
Bekasi....
Andrian satu siang baru sampai di Bekasi, walau jarak Jakarta dan Bekasi tidak jauh tapi, Andrian memutuskan tidak bulak-balik. Karena Andrian ingin pokus pada pekerjaannya.
Andrian buru-buru mengirim pesan pada sang istri mengatakan kalau dirinya sudah sampai dan akan langsung istirahat karena sore ada pertemuan.
Sesudah mengirim pesan Andrian lantar tidur, begitupun apa yang di lakukan Riko, sang asisten yang menempati kamar hotel sebelah Andrian.
Jakarta...
Asma duduk di depan cermin sambil tersenyum dengan wajah yang begitu pucat. Darah sendari tadi terus keluar dari hidungnya membuat Asma hanya tersenyum getir karena baru saja darah itu berhenti.
Bahkan kram di perut Asma masih saja terasa nyeri. Asma ingin menangis, tapi apa yang harus Asma tangisi.
Asma menatap lekat pantulan dirinya di cermin. Bahkan rambut Asma semakin rontok. Asma baru tahu satu hal, ketika Asma mencari di google penyakit dengan ciri-ciri yang Asma alami. Betapa terkejutnya Asma melihat kemungkinan besar dirinya mempunyai penyakit yang sama. Jika benar itu terjadi! apa yang harus Asma lakukan. Tanpa sadar Asma mengelus perutnya dengan bibir gemetar.
"Nak..,"
Lilir Asma, jatuh sudah pertahanan Asma menahan kesesakan yang tiba-tiba menyapanya.
"Kamu harus tahu, ummi sangat menyayangi kamu. Bahkan tujuh tahun penantian ummi menunggu kehadiranmu. Tapi.. "
Asma menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis supaya tidak keluar.
"Tapi.., nyatanya Allah berencana lain. Jika ummi tak bisa melihat kamu, ummi mohon jangan benci ummi. Ummi sangat menyayangi kamu,"
"Ja.. jaga A-Abi untuk ummi..,"
Asma mencengkram erat ponsel dirinya dimana di layar ponsel itu menampilkan poto dirinya dan sang suami. Begitu terlihat bahagia bahkan jauh bahagia aslinya.
Asma yakin kindisi dirinya tak baik-baik saja, Asma sudah memutuskan besok dia akan pergi kerumah sakit untuk memeriksa keadaannya. Apakah benar gejala yang dia alami sebuah penyakit yang mematikan!
Tapi, Asma tidak akan pergi kerumah sakit Medista. Dimana rumah sakit tempat Asma chekup. Asma tak mau ada orang yang mengenalinya. Apalagi ada Aieni yang bekerja di sana.
Dengan gemetar Asma baru membalas pesan dari sang suami. Karena Asma tak mau membuat sang suami kewatir karena tak ada balasan darinya.
Bahkan Asma berusaha seceria ungkin ketika sang suami menelepon dirinya hingga menjadi pengantar tidur Asma.
Tapi, bagaimana caranya Asma keluar sedang pasti ada salah satu bibinya yang ada di rumah.
Seketika bibir pucat Asma tersenyum ketika ingat kalau besok ada pertemuan dengan keluarga Qolayuby, dimana Akbar Khoer Al-qolayuby akan meresmikan lamarannya. Jika semua orang sibuk maka tidaka akan ada yang menyadari kalau dirinya pergi.
Asma sudah tekadkan kalau dirinya tak akan memberi tahu pada siapapun tentang hal-hal aneh yang Asma alami. Asma sendari dulu cukup menyusahkan keluarganya, Asma tak mau.
Hingga pagi menyapa, semua orang di sibukan dengan urusan masing-masing. Asma memanfaatkan situasi seperti ini untuk keluar.
__ADS_1
"Bibi, Asma harus bantu apa?"
"No, sayang kamu istirahat, jangan banyak bergerak!"
"Tap..,"
"Tidak ada tapi-tapian, sudah kamu lagi hamil besar jangan banyak kesana kemari!"
"Ya sudah, Asma ke kamar saja ya!"
"Itu lebih baik,"
Maafkan Asma, Bik. Asma sudah berbohong. Asma terpaksa. Dan, maafkan Asma bang, keluar rumah tanpa izin dari abang. Mohon jangan marah..
Batin Asma langsung masuk kedalam kamarnya. Untung saja Kamar Asma terhubung dengan taman belakang rumahnya. Jadi, jika Asma keluar jalan jendela tak akan ada yang tahu.
"Maafkan Asma ya Allah, keluar tanpa izin suami."
Lilir Asma langsung keluar lewat jendela, jantung Asma berdekup kencang ketika melangkahkan kedua kakinya semakin menjauh. Ini kali pertama Asma keluar rumah tanpa izin suami dan itu membuat Asma sekaan sakit oleh sesuatu. Tapi, Asma tak juga mundur ketika sudah melangkah.
Asma terus saja membaca Istigfar di sepanjang jalan menuju rumah sakit Setia Budy. Sebelum masuk kedalam rumah sakit, Asma mengirim pesan pada sang suami mengatakan minta maaf, jika menelepon Asma tak bisa mengangkatnya karena ada lamaran buat Fatimah.
"Bismillahirohmannirohim, "
Asma masuk dan mendaftar, beberapa menit menunggu kini giliran Asma yang di panggil. Dengan jantung berdebar, Asma masuk sambil mengucapkan salam.
"Kita tunggu bagaimana hasilnya, semoga apapun hasilnya ibu bisa menerima dengan lapang,"
Jelas dokter menatap kasihan pada Asma, sebenarnya sang dokter sudah bisa melihat dari tanda-tanda cara Asma merasakan sakit dan bahkan ketika sang dokter memeriksa hidung Asma kembali mengeluarkan berdarah. Sudah di pastikan kalau Asma mempunyai penyakit kangker tapi Dokter tidak mau berprasangka sebelum hasil labnya ke luar.
...---...
Kediaman Al-muzaky...
Setelah acara lamaran dan penentuan tanggal pernikahan Fatimah. Bibi Aisyah menghampiri kamar keponakannya. Karena sendari tadi sang keponakan tidak keluar kamar sama sekali.
"Nak, boleh bibi masuk.., "
Seru bibi Aisyah, lama bibi Aisyah diam di depan pintu. Hingga bibi Aisyah merasa cemas karena tak ada sahutan sama sekali, bahkan biasanya Asma akan langsung membukakan pintu.
"Nak, tok.. tok..,"
Panggil bibi Aisyah sedikit keras sambil mengetuk pintu. Rasa cemas kian menggerogoti membuat bibi Aisyah berteriak.
"Abiii..,"
__ADS_1
Bayu langsung terperanjat mendengar teriakan sang istri begitupun bibi Melati, paman Fahmi, Bagas dan Fatimah. Mereka semua langsung berlari kearah kamar Asma karena teriakannya berasal dari sana.
"Ada apa, Mah. Kenapa berteriak?"
"A-Asma tak menjawab, Bi. Mama takut terjadi sesuatu pada Asma. Bahkan pintu kamarnya di kunci!"
"Apa!"
Pekik semua orang terkejut begitupun Bagas, sepupuh yang paling dingin tapi ketika mendengar keadaan Asma maka Bagas akan menjelma menjadi orang kesetanan.
Brak...
Tanpa pikir Panjang, Bagas mendobtak pintu kamar Asma.
Kosong...
Kamar Asma kosong tak ada tanda-tanda Asma ada di dalam kamar. Menyadari Asma tidak ada, semua orang menjadi semakin panik apalagi nomor ponsel Asma tak bisa di hubungi.
"Ya Allah kemana kamu, Nak."
"Mama, sepertinya kak Asma pergi lewat jendela!"
Deg...
Bibi Aisyah terkejut mendengat suara putrinya, benar saja, jendela kamar Asma terbuka mungkin Asma lupa menutupnya.
"Kemana kiranya kamu, Nak!"
Lilir bibi Aisyah takut terjadi sesuatu pada keponakan dan calon cucunya.
"Kenapa Asma pergi, ada apa sebenarnya!"
"Apa Asma tahu tentang kondisi dirinya hingga Asma nekat pergi!"
"Tidak mungkin, Asma tidak menunjukan dirinya sakit selama ini. Dia masih terlojat norman."
"Abi bagaimana ini, mamah takut!"
"Pah, Bagas cepat cari keberadaan Asma..,"
Kepanikan keluarga Al-muzaky membuat paman Bayu dan paman Fahmi bingung apalagi para istri tak bisa diam terus berbicara membuat Bagas ikut pusing.
"Sebaiknya kita cari, sebelum Andrian menanyakan kabar Asma!"
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote
Terimakasih....