
Tak ada yang tahu takdir seperti apa yang Allah kehendaki. Pada dasarnya kita hanya manusia biasa yang begitu lemah akan iman. Cobaan yang Allah beri terkadang kita akan marah pada Allah tanpa berpikir apa yang terbaik di balik ujian ini.
Tak ada selembar daun yang gugur kecuali sudah ketetapan Allah.
Kematian memang sangat fahit ujian yang kita hadapi. Tapi, kita tak punya kekuatan untuk mencegah atau memundurkannya. Semua sudah terjadi dan tak akan pernah bisa terganti.
Hari terus berlalu berganti bulan yang tak akan usai. Begitupun dengan aktifitas manusia. Semuanya terasa berubah di perputaran waktu.
Itulah kehidupan yang tak bisa gambar apa yang akan terjadi pada kehidupan kita selanjutnya. Semua orang tak ada yang tahu bahkan sekalipun peramal, mereka manusia biasa yang pasti keliru dengan semuanya. Karena tak ada satupun manusia yang bisa menandingi kuasa Allah.
Begitupun dengan seorang laki-laki yang nampak berbeda di enam bulan yang lalu. Lihatlah, kantung mata yang melingkar, badan kurus tak terurus. Bahkan rambut yang selalu rapih di biarkan panjang dengan banyak bulu-bulu halus menghiasi wajahnya.
Terlihat dari segi manapun penampilannya seperti orang tak waras. Tapi nyatanya memang benar, bukan tak waras pisik, melainkan hati yang teramat tersiksa.
Dunia yang begitu indah nampaknya terasa hancur dalam sekejap mata. Tak ada yang bisa merubah hidup Andrian kecuali sang kekasih. Hidupnya, nafasnya, jantungnya. Andrian benar-benar hancur, seakan tak bisa berpijak.
Setiap hari Andrian hanya bisa memandang wajah ayu sang istri di dalam selembar photo.
Drett..
Suara ponsel membuat Andrian tertarik dalam lamunannya.
Jantung Andrian berdegup kencang ketika mendengar suara bibi Aisyah marah menyuruh Andrian cepat pulang.
Tak banyak kata Andrian langsung melesat pergi dengan hati yang tak menentu.
Grep...
Langkah Andrian terhenti ketika sebuah tangan mencengkalnya. Rahang Andrian mengeras dengan sorot mata memerah menahan luapan amarah yang menggebu.
"Lepas,"
Ucap Andrian dingin bahkan Andrian menatap tajam pada Indria yang berani memegang tangannya.
"Ndri, kamu kenapa sih. Kita itu teman dari dulu, kenapa sikap kamu jadi begini. Aku sangat mencintai kamu kenapa kamu tak pernah sekalipun merilik aku,"
"Jangan gila Indria, aku sudah menikah. Cari laki-laki lain jangan diriku!"
__ADS_1
"Tapi aku mau kamu Ndri bukan yang lain,"
"Cukup! lepas aku harus pergi!"
Andrian menghempaskan tangan Indria yang mencengkal lengannya. Andrian sudah muak dengan kelakuan Indria yang selalu mengganggunya.
"Apa kurangnya aku, aku lebih cantik dari istrimu. Bahkan istrimu hanya merepotkan kamu saja."
Andrian menghentikan langkahnya dengan tangan mengepal erat. Jika saja Indria adalah laki-laki sudah dari tadi Andrian habisi.
"Istriku jauh lebih baik dari pada kamu, bahkan dari segi apapun. Ku ingatkan sekali lagi, jangan usik diriku jika kau tak mau iblis dalam diriku menghancurkanmu,"
Indria menelan ludahnya kasar mendengar ancaman dari Andrian. Sulit bagi Indria mendapatkan Andrian. Bahkan Andrian semakin hari semakin mengerikan. Tapi, Indria terus berusaha mendekati Andrian walau penolakan yang selalu Indria dapatkan.
Indria tak akan menyerah sampai di sini, Indria akan tetap mengusik Andrian hingga Andrian jadi miliknya.
"Akan ku pastikan kamu jadi milikku Ndri. Aku tahu kamu kesepian dan butuh kehangatan yang tak bisa istrimu beri!"
Monolog Indria tersenyum seringai menatap punggung Andrian yang menjauh.
Andrian benar-benar sangat kesal dengan apa yang Indria lakukan. Gadis itu terus saja mengusiknya bahkan tak jera-jera ketika Andrian mengusirnya.
Andrian berlari tergopoh-gopoh memasuki kediaman Al-muzaky. Pikiran Andrian tertuju pada putranya. Andrian takut terjadi sesuatu pada sang putra.
"Assalamualaikum,"
"Bibi Apa ada sesuatu yang terjadi pada putraku?"
"Bukan Amar tapi Asma! "
Deg...
Jantung Andrian berdetak sangat kencang, bahkan rasanya Andrian kesesakan mendengar apa yang terjadi.
Flas back....
Empat bulan lalu, dimana Andrian menangis di hadapan sang istri dengan baby Amar yang terus menangis kencang. Hingga Andrian membantu sang putra mencari aumber kehidupannya. Andrian sudah pasrah dengan kodarullah. Bahwa sang istri harus perhi. Tapi, ketika baby Amar menyedot sumber kehidupannya walaupun tidak ada yang keluar keajaiban Allah sungguh luar biasa. Tiba-tiba tangan Asma bergerak berbarengan dengan sumber kehidupan baby Amar.
__ADS_1
Asma masih hidup namun kondisinya sangat lemah. Ini sungguh di luar nalar manusia.
Allah seakan sedang menunjukan kuasanya, walaupun Asma dinyatakan koma tapi air susu Asma keluar seakan tak pernah lepas dari sang putra. Asma seakan menunjukan kalau dirinya begitu menyayanhi sang putra dan tak akan membiarkan sang putra kelaparan.
Setelah Asma dinyatakan koma, Andrian meminta agar Asma di rawat di rumah walau Andrian harus membeli berapapun alat medis untuk kesembuhan sang istri.
Sebenarnya kondisi Asma antara hidup dan mati apalagi Jantungnya yang lemah. Asma masih hidup di bantu alat pernafasan. Jika saja alat itu di lepas mungkin Asma hanya tinggal nama.
Tapi, Anehnya Asma masih mengeluarkan air susu ketika baby Amar menyusu.
Flas back off...
"Nak, kondisi Asma tadi sempat menurun tapi untung dokter tepat waktu datang. Bibi tahu kamu sangat mencintai Asma begitupun kami. Tapi, apa kamu tak menyayanginya, Asma akan sangat tersiksa jika kita tetap memasang alat itu biarkan dia pergi dengan tenang,"
Rasanya dada Andrian seperti di hempit batu besar sangat sakit dan sesak. Andrian tahu, kondisi sang istri sangat lemah. Hanya alat itu yang bisa mempertahankan Asma masih ada. Tidak Andrian tidak akan melepaskan Asma kembali. Andrian yakin sang istri akan sembuh. Dua jam Asma dinyatakan meninggal tapi nyatanya Asma masih hidup walau jantungnya lemah. Andrian yakin ini mujijat dari Allah bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Walau, sudah beberapa kali pihak dokter menyatakan lebih baik melepas alat itu dari pada menyiksa Asma.
"Tidak bibi, Andrian yakin istriku kuat dia akan kembali,"
"Mau sampai kapan nak, ini sudah empat bulan. Kasihan Amar juga, dia butuh kasih sayang seorang ibu,"
"Cukup bibi, istriku pasti sembuh dan Amar tak butuh ibu pengganti!"
"Andrian.., "
Bibi Aisyah menjatuhkan air mata melihat keadaan Andrian yang seperti kehilangan arah. Bagaimana ini terjadi, apa bibi Aisyah sanggup. Hal aneh selalu terjadi, kadang Asma tak bernafas sesaat lalu muncul kembali. Begitupun tadi, hingga dokter menyarankan untuk melepas saja dari pada membuat pasien tersiksa. Tapi, Andrian pasti akan semakin mengamuk jika mengetahui semuanya.
Ini kah takdir cinta yang selalu di uji akan kesetiaan, pengorbanan dan keikhlasan. Melepaskan hal yang sulit bagi Andrian. Bahkan kondisi Andrian juga semakin menurun. Keluarga hanya tak mau Andrian jatuh sakit seperti bulan lalu, lalu siapa nanti yang akan menjaga Amar jika Andrian juga sakit.
Sungguh miris bukan!
"Sayang... "
Bersambung....
Jangan lupa Like, komen, hadiah dan Vote
__ADS_1
Terimakasih...