Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 33 Obat rindu!!!


__ADS_3

Karena kemaren Riko tak datang ke lestoran maka hari ini Riko datang.


Wajah Riko begitu cerah secerah mentari pagi. Entah apa yang membuat Riko bisa secerah itu. Bahkan bibirnya tak lekas dari senyuman.Tapi, senyuman itu segera pergi ketika Riko bertemu Lida.


Riko memang tak menyukai chef Lida, bukan karena apa-apa tapi karena chef Lida suka semena-mena jika menyuruh. Bahkan tak segan memarahi jika ada pelayan yang salah.


"Pagi pak?"


Sapa chef Lida sok akrab dengan senyum manis yang tak lekas dari bibirnya.


"Hm,"


Riko hanya berdehem saja lalu melengos, tujuannya hanya ruang Andrian.


Lida hanya bisa mendengus kesal melihat sikap arogan Riko. Jika saja Riko bukan atasannya sudah pasti Lida bejek-bejek. Sangat sulit sekali bagi Lida mendekati Riko karena Riko terlalu cuek sama seperti Andrian.


Di dalam sudah ada Andrian yang menunggu sejak tadi kedatangan Riko. Riko langsung duduk di hadapan Andrian.


"Berita apa yang ingin kamu sampaikan, bisnis atau pribadi!"


"Pribadi!"


Andrian mengangguk saja mengisyaratkan Riko untuk bicara.


"Sebelumnya aku minta kamu jangan emosi!"


"Katakan saja!"


Riko menyerahkan ponselnya pada Andrian sambil menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Selama ini kita terkecoh, bukan Indria pelaku yang mencampurkan obat sialan itu. Cctv yang dulu kita lihat ternyata sudah di retas dan ini yang asli."


Brak...


"Sialan..."


"Sabar Ndri, kita tidak tahu apa motif nya melakukan ini semua. Kita harus selidiki dulu, apa dia melakukannya sendiri atau ada orang lain di belakangnya. Ada dua kemungkinan, jika dia melakukannya sendiri, berarti dia menginginkanmu atau ada sebuah dendam di masa lalu. Ke dua, kemungkinan musuh di masa lalu kamu datang dan ingin menghancurkan kamu kembali."


Andrian berkali-kali menahan nafas dengan tangan mengepal erat. Rahangnya mengeras mengetahui semuanya. Ingin sekali Andrian menyeret langsung orang yang sudah berani ingin menjebaknya. Tapi, perkataan Riko ada benarnya membuat Andrian berpikir dua kali.


Jika musuhnya bisa bermain cantik maka dirinya juga harus sama.


Keputusan Andrian tak memberitahu kalau sang istri sudah sadar adalah keputusan yang paling baik. Jika saja Andrian salah langkah kemungkinan istrinya akan dalam bahaya.


"Baiklah, kita ikutin saja alur rencananya. Apa kamu sudah membereskan pelayan itu?"

__ADS_1


"Sudah, nyatanya pelayan itu sengaja di suruh pergi agar tersangka mengarah padanya dan Indria. Trik yang sangat cerdik, kamu tenang saja pelayan itu sudah aku kendalikan!"


"Bagus.Dan, maaf aku sempat menyalahkan Indria atas semuanya!"


"It's ok,"


"Sekarang bagaimana hubungan kalian?"


"Doakan saja semoga hati Indria menerima semuanya. Apa lagi perbuatan ku menjadi baby!"


"Serius!"


Riko hanya mengangguk saja membuat Andrian entah harus bereaksi apa. Walau ada rasa lega di hati Andrian, Indria tak akan mengganggunya lagi. Tapi, walaupun begitu Andrian jadi merasa iba pada Riko dan Indria, mereka harus jadi korban keegoisan seseorang.


Mengingat itu membuat Andrian ingin sekali mencekik orangnya, kalau Andrian tak ingat akan sang istri yang pasti akan kecewa padanya.


Andrian sudah berjanji akan meninggalkan kebiasaan buruk. Tapi, bukan berarti Andrian akan membiarkan penjahat berkeliaran di luar sana.


"Terimakasih Rik, atas semuanya!"


"Harusnya aku yang berterimakasih pada kamu, jika saja kamu tak memberikan jus itu mungkin sampai sekarang aku tak bisa mendapatkan Indria dan tak mungkin juga ada anakku dalam perutnya,"


Dua sahabat itu terkekeh, ternyata di balik petaka ada sebuah rahasia yang tak kita tahu.


Lihatlah, Allah lebih tahu apa yang akan terjadi pada kita. Yang awalnya marah jadi bersyukur ternyata Allah tak pernah dzolim pada hambanya. Hanya saja kita kerap kali suka suudzon duluan pada-Nya.


Tinggallah Andrian seorang yang sedang berpikir. Entah apa yang di pikirkan Andrian. Kebenaran yang Riko bawa benar-benar membuat Andrian shok.


Apakah kejadian ini ada keterlibatan dengan pamannya atau tidak. Tapi, Andrian tidak yakin jika pamannya terlibat. Yang Andrian tahu pamannya ada dalam sel tahanan.


"Ya Allah, lindungilah keluarga ku dari orang-orang dzolim. Sadarkan lah siapapun yang ingin mengusik ketenangan rumah tangga kami. Aku hanya memohon perlindungan mu ya Allah,"


Andrian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika sudah selesai berdoa sholat Dzuhur.


Andrian memutuskan pulang, apalagi sudah ada Riko yang membantunya kembali. Andrian tak mau terlalu lama meninggalkan sang istri.


"Assalamualaikum sayang,"


"Waalaikumsalam bang, kok sudah pulang. Apa di lestoran pengunjungnya sedikit?"


"Tidak sayang, Abang emang sengaja pulang cepat. Rasanya rindu ini masih sama, seolah belum terobati,"


Asma tersenyum mendengar gombalan sang suami. Sambil menerima buket bunga.


"Masih rindu?"

__ADS_1


"Hm,"


"Sini!"


Andrian tersenyum ketika sang istri merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati Andrian datang ke dalam pelukan sang istri.


Posisi Asma duduk di kursi roda, sedang Andria berlutut di hadapan sang istri.


"Apa sudah terobati?"


Tanya Asma sambil mengusap-usap rambut sang suami. Apa yang Asma lakukan seperti seorang ibu yang memberi tenang pada anaknya.


"Sedikit,"


Asma menjauhkan kepala Andrian di dadanya. Lalu Asma menangkup wajah Andrian dengan kedua tangannya.


"Katakan, apa yang harus Asma lakukan supaya rindu itu terobati?"


Bukannya menjawab, Andrian malah menggendong sang istri lalu membaringkannya di atas ranjang. Tak lama Andrian seperti anak kecil menyusup pada ibunya.


"Seperti ini sayang, Abang ingin tidur siang. Terus usap kepala Abang sampai Abang tidur,"


Asma menuruti permintaan sang suami. Dengan penuh kasih sayang, Asma mengusap-usap rambut sang suami yang tidur di pelukannya. Bahkan sesekali Asma mencium puncak kepala sang suami.


Lama Asma dalam posisi seperti itu, hingga Andrian benar-benar tertidur.


"Apa Abang sangat lelah, berbagilah sama Asma bang. Jangan di pendam sendiri."


"Ya Allah, mudahkanlah urusan suami hamba. Engkau yang maha tahu apa yang membuat suami hamba merasa tak tenang. Apapun permasalahannya, mudahkanlah..."


Doa Asma di setiap usapan yang Asma lakukan.


Usapan lembut Asma mampu membuat Andrian tertidur lelap. Asma mulai merasa pegal dengan posisi seperti itu. Tapi, melihat wajah damai sang suami membuat Asma menahannya.


Lama kelamaan entah kenapa rasa kantuk juga menyapa Asma. Bahkan sampai beberapa kali Asma menguap dan menggeleng-gelengkan kepala.


Asma sedikit bergerak mencari posisi nyaman supaya nanti badannya tak pegal. Sudah selesai menemukan posisi nyaman tanpa melepaskan pelukan sang suami. Justru Asma semakin memeluk sang suami dan ikut terlelap.


"Terimakasih sudah bertahan sejauh ini, Asma merasa bahagia dan bersyukur mempunyai suami seperti Abang. Asma mencintai Abang,"


Cup ..


Asma memberikan kecupan singkat di bibir sang suami sebelum dirinya benar-benar terlelap.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih.....


__ADS_2