
Hoek....
Hoek....
Seseorang berlari kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perutnya. Rasa mual dan pusing begitu menyiksa Indria. Entah kenapa akhir-akhir ini Indria merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Kadang mudah merasa lelah dan ngantuk, ketika bangun maka Indria akan merasa mual dan pusing.
Dua bulan ini memang Indria mencoba menerima pernikahannya karena terpaksa akan pesan terakhir sang ayah.
Ya, ayah Indria memang sedang sakit yang mengharuskan di rawat di luar negri. Sebelum berangkat memang, ayahnya berpesan untuk mencoba menerima pernikahan ini. Walau Indria tak mau, tapi melihat keadaan ayahnya Indria menyetujuinya. Karena Indria tak mau membuat ayahnya kecewa dan membuat kondisinya semakin buruk. Apalagi Indria hanya punya ayah saja. Karena mami Indria sudah lama meninggal.
Riko yang sedang tidur langsung bangun ketika mendengar suara orang muntah-muntah.
"Ya ampun, Ria kamu kenapa?"
"Pergi.. jangan kesini.."
Indria merasa malu jika Riko harus melihat hal yang menjijikan ini. Bisa hancur keangkuhan dirinya.
Bukannya menuruti, Riko tak peduli dengan penolakan Indria. Riko terus mendekat membantu Indria tanpa merasa jijik sedikitpun melihat hal menjijikan itu. Riko dengan lembut memijat tengkuk Indria supaya lebih rileks.
Indria tak bisa mencegah Riko lagi, karena terlalu lemas. Walau sejujurnya, Indria merasa nyaman ketika Riko memijat tengkuknya.
Bahkan Riko juga dengan lembut mengusap bibir Indria dengan tisu dan membersihkan muntahan yang keluar dari mulut Indria. Saking lemasnya Indria tak bisa menolak apapun yang Riko lakukan, bahkan berjalan pun rasanya Indria begitu sulit.
Grep...
Riko menggendong Indria keluar dari kamar mandi. Indria ingin protes tapi rasa lemas begitu membuatnya tak berdaya. Tapi anehnya, entah kenapa Indria menyukai bau tubuh Riko. Padahal sebelumnya, dekat pun Indria enggan.
Bahkan kejadian satu bulan lalu ketika Indria demam. Dia menjerit ketika bangun berada dalam pelukan Riko bahkan sampai mengupat dan mencaci Riko. Menuduh Riko mencari kesempatan dalam kesempitan.
Tapi kali ini Indria pasrah apalagi memang tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk bicara pun Indria tak mampu.
"Ria, kamu kenapa. Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering mual setiap pagi. Kita ke dokter ya, aku takut ada sesuatu yang terjadi padamu?"
Indria hanya mampu menggeleng atas jawaban ucapan Riko.
"Tapi aku gak mau sampai kamu sakit, ingat kamu harus tetap sehat. Apa yang harus aku katakan jika ayah menelepon. Ikatan batin kalian sangat kuat!"
Indria sedikit mengerutkan kening mendengar akhir kalimat yang Riko ucapkan. Ikatan batin, apa maksudnya, pikir Indria bingung.
__ADS_1
Riko memang tak memberi tahu Indria bahwa ayahnya akan selalu merasakan apa yang Indria rasakan. Waktu demam saja, ayah Indria merasa begitu cemas walau Riko waktu itu sedikit berbohong.
"Ayolah.. jangan buat aku berbohong terus pada ayah. Ayah sedang sakit, aku tak mau membuat dia sakit karena memikirkan mu,"
"Ak..aku tak mau... tolong jangan paksa aku.."
Pikir Indria sudah berkaca-kaca ingin menangis. Entah kenapa Indria tak mau di paksa. Bahkan ucapan Riko seakan membentaknya. Padahal Riko bicara begitu lembut.
Riko di buat bingung sendiri dengan tingkah Indria. Kenapa dia malah menangis. Apa Riko salah mengajaknya pergi ke dokter.
Dalam kebingungan, Riko terkejut mendengar ponselnya berdering. Riko membuang nafas kasar ketika apa yang dia pikirkan terjadi. Riko ingin beranjak, tapi tangannya di tahan oleh Indria. Membuat Riko jadi serba salah. Dengan terpaksa Riko harus mengangkat panggilan ayah mertuanya di hadapan Indria. Toh Indria akan tahu bahwa Riko bukan pembohong.
"Riko, apa kalian baik-baik saja. Bagaimana keadaan Indria? jangan bohong lagi pada ayah. Dari kemaren hati ayah gelisah ingat terus sama Ria. Apa Ria sehat, mana dia ayah ingin bicara. Sama kamu ayah yakin pasti kamu menyembunyikan lagi keadaan Ria,"
Riko meringis mendengar Omelan ayah mertua, bahkan Riko tak di beri kesempatan untuk menjelaskan.
Indria yang mendengar ucapan sang ayah membulatkan kedua matanya. Tak menyangka, ternyata Riko tak bohong.
Riko memang sengaja melodspek suaranya supaya Indria mendengarkan. Bagaimana begitu kewatir nya sang ayah.
Indria menggeleng mengisyaratkan jangan memberi tahu sang ayah akan keadaannya.
Pada akhirnya itu yang Riko ucapkan, Riko tak mau berbohong lagi.
"Sekarang dimana Indria ayah ingin bicara?"
"Baru tidur yah, dia istirahat. Apa perlu Riko bangunkan?"
"Jangan! biarkan dia istirahat. Katakan saja nanti kalau dia sudah bangun ayah ingin bicara?"
"Siap yah, Nanti Riko sampaikan,"
Hiks...hiks ...
Indria malah menangis mendengar begitu kewatir ya sang ayah pada dirinya. Bahkan ayahnya tak peduli dengan kesehatannya.
Ayah sayang kamu, ayah berharap kamu menerima pernikahan ini. Riko laki-laki yang baik, ayah yakin dia bisa meneruskan penjagaan ayah pada kamu. Jika kamu tak menyukainya, setidaknya terima pernikahan ini. Ayah berharap tak ada perceraian dalam pernikahan kalian. Halnya pernikahan ayah sama mami. Hanya maut yang memisah.
Indria. semakin terisak mengingat bagaimana ayahnya berharap pernikahan akan berhasil.
__ADS_1
Riko yang melihat Indria semakin menangis menjadi serba salah. Ingin menenangkan tapi takut Indria marah. Jika membiarkan, Riko malah tak kuat.
Indria bangun dari tidurnya sambil menghapus air mata. Indria ingin memastikan sesuatu ketika dia benar-benar memutuskan untuk menerima Riko.
"Apa kamu tahu, kenapa aku menolak pernikahan ini?"
"Aku tak tahu, yang aku tahu kamu marah dengan kejadian itu!"
"Itu salah satunya. Tapi satu yang harus kamu tahu. Aku membenci wajah ini, kenapa nama kamu dan wajah ini begitu mirip dengan orang yang aku benci. Andai saja kamu bukan dia mungkin aku mudah menerima semuanya demi ayah,"
"Kenapa kamu sampai membenci wajah ini, katakan. Beri aku alasan?"
"Karena wajah ini yang membuat aku pergi dari kehidupan Andrian sampai aku kecelakaan dan sempat buta. Dan, sekarang karena wajah ini juga aku harus gagal mendapatkan Andrian!"
Deg...
Hati Riko begitu sakit sangat sakit akan pengakuan istrinya sendiri. Kenapa harus Andrian, Andrian dan Andrian yang istrinya inginkan.
Riko beranjak, membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak. Lalu Riko meletakkannya di hadapan Indria.
Riko membuka kotak itu, dan mengeluarkan semua barangnya. Riko mengambil kaca mata tebal lalu memakainya. Tak lupa Riko mengacak-acak rambutnya supaya terurai ke depan.
"Apa tampang ini yang kamu benci, karena ke culunan nya. Katakan apa yang salah dengan wajah ini. Kenapa kamu sangat membencinya, wajah ini begitu tulus mencintaimu tapi kenapa kamu tak sedikitpun menghargai. Kecelakaan itu bukan salah wajah ini tapi karena kecerobohan kamu sendiri yang terlalu gengsi di sukai wajah culun ini."
Suara Riko begitu keras sampai membuat Indria diam. Riko mencengkram dagu Indria kuat seakan dia bukanlah Riko tapi orang lain.
Tatapan Riko begitu memerah menahan segala rasa yang dia tahan selama ini. Rasa benci dan marah menjadi satu.
"Dan mata ini, apa kamu tahu. Mata ini milik orang yang kamu benci selama ini. Saudaraku mengidap kanker dia bisa bertahan karena menyukaimu tapi apa yang kamu lakukan kamu menyakitinya. Aku ingin membencimu tapi saudara kembaran ku melarang karena dia terlalu mencintai mu. Bahkan dia lera mendonorkan matanya agar kamu bisa melihat kembali!"
Indria berkali-kali menggeleng seakan tak percaya dengan semua ini. Bahkan Indria sampai bergetar meraih tumpukan photo kebersamaan dua saudara kembar.
"Aku ingin membenci dan marah, karena kamu saudaraku pergi. Hiks ... tapi apa yang dia lakukan, dia malah memberikan matanya pada orang yang aku benci. Apa kamu tahu kenapa dia melakukan itu, karena supaya aku tak bisa membencimu. Mata ini, mata yang tak bisa aku benci!!!"
Deg....
Bersambung....
Jangan lupa Like,Hadiah,Komen dan Vote...
__ADS_1
Terimakasih....