Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 32 Jangan bawa dia pergi!


__ADS_3

Hari ini Andrian begitu bahagia mengawali hari barunya. Bahkan kini dia bisa tersenyum kembali ketika bekerja. Entah apa yang membuat Andrian berubah membuat semua karyawan nya merasa keheranan.


Sampai sekarang memang Andrian belum mengumumkan kesembuhan sang istri karena bagi Andrian belum saatnya. Andrian akan menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan kesembuhan istrinya. Biarlah orang menganggap bahwa istrinya masih koma karena Andrian melakukan itu semua bukan tanpa alasan.


Andrian merasa heran ketika tidak melihat Riko ada di tempat. Biasanya sang asisten selalu ada ketika Andrian datang. Bakan Riko juga tidak memberinya kabar jika tidak masuk.


Andrian menelepon Riko, tersambung. Namun, tak ada satupun teleponnya yang di jawab membuat Andrian merasa ada sesuatu yang terjadi.


Andrian pergi ke dapur menemui chef Arjun. Siapa tahu dia tahu kenapa Riko tak masuk.


"Chef Arjun,"


Chef Arjun yang merasa namanya di panggil langsung menghentikan aktivitas nya.


"Ada yang dapat saya bantu, Pak?"


Begitulah chef Arjun, walaupun mereka sahabatan tapi di dalam pekerjaan mereka tetap profesional.


"Apa kamu tahu, kenapa Riko tak masuk?"


"Mungkin istrinya sedang sakit, soalnya kemaren pak Riko menelepon meminta kakak saya ke apartemen nya."


"Hm, terimakasih infonya!"


"Sama-sama pak,"


Andrian kembali ke ruangannya ketika sudah mendapat jawaban.


Percakapan Andrian dan chef Arjun terdengar oleh Silvia dan Lida. Silvia merasa biasa saja toh itu bukan urusannya. Sedangkan Lida malah melamun memikirkan sesuatu.


Istri! sakit! kapan pak Riko menikah, bahkan tak ada satupun karyawan dan chef yang di undang, pikir Lida merasa bingung.


Lida memang orang super kepo apalagi tentang Andrian. Bahkan Lida berusaha mendekati Andrian saja sangat sulit apalagi mengetahui tentang pribadi yang lain.


"Apa Indria yang sakit!"


Monolog Andrian ketika sudah sampai di ruangannya.


Padahal hari ini Riko sudah membuat janji akan bicara sesuatu. Tapi, kenapa dia tak masuk.


Tak mau berpikir terlalu jauh, Andrian memutuskan berganti pakaian. Karena hari ini Jadwal Andrian mengajarkan beberapa resep baru.


...---...


Apartemen Riko....

__ADS_1


Entah harus bahagia atau sedih Riko bingung mengekpresikannya. Setelah mengantar dokter keluar Riko kembali masuk kedalam apartemen nya.


Sejenak Riko menghentikan langkahnya merasa ragu masuk kedalam kamar. Tapi, Riko harus menerima apapun yang akan terjadi.


Fiuhhhh...


Riko menghela nafas dalam sebelum benar-benar masuk.


Hati Riko merasa tercubit mendengar isak kan Indria. Perlahan Riko duduk di pinggir ranjang.


"R-Ria..."


"Maaf..."


"Kenapa harus ada hah, kenapa dia harus ada hiks ..."


"Maaf.."


"Maaf dan maaf, kata maaf mu tak akan bisa merubah semuanya. Dia ada, kenapa! aku tak mau hiks .. "


"Keluar kamu, kenapa kamu ada ...aku tak menginginkannya.. semua gara-gara kamu sialan.."


Indria mengamuk sambil memukul perutnya yang tak bersalah. Riko mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Kenapa anak tak berdoa itu yang jadi korban, harusnya dia.


"Hentikan Ria, kamu menyakiti dirimu sendiri..,"


"Cukup!"


Habis sudah kesabaran Riko, melihat kelakuan Indria yang terus memukul perutnya. Indria terdiam mendengar bentakan pertama kali dari Riko. Bentakan yang tak pernah Indria dapatkan dari sang ayah. Tubuh Indria gemetar merasa takut akan tatapan tajam Riko.


Ah....


Riko mengacak-acak rambutnya frustasi. Riko merasa bersalah karena sudah membentak Indria. Bahkan sampai Indria ketakutan.


"Maafkan aku.. maaf.. aku tak bermaksud membentak mu maaf..."


Lilir Riko menarik Indria ke dalam pelukannya. Walau Indria memberontak tapi Riko tetap memeluk Indria. Tak peduli seberapa kuat Indria menolak pelukannya.


"Maaf.."


Hanya kata maaf yang bisa Riko ucapkan sambil sesekali mencium puncak kepala Indria.


Lama kelamaan tenaga Indria melemah dan tak memberontak lagi. Hanya suara isakan saja yang tersisa. Mungkin Indria sangat lelah sendari tadi terus menangis.


Perlahan Riko melerai pelukannya karena merasa Indria sudah tenang. Pikiran Indria begitu kacau begitupun dengan Riko. Mereka hanya butuh tenang untuk menjernihkan semuanya.

__ADS_1


Indria memilih berbaring membelakangi Riko. Tak lama air mata Indria kembali keluar. Kini Indria menangis dalam diam, tapi Riko tahu kalau Indria menangis kembali.


Riko ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk Indria dari belakang. Riko tak peduli jika Indria akan menolaknya. Tapi di luar dugaan, Indria hanya diam saja dengan air mata yang terus keluar.


Riko mempererat pelukannya mencoba menenangkan. Berharap dengan sebuah pelukan Indria bisa tenang.


Bukankah perempuan memang seperti itu. Berkata pergi namun jangan. Hati dan pikiran yang selalu bertentangan. Hanya saja laki-laki harus peka akan posisi seperti itu. Jangan pernah tinggalkan walau sekeras apapun seorang istri menyuruh pergi.


Lama mereka dalam posisi seperti itu membuat Indria tertidur. Entah karena merasa capek karena menangis atau terlalu nyaman dalam pelukan.


"Nak, baik-baik di dalam. Papa janji akan berusaha tetap membuatmu lahir ke dunia. Papa bahagia atas kehadiran kamu. Jangan marah pada bunda ya. Karena semuanya salah papa."


"Bunda bukan tak menginginkan kehadiran kamu, tapi bunda terlalu kecewa pada papa. Terimakasih telah hadir..."


"Tapi, apapun yang terjadi. Papa akan merawat kamu walau tanpa seorang bunda. Papa akan berusaha membujuk bunda supaya kamu tetap lahir, jika setelah kamu lahir maafkan papa jika tak bisa membuat bunda tetap tinggal. Papa sayang kamu dan bunda bahkan lebih dari itu..."


Riko mengajak bicara calon anaknya di hadapan perut Indria. Sesekali Riko mengelusnya dengan sangat pelan karena tak mau menggangu tidur sang istri.


Tapi, tanpa Riko sadari Indria terbangun sendari tadi dan mendengar jelas setiap kalimat yang Riko ucapkan. Ada rasa sakit ketika Riko mengatakan akan merawat baby ini walau tanpa kehadirannya. Apa Riko akan melepasnya jika anak ini sudah lahir, harusnya Indria bahagia bukan, tapi kenapa malah sedih.


Indria tak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa seorang ibu. Itu sangat menyakitkan baginya. Karena Indria berada dalam posisi itu. Dimana dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu karena ibunya meninggal ketika dia berusia sepuluh tahun.


Riko terkejut ketika Indria terbangun dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


"Ada apa, kenapa menangis. Apa tidur kamu tidak nyaman. Maaf jika aku menggangu kamu. Ak..aku tak bermaksud..."


Entah apa yang harus Riko katakan dia jadi gelagapan sendiri. Seperti seorang pencuri yang ketahuan. Faktanya memang Riko mencium perut Indria.


Indria hanya diam tanpa suara dengan air mata yang mewakili perasaannya. Dia hamil dan tak mungkin pula bisa mendapatkan Andrian. Apa Indria harus menerima kehadiran anaknya dan Riko. Apa kurangnya laki-laki di hadapannya. Tak ada satupun kekurangan. Bakan selama tinggal pun Riko selalu memperlakukannya dengan sangat baik, walau Riko tak mengizinkannya keluar.


Tanpa kata Indria menangkup pipi Riko dan menatapnya dengan intens. Wajah ini memang sama tapi jika di lihat dari dekat ada sedikit perbedaan. Dia Rikardo suaminya yang berada dalam identitas kakak kembarnya Riko. Indria baru menyadari kalau ada tai lalat yang membedakan mereka berdua. Rikardo mempunyai tai lalat di ujung pelipisnya sedangkan Riko tidak mempunyai.


"R-Ria ada apa?"


Indria masih tak bergeming. Dia terus menatap Riko seolah sedang melukisnya di hati dan pikirannya. Seolah mengatakan dia orang berbeda.


"Ri..."


Deg...


Riko membulatkan kedua matanya ketika Indria memeluknya dengan sangat erat. Sangat erat seolah tak mau kehilangan.


"Jangan bawa dia pergi!"


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like Hadiah Komen dan Vote Terimakasih...


__ADS_2