Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 23 Ceraikan aku!!!


__ADS_3

Andrian benar-benar terpukul mendengar kabar dari dokter. Bahwa korban kecelakaan tadi malam baru saja meninggal karena kehabisan darah.


Rasa sedih, marah dan sesal menjadi satu menyelimuti Andrian. Padahal, tubuh Andrian sedang tak sehat. Tapi, Andrian memaksakan diri pergi kerumah sakit guna menjenguk korban kecelakaan.


Tapi, alangkah terkejutnya ternyata korban sudah meninggal dunia.


Semalaman Andrian menangis merasa karena dia lah yang menyebabkan tabrakan itu. Entah apa yang terjadi sebenarnya hingga Andrian menabrak sebuah penjual kaki lima dan gerobak itu terpental mengenai seorang pemuda yang sedang jalan kaki.


Ketika Andrian panik mencoba menolong bersama warga. Dan, sialnya mobil Andrian entah kemana tak ada di tempat begitupun Riko.


Ingin sekali Andrian marah pada Riko karena Andrian pikir Riko kabur dari kecelakaan itu. Hingga mengakibatkan Andrian terlambat membawa korban ke rumah sakit. Tapi rasa bersalah lebih mendominan. Andrian merasa berdosa akan semuanya.


Dan, rasa bersalah itu semakin mengoyak jiwa Andrian mendengar korban meninggal. Apalagi Andrian baru tahu bahwa pemuda itu anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.


Sedangkan nasib penjual kaki lima masih selamat karena berhasil menghindar walau kakinya nampak keseleo dan Andrianpun bertanggung jawab mengganti rugi dan membiyayai pengobatan penjual itu.


Tapi, Andrian harus mempertanggung jawabkan apa pada pemuda yang meninggal. Hanya ada rasa bersalah menggerogoti Andrian. Dan, rasa bersalah itu begitu besar hingga Andrian merasa ketakutan akan dosa. Andrian sudah berjanji bertobat nyatanya tangannya masih berlumuran darah.


"Ya Rohman, cobaan apa lagi yang kau berikan. Terlalu banyak dosa hamba, tapi hamba malah menambah dosa lagi. Apa yang harus hamba lakukan untuk menembus dosa ini. Hamba pembunuh, apa yang harus hamba lakukan."


Monolog Andrian dengan air mata yang keluar deras. Nyatanya semalaman menangis tak kunjung membuat air mata Andrian surut.


Bahkan sekedar minta maafpun Andrian tak sanggup. Minta maaf pada siapa sedang pemuda itu sebatang kara.


Kini, Andrian semakin di buat terpuruk. Ketika tak ada satupun panggilan yang Riko jawab. Entah ada apa dengan Riko kenapa dia tiba-tiba menghilang.


Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semuanya semakin rumit. Tapi, Andrian juga sedikit bernafas lega, karena penjula kaki lima itu tak menuntut banyak apa-apa. Begitupun ibu panti yang mengurus pemuda itu.


Karena hidup hanya milik Allah. Mungkin ini sudah takdir yang Allah tetapkan untuk anak itu.


Ketika Andrian bebas dari hukum dunia tapi tak lekas menbuat Andrian tenang. Bahkan Andrian semakin ketakutan, bagaimana nanti menghadapi hukum Allah yang jauh lebih dahsyat.


Dalam kondisi seperti ini, Asma adalah orang yang pertama selalu menjadi tenang untuk Andrian. Namun, semuanya hanya hayalan. Pada siapa Andrian berkeluh kesah akan keresahan hati dan ketakutan jiwa.


"Dimana kamu Riko, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu kabur! kamu membiarkan aku dalam ketakutan semdiriaan, aku membunuh orang.. "


Lilir Andrian dengan air mata yang tak kunjung berhenti.


...---...


"Ahhh... "


Di sebuah kamar Riko hanya pasrah dengan apa yang Indria lakukan pada tubuhnya.

__ADS_1


Ketika bangun Indrian menjerit sambil menangis histeris. Indria terus mengupat dan memukul Riko.


"Dasar bajingan.. sialan..."


"Hiks.. kamu menghancurkan hidupku.. aku benci.. sangat benci.. sialannn.. "


Riko hanya psrah menerima amukan itu dengan tangan mengepal erat. Ada rasa marah dan bersalah bercampur jadi satu.


Marah karena Riko baru ingat, ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya ketika meminum jus milik Andrian. Riko meminumnya karena itu jus bukan jus kesukaan Andrian melainkahmn jus kesukaan Asma. Andrian tak meminumnya, melihatnya saja membuat Andrian mengingat sang istri dan itu sangat menyakitkan. Hingga Riko malah meminumnya karena sayang kalau di buang.


Entah siapa yang membuat jus itu, Riko faham, jus itu sudah di campurkan obat perangsang. Andai saja Andrian yang meminumnya, entah apa yang akan terjadi.


Sedih, karena Riko harus menghancurkan masa depan Indria. Walau ada rasa lega di hati Riko karena bukan Andrian yang meminumnya melainkan dirinya. Walau, Riko harus menanggung kebencian gadis yang terus memukul tubuhnya.


"Aku tak mau pernihan ini.. aku benci kamu.. "


"Ceraikan aku.. aku tak mau menikah denganmu!!!"


Rahang Riko semakin mengeras mendengar kata cerai dari Indria. Bahkan pernikahan mereka baru satu hari.


"Cepat ceraikan aku sia emmm.."


Riko membungkam mulut kotor Indria dengan bibirnya. Riko sangat marah mendengar kata cerai. Tak bisakah Indria bicara baik-baik, kenapa harus dengan emosi.


Plak...


Riko memalingkan wajahnya akibat tamparan keras dari Indria bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Rambut panjang Riko menjadi berantakan sampai menutupi wajah dirinya.


Mungkin, kali ini kesabaran Riko sudah habis dengan tingkah Indria yang seolah dia korban. Jika saja Indria tak tiba-tiba masuk ke dalam mobil Andrian waktu itu mungkin keadannya tak seperti ini. Riko pikir yang masuk adalah Andrian hingga Riko langsung membawa mobil dengan keadaan Riko yang sudah terpengaruh obat.


Deg...


Indria terpaku melihat tatapan tajam Riko, tatapan yang seolah mengingatkan Indria pada seseorang. Tatapan itu, rambut itu!


"Sudah puas menghinaku, hah."


Indria mundur ketika Riko berjalan mendekatinya. Entah kenapa Indria merasa takut melihat tatapan itu.


"Ayo pukul aku terus.. kenapa takut, hm."


"Ayo pukul, sampai kamu puasss..."


"Kamu terus mencaciku dengan hinaanmu, seolah kamu adalah korban! lalu kenapa kamu tiba-tiba masuk kedalam mobil hah..."

__ADS_1


"Diriku tak berdaya akan obat sialan itu, tapi kamu malah masuk, atau jangan-jangan jangan.. "


Glek...


Indria menelan ludahnya Berkali-kali merasa gugup di tatap seperti itu. Kenapa sekarang dirinya yang terpojok. Riko benar, jika saja dirinya tak masuk. Kejadian ini tak akan pernah terjadi.


"Kenapa diam hm, mana keberanian kamu tadi. Atau, kamu yang mencampurkan obat sialan itu ke minuman Andrian berharap Andrian yang akan melaku.. "


Plakk...


"Aku tak serendah itu.. "


Darah Indrian mendidih tak terima Riko menyalahkan dirinya. Obat apa! bahkan Indria juga tak tahu.


"Oh ya, jika bukan kamu lalu untuk apa kamu masuk kedalam mobil!"


"Ak.. aku.. a.. "


"Bahkan kamu tak bisa menjawab!"


"Aku tak tahu tentang obat apa yang kamu mak..maksud!"


"Oh ya!"


Riko menyeringai iblis melihat kegugupan Indria. Ada sara sakit yang tak bisa Riko jabarkan. Andai Indria yang melakukan semua ini, Riko tak akan pernah membiarkan Indria merusak rumah tangga sahabatnya.


Entah kemana keberanian Indria tadi, kenapa Indria semakin gugup ketika Riko semakin mendekat.


"Awss.. "


Riko mencengkal erat lengan Indria hingga Indria meringis. Tapi Riko tak peduli. Riko menyimpan kedua tangan Indria di belakang punggung Indria membuat Indria sulit bergerak.


Bahkan Riko mendorong punggung Indria hingga merapat pada tubuhnya.


"Ap.. apa yang kamu lakuka. lepas!!!"


Riko mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga Indria memalingkan wajahnya.


"Aku akan mencari tahu masalah ini, jika kamu terlibat dalam masalah obat itu. Akan ku pastikan kamu tak akan pernah lepas dariku, dan tak akan ku biarkan kau menghancurkan pernihakan sahabatku Indria Bagaswara!"


Deg...


Jangan lupa Like, hadiah, komen dan Vote...

__ADS_1


__ADS_2