Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 26 Sadar!


__ADS_3

Andrian terbangun saat mendengar tangisan baby Amar.


Kepala Andrian terasa berat dengan kelopak mata yang sulit di buka. Tapi, tangisan baby Amar membuat Andrian benar-benar harus membuka kedua matanya.


"Cup.. cup.. Am sini sama abi cup.. cup..."


Dengan wajah bantalnya Andrian duduk sambil menggendong baby Amar. Bukannya diam baby Amar malah semakin menangis membuat kesadaran Andrian benar-benar kembali.


Entah apa yang terjadi dengan baby Amar, kenapa dia menangis seperti itu.


"Am mau mimi ya, sabar ya sayang abi bantu dulu,"


Andrian turun dari ranjang, perlahan Andrian membuka kulkas ingin mengambil susu yang sering Andrian peras dari sumbernya. Andrian semakin kelabakan karena persedian susunya habis. Andrian lupa, dia belum memompanya lagi.


Andrian melihat sang istri yang sedang berbaring. Terlihat di belahan dada sang istri basah, tanda bahwa baby Amar benar-benar membutuhkan asupannya.


Perlahan Andrian mendekat dengan hati-hati Andrian membantu baby Amar menyusu pada Asma. Sangat hati-hati karena Andrian tidak mau membuat sang istri tersakiti oleh gerakan Amar.


Apalagi usia baby Amar yang menginjak delapan bulan dia mukai aktif bergerak.


Andrian bernafas lega ketika baby Amar berhenti menangis. Andrian melihat jam yang masih melingkar di tangannya. Waktu menunjukan pukul tiga dini hari, tak biasanya baby Amar terbangun jam segini.


Sekitar dua puluh menit Andrian menunggu, baby Amar terlelap kembali. Bahkan mulutnya sudah terlepas dari kehidupannya. Dengan sangat hati-hati Andrian kembali membaringkan baby Amar di samping Asma.


Andrian kembali mengancingkan baju sang istri. Di tatapnya sang istri dengan sendu.


Kapan Asma bangun, inu sudah delapan bulan dirinya koma. Tapi, masih tak ada tanda-tanda Asma bangun.


Andrian meraih tangan sang istri lalu mengecupnya.


Deg...


Seketika tubuh Andrian menegang ketika merasa tangannya ada balasan. Bibir Andrian bergetar menatap tangan Asma yang perlahan bergerak.


Andrian mengerjap-ngerjapkan kedua matanya memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Mata Andrian mulai gatal seolah ada sesuatu yang memaksa keluar. Bahkan bola mata Andrian sudah memerah menahan segala gejolak yang ada. Andrian dengan pelan mengalihkan pandangannya pada wajah sang istri. Seketika cairan bening tumpah begitu saja menodai kedua pipi Andrian.


"Sa.. sayang..,"


Hanya itu yang mampuh Andrian ucapkan dengan bibir gemetar melihat Asma perlahan membuka kedua matanya.


Tubuh Andrian gemetar mengucap puji syukur dalam jeritan hatinya. Andrian berlari mengambil ponsel guna menelepon para dokter yang menangani Asma.


Bahkan Andrian menggedor-gedor pintu kamar kedua bibinya. Memberi tahu bahwa istrinya sudah sadar.


Entah ini mimpi atau apa, bibi Aisyah dan Bibi Melati langsung pergi ke kamar Asma.


Seketika tangisan kedua bibi itu pecah dengan tubuh gemetar. Seakan tak percaya ini nyata.

__ADS_1


Sebuah keajaiban yang begitu besar, buah dari kesabaran.


Lihatlah!


Sekarang Asma sudah membuka kedua matanya dengan tangan yang terus bergerak seakan menginginkan sesuatu.


Sungguh ini mustahil terjadi, bukankah bulan lalu kondisi Asma semakin memburuk. Tapi, lihatlah, Allah telah menunjukan kuasanya. Bahkan para dokter pun sempat berbengong. Hingga suara Andrian mengagetkan para dokter.


"Dok, cepat periksa istriku. Jangan malah bengong,"


Para dokter pun langsung memeriksa keadaan Asma dengan sangat hati-hati. Padahal tadi oara dokter semuanya masih merasa ngantuk. Awalnya para dokter menganggap Andrian sudah gila menyatakan Asma sudah sadar di waktu subuh. Tapi, seketika asumsi kejelekan para dokter pecah melihat langsung bahwa keajaiban Allah benar-benar ada.


Bahkan rasa kantuk yang menyerang mereka seketika hilang entah kemana. Berganti semangat 45.


"B-B-Ba.. n.. g.. "


Asma berusaha menggerakan bibirnya guna memanggil sang suami. Tapi kata itu hanya terlihat sebuah gumaman. Tapi, Andrian faham bahwa istrinya memanggil namanya.


Tangan Andrian bergetar menghapus air mata yang mengalir di pipi sang istri.


"Dok, kenapa istri saya tak mengeluarkan suara?"


"Jangan kewatir tuan, itu sudah biasa bagi pasien yang lama mengalami koma. Jangan terlalu di paksakan takutnya pita suaranya pecah."


Bibi Aisyah dan bibi Melati menangis haru melihat keponakannya membuka mata. Bibi Melati menggendong baby Amar yang sedang terlelap. Baby Amar seakan tidak terusik sama sekali dengan kebisingan.


Inikah bukti kekuatan cinta antara Andrian dan Asma. Bagaimana jika dulu semua keluarga melepas semua alat medis yang menempel di tubuh Asma. Mungkinkah, keajaiban ini ada? tentunya tidak.


Andrian seolah membuktikan bahwa sang istri akan kembali suatu saat nanti. Dan, inilah buah dari kesabaran dan kepasrahan Andrian.


Sebuah bukti cinta dua insan yang saling terhubung satu sama lain lewat batin yang selalu berbisik untuk bertahan di titik kesabaran menuju puncak kebahagiaan.


Paman Fahmi keluar guna memberi tahu Bagas tentang berita gembira ini. Begitupun Fatimah dan Ali.


"Mas, ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?"


Tanya Wina dengan wajah cemas menatap sang suami yang barusan di telepon oleh paman Fahmi.


Wina begitu takut ada sesuatu yang terjadi, pasalnya pihak keluarga menelepon di pagi buta.


"Loh, kok mas menangis, apa ada sesautu yang terjadi. Tolong katakan jangan buat Wina bingung?"


"Kak Asma sudah sadar sayang, dia sudah sadar!"


"M-mas ti.. tidak sedang bercanda kan?"


"Tidak sayang, kak Asma sudah sadar!"

__ADS_1


Bagas dan Wina saling berpelukan dengan tangis haru menyelimuti mereka. Wina masih belum percaya akan semuanya. Sahabatnya sekaligus kakak ifar sepupuh. Wina masih belum bisa membayangkan bagaimana reaksi Asma ketika dia tahu kalau dirinya sudah menikah. Menikah dengan adik sepupuhnya sendiri.


"Mas, ayo cepat kita ke sana."


"Mas, kenapa diam. Ayo kita ke sana. Wina sudah tak sabar memeluk Asma?"


"Sayang, ganti dulu mukenanya. Emang kesana mau memakai mukena!"


"Oh.. ya ampun. Ya sudah kita ganti dulu!"


Bagas hanya bisa menggeleng dengan tingkah sang istri. Saking bahagia dan semangat sampai lupa kalau dirinya masih memakai mukena.


Tingkah Wina yang ceroboh kadang membuat Bagas kesal bercampur gemas.


"Mas, cepet dong bawa mobilnya?"


"Sabar sayang, begini saja yang penting sampai!"


"Ih.. mas ini lama. Wina gak sabar bertemu Asma,"


"Sayang ingat! kamu sedang hamil. Mas gak mau sampai terjadi sesuatu pada kalian!"


"Maaf.. "


Wina menunduk merasa bersalah, saking semangatnya Wina sampai lupa kalau ada baby yang harus di jaga di dalam perutnya.


"Mas tahu kamu begitu menyayangi kak Asma. Tapi, jangan sampai lupa kalau di sini ada anak kita,"


"Ayo masuk!"


Bagas menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam. Dan, Bagas langsung menuju kamar kakak sepupuhnya. Karena Bagas tahu, semua orang pasti berada di sana.


"Assalamualaikum.. "


"Waalaikumsalam..,"


Wina terpaku dengan mata berkaca-kaca melihat Asma, sahabatnya sudah membuka mata.


Wina berjalan mendekat sampai lupa cium tangan pada mertuanya sendiri.


"A-Asma!"


Bersambung...


Jangan lupa Like, hadiah, komen dan vote...


Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2