
"Sayang.. "
Tubuh Andrian bergetar menghampiri sang istri. Hanya ada tangis yang memecah kesunyian.
Laki-laki gagah sekarang terlihat lemah bahkan tak berdaya sama sekali. Rasanya Andrian tak mampuh berpijak sedang kekuatannya sedang terbujur kaku di atas pembaringan.
Kamar yang selalu terasa hangat akan keromantisan, kejahilan dan pertentangan kecil. Kini kamar yang selalu menjadi saksi bisu tumbuhnya cinta menjadi sunyi.
Dengan gemetar Andrian mencium tangan sang istri. Tangan yang selalu terulur membelai wajahnya penuh cinta kini tangan ini terasa lemas tak bertenanga. Tangan yang selalu membalas genggaman kini hanya bisa Andrian sendiri yang menggenggam.
Haruskah Andrian melepas cintanya. Kuatkah Andrian akan hal itu. Atau Andrian benar-benar akan hancur.
"Sayang, apa kamu mendengarku. Dimana lenteraku berada, kenapa kamu sekarang. Tolong pulanglah. Jangan buat aku cemas. Apa kamu tak merindukan aku dan baby Amar. Apa kamu tahu sayang, baby Amar semakin hari semakin tumbuh besar. Dia sehat. tak kekurangan apapun karena kamu selalu memberinya kasih. Tapi, kamu begitu jahat pada aku. Jika baby Amar kamu beri kehidupan kenapa aku tidak. Bangunlah, berikan senyuman manis yang selalu kamu tunjukan. Agar aku merasa hidup kembali. Jangan buat aku tersesat akan perginya kamu, aku mohon pulanglah.. "
Tak ada respon sama sekali dari wanita yang sendari tadi Andrian ajak bicara. Asma masih betah dengan tidur panjangnya. Bahkan tak tahu betapa hancurnya suaminya. Bahkan badan gagah kini menjadi kurus tak terurus.
Asma seakan nyaman dengan semua ini, seakan terlalu banyak rasa sakit yang Asma rasakan. Mungkin Asma terlalu lelah untuk bisa bertahan. Menemani sang suami meraih ridho Allah.
Cita-cita yang mereka buat seakan berhenti di tengaj jalan. Andrian tak sanggup jika harus melangkah sendiriaan. Andrian masih butuh Asma. Tapi kenapa Allah memberi cobaan yang begitu menyakitkan.
"Sayang kamu tahu! hari ini begitu melelahkan bagi aku. Apalagi terlalu banyak godaan. Tapi kamu jangan kewatir, cinta dan seluruh jiwaku hanya milik kamu. Milik seorang Laila Asma Ar-rohman. Aku akan menunggu kamu kembali sampai ujung kekuatanku."
"Sayang, apa kamu tersiksa dengan keadaan ini. Tolong bilang padaku. Hiks.. ap.. apa yang harus aku lakukan. Ap.. apa aku harus melepasmu, tapi aku tak sanggup. Tolong jangan paksa aku kuat jika kekuatanku hanya ada pada kamu."
Andrian memeluk lembut tubuh sang istri seakan takut jika akan menyakiti Asma. Andrian mengecup pipi pucat sang istri dengan gemetar, seakan ini hanya mimpi buruk. Jika dulu sang istri akan membalas apapun yang dia lakukan tapi kali ini Andrian hanya bisa bermesra sendiri.
__ADS_1
Andrian sudah tekad.. Apapun yang terjadi Andrian tak akan pernah melepas alat-alat medis yang terpasang di tubuh Asma. Andrian yakin sang istri akan sembuh, akan bangun dan mereapon segala kerinduan.
Katakanlah bahwa Andrian gila, egois akan semuanya. Andrian tak tahu, jika apa yang dia lakukan malah menyakiti Asma. Tapi Andrian tak peduli, jika dengan alat ini sang istri masih bisa bernafas maka Andrian bersumpah tak akan melepasnya.
Jika Andrian di dalam kamarnya sibuk dengan urusannya. Begitupun dengan semua keluarga Al-muzaky. Semuanya berkumpul di ruang tamu dengan Fatimah menggendong baby Amar.
Mereka membicarakan dengan apa yang terjadi hari ini. Andrian bagai orang gila yang tak tahu arah.
"Mau sampai kapan Andrian seperti itu, kasihan Asma!"
"Kita tidak tahu, kita juga tahu bagaimana Andrian sangat mencintai Asma tapi apah ini baik untuk Asma dan Andrian sendiri!"
"Siapa yang akan membujuk Andrian supaya bisa melepas Asma, jika begini kasihan juga pada Asma!"
Tapi kita tak tahu, bagaimana cara membujuknya!"
Begitupun Bagas sebagai sahabat tak bisa berbuat apa-apa. Memang begitulah Andrian jika sudah mencintai seseorang. Sulit baginya melepaskan.
"Biarkan saja dulu mah, Bagas yakin Andrian tak akan tega jika harus menyakiti istrinya sendiri dengan alat itu!"
"Tapi mau sampai kapan Bagas, ini udah empat bulan lebih. Bahkan semua dokter menyerah dengan keadaan ini!"
"Astagfirullah mama sadar, jika kematian hanya milik Allah. Dokter hanya bisa mendiagnosa saja. Mungkin ini petunjuk Allah kak Asma pasti akan bangun. Mama ingat! dua jam dokter menyatakan kak Asma meningggal tapi nyatanya Allah berkehendak lain, kak Asma masih bertahan sampai sekarang. Mungkin kak Asma butuh dukungan kita bukan kelemahan. Kita hanya bisa apa, semuanya hanya kendali Allah,"
Bibi Aisyah terdiam, seakan tertampar oleh setiap kata yang keponakannya ucapkan. Bagas memang memanggil mama pada bibi Aisyah begitupun Fatimah dan Ali memanggil mama pada bibi Melati. Karena sendari kecil mereka hidup satu atap dengan kedua orang tuanya masing-masing. Berbeda dengan Asma yang memang sendari kecil sudah pisah rumah.
__ADS_1
Bibi Aisyah hanya bisa beristigfar Berkali-kali merasa berdosa karena sudah meragukan Allah.
Bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Kenapa kita sebagai manusia sering ragu akan ketetapan Allah. Karena iman kita terlalu lemah untuk mengkaji.
"Kita biarkan saja seperti itu, kita hanya bisa menunggu keajaiban Allah saja. Kita tidak tahu rahasia apa di balik ini semua. Jika pada akhirnya kak Asma pergi, mungkin ini sudah takdirnya. Kita hanya bisa menguatkan kak Andrian saja dari sekarang!"
Timpal Fatimah, lagi-lagi semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Paman Fahmi dan paman Bayu hanya diam tak ikut bersua sama sekali. Kedua paman itu hanya bisa terus berpikir kemana harus membawa Asma supaya Asma kembali.
Rasanya memang berat bagi keluarga Al-muzaky menghadapi ini semua. Apa mereka harus merasa kehilangan lagi. Dan, kenapa harus semua keluarga sang kakak.
Baby Amar masih kecil, dia butuh kasih sayang seorang ibu. Walau bagaimanapun, mereka tidak tahu apa Asma akan bertahan atau tidak.
Baby mungil itu terlelap nyaman di gendongan Fatimah. Seakan baby Amar tak terganggu dengan apa yang orang dewasa bicarakan. Bahkan sendari usia satu bulan sampai sekarang baby Amar tidak rewel sama sekali. Baby Amar seakan mengerti dengan keadaan ini. Baby Amar akan menangis jika dia berasa haus saja. Dan, dengan cepat Andrian akan membawa sang putra pada sumber kehidupannya.
Kenapa mereka masih ragu, padahal Allah dengan Rohman Rohimnya mengeluarkan air susu pada sumbernya walau mata sang ibu tertutup. Bukankah itu sebuah tanda kekuasaan Allah yang begitu hebat. Kenapa masih ragu!
Buanglah keragu-raguan karena Allah membenci itu. Yakinlah bahwa keajaiban Allah pasti akan datang. Jangan pernah berputus asa dalam berdoa, tetap minta dalam keyakinan kuat. Bahwa suatu saat nanti Allah pasti akan menunjukan kuarasanya.
Ea.. ea.
"Uluh.. haus ya, sebentar sayang. Kita panggil dulu abi.."
Bersambung....
jangan Lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote...
__ADS_1
Terimakasih....