Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 42 Minta maaf


__ADS_3

"Assalamualaikum, maaf menunggu lama!"


Deg...


Indria kembali terpaku melihat wanita berbalut gamis di padu dengan kerudung yang senada dengan bajunya. Mata itu begitu jernih dengan senyum yang begitu manis menghiasi bibir Asma. Tak ada riasan yang Asma pakai, apalagi Asma habis mandi. Tapi, aura kecantikan begitu terpancar di wajah Asma. Apalagi tak ada kecacatan sama sekali di wajah Asma.


Entah kenapa tiba-tiba Indria menjadi minder hingga tak sadar memegang tangan suaminya begitu erat.


Indria semakin gugup ketika Asma berjalan semakin dekat bersama Andrian.


"Umi.."


Teriak baby Amar sambil merentangkan kedua tangannya minta di gendong. Asma begitu santai mengambil putranya di pangkuan Indria.


Seketika suasana menjadi canggung, bibi Aisyah yang mengerti langsung undur diri.


"Berapa usia kandungannya?"


Indria langsung tersadar ketika Asma bertanya pada dirinya.


"Empat bulan!"


"Laila Asma Ar-rohman, panggil saja Asma!"


Asma memperkenalkan diri dengan bibir terus tersenyum. Asma faham betul, Indria sedang merasa gugup bertemu dengannya.


"Indria Bagaswara, panggil saya Ria!"


"Wah, kak Riko pintar sekali cari istri. Sangat cantik,"


Celetuk Asma berusaha mencairkan suasana. Indria hanya tersenyum simpul.


Hingga mereka berempat masuk dalam obrolan-obrolan santai. Membahas bisnis dan metode-metode melebarkan sayap dalam sebuah bisnis.


Indria sangat kagum sekali dengan pemahaman Asma tentang bisnis. Apalagi tentang kuliner. Indria pikir, Asma hanya seorang wanita yang beruntung mendapatkan Andrian. Perempuan katro hanya tahu tentang cara mengurus anak saja. Tapi nyatanya pemahamannya sangat luas.


Bahkan sepertinya Asma lebih jago tentang bisnis dari pada dirinya sendiri. Walau Indria anak tunggal pemilik sebuah perusahaan besar tapi sepertinya Indria masih jauh di bawah Asma.


Lihatlah, bahkan cara bicara Asma begitu elegan sekali. Sampai di sini Indria bisa menyimpulkan bahwa Andrian lah yang beruntung mendapatkan Asma.


Pantas saja sang suami jika sudah membahas Asma tak akan ada habisnya. Gadis cantik, tutur kata tegas namun lembut dan kuat akan pendirian. Indria bisa melihat itu di diri Asma.


Dari ke empatnya, hanya Indria yang jarang angkat bicara. Entah karena jadi merasa

__ADS_1


not confident atau apa.


"Ndri ..."


Panggil Indria berusaha bersikap biasa saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa antara mereka. Indria meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat. Seakan mencari kekuatan di sana.


"Aku hanya ingin minta maaf, terutama pada Asma. Maaf aku dulu sempat menginginkan Andrian. Tapi, sekarang aku sudah menghapus rasa itu, walau sulit. Sekarang aku mencintai suamiku sendiri. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa di bayang-bayang rasa bersalah dan masa lalu. Maukah kau memaafkan aku Ndri?"


"Aku sudah memaafkan kamu, aku tahu kamu hanya sedang tersesat sesaat mengartikan sebuah cinta. Berbahagialah bersama Riko, dia laki-laki yang tepat untuk kamu."


"Terimakasih Ndri, kita masih teman kan seperti dulu?"


"Ya, kamu memang teman ku dari dulu!"


"Emmz.. bo..bolehkan aku berteman dengan istrimu?"


"Boleh Ria, sekarang aku teman kamu!"


Potong Asma, sambil tersenyum pada Indria.


"Mungkin kamu sudah menceritakan kisah ku bersama suamiku pada Asma, kenapa kami bisa menikah. Tapi, aku bersumpah Ndri, bukan aku yang melakukan hal keji itu. Aku tidak tahu siapa orang yang berusaha memfitnah ku. Malam itu aku masuk ke dalam mobil kamu, karena mobilku tiba-tiba mogok di tempat dimana ada mobil kamu. Aku juga tidak tahu, ternyata yang membawa mobil kamu adalah suamiku. Tadinya aku pikir itu kamu, jadi aku asal masuk saja,"


"Aku tahu kamu dan Riko hanya korban, aku sedang mencari siapa pelakunya. Sudah jangan terus memikirkan masalah yang sudah lalu. Mari kita saling memaafkan dan menjalin silaturahmi!"


Indria bernafas lega karena keresahan hatinya sudah berkurang. Ternyata meminta maaf menenangkan hati yang gelisah.


Dua jam mereka menghabiskan waktu mengobrol dan makan malam bersama keluarga besar Al-muzaky.


Indria merasa nyaman bisa mengenal keluarga Asma. Mereka semua saling sayang satu sama lain. Apalagi bibi Aisyah dan bibi Melati memperlakukan dirinya seperti anak mereka sendiri. Dan, itu membuat Indria berkaca-kaca. Mungkin, kalau mamanya masih ada, pasti sang mama akan seantusias mereka.


Andrian begitu beruntung mendapatkan Asma plus dengan keluarga Asma yang begitu baik, penyayang dan sopan.


Walau Indria sedikit terkejut, ternyata paman Bayu sahabat sang ayah adalah paman dari Asma. Sungguh, bumi memang bulat, ternyata saling berhubungan.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Riko dan Indria pamit pulang, karena akan pulang langsung ke rumah sang ayah. Indria juga mengundang semua keluarga besar Al-muzaky datang ke acara empat bulanan kehamilan dirinya.


"Dek, bagaimana perasaannya sekarang?"


"Sangat lega, bahagia dan entahlah adek tak bisa menjelaskannya!"


"Asma begitu beruntung tinggal dengan keluarga yang begitu menyayanginya. Mas, perasaan adek tak melihat kedua orang tua Asma, kemana mereka?"


"Abi nya meninggal ketika Asma masih duduk di bangku kuliah dan umi nya meninggal karena serangan jantung,"

__ADS_1


Mulut Indria menganga tak percaya, dengan mata melotot. Pantas saja tak ada satu orang pun yang membahas kedua orang tua Asma.


"Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Kehidupan Asma dulu begitu memperihatinkan. Tapi lihatlah, dia selalu tersenyum,"


"Boleh tahu sedikit mas, ceritakan tentang Asma?"


"Yang mas tahu, dulu Asma korban KDRT, bahkan suami pertamanya menikah lagi tanpa memberi tahu Asma."


Lagi-lagi mulut Indria menganga tak percaya, mendengarnya saja membuat Indria bergidik ngeri. Indria tak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Asma. Indria memang baru tahu tentang ini, dulu Indria hanya tahunya saja Andrian menikah dengan seorang janda tanpa tahu perjalanan ceritanya.


"Mas tidak akan melakukan seperti itu kan sama adek, atau KDRT!"


"Astagfirullah ... tidaklah dek, bukankah yang sering KDRT adek!"


"Ihhh ... mas, jangan di ungkit. Adek minta maaf!"


Rengek Indria menyandarkan kepalanya di pundak Riko yang sedang menyetir.


Indria memang dulu sering marah-marah dan memukul Riko. Tapi, semenjak hamil Indria justru selalu manja dan tak mau jauh-jauh dari Riko. Di situlah timbul benih-benih cinta tanpa Indria sadari.


"Kenapa mas bilang kalau Andrian yang beruntung mendapatkan Asma. Bukan Asma yang beruntung mendapatkan Andrian. Karena Asma wanita tangguh, baik, Sholehah. Penyabar dan penuh kasih sayang, bahkan Asma menerima dengan tulus semua masa lalu Andrian,"


"Terus, apa mas beruntung mendapatkan adek?"


Riko langsung menghentikan mobilnya mendengar pertanyaan sang istri. Lalu Riko menatap sang istri dan menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.


"Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Mas, kecuali mas bisa mendapatkan adek. Kamu adalah wanita yang berhasil mengungkit balikan perasaan mas, Benci menjadi cinta. Adek wanita hebat yang mas kenal, adek wanita kuat, baik dan berhati lembut. Walau kebaikan itu adek berikan pada orang-orang tertentu. Asma memang wanita istimewa tapi adek adalah wanita yang begitu berarti bagi mas,"


"Jangan cemburu, dan jangan bertanya dengan pertanyaan yang menyakiti adek sendiri!"


"Mas ..."


Cup ...


Riko mengecup bibir sang istri, supaya tidak terlalu banyak bertanya. Indria terdiam mendapat serangan dadakan. Jika sudah begini Indria tak bisa berbuat apa-apa selain menikmati kenikmatan yang suaminya berikan.


Riko selalu tahu kelemahan sang istri. Ya, Indria selalu lemah akan sebuah sentuhan yang Riko berikan. Entah sejak kapan yang pasti mungkin bawaan hamil.


Plup ...


Riko melepaskan ciumannya dan menyatukan kening mereka berdua dengan air liur yang masih membentang.


"I Love You!"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih....


__ADS_2