
"MAMA!! Jas almamater Kay kemarin di taruh mana sih?" Aku berteriak dari kamarku, saat tak menemukan jas almamater yang baru saja kemarin aku kenakan.
Ya, aku sekarang sudah berstatus mahasiswa di Universitas Garuda. Sudah satu bulan ini aku menjalani masa orientasi kampus dan ini hari terakhir masa orientasi.
Aku tetap berada di Universitas Garuda dengan jurusan yang sama dengan Danen dan juga Cindy. Papa tidak mengizinkan aku pindah jurusan maupun pindah Universitas. Hah, bisa dibayangkan bagaimana reaksiku saat itu. Aku mengamuk dan merasa duniaku akan runtuh. Membayangkan aku akan berbagi udara dengan mantan pacar dan selingkuhannya.
Tapi Papa bersikeras menyuruhku tetap di sana. Alasan Papa sederhana, dia bilang aku harus bisa menunjukkan pada mereka, jika yang mereka lakukan itu tidak akan membuatku hancur, namun malah menjadi cambuk untuk aku lebih sukses dan bahagia.
Papa memaksaku untuk keluar dari lubang hitam dengan cara yang menurutku sedikit ekstrim. Namun setelah ku pikir lagi, benar juga kata Papa. Buat apa kita menyingkir dari jalan yang sudah kita bangun dengan peluh dan air mata, hanya karena serpihan batu kerikil yang hanya pernah meninggalkan goresan kecil.
Jika Daren sudah menyesali perbuatannya dan Cindy yang seperti tidak pernah terjadi apa-apa, lalu kenapa harus aku yang menyingkir? Bukankah aku korban dan mereka tersangka? Terlebih Cindy yang pura-pura tidak ada apa-apa.
Akhirnya aku menuruti perkataan Papa. Aku juga ingin menunjukkan, bahwa kehilangan mereka bukan suatu musibah, melainkan malah menjadi berkah. Aku beruntung sudah diperlihatkan lebih dahulu kebusukan mereka. Sebelum aku terlalu jauh melangkah bersama Danen ataupun berteman dengan Cindy.
"Kebiasaan banget sih, Kay! Udah jadi mahasiswa lho, masih aja teriak-teriak. Kamu udah nyari belum?" Mama masuk ke kamarku dengan omelannya.
"Kalau Kay uda nemu gak bakal nanya, Ma." Sungutku.
"Kalau Mama yang nemu, kamu seminggu ini harus nurutin semua keinginan Mama." Ucap Mama.
"Yeee enak aja." Bantahku.
"Ya udah, Mama keluar." Ku lirik Mama benar-benar sudah melangkahkan kakinya ke ambang pintu.
"Iya iya Ma, Kay nurut apa kata Mama." Jawabku cepat, tanpa berpikir lagi.
Mama tersenyum bangga, penuh kemenangan.
"Ya udah kamu sarapan dulu." Ajak Mama padaku.
Aku membelalakkan mata. Bingung dengan sikap santainya Mama.
"Yang bener Ma, di mana jas almamater Kay? Bisa habis sama senior nih, Ma kalau gak pakai jas almamater." Kesabaranku mulai habis.
"Udah ah bawel, sarapan dulu. Cepatan, Papa udah nungguin." Jawab Mama segera.
Aku mengikutinya. Membawa tas rangsel dan segala keperluanku. Berjalan beriringan dengan Mama menuju lantai bawah, dimana Papa sudah menunggu di meja makan.
"Pagi Papa sayang." Sapaku sambil mencium pipi Papa. Aku segera duduk di kursi depan Papa.
"Pagi, Kay. Hari ini hari terakhir ospek kan? Terus ada agenda apa lagi?" Tanya Papa di sela-sela makannya.
"Kemarin sih udah penutup, Pa. Hari ini rencananya sih pengenalan laboratorium, mata kuliah umum dan khusus, terus nanti ada pengenalan dosen sama sekalian pembagian dosen pembimbing akademik." Ujarku sambil mengambil nasi goreng seafood kesukaanku.
"Padet banget ya Kay. Pulang jam berapa nanti?" Tanya Mama.
"Kay gak tau Ma. Lagian Kay kan udah anak kuliahan sekarang Ma, masa iya mau disamakan sama anak SMA yang pulangnya terjadwal." Kata-kataku sukses membuat Papa menghentikan sarapannya.
"Memangnya kalau kamu udah jadi anak kuliahan, kamu bisa pulang seenaknya? Gak akan Papa izinkan. Selesai jam kuliah, langsung pulang." Hardik Papa.
"Maksud Kay gak gitu Pa. Kay kan juga mau ikut perhimpunan mahasiswa gitu-gitu deh Pa. Kapan hari pas awal ospek kan dikasih tahu ada himpunan apa aja di kampus." Aku mencoba membela diri.
__ADS_1
"Emang kamu mau ikut himpunan apa Kay?" Tanya Mama penasaran.
"Kay bingung, antara jurnalistik atau sains ya?" Aku malah bertanya pada diriku sendiri. Duh!
"Terserah kamu sih Kay, mana yang kamu anggap bisa mengembangkan kemampuan kamu diluar ilmu yang kamu pelajari, jadi segala potensimu kamu kembangkan." Papa memberi saran padaku.
"Ntar lah Kay pikir lagi. Kay berangkat dulu ya Pa, Ma." Pamitku pada Mama dan Papa setelah menyelesaikan sarapanku.
"Ya udah, kamu ati-ati ya. Nyetir yang bener. Cari pacar yang bener. Cari teman yang bener. Jangan sampai ketikung lagi." Mama jelas-jelas mengejekku.
Aku membalik badan dan memutar bola mataku dramatis.
"Elah diingetin lagi. Mana sekarang masih sejurusan lagi. Papa sih gak ngizinin Kay pindah jurusan." Omelku. Seketika rasa kesal mendatangiku saat mengingat keputusan Papa yang menurutku sangat merugikan.
"Tunggu aja tanggal mainnya, Kay. Kamu akan lihat dan buktikan ucapan Papa." Jawab Papa sambil meminum kopinya. Papa tersenyum tampan kepadaku, memberikan tatapan meyakinkan untukku.
"Tau ah, Kay berangkat dulu." Aku tak mau terus berdebat dengan Papa dan Mama tentang masalah yang sama. Otakku sudah jenuh mengingatnya.
Segera ku ambil tasku dan ku langkahkan kakiku keluar rumah. Aku menaiki mobilku, menyalakan mesinnya dan mulai melajukan di jalanan. Pelan-pelan aku mengendarai mobilku.
Entah kenapa setiap kali menyetir, aku selalu membayangkan sesuatu yang selama ini menghantuiku. Otakku sepertinya selalu dipenuhi oleh sesuatu yang sama. Sesuatu yang selalu mengganggu pikiranku. Sesuatu yang selalu menyita waktu dan tenagaku. Sesuatu yang tidak berani aku pikirkan di rumah.
Aku mendesah kesal, setiap kali mengingat semua itu. Hatiku berontak, jiwaku berteriak. Aku ingin mengikuti hatiku, tapi logika ku, yang sebenarnya tidak terlalu waras, masih saja tidak mengizinkannya. Aku sungguh ingin melintasi batas itu sekali lagi. Tapi aku terlalu takut, aku terlalu pengecut.
Yang berani ku lakukan hanyalah seperti pagi ini. Aku melintasi rumah yang sangat ku kenal dengan baik. Melintasi perlahan hanya untuk melihat rumahnya dan keberadaan mobilnya.
"Ah kamu belum berangkat Bang." Aku tersenyum menatap rumah itu. Ya, aku berada di rumah Bang Arka. Tepatnya aku di seberang rumah Bang Arka, mengintai rumah itu diam-diam.
Aku sedikit menggila dengan hal itu. Entah bagaimana awal mulanya. Namun sejak tidak bertemu dengan Bang Arka, hatiku terasa hampa dan rasanya lebih menyakitkan daripada saat ditinggalkan Danen, si buaya.
Aku merasa kehilangan sosok yang mampu menentramkan dan menenangkan hatiku. Aku kehilangan sandaran dan rasa nyaman. Dan aku tersiksa akan hal itu. Aku sungguh merindukan Bang Arka. Bukankan aku sudah benar-benar gila? Merindukan suami orang!
Dan inilah akibat dari semuanya. Di sinilah aku setiap pagi. Mengatakan pada Papa dan Mama jika aku mempunyai kegiatan di pagi hari, padahal nyatanya kegiatanku dimulai satu sampai dua jam setelahnya.
Aku selalu berangkat lebih awal hanya untuk menyaksikan rumah Bang Arka. Jalur rumahku ke kampus dan ke rumah Bang Arka sangat jauh memutar, tapi apa peduliku? Aku hanya ingin sedikit mengambil obat penenang jiwaku. Jika beruntung, aku bisa melihat Bang Arka dari jauh sebelum dia berangkat kerja. Seperti itu saja sudah sangat melegakan hatiku.
Aku memang bodoh. Melakukan tindakan di luar akal sehat. Apa gunanya mengintai suami orang? Tapi entahlah, aku merasa Bang Arka juga tidak baik-baik saja sejak pertemuan terakhir kami. Aku yakin dia sedang menutupi kegelisahannya. Karena alasan itulah, setiap pagi aku berada di sini, di depan rumah Bang Arka.
Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri, bahwa Bang Arka sesuai omongannya, bahwa Bang Arka baik-baik saja. Namun, seringnya ku melihat, Bang Arka tidak baik-baik saja.
Tak ada lagi senyum di wajahnya. Memang Bang Arka jarang tersenyum, tapi saat denganku, bukan sekali dua kali aku melihatnya tersenyum, tapi sangat sering. Dan yang ku lihat akhir-akhir ini adalah, senyum itu sudah hilang.
Drrrttt.. Drrrttt.. Drttt..
Ponselku berbunyi nyaring, menyita perhatianku. Ku buka tasku dan ku lihat nama yang tertera di layar.
Hmm aneh, hanya nomor asing, ponselku tak menyimpan nomornya. Ku abaikan saja panggilannya, mungkin petugas bank menawarkan kartu kredit. Ku lempar kembali ponselku ke dalam tas. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke arah yang sama.
"Akhirnya kamu keluar Bang. Wah kamu memang tampan memakai warna navy. Cocok untukmu." Aku melihat Bang Arka keluar rumah, sambil menenteng tas dan jasnya. Dasinya belum terpasang sempurna. Hah aku ingin kesana dan membetulkan letak dasimu Bang!
Astaga, Mikhayla! Apa sih yang ada di otakmu? Bukannya dia sendiri yang mengajarimu filosofi aneh itu? Dan ingat Kay, dia suami orang. Kamu hanya nyaman berada di dekatnya. Dewi batinku mulai menceramahiku. Ceramah yang sama setiap pagi. Ceramah yang membawaku tetap memakai logikaku meski hatiku mengingkarinya.
__ADS_1
Ddrrtrr.. Drrttt..
Ponselku kembali berdering nyaring.
"Duh ah, siapa sih ganggu ketenanganku pagi-pagi gini? Ngerusak moodku tau ga!" Aku membentak ponselku yang tidak bersalah. Tak ku hiraukan panggilan dari nomor tak dikenal yang sama. Ku alihkan lagi pandanganku.
"Untung kamu belum berangkat Bang. Tapi lama banget di dalam mobil, biasanya langsung ngacir. Ngapain dulu sih Bang?" Aku terus mencerca Bang Arka di balik kemudiku.
Ddrrtt.. Drrtt..
Ini ketiga kalinya ponselku berbunyi dan itu sangat menggangguku. Penelepon yang sama, dari nomor asing yang tak ku kenal.
"Siapa sih kamu? Awas kamu ya, jika sampai gara-gara kamu aku kehilangan momen melihat moodbooster-ku berangkat kerja, ku hajar kamu!" Bentakku lagi pada ponsel tak bersalahku. Segera ku geser tombol hijau di layarnya dan ku jawab dengan suara ketus.
"Halo, siapa nih?"
Tak terdengar suara jawaban dari seberang panggilan. Dengan geram segera ku caci penelepon itu.
"Kalau gak mau ngomong aku tutup nih, ganggu aja bisanya. Aku sibuk tau!"
Terdengar helaan nafas kasar dari balik ponselku.
"Apa melihatku dari jauh adalah kesibukanmu saat ini, Mikha? Apa kamu puas hanya dengan melihatku dari seberang jalan? Apa kamu tak ingin kemari dan menyapaku?" Suara si penelepon terdengar merdu di telingaku. Suara yang sangat ku kenal. Suara yang mampu menjungkir balikkan duniaku.
Aku sontak menjatuhkan ponselku. Air mataku seketika mengalir deras. Ku genggam kemudi mobilku untuk menahan tubuhku yang terus bergetar hebat.
Suara yang ku rindukan. Suara yang mampu membuatku tenang. Kini ada di seberang telepon. Bagaimana mungkin? Apa selama ini Bang Arka mengetahuinya? Apa Bang Arka mengetahui aku mengintainya berhari-hari? Apa selama ini Bang Arka juga menatapku dari sana? Pantas saja kamu jauh lebih lama di dalam mobil pagi ini Bang.
Aku terus terisak tanpa memedulikan panggilan Bang Arka di ponselku. Nyaliku terlalu ciut untuk melihat Bang Arka secara langsung. Aku belum berani melihatnya sekarang. Aku belum sanggup.
Suara Bang Arka terus memanggilku di telepon. Ku lirik mobilnya sekilas. Ah sial, kamu sudah keluar dari mobil dan segera melangkah mendekati aku. Jiwa pengecut yang melekat di tubuhku, menyuruhku segera bertindak.
Ku hapus kasar air mataku. Segera ku tancap gas mobilku sebelum Bang Arka mendekati aku. Maafkan aku Bang, aku benar-benar tidak berani melihatmu saat ini. Aku segera putar balik dan keluar dari Perumahan Bang Arka. Menempuh jalan memutar untuk sampai di kampus.
Aku berhenti di pinggir jalan. Menenangkan deru nafasku. Dan ku tatap ponselku masih dalam panggilan. Segera saja ku ambil. Aku menoleh ke segala arah, berusaha mencari keberadaan Bang Arka. Aku takut jika dia mengikuti aku. Takut aku tidak kuat menahan hasratku sendiri. Takut jika aku tiba-tiba sudah memberi nama pada perasaan asing yang ku rasakan pada Bang Arka.
Suara isakanku terdengar dalam panggilan itu.
"Kamu menangis, Mikha? Bukankah kamu selalu tersenyum setelah melihatku setiap pagi?" Sapa Bang Arka dari ponselnya.
"Abang tau?" Tanyaku singkat.
"Aku tau semua yang kamu lakukan Mikha. Aku ingin menyapa, tapi aku juga ingin menunggumu saja. Karena seperti katamu waktu itu, aku belum bisa membenahi hidupku. Aku belum bisa menjanjikan apapun untukmu." Sangat lugas, Bang Arka selalu berkata seperti itu.
"Bang.." Dan aku juga tetap sama. Tak bisa mengeluarkan kata-kata saat bersama Bang Arka.
"Aku merindukan kamu, Mikha. Sangat. Entah sejak kapan, tapi kamu seperti candu untukku. Candu untuk memelukmu, candu untuk berdekatan denganmu dan candu untuk melindungimu." Suara Bang Arka bergetar. Aku yakin dia sedang menahan tangisnya.
"Bang, aku berangkat dulu ya." Aku berbisik lirih.
Ku matikan ponselku segera dan ku lanjukan mobilku dengan kencang. Derai air mataku semakin tak terbendung. Aku berteriak histeris di mobilku. Aku sungguh tak sanggup jika terlalu lama mendengar kata-kata Bang Arka.
__ADS_1
Aku tak sanggup jika harus mencintai suami orang.