
Seperti biasa setelah sholat magrib pasangan suami istri ini akan mengaji, tepatnya Asma akan mendengarkan bacaan sang suami sejauh mana perubahannya.
Asma tersenyum karena bacaan sang suami mulai lancar dan bagus walau belum Faseh dalam beberapa hurup melapalkannya. Tapi, ini sebuah anugrah yang begitu indah dan istimewa.
"Shodakallahuladzim..,"
Andrian menghentikan bacaannya lalu menyimpan Al-quraan di tempat semula begitupun Asma.
"Bagaimana sayang, apa bacaan abang masih banyak yang salah?"
"Alhamdulilalh lancar bang, cuma ada sebagian hurup yang belum faseh abang baca. Mungkin besok kita belajar ke sesi itu,"
"Terimakasih sayang, sudah mau sabar membingbing abang, "
"Itu sudah menjadi kewajiban Asma bang,"
Entah harus berkata apa, Andrian mendapatkan istri se solehah Asma. Setiap hari rasanya benih-benih cinta semakin tumbuh subur di hati Andrian.
Walau pada kenyataannya Andrian tidak tahu apakah Andrian akan tetap bersama sang istri atau sang istri akan meninggalkannya duluan.
Pada waktunya tiba, Andrian tidak mengharapkan apappun karena Andrian yakin Allah jauh lebih tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Oh iya sayang, ada sesuatu yang ingin abang sampaikan?"
Ucap Andrian sambil mengambil berkas yang tadi dia bawa. Ini waktu yang pas untuk berbicara pada sang istri, apalagi Andrian melihat sang istri baik-baik saja. Mungkin hal ini tidak membuat sang istri berpikir keras.
"Apa ini bang? "
"Baca saja sayang, nanti kamu kasih saran! "
__ADS_1
Asma langsung membuka berkas yang sang suami berikan. Dengan serius Asma membaca dan meneliti setiap hurup dan angka di sana. Andrian hanya diam setiap menunggu sang istri selesai memeriksa berkas itu.
"Abang mau membuka cabang restoran di Bekasi?"
"Bagaimana menurut sayang, abang ingin di setiap langkah abang ada doa kamu!"
Asma terdiam dengan bibir tertarik ke samping. Sungguh Asma merasa di hargai oleh sang suami. Hal terkecil, walau Asma tak tahu apakah Asma memberikan saran atau tidak. Tapi ucapan sang suami begitu membuat Asma benar-benar bahagia, karena doa sang istri mengiringi setiap langkah sang suami adalah sebuah kekuatan besar untuk menuju keauksesan dan keselamatan.
"Asma setuju saja dengan rencana abang, tempatnya juga stretagis. Kapan rencana pembangunannya? "
"Menurut sayang, hari apa yang baik?"
"Setiap hari semuanya kebaikan tapi ada yang lebih baik dari pada hari-hari yang lain adalah hari jum'at. Tapi, tidak mungkin kita memulai pembangunan hari jum'at bagaimana kalau hari rabu saja!"
"Jika itu saran sayang maka abang akan melakukannya hari itu, mungkin abang akan merapatkan lagi rencana ini. Em, kemungkinan rabu bulan depan kita mulai pembangunan. Dananya sudah abang pisahkan di kartu kredit yang berbeda sayang yang pegang ya, tunggu sebentar..,"
Andrian mengambil dompetnya lalu duduk lagi di samping sang istri. Andrian membulak balik dompetnya tapi tak ada credit card di dompetnya.
"Sayang credit card nya tidak ada!"
"Innalillahiwainnaillahiroziun.., ko bisa bang, coba abang ingat-ingat dimana abang simpan kartunya?"
Andrian terdiam mencoba berpikir dan mengingat-ngingat dimana dia menyimpan kartunya. Perasaan kartunya memang Andrian taruh di dompet karena rencananya memang akan di simpan sang istri. Tapi, Andrian sama sekali tak mengingatnya.
"Sayang, bener ko abang taruh di dompet karena rencananya memang abang akan menyimpannya pada kamu. Tapi tak ada,"
"Apa buku tabungannya ada?"
Andrian memeriksa isi tasnya lalu mengambil buku tabungannya dan menyerahkannya pada sang istri.
__ADS_1
"Bang ini jumlah yang besar loh, tapi kita memang bisa bikin kartunya lagi dengan syarat-syarat tertentu pihak bank. Jangan panik bang, mungkin ini ujian dari Allah kita serahkan saja pada-Nya. Jika uang ini rezki kita Insyaallah pasti Allah kembalikan,"
Andrian sedikit lega mendengar perkataan sang istri, mungkin bisa di ajukan pada pihak bank untuk membuat kartu baru.
Hati yang panik dan terkejut menjadi tenang ketika sang istri menenangkannya. Entah terbuat dari apa hati Asma bisa setenang begitu. Jika orang lain mungkin akan keblingsatan. Tapi sikap tenang Asma mampuh meredamkan kepanikan Andrian.
"Kenapa sayang bisa setenang ini? "
"Bang, apapun ada pada diri kita itu semua hanya titipan. Harta, nyawa, anak dan keluarga semuanya titipan. Apa sih yang kita punya bahkan jasad dan roh yang ada pada diri kita milik Allah dan akan kembali pada Allah. Entah kapan waktunya Asma tidak tahu, jadi apapun sesuatu yang terjadi pada kita ucapkan, Innalillahiwainnaillahiroziun yang artinya : " Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah SWT". Kita tak punya apa-apa di dunia ini semuanya milik Allah, uang abang yang hilang itu juga milik Allah, ikhlaskan, insyaallah Allah akan kembalikan jika itu rizki kita dengan caranya sendiri. Jadi, jangan mengeluh atau marah jika apa yang kita miliki hilang karena sesungguhnya itu bukan milik kita. Tangan kita, mulut dan semua ada pada diri Asma juga milik Allah, apa sih yang kita punya. Kita hidup hanya di ujung kalimah Laa Hawla waLa Quwwata Illa Billaah memiliki arti: "Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata".
Ucapan sang istri membuat Andrian seakan tertampar jiwanya. Baimana bisa sang istri begitu pasrah akan semuanya. Bisakah Andrian seperti itu jika suatu saat nanti Allah ambil sang istri. Setegar dan seikhlas itukah.
Tidak!
Rasanya Andrian belum cukup ikhlas untuk melerakan semuanya. Andrian juga hanya manusia biasa yang serakah akan semuanya. Tak ingin kehilangan istri dan anaknya. Maka dari sekarang Andrian sudah mempersiapkan dokter hebat untuk menyelamatkan istri dan anaknya pada waktu itu tiba. Andrian belum sanggup jika harus mengarungi dunia ini sendiri tanpa ada sang istri di sampingnya. Jika dulu sang istri selalu menginginkan sebuah istana di surga dengan menciptakan rumah tangga yang Sakinah Mawadah Warohmah. Maka Andrian menginginkan meraih keridhoan Allah bersama sang istri menuju istana itu.
"Sayang, jika abang yang pergi apa sayang akan melerakannya begitu saja? "
Asma tersenyum akan ucapan sang suami yang menyentil hatinya.
"Merelakan mungkin tidak! karena Asma juga hanya manusia bisa yang ingin egois menginginkan abang menemani Asma sampai menuju surga Allah. Akan tetapi, Asma bisa apa untuk meminta abang tetap bersama Asma dan anak-anak jika Allah sudah berkehendak lain. Jika kematian yang memisahkan kita di dunia ini, Asma hanya memohon pada Allah supaya mempersatukan kembali kita di salah satu surganya walau itu hanya di tamannya saja."
Andrian menarik sang istri kedalam pelukannya sambil mencium puncak kepala sang istri bertubi-tubi sampai Asma geli sendiri.
"Jika kita tak tahu kapan merasakam kenikmatan indahnya surga abadi, bagaimana kalau kita menciptakan indahnya surga dunia! "
"Bang..,"
"Ah.., gemasnya istri abang!"
__ADS_1
Bersambung....