Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 36 Calon nenek dan kakek


__ADS_3

Acara empat bulanan Wina di adakan dengan meriah, sama seperti acara empat bulanan baby Amar. Hanya kerabat dan tetangga yang undang. Dan, tentu ada anak-anak panti juga karena bibi Melati mengundang mereka.


Acara empat bulanan Wina berjalan dengan lancar. Satu persatu para tamu pamit pulang. Begitupun dengan anak-anak panti. Rasanya, keluarga Al-Muzaki sudah tak sabar menanti kehadiran cucu kedua mereka. Dan, bibi Aisyah pun berharap putrinya akan segera memberi kabar gembira dari Bandung.


"Sehat-sehat ya cucu mama di dalam, semoga kelak kamu jadi anak Sholeh dan Sholehah,"


Amin...


Semua orang mengamini doa bibi Melati yang nampak bahagia. Bibi Melati terus memeluk Wina membuat Bagas tersisihkan.


"Mah, anak mama Bagas tapi yang di peluk Wina!"


Pletak...


Bibi Melati memukul paha Bagas sampai Bagas meringis.


"Wina sekarang putri mama, emang kenapa. Kalau mau di manja tuh sama Abi!"


Wina mengulum senyum melihat tingkah konyol suaminya. Bagas memang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Bahkan sikapnya akan menjadi hangat jika sudah dengan kedua orang tuanya. Kadang Wina juga cukup sulit memahami sikap Bagas yang jika dengan dia Bagas terlihat masih terlihat kaku dan dingin. Seakan di antara mereka masih harus ada batasan-batasan yang tak boleh Wina capai. Namun, Wina hanya bisa berusaha mengerti dengan perubahan sikap berubah suaminya.


Di saat keluarga Al-Muzaki ngobrol, tiba-tiba ada telepon masuk.


Bibi Aisyah mengangkat telepon dari putri tercintanya.


"Iya, waalaikumsalam sayang, kalian sehat?"


"Alhamdulillah umi kami sehat di sini, ada sebuah kabar yang harus umi tahu. Sebelumnya, sampaikan salam maaf pada kak Bagas dan Kak Wina, Fatimah gak bisa datang."


"Iya nak, umi akan sampaikan, kabar apa, jangan buat umi takut?"


Hening...


Seketika ruang tamu hening, semua mata tertuju pada bibi Aisyah yang terlihat serius mendapat telepon dari Fatimah.


Wajah Bibi Aisyah terlihat nampak terkejut dengan air mata yang keluar. Paman Bayu merangkul sang istri mencoba bertanya lewat isyarat matanya.


"Alhamdulillah, subhanallah, Allahuakbar... Masyaallah... sungguh nak, kamu tak bohong.."


"Iya umi, doakan Fatimah di sini!"


"Tentu nak, tentu. Doa umi selalu menyertai kalian. Lusa umi sama Abi ke sana,"


Bibi Aisyah tak bisa membendung rasa harunya. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek. Rasanya baru kemarin dia menggendong Fatimah. Kini putrinya akan segera memberikan dia seorang cucu.


"Umi kenapa menangis, ada apa?"


Tanya paman Bayu pada istrinya yang belum mengerti sama sekali. Begitupun semua orang terheran-heran dengan apa yang bibi Aisyah lakukan.


"Abi, Fatimah sedang hamil, sebentar lagi kita akan menjadi nenek dan kakek!"

__ADS_1


Pekik bibi Aisyah kegirangan memeluk paman Bayu. Semua orang terharu akan kabar bahagia ini.


Kebahagiaan keluarga Al-Muzaki berturut-turut, acara empat bulanan Wina dan sekarang mendapat kabar dari Fatimah. Bahwa akan ada anggota baru di keluarga Al-Muzaki.


"Kakak Ais akan menjadi nenek,"


Bibi Aisyah masih kegirangan memeluk kakak iparnya bibi Melati. Mereka berdua sama-sama akan menjadi nenek.


"Pokoknya lusa Abi harus izin gak ke kantor, kita ke Bandung jenguk calon cucu kita,"


"Kakak ikut dek, kakak ingin bertemu Fatimah. Anak itu sudah lama gak kesini,"


"Terus Abi mau di tinggal gitu!"


Seloroh paman Fahmi membuat bibi Melati melirik suaminya.


"Ya, Abi juga ikut dong, kita para calon nenek dan kakek harus ke sana."


Tegas bibi Melati, Rasanya kabar ini benar-benar membuat mereka bahagia..Begitupun Asma merasa bahagia akan kabar bahagia dari adik sepupunya yang paling cantik.


"Asma udah punya Amar, Wina baru empat bulan dan sekarang Fatimah hamil, harusnya Amar punya adik. Kalau mereka sudah lahir pasti sangat lucu-lucu he..he.."


Bibi Aisyah membayangkan kalau rumah mereka ramai oleh para cucu.


Sedangkan Asma malah menelan ludahnya kasar. Amar saja baru satu tahu, kenapa sudah mikirin adik. Bibi Aisyah ada-ada saja.


Kini Andrian yang menelan ludahnya kasar, ah.. kenapa para orang tua selalu begitu.


Bahkan semua keluarga setuju Amar punyak adik.


Bagas dan Wina tersenyum geli melihat pasangan ini di jadikan bahan candaan. Bahkan baby Amar pun tersenyum. Bocah itu seakan mengerti pembicaraan orang dewasa.


"Ih... bibi Am kan masih kecil, kaki Asma saja masih sakit, bagaimana harus mengurus mereka!"


"Tenang kan ada bibi!"


Ucap bibi Melati dan bibi Aisyah berbarengan membuat Asma semakin merasa terpojok.


Bibi Melati dan bibi Aisyah terlihat semangat mengerjai keponakannya. Sudah lama mereka tidak bercanda seperti ini. Biasanya kalau ada Fatimah pasti akan ada teman.


"Ya mau ya.. kasih bibi cucu lagi biar tambah rame rumah ini!"


"Aduh bibi.. permintaan kalian ada-ada saja. Nanti saja kalau kaki Asma sudah berjalan lagi,"


"Beneran ya!"


"Iya!"


Bibi Melati dan bibi Aisyah bertos ria membuat para suami mereka menggelengkan kepala atas kelakuan istrinya yang seperti anak ABG saja.

__ADS_1


Sedang Asma malah di buat jengkel saja, bahkan wajahnya memerah menahan malu. Andrian no komen saja, takut salah bicara yang ada istrinya malah ngerajuk pada dia.


"Berhubung kalian akan membuat proses adik buat Amar. Malam ini Am tidur sama bibi..."


Bibi Aisyah menggendong baby Amar yang ada di pangkuan Andrian. Lalu bibi Aisyah membawa Am ke kamarnya.


"Nenek, haus.."


"Wah cucu nenek haus, kita ambil minum.."


"Sudah biarkan saja, Am biar tidur sama kamu!"


Potong paman Bayu ketika Asma ingin merajuk.


Paman Bayu menyusul istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka memutuskan istirahat karena memang sudah malam dan merasa sedikit lelah.


"Sudah biarkan saja,"


Ucap Andrian mendorong kursi roda sang istri menuju kamarnya.


"Bang, boleh Asma belajar berdiri sendiri!"


"Boleh sayang, coba nanti kamu berjalan ke arah ranjang,"


Hal kecil yang Asma lakukan itu sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. Asma perlahan berusaha berdiri lalu melangkahkan kakinya ke arah ranjang.


"Alhamdulillah sayang, sungguh kemajuan yang sangat luar biasa,"


Andrian bahagia melihat sang istri sudah sangat bisa berjalan. Bahkan cara duduk di sisi ranjang sudah benar, terlihat seperti Asma sudah bisa berjalan.


"Alhamdulillah bang, semoga Allah selalu mempermudah dalam penyembuhan ini!"


"Amin sayang, berarti kamu sudah siap ya buat adik untuk Am. Awwwss.."


Asma memukul pelan paha sang suami yang duduk di sampingnya. Sangat malu kenapa sang suami malah membahas ini lagi.


"Am masih kecil bang, nanti saja kalau Am sudah berusia tiga tahun!"


"Tapi sekarang boleh kan, Abang keluarin di luar biar gak jadi adik!"


Goda Andrian sambil menurun naikan sebelah alisnya. Membuat Asma sangat malu. Padahal mereka bukan sepasang pengantin baru. Tapi, entah kenapa Asma selalu masih malu-malu jika di ajak mengarungi kenikmatan surga dunia.


Kenikmatan halal bagi sepasang suami istri dan mendapatkan pahala pula.


Kalau sudah seperti ini, mana bisa Asma menolak. Entah karena takut dosa atau memang Asma tak bisa berpaling dari cumbuan sang suami yang membuatnya terbang melayang.


Bersambung....


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2