MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
MENGINAP


__ADS_3

"Kak Andara mau minum apa?" Vanya bertanya pada Andara sesaat setelah mereka semua duduk di meja.


Andara menggeleng. Dirinya benar-benar tidak bernafsu untuk memakan apapun. Kenzo yang tahu alasan itu, hanya bisa menggenggam tangan Andara dengan erat. Dingin. Itu yang dirasakan Kenzo saat menyentuh tangan gadis kesayangannya.


"Kamu gak kenapa-napa kan yang?" Ucap Kenzo sambil menggosok tangan Andara dengan kedua telapak tangannya.


Andara hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Ken, anterin saya ke minimarket depan dong. Pewangi mobil saya abis nih. Tuh deket situ tuh." Bima menunjuk minimarket yang ada di depan kafe.


"Berangkat sendiri Bim, udah gede manja aja." Kenzo enggan mengantar sahabatnya itu.


"Songong kamu Ken. Anterin ah pokoknya." Bima langsung menarik tangan Kenzo.


"Ogah kampret. Berangkat sendiri napa sih Bim. Tinggal komprol juga nyampe. Udah aku temenin dari sini, aku liatin terus dari jendela sini. Sono cepet pergi." Kenzo masih setia disamping Andara.


"Adaaaooohhh.. Gila ya kamu Bim." Suara jeritan kesakitan Kenzo tiba-tiba terdengar dan langsung menarik perhatian semua pengunjung kafe itu.


"Pada kenapa sih hari ini? Kompak banget nyakitin aku. Sakit ****** kamu injekin kakiku!" Ujar Kenzo dengan nada marahnya.


Bima yang sengaja menginjak kaki Kenzo untuk memberinya kode, mendadak wajahnya merah menahan malu melihat tingkah sahabatnya yang bukan lagi polos tapi menjurus ke bodoh.


"Kenapa matamu Bim? Kedutan? Syarafnya keganggu? Kenapa dari tadi ngedipin aku sih? Kamu bukan..." Kenzo menggantung ucapannya seraya menutup dadanya dengan kedua lengannya. Andara menahan tawanya.


Bima yang sudah terlanjur malu langsung menoyor kepala sahabatnya itu dengan sedikit keras. Andara terbahak.


"Bima!! Kamu apa-apaan sih? Kamu beneran.." Kenzo kembali berteriak dan hendak membalas Bima. Tetapi kedua tangannya masih menutupi dadanya sehingga hanya kakinya yang dia gunakan untuk menendang Bima.


Andara yang paham dengan situasi di hadapannya hanya bisa tertunduk malu dan mendesah kasar melihat kelakuan Kenzo. Ia memutar bola matanya dengan jengah.


"Udah deh Ken, kamu anterin Bima ke depan. Sumpah, malu tau gak Ken liat kelakuanmu itu. Duh bener deh, selain ceplas-ceplos tapi otakmu agak kurang nutrisi sepertinya. Lemot banget sih Ken." Andara yang sudah gemas sekali dengan tingkah Kenzo, akhirnya mengusir lelaki itu.


"Tapi sayang, kamu sendirian nanti. Aku gak mau ninggalin kamu." Kenzo merengek.


"Astaga, ini anak anaconda kenapa sih hari ini? Aku gak kenapa-napa Ken. Kamu tunggu noh di depan situ, nanti kalau ada apa-apa aku telepon kamu. Atau kamu samperin aku." Andara mulai kehabisan stok sabar.


"Tapi aku gak bisa jauh dari kamu, aku kangen kamu." Kenzo mulai drama.


"Bim, tolong geret dia kesana. Aku malu, sumpah!" Habis sudah kesabaran Andara.


Vanya yang menyaksikan semua itu hanya dapat tersenyum. Bima dengan sigap menyeret Kenzo. Namun Kenzo sedikit berontak dan menghampiri Andara.


"Jangan takut, kamu aman bersamaku. Aku tunggu diluar. Dan makasi untuk semua senyum dan mimik wajahmu. Terus seperti ini ya." Kenzo berbisik lirih ditelinga Andara.


Andara tersenyum. Ia baru menyadari, Kenzo tidaklah sebodoh bayangannya, dia hanya berusaha memancing Andara untuk tersenyum dan terus tertawa. Hatinya menghangat. Dilihatnya Kenzo sampai memasuki minimarket.


"Baru sekali ini ngelihat kak Kenzo seperti itu. Hmm kalau dilihat-lihat, kak Andara sepertinya cinta pertama kak Kenzo nih." Suara Vanya membuyarkan lamunan Andara.


"Eh iya kenapa?" Andara bertanya dengan gelagapan.


"Haha kak Andara lucu. Pantes aja kak Kenzo segitu cintanya sama kak Andara. Sampai ngikut kemana pun kakak pergi." Vanya menjelaskan.


"Kenzo maksudnya? Ah gak juga kok. Dia cuma suka nongkrong aja di depan sekolahku karena ciloknya enak." Andara menutupi alasan Kenzo sebenarnya.


"Ah itu sih triknya kak Kenzo. Dia sebenarnya mau ketemu kakak. Yakin deh." Ujar Vanya yang sekarang statusnya berubah jadi juru kampanye pribadi Kenzo.

__ADS_1


"Heheh iya juga, dia ngikut aja kemana aku pergi. Kirain di Granatala dia gak punya teman." Andara mengakui.


"Ternyata temannya pada sebelas duabelas tingkahnya kayak kak Kenzo, benar kan?" Vanya menimpali.


"Hahaha kamu bener.. Pada gokil semua mereka tadi." Andara tersenyum dengan mata yang tak henti menatap Kenzo.


"Kakak cinta sama kak Kenzo." Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan,dari Vanya mengagetkannya Andara.


Seketika pandangan Andara beralih pada gadis cantik di depannya. Dahinya berkerut, mencari jawaban dari pertanyaan dalam hatinya.


"Maksudnya?" Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya.


"Kak Andara terlihat nyaman bersama kak Kenzo. Pandangan mata kakak gak bisa lepas dari kak Kenzo dan dari mata kakak terlihat jelas rasa cinta itu. Cinta tulus dan saling membutuhkan. Aku iri." Terdengar ucapan pujian yang tulus namun juga terdengar kepedihan di dalam perkataan Vanya.


Andara hanya bisa menghela nafas. Dia bingung harus menganggapi seperti apa pernyataan Vanya. Dirinya juga masih bingung dengan hatinya. Perkataan Vanya sedikit banyak menamparnya, beberapa bagian benar adanya. Dari awal bertemu Kenzo pun sebenarnya dia sudah merasakan ada yang berbeda dengan sosok itu. Kehangatan dan kenyamanan selalu ia rasakan. Rasa yang berbeda yang pernah ditawarkan oleh Vano yang saat itu berstatus kekasihnya. Namun hatinya selalu menampiknya. Saat itu, hatinya berkeras untuk mencintai Vano, namun justru itulah yang membuat hatinya semakin sakit.


"Kak maaf." Lirih Vanya berucap membuyarkan lamunan Andara.


Sontak Andara kembali menoleh pada Vanya, matanya menatap manik mata coklat teduh di depannya.


"Maaf karena semua ini terjadi. Maaf karena aku pun tidak bisa menghentikannya." Kembali Vanya bersuara lirih dengan menundukkan kepalanya dalam. Tak terasa air matanya menetes.


Andara yang menyaksikan itu, juga tak kuasa membendung air matanya.


Aah ternyata ada yang lebih merasakan sakit daripada aku. Mungkin sakitku ini tak seberapa dibanding dengan Vanya. Batin Andara ikut berbisik.


Menyaksikan Vanya yang terus meneteskan air mata, Andara meraih tangan Vanya dan menggenggamnya. Andara tak sanggup membayangkan sakit yang dirasakan oleh gadis itu. Menilik dari cerita Kenzo yang sudah didengarnya, Andara menyimpulkan, ada banyak luka yang dirasakan gadis di hadapannya ini. Entah luka yang disebabkan oleh keluarganya maupun oleh tunangannya.


"Vanya, tenanglah. Kamu gak harus meminta maaf padaku. Seharusnya aku lah yang mengatakan itu semua. Maaf karena aku hadir diantara kalian. Maaf aku sungguh tak tau hubungan mu dengan Vano. Maaf karena aku lah, cinta Vano sedikit teralihkan. Maafkan aku Vanya." Andara tulus mengatakannya.


Entah kenapa, hati Andara merasa sangat lega dan tenang setelah mengatakannya. Melihat Vanya hari ini dan mengkorelasikan dengan cerita Kenzo yang sudah ia dengar, Andara menyimpulkan bahwa dirinyalah yang tidak seharusnya hadir di antara mereka. Andara sudah membulatkan tekadnya, untuk melepas semuanya. Melepas cintanya pada Vano. Melepas lelaki itu untuk kembali pada tunangannya. Melepas semua beban di hatinya. Mengembalikan semua pada tempatnya. Tidak seharusnya dirinya terus berada di hati Vano, karena dari awal tempat itu bukanlah untuknya.


Andara diam. Ia terlalu terkejut dengan segala ucapan Vanya.


Dari awal ketemu? Kelas satu? Sudah selama itukah? Pantas saja dia tau pacar pertamaku. Batin Andara bertanya.


"Udah sejak tiga tahun lalu, akhirnya Kak Vano merasakannya lagi dan dia berani bertindak lagi, memulai semuanya kembali bersama Kak Andara. Namun hasilnya.. Maafkan aku Kak." Vanya kembali bercerita.


Seketika kenangan Andara berkelana pada hari dimana Vano membawanya ke Danau Biru. Andara mengingat saat itu Vano pernah bercerita, ia menemukan Danau Biru saat tiga tahun lalu.


Apakah itu saat cinta pertamanya hilang? Ataukah saat Vano dihajar Ayahnya sendiri karena meminta pertunangannya diputuskan? Batin Andara bergejolak.


Andara ingin sekali bertanya, namun diurungkan. Ia sudah bertekad untuk tidak terlalu masuk pada kehidupan Vano lagi. Andara merasa sangat tidak nyaman untuk memasuki kehidupan yang dirasa aneh olehnya. Kehidupan yang sangat tidak sesuai dengan pola pikir dan hatinya. Kehidupan yang sangat tidak dia inginkan untuk dijalani.


"Vanya, apa selama ini kamu merasa sakit hati? Maksudku, apa kamu mencintai Vano?" Pertanyaan yang menggelitik batin Andara, akhirnya diungkapkannya.


"Cinta? Apa arti cinta untuk kak Andara?" Vanya balik bertanya.


Andara yang mendapat pertanyaan yang tak disangkanya, gugup untuk menjawabnya.


"Hmm aku rasa, menurutku, cinta itu ketika dua orang saling bisa memberikan rasa nyaman dan aman untuk pasangannya. Saling berbagi dan memberi, tanpa pamrih." Ucap Andara jujur, sesuai dengan keinginan hatinya selama ini.


"Iya, memang itulah keinginan setiap orang yang mendambakan cinta dari pasangan normal. Tapi bagiku Kak, cinta itu, ketika aku bisa melihat orang yang ku cintai bahagia. Apapun akan aku lakukan untuk membuatnya bahagia dan tidak terluka. Karena bagiku, cinta adalah kebahagiaannya." Vanya dengan gamblang menjelaskan.


Andara melongo. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pelajaran tentang cinta dari gadis yang usianya dibawahnya. Penjelasan tentang cinta yang sangat mendalam, yang bahkan tidak pernah ada di pikirannya. Selama ini, cinta untuk Andara adalah dua orang yang saling memberi dan berbagi. Tapi bagi gadis dihadapannya, cinta adalah memberi tanpa meminta kembali. Sungguh sebuah cinta luar biasa yang tak sanggup Andara beri. Dirinya masih merasa egois, sehingga membutuhkan timbal balik.

__ADS_1


"Maksudmu, kamu tidak merasa sakit ketika Vano mencintai orang lain? Kamu tidak merasa terluka saat dia bersama orang lain?" Andara ingin penjelasan lebih.


"Ah kakak ini gimana, aku kan bukan malaikat. Aku juga sakit kak melihat semua itu. Tapi, rasa sakitku terbayarkan saat melihatnya bahagia. Rasa sakitku terobati saat melihat senyumnya. Rasa sakitku tidak sebanding jika disejajarkan dengan rasa sakitnya saat ia kehilangan cinta dalam hidupnya. Aku berani menukar semua rasa sakitnya, dengan senyumannya. Aku bersedia menanggung semua rasa sakitnya asalkan dia bahagia." Vanya kembali menampar Andara dengan kata-katanya. Meski Vanya tidak pernah menyebut nama Vano, tapi Andara tahu, yang dimaksud Vanya adalah lelaki itu.


Seketika Andara menoleh pada sosok lelaki yang sedang berbincang dengan temannya di depan minimarket. Dengan pandangan teduh Andara terus memperhatikan lelaki itu.


Apa cinta seperti ini yang sedang disajikan Kenzo untukku? Apa aku sanggup menerimanya? Oh bukan, lebih tepatnya, apa aku pantas menerimanya? Bisakah aku membalas cintanya sama besar dengan cinta yang ditawarkan padaku? Ini sungguh cinta yang luar biasa, yang hanya mampu diberikan oleh orang yang luar biasa.


"Iya, Kak Kenzo juga punya keyakinan yang sama denganku kak, jika itu yang menjadi pertimbanganmu selama ini. Kak Kenzo tidak pernah mencintai cewek lain seperti dia mencintaimu kak. Aku bilang seperti ini tanpa maksud apapun." Vanya berkata, seperti bisa membaca pikiran Andara.


Andara menunduk malu, lamunannya diketahui Vanya.


"Aku tidak memikirkan itu." Andara berkilah.


"Wajahmu gak bisa bohong Kak," Vanya menggoda. "pantas saja kak Vano dan kak Kenzo memperebutkan dirimu. Kamu lucu kak." Imbuh Vanya.


"Vanya, hmm.." Andara ragu mengatakan.


"Tanyakan apapun yang kamu ingin tau kak." Vanya mengerti keraguan Andara.


"Jika sebesar itu cintamu untuk Vano, kenapa tidak kamu coba untuk membuatnya jatuh cinta padamu dan menerima pertunangan ini?" Akhirnya keluar juga pertanyaan dari Andara.


"Pertunangan ini gak mungkin putus kak, sebesar apapun kami mencoba memutuskannya. Aku udah gak mau nyoba merengek lagi untuk bisa bebas dari pertunangan ini. Aku gak mau dia kesakitan lagi. Kenapa aku gak mencoba berbagai cara agar dia jatuh cinta padaku? Karena aku hanya berharap pada waktu. Aku berharap, waktu akan membuatnya jatuh cinta padaku dan melihat hanya kepadaku. Aku ingin dia mencintaiku dengan sendirinya, tanpa paksaan. Dan itu mungkin aja bisa terjadi, jika waktu kebersamaan kami semakin panjang. Jadi, aku hanya bertaruh pada waktu. Dan selama menunggunya, aku akan lakukan apapun untuk membuatnya bahagia dan mengizinkan dia melakukan semua kesenangannya." Vanya menjelaskan dengan jujur.


Lagi-lagi, Andara seperti mendapat hantaman keras di hatinya. Rasa malu menyelimuti dirinya. Hatinya menciut membayangkan cintanya yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan cinta yang bisa diberikan Vanya untuk Vano. Andara bergidik, membayangkan betapa kecil dan naif cintanya untuk Vano. Andara tersadar, memang bukan tempatnya berada disekitar Vano.


Aku merelakanmu, Vano. Aku tak sanggup bersaing dengannya yang mampu memberimu cinta yang sangat luar biasa ini. Aku tak bisa dibandingkan dengannya dan aku sungguh tak sanggup mendampingimu. Batin Andara.


Andara menggenggam tangan Vanya dan tersenyum tulus. Hatinya terasa ringan. Pelajaran yang tidak sengaja diberikan Vanya lewat tutur katanya yang jujur telah banyak menutup luka Andara. Tak ada lagi penyesalan dalam diri Andara. Hanya sedikit tersisa sakit karena kebohongan yang dia dapatkan.


"Vanya, makasi banyak. Hari ini kamu membuka lebar mataku. Kamu membuka hatiku. Hari ini aku melihat semua yang harus aku lihat. Aku dengar semua yang harus aku dengar. Makasi. Aku tulus mengatakannya." Andara tersenyum.


"Hah? Maksudnya gimana sih kak?" Ganti Vanya yang bingung.


"Pokoknya, hari ini kamu nyadarin aku banyak hal deh. Kamu ngelihatin aku banyak hal yang selama ini gak pernah aku lihat. Dan semoga, cintanya segera menjadi milikmu. Aku melepaskannya dan merelakannya jika dia menjadi milikmu. Ya, dia harus menjadi milikmu Vanya. Jaga dia. Bukan untuk ku atau untuk orang lain, tapi jaga dia untuk dirimu sendiri. Aku mendoakan kebahagiaan kalian, dan aku tulus." Andara berkata. Tak terasa air matanya menetes. Andara merasa bebannya seketika hilang.


"Aku juga mendoakan kebahagiaanmu Kak Andara. Dan aku berharap, kamu bisa bersama Kak Kenzo. Aku jamin, kamu gak akan menyesal bila bersamanya. Dia itu limited edition kak." Vanya kembali menjadi juru kampanye.


"Kamu bisa aja. Tapi hatiku emang udah goyah sih. Aku merasakan warna beda sejak mengenal Kenzo. Warna baru yang gak pernah aku rasa." Andara berkata, sambil menatap Kenzo dari balik kaca kafe dan tanpa terasa senyumnya mengembang.


"Kalau aku bukan tunangan Kak Vano dan kakak bukan pacarnya, aku sungguh ingin berteman denganmu Kak." Vanya tiba-tiba berkata.


Andara memalingkan wajahnya menatap gadis itu dalam.


"Apa karena status kita, jadi kamu gak ingin berteman denganku?" Tanya Andara ragu.


"Bukan Kak, bukan gitu. Aku pengen banget temenan sama Kakak. Tapi noh liat aja, bodyguard kakak dan para pengikutnya gak bakalan ngizinin." Vanya menunjuk Kenzo dan Bima dengan ujung dagunya.


"Jadi karena mereka kamu takut temenan sama aku? Hahahah.. Lucu tau gak kamu itu. Udah gak usah peduliin mereka. Jadi.. Ayo berteman. Aku Andara, dari SMA Langit Biru, mantan pacar Alvano Pradana, kamu siapa?" Andara mengulurkan tangannya sambil tersenyum tanpa beban.


Dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putihnya, Vanya menerima uluran tangan Andara dengan penuh suka cita.


"Aku Vanya, tunangan Alvano Pradana, dari SMA Granatala. Senang berkenalan dengan Kakak. Ku harap, kita bisa berteman akrab."


Tawa mereka berdua pun menggema. Menarik perhatian para pengunjung kafe. Tawa bahagia, yang tulus dan tanpa beban.

__ADS_1


"Cantik.."


Suara yang sangat mereka hafal diluar kepala, menghentikan tawa mereka.


__ADS_2