
Kehidupan rasanya begitu cepat berubah. Berbagai permasalahan tentang sebuah kehidupan selalu berputar.
Begitupun yang di alami Andrian. Tak terasa sudah satu bulan sang istri sadar dari koma. Dan, sekarang Asma mulai bisa bicara dengan benar. Bahkan tangannya mulai bisa bergerak seperti biasa. Hanya kedua kakinya saja yang belum bisa berjalan. Asma harus melakukan hemoterapi pada kedua kakinya agar bisa kembali berjalan.
Semenjak Asma bisa bicara lagi, Asma tak mau jauh-jauh dari sang putra. Delapan bulan lamanya Asma tak bisa melihat, menggendong dan mengurus semua keperluan putranya. Kini, Asma ingin melihat di setiap detik pertumbuhan sang putra. Asma hanya ingin menebus delapan bulan yang terbuang akibat dia berbaring koma.
Rumah yang Napak terasa hambar kini kembali berwarna semenjak sadarnya Asma. Bahkan, begitupun dengan Andrian. Andrian mulai mencukur rambut dan bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya.
Wajah Andrian kembali berseri seperti pengantin baru saja. Dan, itu sontak membuat para karyawan Andrian di lestoran bertanya-tanya dengan perubahan bos mereka.
Andrian memang sengaja tak memberi tahu tentang Asma sudah sadar. Biarlah ini menjadi rahasia. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu.
Asma menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang sambil menyusui baby Amar. Tak terasa, air mata Asma mengalir melihat begitu lahapnya sang putra menyusu.
Rasa bahagia yang tak bisa Asma jabarkan oleh kata. Rasanya Asma tak percaya bahwa dia bisa merasakan apa arti seorang ibu.
Di belainya rambut baby Amar yang matanya nampak sayu, sebentar lagi tertidur. Dan,. benar saja, baby Amar langsung tidur setelah merasa puas menyusu.
Asma menatap wajah chaby sang putra yang terlelap damai di gendongannya. Rasanya, Asma tak pernah bosan menatap putranya. Wajahnya begitu mirip dengan sang suami. Hanya bagian matanya saja yang seperti Asma. Seolah baby Amar akan selalu mengingatkan sang Abi untuk tetap bersabar menunggu sang umi bangun.
"Maafkan umi nak, baru sekarang umi melihat kamu. Baru sekarang umi bisa menggendong kamu dan baru sekarang umi bisa menyusui kamu dengan sebuah pelukan. Ternyata Abi sangat menyayangi kamu sampai Abi tak membiarkan kamu kekurangan. Tapi, Abi sampai tak mengurus dirinya sendiri."
"Dulu badan Abi begitu bagus, tapi sekarang dia nampak kurus dengan kantung mata yang menghiasi matanya. Apa Abi selama ini tak makan. Terimakasih nak, kamu sudah menemani Abi di titik sekarang. Kamu putra umi yang Sholeh, jadilah laki-laki kuat akan iman, tangguh akan pendirian, lembut akan kebaikan dan tegas akan kesalahan."
Asma terus saja mengajak bicara sang putra yang tak merespon sama sekali karena terlalu nyaman dalam tidurnya.
"Nak, umi selalu bermimpi akan hadirnya Abi yang selalu menangis menghampiri umi. Apa selama ini Abi baik-baik saja. Abi selalu datang dengan keadaan yang begitu mengkewatirkan. Abi selalu menangis meminta umi pulang dan pulang. Maafkan umi yang terlalu nyaman tinggal bersama kakek dan nenek. Di sana tempatnya begitu indah sampai umi lupa pada kalian. Tempat itu membuat umi sejenak melupakan kalian. Maafkan umi nak, umi janji tak akan pernah meninggalkan kamu dan Abi lagi. Maafkan umi yang sempat bahagia di atas penderitaan kalian. Sekarang umi sudah kembali dan umi janji akan memperbaiki semuanya dari awal. Bantu umi ya nak,"
Tak bosannya Asma terus bercerita pada sang putra akan kesesakan hatinya. Sudah banyak perubahan yang Asma tak tahu sama sekali.
Bahkan Asma begitu terkejut mendengar berita kalau Bagas menikahi Wina.
Pernikahan Bagas dan Fatimah yang baru Asma tahu. Ada rasa sedih dan bahagia secara bersamaan menghampiri Asma.
__ADS_1
Sedih karena tak bisa menyaksikan hari bahagia adik sepupunya dan sahabatnya bersanding. Begitupun atas pernikahan Fatimah.
Bahagia karena akhirnya Bagas dan Fatimah sudah menikah dengan orang-orang hebat seperti Wina dan Akbar.
"Assalamualaikum sayang..."
"Waalaikumsalam bang,"
Asma tersenyum melihat kedatangan sang suami dengan wajah barunya. Tak ada rambut gondrong dan tak ada jambang di wajahnya. Wajah sang suami nampak tampan berkali lipat dengan senyum menghiasi bibirnya.
Jika saja Asma tahu, dulu Andrian pulang dengan wajah lelah dan kesedihan yang mendalam. Tapi, kini tidak lagi. Karena bidadari rumahnya sudah kembali. Kembali untuk merajut rumah tangga yang harmonis. Perjalanan cinta yang sempat tertunda, untuk memperkuat ikatan cinta mereka.
Asma mencium punggung tangan sang suami dengan Khidmah.
" Sini Abang pindahin Am dulu, takutnya kamu berat sayang?"
"Tidak usah bang, Asma tidak apa-apa. Biarkan Asma merasakan arti seorang ibu yang menjaga putranya ketika tidur,"
Andrian mengusap lembut kepala sang istri. Andrian faham apa yang dirasakan sang istri.
Andrian memberikan potongan martabak pada sang istri. Dengan senang hati Asma menjemputnya untuk masuk kedalam perutnya.
" Terimakasih bang, Abang tak makan?"
"Tidak! semuanya buat kamu."
Andrian kembali menyuapi sang istri dengan hati-hati. Sesekali Andrian mengelap bibir. sang istri yang nampak belepotan dengan ibu jarinya.
Lama mereka hanyut dalam menyuapi hingga martabak tinggal setengah lagi. Namun, Asma sudah merasa kenyang. Andrian membantu sang istri minum. Sisanya Andrian simpan di kulkas.
Semenjak Asma koma memang Andrian membeli kulkas untuk di simpan di kamarnya. Karena Andrian butuh prizer untuk menyimpan asi yang Andrian pompa dari sumbernya.
Karena sudah malam, waktunya Asma tidur. Terpaksa Asma melepas baby Amar untuk tidur di ranjangnya sendiri. Asma juga tak membantah, karena Asma tahu sang suami juga butuh pelukannya.
__ADS_1
Andrian menarik sang istri kedalam pelukannya. Pelukan hangat yang selalu Asma inginkan ketika masih mengandung baby Amar.
Henging.....
Nampaknya suami istri itu saling diam menyelami perasaan masing-masing. Asma dengan jelas mendengar detak jantung sang suami yang berdebar.
"Bang.."
" Hm,"
"Maafkan Asma,"
Asma mendongka kan kepala guna melihat wajah sang suami. Begitupun Andrian sedikit menunduk ketika merasakan pergerakan sang istri.
Mata mereka saling tatap satu sama lain menyelami samudra cinta masing-masing. Gebuan rindu nyatanya tak cukup bagi Andrian memeluk sang istri atau sekedar menatapnya. Rindu selama delapan bulan begitu menyiksa Andrian. Kini Andrian salurkan lewat ciuman lembut penuh sayang dan cinta. Saking lembutnya membuat Asma terbuai akan kenikmatan yang sang suami berikan.
Andrian melepaskan ciumannya dengan perlahan.
"Jangan pergi lagi!"
Hati Asma begitu sesak mendengar tiga kata yang Andrian ucapkan. Begitu tersiksanya Andrian atas komanya Asma. Bahkan sampai Andrian menitikkan air mata dan itu membuat Asma semakin sesak.
Asma dengan lembut menghapus air mata sang suami.
" Tak akan pernah. Asma di sini, Asma kembali untuk Abang dan Am,"
"Tolong jangan menangis, itu membuat Asma sakit."
Tak tahan dengan air mata sang suami, Asma kembali menautkan bibirnya lagi dengan bibir sang suami. Berharap Andrian akan tenang. Namun, nampaknya Asma juga malah ikut menangis dengan decapan cinta yang mereka ciptakan.
Perasaan yang begitu menggebu mereka luapkan dengan sebuah ciuman halal yang awalnya lembut menjadi menuntut. Menuntut untuk menyelami rindu yang semakin dalam. Hingga Asma tak peduli dengan kondisi kakinya yang masih sulit di gerakan.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like,hadiah, komen dan Vote ..
Terimakasih...