Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 30 Kebenaran 2


__ADS_3

Indria benar-benar shok atas semuanya. Bagaimana mungkin. Bukankah ayah bilang donor mata ini dapat dari luar negri. Tapi ini, rasanya Indria benar-benar seperti mimpi.


Tapi, faktanya memang tak bisa Indria tampik bahwa orang yang ada di hadapannya bukan orang yang dia benci. Tapi wajah ini selalu mengingatkan Indria pada laki-laki cupu yang selalu mengejarnya.


"Apa kamu akan terus membenci wajah ini, sedang wajah ini yang sudah memberimu penglihatan."


"Bahkan aku tak bisa membencimu karena ada bagian saudaraku yang menempel. Tapi, apa kamu akan terus membenci wajah ini walau dia sudah mati. Tolong lihat aku berbeda..."


Indria menatap sendu pada Riko, fakta ini benar-benar mengguncangnya. Bahkan mata Riko memerah menahan semua gejolak yang ada. Kenapa jadi seperti ini, kenapa orang yang harusnya Riko benci malah mengusik hatinya.


"Ayo katakan Ria, setelah kamu mengetahui kebenarannya. Apa kamu masih membenci wajah ini."


Ucap Riko sambil mengguncang tubuh Indria yang masih tak bergeming.


Sebenarnya nama asli Riko adalah Rikardo adik kembar dari Riko. Walau mereka kembar, tapi sifat mereka berbeda. Riko cendrung pemalu dan culun, sedang Rikardo seorang cassanova. Mereka memang berpisah ketika Rikardo memutuskan kuliah di luar negri.


Tapi, berita menyakitkan datang dari kedua orang tuanya. Kalau kakaknya sedang sakit parah. Hingga Rikardo terpaksa meninggalkan studynya demi menemani sang kakak.


Detik-detik Riko meninggal, Riko memang menceritakan tentang Indria gadis yang dia suka. Ketika Riko sakit maka Rikardo yang menggantikan posisi sang kakak.


Hingga suatu hari, Riko memaksa ingin masuk kuliah, walau semua keluarganya melarang begitupun Rikardo karena tak mau sampai kondisi sang kakak memburuk. Tapi, Riko tetap memaksa karena ada sesuatu yang harus dia sampaikan pada Indria.

__ADS_1


Dimana Riko menembak Indria dengan setangkai bunga mawar. Tapi apa yang Riko dapatkan. Hanya cacian dan hinaan, melihat kakaknya di hina di depan umum oleh Indria Rikardo ingin sekali menghajar gadis itu. Tapi isyarat sang kakak membuat Rikardo tak berdaya.


Pada saat itu kondisi Riko semakin memburuk dan itu membuat Rikardo membenci Indria dan bersumpah akan membalasnya. Tapi, satu bulan kejadian itu Indria di kabarkan pindah keluar negri.


Mendengar kabar itu dengan konyolnya Riko meminta menyusul Indria sampai memohon-mohon hingga kedua orang tua Riko tak tega dan mengizinkannya dengan syarat Rikardo harus ikut untuk menjaganya.


Tapi, sesuatu kejadian naas terjadi di sana. Dimana Indria mengalami kecelakaan dan di saat itu kondisi Riko semakin memburuk karena kelelahan. Dan, Riko semakin sekarat ketika mendapat kabar bahwa Indria mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan Indria buta.


Pada saat itu Riko membuat Adiknya Rikardo berjanji jika dia pergi Rikardo tak boleh membenci Indria sedikitpun bahkan menyakitinya dan Jika dirinya pergi Riko berpesan untuk memberikan matanya pada Indria.


Saat itu Rikardo marah besar tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa karena sang kakak sudah membuatnya berjanji.


Hingga Riko benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya sambil tersenyum melihat Indria sedang duduk di kursi roda dengan tatapan kosongnya.


Fakta ini sungguh belum benar-benar Indria tangkap, dia masih linglung dengan semuanya. Seakan Indria di tarik untuk bernostalgia ke masa lalu.


Di saat seperti ini tiba-tiba kepala Indria pusing dan kembali merasa mual. Dengan cepat Indria berlari ke dalam kamar mandi guna memuntahkan isi perutnya.


Riko begitu terkejut melihat keadaan istrinya yang kembali mual. Dengan penuh kelembutan Riko membantunya. Dan, mengiring Indria kembali ke atas ranjang.


"Aku tahu, kamu masih belum percaya akan kebenaran ini. Jangan terlalu di pikirkan, kamu istirahat dulu. Jika kamu tak mau ke dokter biar aku datangkan dokter ke sini!"

__ADS_1


Indria kali ini tak bisa. membantah karena tubuhnya semakin lemas. Riko ingin beranjak guna mengambil ponsel yang ada di atas meja. Tapi, tangannya di cengkal oleh Indria. Indria menatap sayu laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya. Apa benar, dia laki-laki berbeda walau wajahnya yang sama.


"Jangan pergi..."


Lilir Indria, dua kata yang Indria ucapkan sukses membuat Riko tak bergeming.


"Boleh aku memeluk tubuhmu, aku ingin tidur!"


Riko membulatkan kedua matanya mendengar permintaan Indria. Rasanya ini tidak mungkin. Tapi, melihat tatapan permohonan Indria membuat Riko tak tega.


Riko perlahan duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Dengan cepat Indria menaruh kepalanya di pangkuan Riko


Wajah Indria menghadap kearah perut Riko yang terhalang baju kaus.


Entah kenapa, lagi-lagi Indria merasa nyaman berada di pelukan Riko. Ajaibnya, rasa mual dan pusing ya mulai menghilang.


" Kenapa tubuhmu wangi,"


"Hah!!!!


bersambung

__ADS_1


jangan lupa Like Hadiah Komen dan Vote


terimakasih....


__ADS_2