
Hari begitu cepat berlalu membuat Andrian tak mau meninggalkan sang istri.
Tepat minggu depan Andrian berangkat ke Bekasi untuk meresmikan pembangunan cabang lestorannya dan Andrian beberapa hari harus menginap di sana sebelum menyerahkan tugas selanjutnya pada Riko sang asisten.
Semakin hari semakin dekat dengan keberangkatan Andrian ke Bekasi, Andrian sedikit di sibukan dengan beberapa persiapan. Apalagi Andrian merasa bahagia dan bersyukur karena uang pembangunan cabang baru telah kembali padanya. Dan, ternyata Aieni mengembalikan credit card itu yang tak sengaja Andrian jatuhkan.
Semakin dekat dengan kepergian Andrian Andrian terus saja mengingatkan sang istri agar tepat waktu minum obat dan jangan melakukan yang berat-berat yang bisa membuat Asma lelah.
Andrian sudah berangkat kerja membuat Asma kembali masuk ke dalam kamar. Karena belum membereskan tempat tidur akibat bangun tidur kesiangan.
Dengan telaten Asma tempat tidur dari mulai sepre, selimut dan menyusun bantal dan guling. Asma tersenyum melihat maha karyanya dimana tempat tidurnya sudah rapi. Asma berjalan ke arah shopa dimana seperti biasa Asma akan duduk sambil membaca buku.
Karena ada buku yang belum tamat Asma baca, Asma memutuskan membaca buku tersebut.
Tes...
Asma mengerakan tangannya menyentuh darah segar yang menetes ke atas buku yang dia baca, lalu Asma dengan gemetar meraba hidungnya.
Deg...
Asma terkejut hidungnya kembali mengeluarkan darah. Dengan cepat Asma mengambil tisu untuk membersihkannya.
"Darah, kenapa akhir-akhir ini aku mimisan, ahhkk... "
Menolog Asma sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
Kondisi Asma memang semakin memburuk bahkan Asma sering mimisan dengan denyut di kepalanya yang hebat. Tapi, Asma tak memberi tahu sang suami dengan apa yang terjadi padanya karena Asma tak mau membuat sang suami kewatir.
"Astagfirullah ya Allah.. "
Lilir Asma dengan mata mulai berkaca-kaca merasa nyeri di kepalanya bahkan darah dari hidungnya terus keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku. Kenapa rasa ini semakin sakit. Apa ada yang bang Andrian sembunyikan dari aku."
Lilir Asma dengan air mata yang mulai memaksa keluar dari pelupuk matanya. Asma hanya bisa beristigfar dengan rasa yang terus menjalar.
__ADS_1
Ya Rohman ya Rohim, ada apa dengan hamba kenapa denyut ini semakin sakit dan mengerogoti tubuh hamba. Ya Rohman, jaga anak hamba jangan sampai dia merasakan sakit seperti yang Asma rasakan.
Jerit Asma sambil membersihkan darah di hidungnya dengan satu tangan memegang perutnya. Asma seakan takut terjadi apa-apa pada perutnya.
Lama Asma berjuang menahan rasa sakit itu, hingga rasa sakit itu perlahan berkurang dengan nafas Asma yang memburu.
Asma berusaha mengontrol nafasnya supaya dirinya ikut tenang. Sesudah tenang dan merasa denyutan itu menghilang Asma menyandarkan kepalanya di sandaran shopa.
Asma menatap nanar ceceran tisu di lantai yang Asma gunakan membersihkan hidungnya. perlahan Asma membersihkan darah yang sempat menetes pada meja dan memungut tisu-tisu yang berlumur darah hidung Asma.
Asma tak mau sampai tiba-tiba sang bibi masuk dan melihat semuanya. Dengan terpaksa Asma langsung membersihkannya, tak meninggalkan jejak sedikitpun. Bahkan Asma langsung mengganti bajunya dan menyucinya karena Asma tak mau sang suami tahu apa yang terjadi padanya. Sudah selesai semaunya tak lupa Asma juga meminum obat lalu duduk kembali di atas shopa.
Mata Asma menatap kedepan di mana ada poto pernihannya dengan bang Andrian. Di dadalam poto itu Asma terlihat nampak bahagia begitupun Andrian walau Asma tahu awal mereka menikah belum ada kata cinta.
Pikiran Asma terus berputar memikirkan kejadian demi kejadian yang akhir-akhir ini Asma rasakan.
Pertama Asma mimisan ketika Asma ikut ke lestoran sang suami satu bulan yang lalu tapi di situ Asma tak berkata apa-apa pada sang suami karena Asma takut Andrian kewatir. Melihat bagaimana Andrian menjaga anaknya saja itu sudah membuat Asma meringis membayangkan keposesifan sang suami. Bagaimana kalau Andrian tahu akan kondisi dirinya.
"Ada apa sebenarnya dengan diriku, apa aku sakit! tapi sakit apa! apa bang Andrian tahu sesuatu, apa bang Andrian selama ini menyembunyikan sebuah penyakit! tapi tidak mungkin. Dokterpun tak mengatakan apa-apa, apa aku periksa sendiri saja supaya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku tak mau membuat bang Andrian cemas, apalagi besok bang Andrian berangkat ke Bekasi. Aku tak mau karena diriku rencana pembukaan bangunan cabang lestoran gagal. ya Robb apapun yang terjadi pada Asma suatu saat nanti Asma mohon, selamatkan anak Asma."
Karena tak mau membuat suasana nampak berbeda. Asma berusaha keluar kamar berniat menemui bibi Melati karena hari ini bibi Melati tidak pergi kerja.
Sedang yang di cari, sedang sibuk dengan kertas dan pensil di tangannya.
"Cantik!"
Bibi Melati menghentikan gerakannya ketika mendengar suara keponakan tercintanya.
"Apa Asma suka dengan desaint baju pengantin yang bibi buat?"
"sangat suka bibi, ini benar-benar sangat indah. Tapi kenapa ada dua, dua-duanya cantik lagi,"
Celetuk Asma sambil mengangkat dua lembar kertas yang memperlihatkan hasil karya bibi Melati.
"Yang ini buat pernikahan Fatimah beberapa minggu lagi, sekarang sudah di deraint dan satu ini sangat spesial. Nanti buat calon pengantin Bagas,"
__ADS_1
"Wow, sangat indah bibi. Apa bibi sudah menemukan kreteria calon menantu buat bibi. Dengar-dengar bibi akan menjodohkan Bagas, boleh Asma tahu siap orangnya? "
Bibi Melati hanya menggeleng karena tidak tahu, rencananya malam ini bibi Melati akan di pertemukan dengan gadis itu oleh bibi Aisyah.
"Loh, bagaimana bibi sudah mempersiapkan gaun pernikahan sedang Bagas belum mendapat calonnya!"
"Nanti malam bibi Ais akan mempertemukan bibi dengan gadis pilihannya. Semoga saja gadis itu baik dan sopan."
"Amin, semoga saja."
"Bagaimana calon cucu bibi, apa dia baik-baik saja."
"Alhamdulillah baik, Bi."
"Assamalamualaikum, apa kabar sayang. Nenek tak sabar menunggu kamu,"
"Awwss..,"
"Astagfirullah sayang kamu kenapa? "
Asma meringis merasa sakit dan terkejut ketika anaknya menendang. Ini baru yang pertama kali Asma rasakan dan itu sungguh membuat Asma meringis karena terkejut dan sakit.
"Babynya menendang.., "
Lilir Asma seketika wajah cemas bibi Melati berubah langsung bahagia mendengarnya. Bibi Melati mencoba memegang perut buncit keponakannya yang sudah memasuki tujuh bulan. Senyum bibi Melati semakin lebar tetkala merasakan pergerakan baby yang ada dalam kandungan Asma sambil terus mengajak ngobrol dan sesekali membaca sholawat.
Asma menitikan air mata haru melihat kebahagiaan bibi Melati walau Asma harus menahan rasa sakit ketika babynya bergerak aktif.
Dan, itu semakin membuat Asma yakin tidak akan memberi tahu kondisinya pada siapapun. Melihat kebahagiaan keluarganya terutama sang suami membuat Asma tak tega mengatakannya. Walau Asma tak tahu apa yang terjadi padanya.
Asma tak mau karena kondisinya membuat semua orang panik dan takut. Biarlah Asma yang merasakan semaunya.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote....
__ADS_1