Beberapa hari lagi, mereka sudah resmi lulus dari SMA. Besok, SMA Langit Biru yang lebih dulu mengadakan acara kelulusan dan pembagian ijazah yang dihadiri oleh para siswa dan orang tuanya. Disusul malam harinya diadakan prom night untuk siswa siswi sekaligus ajang untuk adu bakat.


Sedang untuk SMA Granatala, hanya terpaut satu hari setelah kegiatan kelulusan SMA Langit Biru diadakan. Disana kegiatannya lebih padat. Berlangsung selama seharian penuh. Dimulai dari pembagian ijazah dan upacara pelepasan siswa di pagi hari. Dilanjutkan acara bakti sosial dan bazar kemudian malam hari ditutup dengan farewell party di aula Granatala.


Karena jadwalnya yang bisa dipastikan padat itulah, seharian ini Kenzo pantang putus asa untuk merengek pada Andara agar diizinkan untuk mengikuti kemana pun gadis itu pergi. Atau setidaknya Andara yang akan mengikutinya seharian ini, begitu pikir Kenzo.


Namun apa daya, selain Andara tidak mengizinkan dirinya untuk ikut, Kenzo pun tidak bisa meninggalkan satu pun persiapan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kenzo ikut bertanggungjawab dalam acara farewell party, karena dia akan tampil bersama grup bandnya.


"Jadi kita baru bisa ketemu ntar malam dong Yang? Yah kangen dong Yang. Ayolah Yang, aku ikut ya? Atau kamu yang ikut aku deh." Kenzo belum putus asa untuk merengek.


Andara yang akan membuka mulut untuk menjawab, diurungkannya karena mendengarkan teriakan dari arah dalam sekolah.


"Ken, kentang! Lepasin Dara napa! Cuma bentar doang gak ketemunya, udah kayak mau ditinggal perang aja. Lebay tau!" Karla berteriak sangat lantang sambil berjalan mendekat ke arah Andara dan Kenzo.


"Astaga! Emang kita cewek apaan Kentang! Lagian mau ngajakin Dara apa sih yang aneh-aneh? Jangan gils deh Ken." Sambung Amel yang entah sejak kapan para sahabat Andara itu memanggil Kenzo dengan sebutan kentang.


"Eh kalian tuh yang kemarin ngajakin Dara nyari-nyari senior ganteng di Merah Putih. Awas aja kalau aku sampai tau kalian ngajakin Dara yang aneh-aneh kayak gitu lagi." Kenzo geram.


"Astaga kentang! Itu kerjaan cewek kamu sendiri nih. Dasar dianya aja yang doyan lihat yang bening-bening." Karla malah menambahkan bara dalam sekam.


"Eh enak aja, gak kok. Aku becanda kemarin. Kamu jangan percaya Ken, mere--" Ucapan Andara terputus karena mendengar bunyi klakson yang terus menerus.


Sontak keempat pasang mata itu langsung memutar kepalanya dan melihat ke arah mobil yang dari tadi membunyikan klaksonnya.


Deg..


Jantung Andara seketika berdegup kencang melihat sosok lelaki yang duduk dibalik kemudi. Sorot mata tajam lelaki itu menatap mereka semua satu per satu. Andara melirik ke arah Kenzo. Tatapan tajam yang sama juga diberikan lelaki yang ada di sampingnya kini.


"Kenzo, udah mau masuk nih, kamu juga buruan berangkat. Cepetan. Tuh mobilnya bikin antrian panjang." Ujar Andara sambil berusaha mendorong Kenzo untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Jalanan masih luas sayang. Dia sengaja cari gara-gara aja." Jawab Kenzo dengan kesal.


"Ken, ngalah aja sih sama orang gils. Dia mendadak kurang waras sejak ditinggal Dara." Karla menimpali, ikut terbawa emosi menatap wajah lelaki yang kini beranjak keluar dari mobil.


Amel segera menyikut lengan Karla, mengingatkan Karla untuk tidak menambah masalah.


"Diem Kar! Jangan malah bikin suasana tambah panas deh!"


Dengan gerakan cepat, Kenzo langsung merengkuh tubuh Andara, membawanya dalam pelukannya. Menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.


Braaakk..

__ADS_1


Lelaki itu menutup keras pintu mobilnya dan berjalan dengan tegap ke arah Andara dan teman-temannya sambil matanya tetap menatap tajam ke arah Kenzo.


Andara merasakan tangan Kenzo yang memeluknya mulai terkepal. Tubuhnya mulai kaku. Andara melirik sekilas ke mata Kenzo, mata hangatnya berubah diselimuti amarah yang berkobar.


"Jangan bergerak sayang, tetaplah disini. Tolong bantu aku. Selama kamu dalam jangkauanku, aku yakin kita bakal baik-baik saja." Ujar Kenzo lirih dari balik giginya yang terkatup. Ia sangat berusaha meredam amarahnya.


Kita? Apa ini yang dikatakan Ayah? Bahwa emosinya bisa menjadi tak terkontrol? Batin Andara sambil menarik nafas panjang.


Andara segera membalikkan badan menatap Kenzo. Hanya satu hal yang ingin dilakukan gadis itu, ia hanya ingin Kenzo baik-baik saja. Sebuah keinginan yang sederhana.


"Kenzo, lihat aku. Hanya lihat aku. Kenzo!!" Andara berteriak, mencoba mengalihkan perhatian lelaki yang ada dihadapannya. Namun justru Karla dan Amel yang menatap bingung pada Andara.


Lelaki itu tetap bergeming. Dengan cepat Andara meraup wajah Kenzo, menarik wajah lelaki itu untuk menghadap pada wajahnya. Benar seperti yang dipikirkan Andara. Mata Kenzo menyalang bahkan saat sudah bersitatap dengan mata Andara.


"Kenzo, lihat aku, ini aku Dara. Lihat aku Ken!" Teriak Andara dengan menggoyahkan tangannya yang menyentuh wajah Kenzo.


Mata Kenzo masih menyalang menatap Andara. Dari balik punggung Andara, lelaki yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka kian mendekat dan tersenyum.


"Kenapa? Lepas kontrol lagi dia? Kumat?" Ucapnya meremehkan, dari suaranya terdengar senyum sinis yang terkembang.


"Ngomong apa sih kamu Van? Pergi gak!" Karla mulai tersulut emosinya.


Lelaki itu adalah Vano, yang kini menatap Karla dengan pandangan datar yang dingin.


"Kamu diam aja kalau gak tau masalahnya." Ucapnya kasar.


Amel dan Karla membelalakkan matanya, terkejut dengan perubahan sikap Vano yang sangat bertolak belakang dengan sikap yang selama ini mereka ketahui. Mereka masih tidak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya. Benar-benar tidak ada lagi Vano yang ramah dan hangat.


"Kenzo!" Andara masih berteriak dan semakin mendekatkan dirinya. Kenzo tiba-tiba mengerjakan matanya, menatap bingung pada Andara.


"Sayang kamu gak kenapa-napa kan?" Kenzo bertanya sambil memegang kedua tangan Andara yang masih berada di pipinya. Andara tersenyum lega kemudian mengangguk.


"Munafik!" Satu kata dari Vano yang membuat tiga pasang mata yang ada disana menoleh serempak padanya.


"Brengsek!" Umpat Kenzo dan bergerak maju, ingin memangkas jaraknya dengan Vano.


Dengan cepat Andara memeluk Kenzo, menahan tubuh itu untuk tidak bergerak.


"Kenzo, tenanglah. Biarin aja sih. Jangan diurus." Lirih Andara berkata. Jantungnya berdegup kencang.


Andara membalikkan badan menghadap Karla dan Amel. Dengan tersenyum dia membuka suara.


"Geng, besok ajarin aku ya, diposisi mana aku harus berdiri dan ya, aku udah hafal naskah dramanya, jadi hari ini aku absen. Sampaikan pada semuanya. Aku pergi dulu, nanti siang aku hubungi lagi."


Andara kembali menatap Kenzo dan mengangguk. Kenzo yang paham dengan kode dari Andara segera tersenyum penuh arti. Andara mendorong tubuh Kenzo untuk segera masuk ke kursi pengemudi. Ia sendiri bergegas menuju kursi penumpang.


"Karla, Amel. Aku jemput kalian nanti siang. Tunggu di tempat biasa." Kenzo pamit pada sahabat-sahabat barunya sesaat sebelum masuk mobilnya.


Vano memandang nanar pada Andara yang beranjak pergi.


"Sayang, Dara.." Vano mencekal tangan Andara sebelum tangan gadis itu menyentuh pintu.


"Pergilah Vano. Kisah kita udah selesai. Dan ya, aku gadis munafik, jadi lebih baik kamu menjauh dariku." Ujar Andara sinis. Tanpa memperdulikan tatapan memelas dari Vano, Andara segera menghempaskan tangan Vano, ia langsung masuk ke mobil Kenzo.


Kenzo masih menatap nyalang pada Vano. Tangannya mencengkeram erat kemudi. Andara yang menyadari itu, segera menyentuh tangan Kenzo dengan lembut.


"Tenanglah, aku bersamamu Ken. Lihat aja aku, hanya aku. Berjanjilah Kenzo!" Ucap Andara lirih.


Kenzo menatap Andara dalam, ia mengangguk sebagai jawaban. Senyum kemenangan ia sunggingkan.


"Aku pingin ke tempat Bang Andre, Ken, kita kesana yuk? Hari ini kamu menang, aku menuruti semua maumu jadi kamu harus mengosongkan semua jadwalmu untukku. Aku udah gak ikut latihan hari ini, jadi kamu juga jangan latihan hari ini." Andara berujar tanpa henti.

__ADS_1


"As you wish, darling!" Senyum Kenzo mengembang seiring laju kendaraannya menuju tempat favorit mereka.


Semoga ini keputusan yang tepat. Aku sangat berharap ini adalah yang terbaik. Batin Andara lirih dengan senyum tipis yang terbentuk.


__ADS_2