
Asma dan Andrian begitu terlihat nyenyak tidur siangnya. Mereka bangun ketika adzan ashar. Lalu mereka mandi dan melaksanakan kewajibannya.
Andrian ingin banyak waktu bersama sang istri dan anaknya. Andrian ingin berperan penting membantu kesembuhan sang istri.
Kini, keluarga ini nampak hidup kembali. Sesudah makan malam Andrian mendorong kursi roda sang istri kembali ke kamar. Sedangkan baby Amar tidur bersama bibi Aisyah. Awalnya Asma tak mengizinkan. Tapi, bibi Aisyah merengek ingin bersama sang cucu. Membuat Asma tak tega.
Andrian membaringkan sang istri di atas ranjang. Walau sebenarnya kedua kaki Asma sudah mulai bisa di gerakan. Apalagi kata dokter tadi sore ketika memeriksa Asma. Bahwa kedua kaki Asma mulai membaik dan mungkin sekitar satu bulan Asma sudah bisa berjalan. Walau begitu Asma harus rajin menggerakkan kedua kakinya dan belajar sendiri agar pemulihannya cepat.
"Hanya malam ini sayang, biarkan saja. Mungkin bibi Aisyah kangen sama cucunya."
"Asma hanya merasa bersalah saja bang, selama ini Am pasti sudah banyak merepotkan bibi."
"Tidak ada yang merasa direpotkan sayang, justru bibi Aisyah sangat menyayangi Am begitupun dengan yang lain. Hanya saja, semenjak Kamu sadar Am selalu bersama kamu sayang, mungkin bibi sudah kangen tidur sama Am. Sudah biarkan saja, atau kita buat adik saja untuk Am biar gak rebutan,"
Asma membulatkan kedua matanya mendengar ucapan mesum sang suami. Bagaimana melakukannya sedang kedua kakinya masih sulit bergerak.
"Bagaimana sayang, mau ya?"
Asma menjadi salah tingkah sendiri, apalagi sang suami menatapnya penuh hasrat. Asma sadar, selama ini pasti sang suami menahannya.
"Abang bercanda sayang, Abang masih bisa ko menahannya."
"Sudah, sekarang tidur!"
Andrian menarik sang istri ke dalam pelukannya. Memberikan rasa hangat dan nyaman. Apalagi cuaca di luar sedang hujan.
__ADS_1
"Bang?"
"Hm, kenapa?"
"Boleh Asma bertanya?"
"Silahkan sayang, emang mau bertanya apa?"
"Selama ini Asma koma cukup lama dan pasti biaya perawatan Asma tidaklah murah. Pasti uang Abang sekarang menipis,"
"Iya, tapi Abang tak peduli yang penting kamu sembuh. Berapapun biaya nya Abang akan usahakan."
"Bagaimana. dengan restoran?"
Deg...
"Bang ..."
"Abang menghentikan sementara waktu pembangunan cabang lestoran yang ada di Bekasi. Uangnya Abang pakai untuk berobat kamu. Dan, Abang harus merelakan satu restoran cabang di Bandung!"
"Maksudnya?"
"Abang terpaksa menjual restoran yang ada di Bandung,"
Hening....
__ADS_1
Seketika hening, Asma tak tahu apa yang harus di ucapkan. Kejujuran sang suami membuat Asma shok.
"Sudah jangan di pikirkan, kalau ada Rezki nanti kita bangun lagi!"
"Kenapa gak pakai uang Asma saja bang,"
"Itu hak mu sayang, sedang kesembuhan kamu adalah kewajiban Abang!"
"Bang..."
"Sudah jangan terlalu di pikirkan, ayo tidur!"
Bukannya tidur Asma malah terisak, Asma tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya sang suami menghadapi ujian itu. Pantas saja badan Andrian kurus ternyata begitu banyak beban yang Andrian pikul.
"Maaf..."
Hanya kalimat itu yang mewakili perasaan Asma yang tak bisa Asma ungkapkan. Asma semakin memeluk sang suami erat seakan tak mau lepas.
"Sudah jangan menangis, Abang tidak apa-apa ko. Dan, stop merasa bersalah!"
Sungguh Asma tak bisa bicara, terlalu banyak kata yang ingin Asma utarakan dan pertanyakan. Namun Asma belum siap jika harus merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Andrian.
Asma hanya merasa hidupnya begitu banyak menyusahkan orang lain. Terutama sang suami.
"Asama sayang Abang!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih...