
"Bang bangun, bang.."
Asma terus saja mengguncang tubuh sang suami menyuruhnya untuk bangun. Karena ini sudah subuh. Asma belum bisa berjalan, jadi Asma ingin minta tolong pada sang suami untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Andrian menggeliat ketika sang istri mengguncang tubuhnya. Rasa kantuk masih menyerang dirinya tapi demi sang istri Andrian harus bangun.
Rasanya ini adalah tidur ternyaman yang pernah Andrian rasakan kembali setelah delapan bulan kehangatan, kenyamanan itu menghilang.
"Jam berapa sekarang sayang?"
"Jam 04:34,"
"Astagfirullah ini waktu sholat subuh,"
Andrian langsung bangun dari tidurnya dan ini benar-benar bangun. Andrian menggendong sang istri masuk ke dalam kamar mandi guna membantu sang istri wudhu. Selesai Wudhu Andrian tinggal mendorong sang istri yang sudah dia dudukan tadi di kursi roda sebelum Asma melakukan wudhu.
Mereka sholat berjamaah seperti biasa. Semenjak Asma sadar dari komanya sekarang baby Amar semakin baik dan mengerti. Bahkan bocah itu tak pernah rewel sedikitpun.
Asma mencoba menggerakkan kedua kakinya sambil terus berdzikir. Sudah selesai berdzikir dan berdoa, Andrian seperti biasa membawa sang istri keluar.
Embun pagi sangat bagus untuk menjadi hemoterapi untuk kaki Asma. Dengan hati-hati Andrian membantu sang istri berdiri.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Asma berpegangan pada tangan sang suami dengan erat hingga tubuh mereka menempel. Perlahan Andrian menjaga jarak mencoba membuat kaki sang istri kuat menopang tubuhnya.
"Ayo sayang gerakan kakinya?"
Asma perlahan mencoba melangkah pelan walau merasa ngilu.
"Awwsss..,"
__ADS_1
Asma meringis merasa sakit dan tak kuat dengan sigap Andrian memeluk sang istri agar tak jatuh.
"Alhamdulillah sayang ada kemajuan, sudah bisa tiga langkah. Kita istirahat dulu.."
Andrian mendudukkan kembali sang istri di atas kursi roda. Lalu memberinya minum.
Nafas Asma masih tidak teratur, dengan kaki yang merasa kebas. Dengan sayang Andria memijat kaki sang istri supaya tidak terasa sakit.
"Maafkan Asma bang...,"
"Hey, jangan sedih. Abang yakin kamu bisa berjalan lagi. Jangan katakan sayang merepotkan Abang. Karena Abang tak merasa direpotkan. Semangat ya.."
Andrian mencoba menyemangati sang istri. Andrian tak mau istrinya putus asa. Andrian akan sabar membantu sang istri pulih kembali.
Dulu, Asma yang selalu sabar membimbing Andrian menjadi pribadi yang lebih baik. Mengajarkan tentang agama dan mengajarkan baca Alquran. Hingga Andrian sampai seperti ini.
Lalu, apa Andrian akan merasa lelah merawat, membantu dan menyemangati sang istri supaya tak putus asa. Andrian yakin sang istri pasti bisa berjalan lagi.
"U..mi.."
Andrian dan Asma berbalik, melihat putranya yang sudah bangun. Asma tersenyum menyambut kedatangan putranya yang bibi Aisyah dudukan di pangkuan Asma.
"Putra umi sudah bangun,"
"Mi.. mi...,"
"Sayang, sepertinya Am ingin Mimi?"
"Putra umi ingin Mimi?"
"Ya.. ya...,"
__ADS_1
"Baik sayang, kita pindah dulu ke dalam ya,"
Dengan sigap Andrian mendorong kursi roda sang istri membawanya menuju kamar.
Asma menyusui sang putra dengan penuh kasih sayang. Di usapnya rambut sang putra yang nampak lebat. Setetes air mata keluar membasahi pipi Asma. Andrian yang menyadari sang istri menitikkan air mata langsung menggenggam erat tangan sang istri, seolah memberi kekuatan.
Air mata ini keluar bukan tanpa sebab, Rasa bersalah menyelimuti hati Asma. Asma tak bisa merasakan rasanya pertama kali menggendong sang putra. Bahkan Asma tak bisa menemani Aqiqah sang putra.
Sungguh, suatu momen yang harusnya Asma rasakan tapi tak mendapatkannya. Sebuah harapan hadirnya malaikat kecil namun tak urung dari ujian.
Harapan yang temu seakan patah oleh keadaan. Namun, Asma bersyukur masih di kasih kesempatan hidup kembali dan melihat buah cintanya bersama sang suami.
"Jangan bersedih, kita sama-sama besarkan Am. Masih ada banyak waktu ke depan, jangan terlalu mengingat ke belakang,"
"Terimakasih bang, sudah menjaga putra kita dengan baik. Walau Asma tahu Abang tak mengurus diri sendiri,"
Asma membelai lembut pipi sang suami yang sedang berjongkok di depan pangkuannya. Andrian hanya takut sang Istri merasa pegal menggendong baby Amar yang begitu bulat.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Asma ajukan tapi Asma belum berani bertanya. Apalagi kondisinya belum bisa berjalan.
"Asma mencintai Abang, terimakasih sudah setia!"
Andrian tersenyum mendengar kalimat yang sang istri ucapkan. Andrian faham betul kemana arah pembicaraan sang istri.
"Untukmu sayang,"
Bersambung....
Janga lupa like, hadiah, komen, dan Vote
Terimakasih....
__ADS_1