
"Bagaimana Riko, pertemuan tadi? "
Tanya Andrian ketika Riko baru kembali dengan wajah datarnya.
"Saya mengusirnya, Pak!"
Andrian tersenyum mendengar itu, Andrian sangat faham dengan kata mengusir berarti tamunya sangat pemaksa dan sombong.
Bukannya Andrian tidak mau bertemu dengan tamunya tapi Andrian tahu betul siapa yang ingin menemuinya. Indria Bagaswara, teman satu kuliahnya dulu bersama Riko. Dulu penampilan Riko begitu culun dengan kaca mata bulat menghiasi hidungnya. Tapi penampilan Riko sekarang berbeda, terlihat gagah dan dingin. Pantas saja Indria tidak akan mengenali penampilan Riko, bahkan Andrian juga saat pertama kali bertemu pas reuni tidak mengenali Riko.
"Jangan seformal itu, Riko. Kita sedang berdua,"
"Ok, em... bagaimana tentang buka cabang baru itu?"
"Saya belum memutuskannya, menunggu waktu yang tepat bilang sama Asma."
"Rik, mungkin saya kedepannya akan jarang masuk. Saya mempercayai semuanya sama kamu. Jika ada orang lagi yang ingin bertemu saya, tolong tangani saja sama kamu dan kamu fahamkan maksud saya! "
Riko hanya mengangguk saja, sebenarnya Riko penasaran kenapa Andrian bicara seperti itu. Tapi, Riko tidak cukup keberanian untuk bertanya. Karena Riko tahu persis bagaimana sikap Andrian yang tak akan bicara jika memang itu privasi.
"Ya sudah, saya pulang dulu. Assalamualaikum..,"
"Waalaikumsalam..,"
Andrian langsung meninggalkan ruanganya karena ini waktunya Andrian pulang. Tak lupa Andrian juga membawa berkas-berkas rencana pembangunan buat cabang di Bekasi.
Lida yang melihat Andrian keluar dari ruangannya tersenyum ingin mendekati tapi tangannya di cekal oleh seseorang.
"Lepas..,"
Bentak Lida sedikit tertahan menatap nyalang pada Riko.
"Jangan pernah berusaha mendekati bos jika kau tak mau di pecat! "
Tekan Riko berlalu pergi ke ruangan dirinya tepat sebelah ruangan Andrian. Riko memang menjaga ketat ruangan Andrian bahkan tak ada satupun yang boleh masuk keruangannya kecuali memang Andrian yang memerintah. Setiap kali Andrian pulang maka Riko langsung mengunci ruangan itu,
Lida menatap nyalang punggung Riko yang menghilang di balik pintu dengan tangan mengepal erat. Lida sangat sulit sekali mendekati Andrian apalagi ada asisten sialan yang menghalanginya.
Silvia, sang asisten koki yang melihat kelakuan Lida hanya bisa geleng-geleng kepala karena sudah biasa dengan sikap Lida seperti itu.
"Lihat saja, akan ku buat Andrian menjadi miliku."
Monolog Lida dengan senyum seringai berpikir akan rencana yang akan dia jalankan nanti.
Seperti biasa sepulang dari lestoran Andrian akan membeli bunga, tapi kini tidak dengan martabrak melainkan Andrian membeli buah pesanan sang istri.
Andrian masuk ke pusat pembelanjaan sambil mendorong troli melihat-lihat berbagai macam buah segar. Andrian ingin membeli buah yang benar-benar masih fresh.
Langkah kaki Andrian seketika berhenti ketika melihat seorang gadis yang seperti kesusahan mengambil sesuatu di bagian rak atas.
"Maaf, boleh saya bantu? "
__ADS_1
Sontak gadis yang sedang berjinjit terkejut akan suara Andrian hingga gadis itu tak sengaja menyenggol jajaran botol minyak hingga jatuh mengenai kakinya.
"Awwss..,"
Gadis itu merengis merasa ngilu jari kakinya yang tertimpa botol minyak ukuran dua liter.
"Astagfirullah.. Maafkan saya,"
Ucap Andrian merasa bersalah karena sudah membuat gadis di hadapannya meringis walau tak luka berbahaya.
"T.. tidak apa-apa bang, ini juga salah saya sendiri."
"Em, anda mau mengambil yang mana biar saya ambilkan? "
Sedikit ragu gadis itu menunjuk salah satu jajaran cemilan kesukaannya. Andrianpun mengambilkannya dan menaruh ke dalam troli gadis itu.
"Terimakasih..,"
Cicit gadis itu sambil menunduk membuat Andrian diam saja dengan tampang datarnya.
"Sebagai permintaan maaf juga kerena sudah mengagetkan dan membuat jari kakimu kesakitan. Biar saya yang membayar belanjaan anda,"
"Tidak usang bang, saya gak pa-pa!"
"Gak apa-apa, mari...,"
Ucap Andrian bersikap ramah mendorong troli dirinya terlebih dahulu. Sudah memastikan gadis itu mengikutinya Andrian langsung mempercepat jalannya karena takut sang istri menunggu.
"Tungguu.., "
Andrian tidak menghiraukan lagi panggilan gadis yang dia lukai dan tolong. Andrian terus saja berjalan menuju keluar pusat pembelanjaan menuju di mana mobil dirinya terparkir.
Gadis itu menghela nafas kasar karena tak berhasil mengejar orang yang sudah berbaik hati membayar belanjaannya. Padahal insident tadi salah dirinya juga, karena tak hati-hati.
Gadis itu melihat kartu Atm yang dia pegang seperti terjatuh ketika Andrian buru-buru mengambil lembaran uang di dompetnya atau ketika Andrian memasukan dompetnya ke dalam saku gadis itu kurang tahu karena kartu itu tergeletak ketika Andrian pergi dari tempatnya.
"Aieniii..,"
Sontak gadis itu berbalik ketika mendengar temannya memanggil.
Huhu... huh...
Teman gadis yang di panggil Aieni mengatur nafasnya karena mengejar Aieni yang meninggalkannya di pusat belanja tadi.
"Tadi kamu kejar siapa, kenapa sampai meninggalkan aku..,"
Gerutu Riska teman Aieni membuat Aieni merasa bersalah karena sudah membuat sahabatnya berlari.
"Atm orang tadi jatuh, aku mau mengembalikannya. Bagaimana kalau kartu ini penting."
Riska dibuat bungkam karena dia juga tak tahu harus berbuat apa. Apalagi Riska tak tahu wajah orang yang Aieni kejar.
__ADS_1
"Ya sudah, kita pulang dulu. Kita pikirkan nanti tentang Atm ini. Aku yakin pemiliknya masih daerah sekitar sini. "
Aieni mengangguk saja karena memang dirinya juga sangat lelah butuh istirahat. Apalagi hari ini banyak pasien yang begitu rewel membuat Aieni harus extra sabar menghadapi pasien seperti itu.
Aieni baru satu tahun tinggal di Jakarta meninggalkan rumahnya karena sudah muak melihat kelakuan sang kakak yang setiap hari bagai orang hilang arah. Kesalahan sang abang di masa lalu bukannya membuat dirinya taubat malah semakin menjadi.
Keberuntungan menghampiri Aieni karena punya sahabat di Jakarta, dan itu juga membuat Aieni mudah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit tempat Riska bekerja apalagi dengan propesi Aieni yang sudah menjadi dokter bedah di usianya yang menginjak dua puluh lima tahun.
"Assalamualaikum, sayang."
"Waalaikumsalam..,"
Asma tersenyum melihat sang suami sudah pulang. Asma berjalan perlahan mendekati sang suami lalu mencium punggung tangannya.
"Maaf sayang abang sedikit terlambat, tadi ada insident kecil,"
Cup...
Jelas Andrian sambil mengecup puncak kepala sang istri yang menerima bunga dari sang suami.
"Gak pa-pa bang, yang penting abang pulang selamet, itu sudah cukup bagi Asma."
"Mau langsung mandi atau istirahat sejenak, sepertinya sebentar lagi juga mau magrib!"
Andrian menarik pinggang sang istri lembut hingga merapat pada tubuhnya walau ada jarak karena perut sang istri yang membuncit.
"Bagaimana hari ini, apa saja yang sayang lakukan?"
"Biasa bang, baca buku, berjemur dan diam di gazebo sama bibi Aisyah. Tapi, Asma merasa aneh!"
"Aneh kenapa, hm? "
"Asma merasa bibi setiap hari seolah bergantian menjaga Asma. Asma heran saja, jika bibi Melati keluar maka bibi Aisyah ada di rumah dan begitu sebaliknya! Asma seolah jadi orang sakit saja, padahal Asma cuma hamil! "
"Wus, jangan ngomong begitu. Mungkin memang jadwal bibi begitu. Tapi, wajar juga sih mereka menjaga kamu. Mungkin bibi tak mau melewatkan harinya melihat pertumbuhan cucu pertama mereka,"
"Masuk akal sih, tapi Asm emmhh..,"
Andrian membungkam bibir sang istri yang banyak bicara bahkan Andrian meneroboskan lidahnya kedalam mulut sang istri yang membuka seolah memberi akses lebih.
Plup...
Andrian menyudahi ciumannya ketika sang istri kehabisan nafas.
"Ummi semakin seksi, apa abi boleh menjenguk baby malam ini,"
Bluss...
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1