Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 9 Pertemuan pertama dengan mantan adik ifar.


__ADS_3

Air mata meluncur keluar begitu saja tanpa di minta. Rasa sesal tergambar jelas dari sorot mata seorang gadis yang dulu selalu membela Asma. Kini gadis itu bertemu dengan kakak ifarnya. Sudah tiga tahun dia mencari dan kini orang yang Aieni cari ada di depan matanya dengan perut buncit.


Mata Aieni terus terpaku pada sosok tegar yang berjalan pelan seakan takut jatuh. Dadanya begitu sesak dengan penyesalan yang terus muncul di benaknya.


"Kak Laila!"


Deg...


Air mata Aieni semakin jatuh tetkala Asma masih mengenali suaranya. Bahkan Asma mengangkat kepalanya guna melihat siapa orang yang memangilnya.


Tatapan mereka terkunci satu sama lain, begitu banyak rasa yang tak bisa mereka jelaskan. Aieni perlahan berjalan mengikis jarak dimana Asma masih diam di tempat dengan perasaan entah.


Aieni adalah orang yang selalu membela dan ada di saat air matanya terjatuh, Asma masih ingat jelar masa malu yang begitu menyakitkan dan hanya ada adik ifarnya yang selalu membela dirinya.


"Kakak..,"


Lilir Aieni bergetar memandang wajah Asma dan perut buncitnya.


Kerinduan, rasa bersalah dan penyesalan berhambur jadi satu dalam pelukan yang Asma berikan. Pelukan yang masih sama seperti lima tahun yang lalu.


Dua mantan adik kakak ifar itu hanya bisa menangis dalam rasa yang sulit terucap.


"Apa kabar, Dek. Kenapa kamu ada di sini, bagaimana kabar mama dan ayah? "


Ada rasa tak suka mendengar sang istri menanyakan kabar keluarga mantan suaminya yang dulu. Kenapa Asma masih peduli dan bertanya kabar mereka sedang apa yang keluarga itu lakukan tak bisa di toleransi.


"Alhamdulillah baik kak, kakak ha.. hamil..,"


Lilir Aieni hatinya tercubit mendengar mantan kakak ifarnya masih menanyakan kabar keluarganya. Padahal sudah satu tahun ini Aieni tak pernah pulang ke rumah. Tapi, Aieni merasa ada yang aneh dengan wajah mantan kakak ifarnya yang pucat.


"B.. berapa bulan kak? b.. boleh Aieni pegang?"


"Tidak!"


Bukan Asma yang menjawab melainkan Andrian yang menjawab sambil berdiri dan duduk di samping sang istri. Andrian memang sengaja membawa sang istri ke ruang khusus tamu agar sedikit memberi ruang tapi jika tamunya lancang Andrian tidak akan pernah suka.

__ADS_1


"Usianya enam bulan, Ai. Bagaimana kamu bisa ada di sini? "


"Ai, bekerja di sini kak di Rumah sakit Medista."


"Ternyata kamu sudah sukses, selamat ya sayang. Titip salam buat mama dan ayah! "


"Waktunya sudah habis, sayang kita harus segera pergi!"


Aieni hanya diam tak berani bicara ketika Andrian seperti membentengi Asma dan Aieni. Entah apa yang terjadi pada Andrian hingga bersikap tak ramah seperti itu.


Asma hanya bisa menghela nafas melihat suaminya yang nampak tak suka dengan kehadiran orang masa lalu Asma. Tapi, Asma juga tak bisa membantah dengan sangat terpaksa Asma menuruti perintah sang suami. Bahkan Asma tak sempat memeluk Aieni sebagai pamitan karena Andrian menarik pinggangnya hingga merapat pada tubuh sang suami.


Sedangkan Aieni hanya diam dengan pikiran entah kemana. Bahkan Aieni tak menyadari kalau Asma sudah pergi.


Banyak yang Aieni pikirkan tentang semuanya hingga Aieni sulit mengungkap isi hantinya. Bahkan Aieni tak berani menyebut salah satu keluarganya di depan Asma.


Tapi, kelihatannya Asma jauh lebih baik dari pada dulu ketika Asma masih menjadi istri kakaknya. Dan, kelihatannya juga suami Asma yang sekarang terlihat sangat mencintai dan menyayangi Asma.


"Astagfirullah Kak..,"


Lilir Aieni saat menyadari kalau dirinya seorang diri di ruang tersebut. Aieni menghembuskan nafas kasar, pertemuan awal mereka sangat tidak baik.


Di Jalan....


Sepanjang Jalan Andrian tetap bungkam membuat Asma bingung harus bagaimana. Terlihat jelas kalau sang suami tidak menyukai kehadiran mantan adik ifarnya. Bahkan sekarang Andrian pun mendiamkan Asma seolah di mobil hanya ada Andrian saja.


Tidak mau larut dalam pertengkaran kecil Asma memberanikan diri menyentuh wajah sang suami. Terlihat jelas kalau Andrian seperti kaget oleh belayan Asma. Bahkan Asma masih bisa mendengar kalau sang suami mengucap istigfar.


"Berhenti!"


"Kenapa sayang!"


"Berhenti!"


Andrian terpaksa menepikan mobilnya di jalan kosong agar tak mengganggu pengendara lain.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya dengan abang! apa abang tak menyukai kehadiran orang masa lalu Asma?"


Andrian menghela nafas pelan menatap sang istri. Andrian merasa bersalah dengan tingkahnya tadi. Tapi, Andrian tidak berniat sedikitpun menjauhkan Asma dari masa lalunya tapi ada hal lain yang tak bisa Andrian jelaskan pada sang istri.


"Bukan begitu sayang! "


"Lalu apa! abang menyuruh Asma meninggalkan Aieni seorang diri bahkan tanpa menunggu Aieni membalas pamitan kita. Jika abang masih takut akan orang masa lalu Asma menyakiti Asma. Abang jangan kewatir, Aieni berbeda dari mereka. Dia dulu yang selalu ada membela Asma dan selalu menjadi kekuatan Asma ketika orang yang Asma harapkan tak memberi perlindungan,"


Andrian menarik sang istri kedalam pelukannya. Andrian merasa bersalah tanpa sengaja sudah mengingatkan sang istri pada luka lama.


Andrian merutuki kebodohannya, apalagi hati Andrian seakan tercubit mendengar isakan sang istri.


"Maafkan abang, abang tak bermaksud sayang, maaf..,"


Sesal Andrian merutuki kebodohannya yang tak bisa mencegah amarahnya.


Andrian bukan tak mengenali Aieni bahkan Andrian sudah lama tahu keberadaan mantan adik ifar sang istri. Tapi, Andrian menyembunyikan semuanya karena tak mau sang istri mengetahui sesuatu.


Mati-mati an Andrian menjauhkan sang istri dari masa lalu tapi kenapa takdir seolah mempermainkannya. Aieni datang sendiri dan menemukan Asma. Jika keadaannya begini Andrian ingin sang istri berada di rumah saja.


Bahkan Andrian ingat jelas pertemuan dirinya dengan Aieni waktu membeli buah kemarena. Andrian berusaha bersikap cuek seolah tak mengenal Aieni padahal waktu itu Andrian begitu terkejut ternyata orang yang dia mau tolong hingga terakhir membayarkan belanjaannya adalah Aieni.


Andrian juga mendengar Aieni terus memanggilnya tapi Andrian seolah tuli dan pergi begitu saja. Tapi, hari ini kenapa takdir mempertemukan Aieni lagi dan lebih parahnya Asma bertemu.


"Sudah jangan menangis, abang janji tidak akan mengulanginya lagi. Abang hanya terlalu takut,"


Takut, jika Aieni bisa mengetahui kondisi kamu sayang. Aieni seorang dokter, abang tahu bagaimana caranya dokter mendignosa. Bahkan sendari tadi Aieni terus memerhatikan kamu. Abang takut Aieni menyadari sesuatu dan akan memberi tahu kamu.


"Jangan takut bang, apa abang lupa kalau Allah akan selalu melindungi Asma, "


Asma salah mengartikan rasa takut sang suami. Asma berpikir kalau Andrian terlalu takut jika Asma kembali di sakiti oleh keluarga mantan suaminya. Mungkin Andrian masih trauma akan kejadian satu tahun lalu.


Padahal yang ditakutkan Andrian bukan itu, Asma tak menyadarinya sama sekali.


Maafkan abang sayang, lagi-lagi abang belum sanggup kamu tahu yang sebenarnya. Tetap bertahan nak, kuatkan ummi.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Vote...


__ADS_2