Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 15 Rumah sakit Medista!


__ADS_3

Asma terdim dengan tangan bergetar memegang selembar kertas berlogo rumah sakit.


Rasanya Asma tak bisa berkata apa-apa ketika dokter yang memeriksanya menjelaskan hasil tulisan dari selembar kertas putih.


Jantung Asma bahkan berdetak begitu hebat terlalu shok untuk mengetahui kebenaran yang nyata.


Jadi selama ini, rasa sakit itu! terjawab sudah. Apa yang harus Asma katakan pada sang suami. Tentang sakit, tentang kebenarannya. Apakah Asma sanggup menjalani semuanya.


Asma keluar dari ruangan sang dokter dengan tatapan kosong. Seakan dunia Asma sedang di hantam badai besar. Sanggupkah Asma meninggalkan sang suami di suatu hari nanti. Apakah Asma masih bisa melihat anknya atau.


*Apa sebelumnya ibu tidak merasakan apa-apa, kanker ini sudah sangat serius. Ini bukan stafium satu atau dua ini stadium akhir. Jalan satu-satunya ibu harus segera oprasi, ta... tapi.., kemungkinan juga resikonya sangat besar.


Apa ibu benar-benar tidak tahu, kalau ibu sakit! tapi dari hasil pemeriksaan sepertinya ibu rutin meminum obat penyakit ibu*.


Dada Asma terasa sesak mengingat penjelasan dokter. Asma jadi teringat akan keposesifan sang suami dan keluarganya. Air mata Asma semakin deras keluar. Bahkan Asma seolah tuli akan kepanikan orang-orang yang memandangnya.


"*Sayang sudah minum obat belum?"


"Sayang minum obatnya dulu, jangan dulu tidur."


" Ingat! jangan melakukan pekerjaan rumah. Abang tak mau sayang kelelahan,"


"Stop, sayang. Jangan nyiram tanaman, bagaimana kalau kamu kepeleset. Sudah, mulai sekarang gak boleh nyiram tanaman lagi*!"


Tangisan Asma semakin pecah ketika baru sadar akan sikap sang suami. Jadi ini alasan kamu bang, ke.. kenapa tak memberi tahu Asma. Ja.. jadi selama ini abang tahu semuanya, keluarga tahu. Tapi, hanya Asma yang tidak tahu! kenapa bang.


Ke.. kenapa abang menanggung sakit sendiriaan, kenapa tak berbagi. Asma tahu! jadi ini alasan abang selalu menangis di setiap sujud malam abang. Jika Asma bertanya, abang akan selalu jawab" Ingat dosa"


Akhhhh...


Asma menjerit merasakan sakit yang teramat. Bahkan Asma tak peduli dengan darah yang kembali keluar. Kenapa takdir lagi-lagi mempermainakan hidup gadis rapuh itu.


Ingin marah!


Tapi pada siapa Asma marah, pada suami kah atau keluarganya. Tapi Asma yakin ada alasan kuat yang membuat sng suami tak berkarta jujur.


Asma teringat akan cerita yang sempat Andrian ceritakan. Ketika ada seorang ibu hamil, tapi dokter memvonis kalau dia mempunyai penyakit berbahaya, apalagi sedang hamil. Jika baby itu di pertahankan maka akan membahayakan sang ibu. Tapi ibu itu tetap mempertahankan babynya walau nyawanya dalam bahaya.


"Sayang sikap si ibu itu menurut sayang bagaimana? "


"Bang, seorang ibu akan melakukan apapun demi anaknya. Mungkin Asma juga aan melakukan hal seperti itu jika Asma dalam posisi seperti itu. Apalagi baby ini baby yang sudah tujuh tahun Asma tunggu. Kenapa abang bicara seperti itu?"

__ADS_1


"Inikah alasan nya bang, kamu gak mau menghancurkan harapanku..,"


Lilir Asma tersenyum getir ketika setetes air dari atas membelainya. Lama kelamaan tetesan itu semakin banyak hingga membasahi tubuh lemah Asma.


Bibir Asma tersenyum merasakan dingin yang membekukan persendian tubuhnya. Tapi Asma tak peduli terus berjalan dengan tatapan kosong hingga darah yang mengalir di hidungnya tersapu oleh tetesan air hujan. Rasa sakit yang kian terasa membuat Asma seoalah ini akhir hidupnya.


Bayangan bersama sang suami, dari mulai masa sulit hingga hal terindah terekam jelas di pandangan Asma.


Nak, jangan marah jika ummi tak bisa menggendongmu. Jagalah abi untuk Ummi..


Jerit batin Asma hingga pandangannya blur dan.


Brak..


"Astagfirullah..,"


Lilur Andrian gemetar, hatinya sangat gelisah sekali mengingat sang istri yang tak kunjung menjawab teleponnya. Bahkan saking tak pokusnya Andrian menjatuhkan beberapa berkas ketika akan melakukan pertemuan kedua dengan kepala mandor pembangunan cabang lestorannya.


Riko yang melihat gelagat aneh dari bosnya sangat heran. Bahkan terlihat tak pokus saat kepala mandor menjelaskan.


"Tuan..,"


Riko benar-benar merasa aneh dengan sikap Tuannya dan itu membuat Riko kewatir.


Berkali-kali Andrian menelepon nomor sang istri tapi tidak aktif. Padahal baru beberapa menit nomornya masih aktif dan itu membuat Andrian semakin merasa cemas. Bahkan nomor keluarganyapun tak ada satupun yang mengangkat panggilan. Bahkan Andrian sampai menelepon telepon rumah tapi tetap saja tidak ada yang menjawab. Kecemasan dan rasa kewatir menggeregoti hati Andrian.


Entah kenapa hati Andrian tiba-tiba sakit dan merasa sesak.


"Tuan, ada apa? kenapa tuan terlihat gelisah?"


Andrian mengusap wajahnya kasar sangat bingung harus mengatakan apa.


Entah ini kebetulan atau apa, tapi Andrian benar-benar merasa takut akan terjadi sesuatu pada sang istri di saat dirinya tak ada di samping Asma.


"Tuan!"


"Ak.. aku takut Riko. Istri dan keluargaku tak ada satupun yang mengangkat panggilanku!"


"Ak.. aku takut terjadi sesuatu pada Asma!"


Riko terdiam, entah apa yang harus Riko katakan untuk menenangkan bos sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


"Tuan tenang dulu, istigfar. Lebih baik doakan semoga istri tuan baik-baik saja. Jangan kewatir, mungkin istri tuan masih ikut acara lamaran buat Fatimah."


Andrian tergugu, baru ingat sang istri mengirim pesan padanya. Meminta maaf jika menelepon tak di angkat artinya Asma masih sedang ikut berkumpul dengan keluarganya.


Ini sudah sore, apa Asma tak istirahat! pikir Andrian. Walau sang istri mengirim pesan seperti itu. Tetap saja hati Andrian merasa tidak ada yang beres. Perasaan cemas masih menghantui Andrian, karena tak mau terlalut dalam kecemasan Andrian memutuskan pergi ke masjid. Berdoa dan meminta petunjuk.


Jakarta.....


Semua keluarga Al-muzaky berpencar mencari keberadaan Asma. Bahkan paman Bayu dan paman Fahmi menggunakan kekuasaannya melihat CCTV di berbagai penjuru. Sedang para istri di suruh menunggu di rumah.


Paman Fahmi mendapat telepon dari anak buahnya kalau terlihat Asma masuk kedalam taxi menuju rumah sakit tanpa pikir panjang paman Fahmi langsung meluncur kesana.


"Mama, bagaimana ini. Kak Andrian terus menelepon!?"


"Biarkan, jangan di angkat."


Fatimah mengangguk, dalam situasi seperti ini. Andrian tidak boleh tahu sebelum Asma di temukan. Bahkan di luar hujan lebat membuat bibi Aisyah, Fatimah dan bibi Melati begitu cemas takut terjadi apa-apa pada Asma. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena para suami mereka menyuruh mereka tingga. Hanya doa yang bisa ketiga wanita itu lakukan.


Drett...


Suara telepon masuk membuat ketiga wanita berbeda generasi itu terkejut.


Bibi Aisyah membuang nafas kasar ketika melihat sang putra yang menelepon. Bibi Aisyah pikir, itu Asma ternyata Ali.


"Assalamualaikum, iya Al!"


"Apa!!!"


Pekik bibi Aisyah terkejut bahkan tubuh bibi Aisyah menjadi lemas. Jika saja bibi Melati dan Fatimah tidak menahan tubuh bibi Aisyah mungkin bibi Aisyah sudah ambruk.


"Dek, ada apa!"


Ucap Fatimah berbicara pada sang adik, karena melihat sang mama seperti tak kuat.


"*Cepat kerumah sakit, kak Asma pingsan!"


"Rumah sakit Medista*!"


Bersambung....


Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote....

__ADS_1


__ADS_2