Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 10 Hasil pemeriksaan!


__ADS_3

Aieni mencari keberadaan Asma dan Andrian tapi tak menemukannya sama sekali. Aieni hanya ingin mengembalikan kartu credit card yang tempo hari Aieni temukan. Aieni yakin cradit card itu punya Andrian.


Entah kebetulan atau apa, Aieni sungguh sangat bahagia bisa bertemu mantan kakak ifarnya. Tapi, Aieni sedikit merasa aneh dengan cara Andrian seolah tak menyukai kehadirannya. Apalagi Aieni melihat keanehan dari diri Asma.


"Apa kak Laila sakit! kenapa wajahnya pucat banget, "


Monolog Aieni, hingga sebuah telepon masuk membuat Aieni langsung pergi ke rumah sakit.


Sedangkan Asma sedang berbaring di atas brankar dengan dokter memeriksa keadaannya.


Asma tersenyum ketika melihat perkembangan cabang colon anaknya yang terlihat jelas di layar.


"Apa tuan dan nyonya ingin melihat jenis kelaminnya?"


Andrian menatap sang istri yang menggeleng, biarlah ini menjadi kejutan.


"Tidak dok, biarlah ini menjadi kejutan. Apapun jenis kelaminnya saya dan suami saya akan menungu kelahirannya. Biar ini menjadi kejutan buat kami,"


"Baik nyonya kalau begitu!"


Sang dokter pun menghentikan kegiatannya lalu memberikan arahan pada Asma bahkan memberi tahu tanda-tanda akan melahirkan bagaimana supaya Asma tidak cemas dan panik merasa tanda-tanda itu. Asma dan Andrian sesekali mengangguk lalu diam mendengarkan penjelasan dokter.


Hingga sang dokter pamit undur diri, sebelum benar-benar keluar sang dokter memberikan resep obat yang harus Andrian beli.

__ADS_1


"Sayang, tunggu dulu di sini ya. Abang tebus dulu obat?"


"Iya, jangan lama-lama bang,"


Andrian langsung keluar dan menutup pintu rapat. Bukannya pergi ke pengambilan obat Andrian pergi ke ruang dokter Mariska yang tadi memeriksa Asma.


Sesudah mengucapkan salam dan di suruh masuk Andrian langsung duduk di hadapan dokter Mariska dengan wajah tegang tidak setenang di ruang tadi.


"Bagaimana dok tentang keadaan istri say? "


Dokter Mariska menghembuskan nafas dalam menatap sendu pada Andrian.


"Semakin besar kandungan Asma penyakit itu semakin menggerogoti Asma. Dari hasil pemeriksaan tadi, Asma akan mulai semakin merasa kesakitan, bahkan Asma bisa sering mimisan dengan rambut rontok. Keadaan tubuhnya mulai lemah tapi sepertinya Asma berusaha melindungi babynya di antara rasa sakit yang dia rasa. Jika Asma sudah sering mimisan saya rasa Asma akan mulai bertanya! "


"Apa tak ada cara lain untuk menyelamatkan keduanya, Dok."


"Melihat keadaan Asma yang semakin memburuk kemungkinan Asma tak bisa melahirkan normal karena itu semakin membahayakan nyawanya. Tapi, saya akan melakukan hal terbaik semampuh saya supaya istri anda selamat. Saya dan tim medis lain sudah mempersiapkan semuanya takut ada hal yang tak di inginkan sesuai dengan keinginan anda tuan."


"Terimakasih dok, sejauh ini kalian sudah bekerja keras."


"Itu sudah menjadi tugas kami, Tuan. Jangan lupa obat yang saya lingkar itu tidak boleh sampai nyonya tak meminumnya!"


"Baik, terimakasih. Kalau begitu saya undur diri."

__ADS_1


Andrian langsung keluar ketika sudah mendapatkan kabar kesehatan sang istri. Tatapan Andrian menerawang kedepan sambil terus berjalan ke arah lorong menuju ruang sang istri.


Tanpa Andrian sadari sendari tadi seseorang tak sengaja mendengar pembicaraan Andrian dengan dokter Mariska.


Bahkan orang tersebut begitu terkejut mendengar penuturan dokter Mariska. Dari pembahasannya saja seseorang itu bisa menebak apa yang terjadi pada Asma.


"Jadi ini yang kau sembunyikan, Kak."


Batin seseorang itu masih menatap Andrian yang berbicara dengan seorang perawat sambil memberikan kantung obat.


Andrian dengan cepat berjalan menuju ruang sang istri takut Asma menunggu lama.


"Assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam bang, lama! antri ya?"


Bukannya menjawab Andrian malah tersenyum sambil mendekat kearah sang istri.


"Ayo pulang,"


Asma hanya menurut saja tak mau memperpanjang masalah. Toh Andrian sudah ada di hadapannya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote...


__ADS_2