
"Bagaimana apa kamu mendapat informasi,"
"Mungkin ini akan membuat bos terkejut, ternyata istri tuan Andrian dia sudah sadar dari komanya!"
"Apa!!"
Pekik seseorang menggelegar bahkan anak buahnya juga sampai terperanjat. Mereka sudah menduga, bosnya akan kaget.
"Ti..tidak.. tidak mungkin! tidak mungkin ahhhh .... sialannnn!!!"
Prang...
Semua anak buah langsung menghindar dari amukan bosnya. Bosnya memang manusia tempramental sulit mengatur emosi. Dari pada kena sasaran amukan lebih baik semua anak buah keluar dari ruangan bosnya.
Seseorang itu terus mengamuk meluapkan semua kekesalan, benci, marah dan dendam menjadi satu. Dia bersumpah tak akan membiarkan mereka hidup tenang sedang dirinya sengsara.
Semua karena Asma gara-gara wanita itu, terus amuk seseorang itu sangat membenci sosok sok alim itu.
"Sial... sial..."
Seseorang itu terus mengamuk melempar apa saja yang ada di dekatnya. Orang itu seakan ke kesetanan emosinya tak terkendali.
Para anak buah di luar hanya bergidik ngeri mempunyai bos seperti itu. Sangat garang dan tajam. Memang orang berwajah dua seperti itu. Selalu manis di depan tapi hatinya menggonggong.
"Tak akan ku biarkan kalian bahagia, kalian harus hancur sama seperti hatiku yang hancur, hidupku hancur gara-gara kau Asmaaa!!!"
Dor...
Orang itu menembak photo Asma yang terpajang di dinding dengan lingkaran merah. Entah apa yang terjadi di masa lalu kenapa orang itu begitu membenci Asma.
Sedangkan di tempat lain, Asma merasa bahagia karena kini dirinya tak perlu duduk di kursi roda lagi. Walau Asma tak boleh terlalu lama untuk berdiri. Setidaknya Asma senang karena bisa berjalan lagi.
Seiring kepulihan kondisi Asma kini kedua bibi Asma sudah kembali selama satu Minggu tinggal di Bandung, walau mereka tidur di hotel karena tak mau merepotkan orang rumah. Sedang Wina dan Bagas sudah kembali lagi ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
Rasa syukur terus Asma panjatkan karena kedua kakinya bisa berjalan normal kembali tanpa kursi roda dan tanpa bantuan Andrian.
Asma yang merasa sudah bisa mengerjakan sedikit pekerjaan berat. Urusan baby Amar semua Asma yang mengambil alih. Dari mulai menyiapkan pakaian, mandi, makan dan bermain.
Senyum Asma tak lekas di bibirnya setiap kali mengerjakan kebutuhan sang putra. Begitupun kebutuhan sang suami. Walau sesekali Andrian menolak karena takut sang istri kecapean.
Asma hanya menurut saja apa yang menurut suaminya baik. Walau Asma sudah kangen melakukan hal seperti yang dia lakukan dulu untuk sang suami.
Menyiapkan air untuk mandi, menyiapkan pakaian ganti, mencuci dan memasak. Rasanya Asma tak sabar untuk memulai hari itu kembali. Walau Asma yakin sang suami tak akan mengizinkan sepenuhnya dia mengerjakan.
"Uluh... putra umi sudah ganteng ya, kita siap-siap ya nunggu Abi pulang,"
"Abi puyang.. ye.. abu puyang.."
Sorak baby Amar membuat Asma terkekeh. Di ruang keluarga sudah ada kedua nenek baby Amar.
"Wah, cucu nenek udah ganteng. Sini sama nenek,"
"Tidak sama eyang saja ya.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam bang.."
"Abiii.."
"Wah, putra Abi udah wangi.."
Andrian mencium pipi gembul sang putra membuat baby Amar terkekeh geli. Asma mencium punggung tangan sang suami dengan Khidmah. Lalu Andrian mengecup puncak kepala sang istri.
"Duduk sayang, jangan terlalu lama berdiri!"
Tegur Andrian membuat Asma mengangguk. Andrian hanya tak ingin sang istri menjadi kesemutan bila terlalu lama berdiri. Walau sudah bisa berjalan Andrian tetap jaga-jaga takut sang istri belum pulih total.
__ADS_1
"Sama abi nya lengket, lah nenek mau gendong gak mau,"
"Cakit nenek,"
Rengek baby Amar cemberut ketika bibi Aisyah mencubit gemes.
"Sama eyang juga sama, mentang-mentang abi nya sudah pulang,"
"Abi eyang sama nenek cubit Am, cakit..."
"Mana sayang sakit sini Abi tiup, Bismillahirrahmanirrahim.. huh... udah sembuh,"
"Ya udah sembuh, Abi obati.."
Bibi Melati dan bibi Aisyah tak kuat menahan gemas cucunya yang sudah pintar bicara. Begitupun Asma, Asma tak menyangka bahwa baby Am mudah faham dan mengerti.
Asma bersyukur mempunyai putra se cerdas itu.
Ya Allah, jaga selalu keluarga kecil hamba. Jangan kau surut kan kebahagian ini. Sungguh Asma bahagia. Dengan cara apa Asma bersyukur atas nikmat mu ini ya Allah. Jangan jadikan kenikmatan ini membuat Asma kufur atas nikmat mu. Jadikan Asma golongan orang-orang yang senantiasa selalu bersyukur atas nikmat mu. Jagalah suami, putra dan seluruh keluarga Asma. Sehatkan selalu mereka. Dan terimakasih ya Allah, Engkau masih memberi Asma kesempatan untuk bisa merasakan menjadi sosok seorang ibu dan istri. Mudahkanlah Asma jadi istri dan ibu yang baik untuk putra Asma, Am. Mudahkanlah Asma mendidiknya sebagaimana yang pernah Baginda Rasulullah ajarkan. Jangan jadikan Asma ibu yang lalai atas amanat besar mu ini. Terimakasih ya Allah, AMIN....
Asam tersenyum dengan sebuah doa yang penuh harap Asma lantunkan dalam hati.
Fa'biayi'alairobikuma'tukadziban, nikmat Tuhan mu yang mana yang engkau dustakan.
Tak ada, satupun yang tak bisa Asma untuk mensyukuri nya. Bahkan luasnya nikmat Allah tak bisa Asma gambarkan oleh kata.
"Sayang Abang ke kamar dulu ya,"
"Iya bang, sini Am biar sama Asma,"
Andrian memberikan baby Amar pada sang istri. Lalu Andrian pergi ke kamar, guna membersihkan dirinya. Apalagi waktu sudah mau hampir magrib.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan Lupa Like Hadiah Komen dan Vote Terimakasih....