
"Dimana Asma!"
Seluruh keluarga Al-muzaky berdiri ketika melihat kedatangan Andrian dengan wajah panik dan ketakutan bahkan matanya memerah siap menumpahkan kesedihan.
Satu jam sehabis sholat magrib Andrian mendapat telepon dari paman Fahmi memberi tahu keadaan Asma yang berada di rumah sakit dengan keadaan yang tak baik-baik saja.
Dunia Andrian seakan runtuh mendengar berita dari sang paman. Terjawab sudah kecemasan Andrian selama ini. Kalau sang istri tidak baik-baik saja. Andrian seperti orang kesetanan meninggalkan pekerjaannya. Untung Riko ada di saat itu, hingga Riko yang mengambil alih kemudi karena takut terjadi apa-apa pada Andrian. Dalam kondisi Andrian sangat kacau apalagi jalan basah karena hujan.
Tak henti-hentinya Andrian beristigfar sambil berdoa memohon keselametan sang istri. Kenapa harus seperti ini, Andrian belum sanggup jika harus kehilangan sang istri.
Hati Andrian belum kuat untuk di tinggalkan. Bahkan ini adalah kedua kalinya kesedihan Andrian pasca di tinggalkan oleh yang dia sayang.
Sang mama, orang yang pertama membuat Andrian hilang arah dan sekarang! Andrian belum sanggup berada di pisisi itu.
Dan, kini Andrian sudah ada di hadapan keluarganya dengan perasaan campur aduk.
"Asama ada di dalam, dia sedang di tangani doktet,"
Bruk...
Andrian menjatuhkan tubuhnya dengan air mata keluar begitu saja. Andrian mengutuk dirinya sendiri karena tidak ada di saat sang istri membutuhkannya.
"Asma sudah mengetahui penyakitnya, dia pingsan karena terlalu shok hingga jiwanya terguncang."
Deg...
Ini yang Andrian takutkan dan hari ini hari dimana Andrian tak mau ini terjadi ternyata terjadi.
Bibi Melati tak berani memberi tahu kebenaran sebenarnya, kalau Asma tahu karena pergi memeriksa sendiri keadaannya. Bibi Melati tidak mau membuat Andrian semakin terpuruk.
Cklek....
"Suami pasien!"
Andrian langsung berdiri ketika dokter memanggilnya.
"Saya, Dok!"
"Keadaan istri anda semakin memburuk apa lagi penyakit kankernya sudah merambat. Kami harus segera melakukan oprasi, jika tidak nyawa keduanya dalam bahaya tapi... "
"Dok, pasien sadar dan menanyakan keberadaan suaminya!"
__ADS_1
Sang dokter tak jadi meneruskan ucapannya ketika salah satu timnya memotong. Bahkan sang dokter sedikit terkejut mengetahui jika pasien sadar padahal tadi keadaannya sangat kritis. Belum bisa melakukan pengangkatan baby yang ada di dalam kandungannya karena itu sangat membahayakan bagi keduanya.
Tapi ketika keadaan mulai stabil maka dokter baru bisa melakukan oprasi sesar untuk menyelamatkan baby yang ada dalam kandungannya walau dokter tidak tahu apakah sang ibu masih bisa bertahan atau tidak. Karena sepertinya sang ibu berusaha menyelamatkan anak dalam kandungannya.
Air mata Andrian tak bisa di tahan lagi, dengan gemetar Andrian mendekati sang istri yang tersenyum Andrian benci senyuman itu, senyuman yang terlihat mengerikan.
"Sa.. sayang..,"
"Bang!"
"Ab.. abang mohon bertahanlah. Abang yakin kamu bisa, demi anak kita"
"Sa... yang!!"
Andrian semakin terisak melihat istrinya malah menggeleng. Ini seperti yang Asma mintakan. Meminta bertemu suaminya dulu sebelum Allah benar-benar memanggilnya kembali. Dan, keajaiban Allah begitu indah hingga Allah memberi kesempatan untuk Asma membuka mata walau sebenarnya ini tidak mungkin terjadi.
Tapi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkata Kun. Maka, semuanya akan terjadi.
Bahkan para dokter spesialis kandungan, spesialis bedah berada di ruang oprasi. Dokter-dokter hebat yang sudah Andrian persiapkan melalui dokter Mariska. Menatap tak percaya pada keajaiban Allah melihat Asma bisa bicara lancar padahal melihat layar monitor keadaan Asma sangat tak memungkinkan. Entah alatnya rusak atau bagaimana semua dokter sungguh tak bisa berkata melihat keanehan ini.
Bahkan direktur rumah sakit pun sampai terkejut melihat keanehan di dalam ruang oprasi.
Ini sungguh sangat mustahil, bahkan ahli medispun tak bisa menjabarkannya. Kenapa bisa!
"A.. apa yang ka.. kamu katakan. Sampai kapanpun abang tak akan melakukannya. Abang yakin kamu kuat, to.. tolong bertahanlah demi aku dan akan ki.. kita! "
"As.. asma tak kuat! "
Lilir Asma seperti bisikan tapi masih mampu Andrian dengar. Asma tersenyum seolah ini takdir terakhir yang Asma rasakan di dunia ini. Bahkan mata Asma mulai terpejam kembali.
Jangan menangis bang....
"Sa.. sayang!!!"
"Mo.. mohon ridho ab.. abang,"
"Sayang..., hey.. jangan tutup mata kamu sayang..,"
Lilir Andrian gemetar memegang erat tangan sang istri yang begitu dingin. Andrian membenci ini, membenci senyuman sang istri seakan mengejeknya. Menertawakan keadaan Andrian yang rapuh. Kenapa kamu masih bisa tersenyum sayang...
"Sa.. sayang.. buka mata kamu.., "
__ADS_1
"Sayanggg!!!"
Jerit Andrian menggema membuat semua orang yang ada di ruangan menahan nafas. Dokter bedah melihat keadaan Asma semakin melemah tapi berusaha mempertahankan calon babynya.
Beberapa tim menarik Andrian karena harus segera di lakukan oprasi kalau tidak anak yang ada dalam kandungan Asma dalam bahaya.
Andrian terus meraung memanggil sang istri hingga suaranya terdengar keluar.
Bibi Aisyah memeluk erat sang putri begitupun bibi Melati bersandar pada pundak paman Fahmi. Semua keluarga menangis mendengar jeritan pilu Andrian di dalam sana. Hingga suara pemberitahuaan oprasi sudah di mulai. Tapi mereka tak mendengar lagi suara jeritan Andrian. Entah apa yang terjadi di dalam sana.
Semua keluarga hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa pada Asma dan babynya.
Semua hanya milik Alllah dan kembali pula padanya. Allah yang menciptakan penyakit dan Allah pula yang menciptakan kesembuhan. Semua keluarga berdoa bersama untuk Asma supaya bisa melewati semuanya.
Ketegangan begitu terasa di setiap wajah-wajah lelah, dan kewatir. Bahkan Riko juga merasakan kesedihan melihat bagaimana rapuhnya sahabatnya.
Tidak bisa di ungkapkan oleh kata, bagaimana setiap gerakan bibir Andrian hanya memanggil nama sang istri. Padahal Andrian tidak sadarkan diri karena salah satu tim medis terpaksa menyuntikan obat bius pada Andrian. Kalau tidak seperti itu mereka takut Andrian malah tak terkendali melihat keadaan sang istri.
Dokter Mariska berhasil mengangkat baby yang ada dalam kandungan Asma. Baby itu begitu dingin dan tak bergerak sama sekali. Dokter Mariska berusaha menggosok punggung baby mungil itu.
Sedangkan yang lain melanjutkan menangani Asma. Bahkan dokter bedah sudah siap akan tugasnya. Melakukan dua kali oprasi bukan hal yang mudah. Ketika oprasi sesar sudah selesai kini harus melakukan pengangkatan kanker. Harus butuh tenaga ektra untuk melakukan semuanya. Satu kesalahn kecil saja bisa membuat pasien tidak tertolong.
"Dok, jantung pasien mulai melemah..,"
Deg...
Oee.. oe...
Dokter Mariska menitikan air mata saat baby mungil itu mengeluarkan suara.
Ketegangan satu mulai sirna kini tinggal ibu sang baby yang harus di tangani.
Bahkan para malaikatpun menyaksikan apa yang terjadi di bumi ini. Isak tangis pilu seorang baby mungil nan suci terlahir kedunia. Membuat para malaikat memuji asma Allah.
Isak baby mungil itu terus terdengar pilu seakan memanggil sang ummi kembali dalam sebuah perjalanan abadi.
Bahkan, baby itu seakan merayu pada sang pencipta oleh isak tangisnya untuk memberi kesempatan dia melihat orang yang sudah berjuang untuk mempertahankannya.
Apakah ini akhir dari sebuah perjuangan, Andrian harus sanggup melepaskan. Karena Asma hanya membutuhkan ridho sang suami untuk bertemu sang kholik. Sang pemilik jiwa raga Asma.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote....