
Sesudah selesai urusan di lestoran, Andrian memutuskan pulang juga.
Kebenaran yang begitu membuat Andrian lagi-lagi terpukul. Apa yang harus Andrian lakukan untuk menembus semuanya. Nyatanya rasa bersalah terus menghantui Andrian.
Sedetik berikutnya Andrian mencoba tetap baik-baik saja melihat putranya yang semakin tumbuh besar dan pintar. Andrian mengambil alih baby Amar dari pangkuan bibi Melati. Lalu masuk kedalam kamar dirinya dimana ada sang istri yang berbaring.
"Nak, katakan pada abi, bagaimana cara membangunkan ummi?"
"Abi kesepian, abi butuh umi!"
Andrian mengajak ngobrol putranya yang hanya diam menatap sang abi. Baby Amar seakan faham akan kesedihan sang abi. Perlahan tangan mungil itu menggapai pipi Andrian yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
Baby Amar seakan mengatakan, jangan sedih abi, Amar ada di sini bersama abi. Amar yakin umi pasti akan segera bangun. Yakinlah dahsyatnya takdir.
"Apa kamu juga menginginkan umi bangun?"
"Kamu memang putra abi, cahaya abi dan buah hati abi. Ayo bangunkan umi dan katakan pada umi kalau abi sangat merindukannya!"
Andrian membaringkan sang putra di tengah-tengah dirinya dan sang istri. Tangan baby Amar terus bergerak seakan ingin menggapai sesuatu.
"kita tidur ya, Amar gak boleh ganggu umi. kasihan umi masih kelelahan,"
Andrian terus saja mengoceh sambil memeluk putranya. Ada setetes air mata yang keluar dari pelupuk mata Andrian. Sekuat apapun Andrian menahan tangisnya. Tetap saja cairan bening itu keluar.
Andrian masih rapuh, padahal ini sudah enam bulan, kenapa sang istri masih belum bangun. Masih adakah keajaiban itu! jika ada Andrian memintanya. Meminta agar sang istri kembali bangun.
Sungguh menyesakan melihat keluarga mereka. Yang satu berbaring tak berdaya, yang satu rapuh oleh keadaan. Dan, baby Amar terus saja menggerak-gerakan tangannya seakan sedang asik bermain sendiri. Kadang tersenyum kadang diam seolah baby Amar sedang bermain dengan seseorang.
Baby Amar begitu pintar, bahkan dia tak menangis sekalipun. Mungkin baby Amar tahu, kondisi abi dan uminya tidak baik-baik saja.
Sayang, abang merindukan kamu. Abang mohon kembalilah. Jangan buat abang mati perlahan dalam sangkar kerinduan.
Abang tak berdaya, kamu kekuatan abang, bangunlah beri abang setetes kekuatan agar abang bangkit untuk melindungi kalian.
Abang mencintai kamu karena Allah, bangunlah..
Andrian terlelap dengan jeritan hati terdalam, mata yang masih mengeluarkan cairan bening tak menjadikan Andrian terganggu dalam tidurnya.
Andrian seakan bermimpi, mimpi yang membuat dadanya sesak dan perih.
__ADS_1
Plak...
Tangan mungil baby Amar meraba pipi Andrian. Baby Amar seakan mengelus lembut pipi sang abi. Memberi rasa nyaman dan ketenangan.
Banar saja, usapan kasar tangan mungil baby Amar. Mampuh membuat Andrian tenang dalam tidurnya.
Sungguh miris bukan!
Melihat keadaan mereka yang menyedihkan. Bahkan siapapun yang melihatnya pasti tak akan kuat.
...---...
Pikiran Riko begitu kusut memikirkan kejadian ini. Sebuah bukti yang membuat Riko sakit hati.
Riko ingin sekali menepis tuduhan itu, tapi rekaman cctv menunjukan bahwa Indria pelakunya.
Satu-satunya kunci saksi kejadian itu. Pelayan yang mengantarkan minuman itu. Karena pelayan itu yang tahu siapa sebenarnya dalang dari semua ini.
Tapi sialnya, pelayan itu pergi entah kemana. Bahkan Riko sampai pergi kerumah pelayan itu tapi Riko tak menenmukan pelayan itu di rumahnya. Bahkan yang membuat Riko semakin geram ketika para tetangga mengatakan bahwa rumah ini sudah lama tak di tempati.
Karena kesal, marah bercampur jadi satu. Bahkan Riko tak menemukan petunjuk apapun. Terpaksa Riko harus balik, dan Riko harus benar-benar membuat Indria mengakui semuanya dan meminta maaf pada Andrian.
Cklek...
Riko masuk ke dalam apertementnya, kening Riko mengerut tak mendapati Indria. Dengan cepat Riko masuk kedalam kamarnya.
Luapan amarah dan kekecewaan hilang begitu saja ketika Riko melihat Indria meringkuk di bawah ranjang dengan wajah pucat. Dengan cepat Riko menghampiri Indria dengan luapan amarah berganti kecemasan yang penuh arti.
Riko mengangkat tubuh Indria dan di baringkannya di atas ranjang. Riko bisa merasakan bahwa Indria sedang demam. Dengan cepat Riko mencari kain dan mengambil air yang di isikan ke dalam baskom kecil.
Dengan penuh perhatian Riko mengompres Indria. Ada rasa sakit melihat itu semua. Kenapa keadaan ini begitu rumit.
"Dalam keadaan tak sadarpun kamu mengupatku, apa sesakit ini yang kamu rasakan. Seakan kamu adalah korban! padahal disini korban adalah aku,"
Monolog Riko yang mendengar Indria terus mengupat dirinya bahkan Indria membenci Riko.
Melihat keadaan ini membuat Riko sedikit goyah. Riko harus benar-benar mencari pelayan itu. Karena pelayan itu satu-satunya kunci paling kuat membongkar semuanya.
"A.. ayah.."
__ADS_1
Tangan Riko tertahan ketika Indria memegang tangannya dan menyebut dirinya ayah.
Seketika tubuh Riko menegang kerena tiba-tiba Indria memeluk tubuhnya membuat Riko setengah ikut berbaring.
Dada Riko kembali tercubit mendengar isakan Indria sambil melilirkan kata ayah.
Jika begini keadaannya, lalu siapa yang harus di salahkan.
Dengan kaku Riko mengelus pelan punggung Indria yang terguncang. Lalu membalas pelukan Indria, seakan memberi tenang.
Benar saja, usapan lembut di punggung Indria membuat Indria merasa tenang. Bahkan bibirnya tak bergumam lagi.
Lama Riko dalam posisi itu, keadaan Indria lebih baik. Riko membaringkan tubuhnya tanpa melepas pelukan itu. Riko hanya takut Indria merasa tak nyaman.
Rasa kantuk menyapa Riko, belum sempat Riko menutup mata. Dring ponsel membuat Riko kembali membuka mata. Riko perlahan ingin lepas dari dekapan Indria, tapi Riko tak bisa karena Indria malah semakin memeluknya.
"Bagaimana keadaan Indria Rik, ayah harap dia baik-baik saja?"
Riko terdiam sebentar mendengar nada kewatir ayah mertuanya.
"Alhamdulillah Indria baik-baik saja, dia sudah tidur bahkan memeluk tubuhku erat,"
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja, entah kenapa ayah merasa Indria sedang membutuhkan ayah. Semoga apa yang kamu bilang benar!"
" Ayah jangan kewatir, Indria baik-baik saja. Kalaupun sakit Riko pasti memberi tahu ayah!"
"Baiklah kalau begitu, semoga kamu bisa mengatasi semuanya. Ayah hanya pesan, jika Indria masih keras kepala jangan terlalu keras memberi tahunya karena Indria mudah tersinggung dan menangis. Dan, satu lagi, jika Indria sakit, kamu hanya perlu memeluk Indria dan mengusap-ngusap punggungnya. Jangan tinggalkan dia walau dia dalam keadaan marah sekalipun. Karena itu akan membuat Indria semakin sakit dan ketakutannya semakin menjadi. Cukup kamu tenangkan dalam pelukan!"
"Apa ini yang dinamakan ikatan batin, maafkan Riko yah, sudah berbohong. Riko hanya tak mau ayah cemas."
Monolog Riko menatap nanar ponsel yang sudah mati. Lalu Riko mengalihkan pandangannya pada wajah Indria yang mulai tenang dalam tidurnya.
"Aku yakin, jika kamu bangun, kamu pasti akan mengamuk. Padahal bukan aku yang memeluk mu tapi kamu yang memeluk aku!"
Riko tak tahu reaksi apa yang di tunjukan Indria saat bangun dalam posisi se intim ini.
Bersambung..
Jangan lupa Like, hadiah, Komen dan vote...
__ADS_1