Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 41 Tampan


__ADS_3

Seperti biasa Andrian berangkat jam delapan pulang jam lima sore. Aktivitas Andrian kembali normal seperti biasa.


Bahkan hari-harinya nampak ceria tidak seperti biasanya.


Begitupun dengan keadaan rumah tangga Riko dan Indria. Apalagi kandungan Indria sudah memasuki bulan ke empat dan sebentar lagi Indria akan mengadakan empat bulanan yang akan di rayakan di kediaman sang ayah.


Sekarang Indria nampak bahagia, ternyata di cintai sedemikian rupa sangatlah membahagiakan. Tak pernah terlintas di pikiran Indria dia akan sebahagia ini bersama Riko.


Hingga, benih-benih cinta tumbuh liar tanpa Indria sadari. Ya, Indria akui, dia begitu nyaman di dekat Riko, merasa terlindungi dalam pelukannya.


Kini panggilan Indria untuk Riko pun berubah. Tak memanggil nama atau aku kamu. Indria memanggil Riko dengan sebutan 'Mas' dan Riko memanggil Indria dengan sebutan adek.


Sangat romantis bukan kisah mereka. Ingat! menciptakan keluarga harmonis itu tidaklah mudah. Karena kita harus menyatukan dulu dua hati dan dua pikiran menjadi satu tujuan dan cinta. Hingga terbentuklah kekokohan rumah tangga.


Pada dasarnya kita hanya manusia biasa, Allah yang berkuasa dan maha membulak-balik hati setia hambanya.


Hari ini Indria merengek pada Riko ingin bertemu Andrian. Ingin meminta maaf secara langsung dan juga ingin bertemu dengan Asma. Indria begitu penasaran siapa sosok wanita yang sudah berhasil meluluhkan hati Andrian.


"Mas, cepat dong. Sudah belum.."


Indria dari tadi sangat kesal menunggu sang suami. Lucu bukan, biasanya laki-laki yang selalu menunggu perempuan tapi kali ini berbeda dengan Riko. Riko paling lama sekali kalau berpakaian. Entah apa yang Riko lakukan hingga selama ini. Bahkan mandi pun Riko yang paling lama.


"Sebentar dek, mas pakai baju dulu.."


Indria berdecak kesal, Sungguh Indria baru tahu kebiasaan sang suami.


"Makannya mandi jangan lama. Emang apa saja yang di lakukan. Biasanya tuh, laki-laki mandi sebentar, nah ini sejam baru keluar."


Gerutu Indria mencebikkan bibirnya sambil membantu sang suami mengancingkan baju kemejanya. Riko hanya mengulum senyum melihat wajah cemberut sang istri. Riko sangat menikmatinya sekali. Sangat imut dan menggemaskan.


"Sudah ayo ..,"


Indria langsung menarik sang suami keluar, membuat Riko pasrah saja.


"Adek, nampaknya bahagia sekali. Mau ketemu gebetan ya?"


"Jangan mulai deh mas, ayo jalan .."


"Giliran ketemu Andrian semangat banget!"


"Ya ampun mas, kau ini. Adek cuma gak sabar ketemu dengan istrinya. Seperti apa dia, mas juga selalu memujinya!"


Ketus Indria membuat Riko terkekeh.


Riko memang menyampaikan keinginan istri nya pada Andrian yang ingin bertemu sekaligus dengan Asma. Dan Indria juga ingin ketemunya di rumah Andrian bukan di luar. Andrian menyetujuinya setelah Asma setuju.


Indria benar-benar hanya ingin minta maaf dan merajut pertemanan baik. Apalagi lusa Indria akan mengadakan acara empat bulanan baby-nya.


Riko dan Indria sangat santai sekali, karena persiapan sudah di siapkan oleh kedua orang tua Riko dan ayah Indria.


Jantung Indria berdetak sangat kencang ketika mobil memasuki pekarangan rumah yang begitu besar. Walau tak berlantai, tapi rumah ini cukup luas dan indah.


"Kenapa dek?"


"Gugup mas!"


"Jangan gugup, dikira mau ketemu guru pesantren saja!"

__ADS_1


Riko menekan bel, tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat.


Ceklek...


"Assalamualaikum bibi?"


"Waalaikumsalam, wah nak Riko dan istrinya ya. Ayo masuk-masuk Andrian ada di ruang tamu."


Sesudah salaman, Riko menggandeng istrinya kearah ruang tamu. Riko memang sudah tahu letaknya di mana karena Riko sering datang kesini. Bibi Aisyah langsung pergi ke dapur guna membuatkan minum untuk tamunya.


Indria semakin gugup saja, ini pertama kalinya Indria bertemu dengan Andrian setelah kejadian lima bulan lalu.


"Assalamualaikum bro.."


"Waalaikumsalam.."


Deg...


Indria terpaku di tempat, bibirnya terasa kelu sulit untuk bicara atau sekedar senyum. Bukan melihat Andrian melainkan anak kecil yang ada di pangkuan Andrian.


Wajahnya sangat mirip sekali dengan Andrian, walau matanya berbeda. Indria bisa menebak, pasti mirip dengan istri Andrian.


Indria duduk kaku di hadapan Andrian, matanya tak lepas dari bocah yang sedang memakan buah.


Riko sedikit kesal karena sang istri menatap Andrian seperti itu bahkan tanpa berkedip. Apa Indria masih mencintai Andrian sampai menatapnya seperti itu, pikir Riko cemburu.


Sedang Andrian faham apa yang membuat Indria menatapnya seperti itu. Bukan dia yang di tatap melainkan putranya.


"Tampan!"


Celetuk Indra tanpa sadar, membuat Riko membelalakkan kedua matanya. Bagaimana mungkin sang istri memuji laki-laki lain di depan matanya sendiri dan orangnya ada lagi.


"Siapa namanya?"


"Muhamad Amar Lian Chu!"


"Bo..boleh a..aku menggendongnya?"


Gugup Indria, sungguh Indria sangat terhipnotis dengan ketampanan baby Amar. Matanya, ya mata itu yang membuat Indria terhipnotis. Mata bulat bersih, bening dengan sorot mata polosnya di hiasi bulu mata lentik.


"Am, Tante Indri mau gendong Am, Am mau?"


Tanya Andrian pada putranya, baby Amar langsung melirik pada Indria yang menatapnya binar. Baby Am hanya mengangguk saja tanda dia mau.


Indria tersenyum menyambut uluran tangan baby Am. Baby Am memang selalu mau sama siapa saja di gendong walau itu orang asing.


Riko menghela nafas pelan, ternyata dia salah sangka pada sang istri. Riko pikir sang istri terpesona kembali pada Andrian. Nyatanya salah, Indria terhipnotis akan ketampanan baby Amar terutama matanya.


"Silahkan di minum,"


Ucap bibi Aisyah lalu ikut duduk menemani tamunya.


"Terimakasih bibi,"


"Ini toh, istrinya. Siapa nama kamu nak?"


"I-Indria Tante!"

__ADS_1


"Panggil saja bibi, sama seperti nak Riko panggil bibi,"


"Baik buk,"


"Kelihatannya nak Indria suka anak kecil ya?"


"Suka bik, apa lagi Indria gak punya adik!"


"Calon ibu yang baik, berapa bulan nak?"


"Empat bulan bik, lusa nanti sama keluarga datang ya ke acara empat bulanan Indria,"


"Insyaallah nak, semoga gak ada halangan .."


Obrolan mereka sedikit mencair ketika ada bibi Aisyah. Hingga Andrian pamit untuk memberitahu istrinya.


Indria kembali gugup karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan istri Andrian. Entah bagaimana wajahnya, Indria tidak tahu. Tapi, jika mata baby Amar mirip istri Andrian berarti Indria bisa menebak. Istri Andrian pasti sangatlah cantik.


"Assalamualaikum sayang,"


Ucap Andrian ketika masuk kedalam kamarnya.


"Waalaikumsalam bang,"


"Sudah selesai bersih-bersih nya, di luar sudah ada Riko dan Indria,"


"Sudah bang, ini tinggal ngiringin rambut."


Asma memang tadi lagi mandi besar, bersih-bersih dari haid.


Andrian membantu sang istri mengeringkan rambutnya. Bahkan membantu memakaikan kerudung.


"Sudah selesai, cantik!"


Bluss...


Pipi Asma merona mendengar pujian dari sang suami.


"Am sama siapa?"


"Sama Indria,"


"Gak nangis?"


"Alhamdulillah gak, ayo keluar kasihan mereka menunggu lama,"


"Ayo!"


Asma gak cemburu sama sekali ketika mendengar putranya di gendong oleh Indria. Asma juga penasaran siapa Indria yang begitu mencintai suaminya. Tapi, Asma yakin, Indria kesini berniat baik apalagi ke sininya sama Riko.


Semakin dekat, Asma bisa mendengar suara putranya yang sedang tertawa dengan suara yang begitu asing di telinga Asma.


"Assalamualaikum, maaf menunggu lama!"


Deg...


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih.....


__ADS_2