
"Emmz..,"
Asma mengeliat dari tidurnya, perlahan matanya terbuka. Asma melirik jam dingding menunjukan pukul tiga dini hari. Asma bangun untuk melaksanakan solat malam, sebelum itu Asma mandi dulu.
Asma tersenyum melihat sang suami terlihat pulas dalam tidurnya. Asma mengeringkan rambutnya sebelum melaksanakan sholat. Kening Asma mengerut melihat rambutnya yang memang akhir-akhir ini rontok bahkan ini begitu banyak dari pada sebelumnya.
"Apa Gara-gara memakai shampo bang Andrian, kenapa rambutku rontok. Padahal aku memakainya satu minggu yang lalu saat shampoku habus,"
Monolog Asma, tapi Asma tak ambil pusing dia terus mengeringkan rambutnya lalu melaksanakan sholat malam. Asma seakan tak peduli dengan perubahan pada tubuhnya dan rasa sakit yang akhir-akhir ini Asma rasakan. Bahkan rasa sakitnya semakin hari semakin sering terasa.
Bukan Asma tak peduli tapi Asma terlalu takut untuk mengetahui tentang kesehatannya yang semakin menurun. Takut jika diagnosa-diagnosa pikirannya terbukti dan Asma belum sanggup mengatakannya pada sang suami.
Sesudah sholat subuh berjamaah, Asma hanya duduk melihat sang suami membereskan kebutuhannya. Karena hari ini keberangkatan Andrian ke Bekasi untuk peresmian pembangunan cabang lestoran barunya.
Asma cemberut ketika sang suami melarang membantu menyiapkan keperluan dirinya. Padahal Asma ingin sekali menyiapkan semuanya tapi Andrian malah menyuruhnya duduk.
"Sayang jangan lupa, minum obat tepat waktu. Maaf, minggu depan mungkin abang gak bisa antar kamu chekup. Tapi, abang akan usahakan cepat pulang."
"Jaga diri baik-baik, awas jangan melakukan pekerjaan berat. Apalagi nyiram tanaman, itu licin berbahaya."
"Istirahat tepat waktu, jangan begadang dan jangan terlalu lama duduk membaca buku!"
Asma semakin mengerucutkan bibirnya mendengar ceramah dari sang suami. Dengan muka di tekuk melihat sang suami terus mondar-mandir mempersiapkan keperluannya dan bibirnya yang terus mengoceh.
"Sayang abang berangkat dulu ya, jaga diri baik-baik!"
Ucap Andrian sambil mencium seluruh wajah sang istri tanpa terkecuali. Asma hanya diam dengan mata berkaca-kaca, karena sedih. Ini pertama kalinya Asma di tinggal sang suami dan pergi tanpa dirinya.
"Sayang, abi berangkat ya, jagain ummi buat abi ya."
Cup...
Satu keplcupan Andrian berikan buat cabang babynya. Sekuat tenaga Asma menahan air mata nyatanya Asma tak sekuat itu.
"Jaga diri abang baik-baik ya di sana. Jangan lupa sholat malam dan jangan telat makan. Kalau udah sampai kabarin!"
"Siap, sayang. Abang berangkat, Assalamualaikum..,"
"Waalaikumsalam..,"
__ADS_1
Keluara Al-muzaky menatap haru pasangan muda itu. Kali pertama mereka harus berjauhan dan itu membuat bibi Aisyah tak tega.
Bibi Aisyah langsung merangkul Asma yang masih diam di ambang pintu melihat kepergian Andrian.
"Ayo masuk,"
Asma hanya menurut saja lalu duduk bergabung di ruang keluarga. Dimana seleruh keluarga Al-muzaky ada. Karena memang ini hari libur, jadi semuanya berkumpul kecuali Ali dan Fatimah kedua anak bibi Aisyah.
"Bagas kapan kamu akan menikah?"
Ucapan bibi Melati sontak membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada bibi Melati kecuali Asma yang seperti sedang menahan sesuatu.
"Mah, gak bosan apa, itu mulu yang ditanya!"
Kesal Bagas, entah sudah berapa kali kedua orang tuanya menyuruh dirinya segera menikah. Emang gampang mencari calon istri! apalagi Bagas yang begitu dingin terhadap perempuan.
"Gas, usia kamu sudah mau dua delapan loh, gak kasihan sama mama yang sudah tua. Pokonya mama mau kamu cepat nikah!"
"Aduh mama, siapa coba yang mau sama Bagas. Bahkan Bagas saja gak punya pacar sama sekali. Jangan sekarang deh, Mah. Nanti saja tahun depan Bagas cari dulu!"
Kesal Bagas entah harus bicara apa lagi jika mengenai calon istri. Bahkan Bagas sendiri tidak memikirkan hal itu, bahkan kreteria calon istripun Bagas gak punya. Bagi Bagas, wanita makhluk ribet dan menyusahkan.
"Hah, mama gak bisa gitu dong!"
Protes Bagas sangat kesal dengan permintaan sang mama. Kalau sudah membahas begini pasti akan panjang. Ini nih alasan kenapa Bagas gak mau tinggal dirumah. Telinga Bagas akan panas oleh bujukan sang mama.
Paman Fahmi hanya diam saja tak mau ikut campur antara perdebatan anak dan istrinya. Karena ini sudah biasa jika Bagas ada di rumah.
"Pokonya mama gak mau tahu, satu bulan kamu harus bawa calon istri. Kalau tidak mama akan menjodohkan kamu dengan wanita pilihan mama."
"Emang mama punya kandidat calon istri buat Bagas?"
Kini paman Fahmi angkat bicara karena setahu paman Fahmi sang istri tidak mempunya teman yang mempunyai anak gadis. Rata-rata semuanya sudah menikah, kalaupun ada itu masih sekolah, masa iya sang istri akan menjodohkan putranya dengan gadis yang masih kecil. Bahkan para karyawanya juga sudah menikah semua, ada yang belum itu laki-laki.
"Ada lah,"
"Siapa?"
"Rahasia, nanti papa juga akan tahu!"
__ADS_1
Paman Fahmi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang sangat antusias sekali.
Bibi Melati dan Bibi Aisyah saling lirik dengan senyum seringai seakan rencananya akan berhasil.
Sedang Bagas hanya bisa mengusap wajahnya kasar sambil membuang nafas kasar mencoba menahan kekesalannya.
Satu bulan, emang cari bakso ikan gitu yang mudah di dapat banyak di Pelabuhanratu yang jualan. Nah ini calon istri! mau cari dimana Bagas. Bahkan Bagas gak mempunyai teman perempuan satupun kalaupun ada, Bagas tak mau dengannya.
"Bibi Asma pamit ke kamar ya?"
Ucap Asma memecah ketegangan, Asma langsung pergi ke kamarnya tanpa menunggu persetujuan keluarganya.
Rasa nyeri di bagian kepala membuat Asma tak bisa berlama-lama diam di ruang keluarga. Asma tak mau pembahasan serius keluarganya terganggu karena dirinya.
"Astagfirullah..,"
Lilir Asma gemetar ketika hidungnya mengeluarkan darah. Asma mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
Dengan gemetar Asma membersihkan darah yang terus keluar dari hidungnya.
"Allahu..., Apa yang terjadi denganku!"
Monolog Asma memegang kepalanya yang semakin terasa sakit, bahkan kedua mata Asma mulai berkaca-kaca.
Asma terus berusaha menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin berdenyut. Di tambah perutnya yang seakan kram oleh tendangan babynya.
Jika Asma di kamar sedang berjuang melawan rasa sakit yang selalu tiba-tiba muncul. Sedang di ruang keluarga masih saja berdepat antara bibi Melati dan Bagas.
"Baiklah, Bagas akan membawa wanita pilihan Bagas. Tapi, ingat! mama gak boleh menolak pilihan Bagas nanti dan stop akan perjodohan konyol itu!"
"Ok, mama setuju. Tapi, jika kamu dalam satu bulan belum menemukan maka Bagas gak boleh protes akan calon pilihan mama!"
"Ya!"
Bibi Melati tersenyum mendengar jawaban sang putra. Bibi Melati yakin putranya tak akan bisa mencari calon istri sendiri. Saran bibi Aisyah memang manjur.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1