Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 12 Asma, milik abang!


__ADS_3

Andrian merasa bersalah karena pulang malam. Dengan wajah lesu dan cemas Andrian buru-buru masuk kamar.


Walau sudah memberi pesan Andrian akan pulang terlambat pada sang istri tetap saja Andrian merasa bersalah.


Di bukanya perlahan pintu kamar sambil mengucapkan salam. Tak ada sahutan dari dalam karena Asma sedang melaksanakan sholat isya.


Andrian duduk di sisi ranjang guna menunggu sang istri selesai sholat. Rasa lelah terlihat jelas di wajah tampan Andrian. Entah apa yang membuat Andrian selelah itu, bahkan Andrian sesekali memijit keningnya guna menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


"Mas, baru pulang?"


Andrian mendongkak mendengar suara lembut sang istri yang bertanya sambil berjalan menghampirinya. Asma mencium punggung tangan sang suami lalu duduk di sisi sang suami tanpa melepaskan mukenanya.


Cup..


Asma mengecup pelipis sang suami sebelum benar-benar duduk.


"Apa satu kecupan sudah bisa menghilangkan rasa lelah abang?"


Andrian tersenyum mendengar ucapan sang istri. Dengan sekali gerakan kini Asma sudah berada di atas gendongan Andrian. Andrian berjalan ke arah shopa lalu duduk perlahan dengan sang istri langsung duduk di pangkuannya.


Asma membuka mukena kerudungnya lalu meletakannya di atas meja menyisakan bawahan mukena yang belum di buka.


"Belum sayang, malah kurang!"


Asma terkekeh melihat tingkah manja sang suami. Perlahan Asma menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya. Lalu menarik pelan hingga sebuah kecupan mendarat di kening Andrian cukup lama hingga Asma melepaskannya. Beralih pada kedua mata Andrian yang terpejam hingga seluruh wajah Andrian Asma kecup tanpa terkecuali hingga Asma daratkan kecupan terakhir di rahang sang Suami.


Kecupan lembut penuh tekanan mampuh membuat Andrian semangat kembali. Andrain seakan mendapatkan kekuatannya, rasa lelah yang tadi dia rasa seakan hilang tersapu kecupan hangat sang istri.


"Apa sekarang sudah hilang lelahnya?"


"Ya, terimakasih sayang,"


"Alhamdulillah, sama-sama bang. Apa terjadi sesuatu hingga kelelahan seperti ini?"


"Ada anak kecil yang menangis meminta nasi goreng tapi harus di bentuk kaya kartun seperti yang dia inginkan. Abang bilang, kalau di bentuk seperti itu tak ada. Hingga anak kecil itu terus merengek membuat abang tak tega. Abang sendiri berusaha membuatkannya namun selalu gagal sampai puluhan kali hingga akhirnya abang bisa walau harus kelelahan dan bentuknya tak sempurna."

__ADS_1


Huh...


Andrian membuang nafas kasar sambil membuka kancing leher kemejanya sampai tiga kancing terbuka memperlihatkan dada bidang Andrian.


"Apa dia seorang gadis yang memakai penutup kepala berwarna pink?"


"Kok sayang tahu!"


"Dulu waktu Asma kerja di lertoran abang, Asma yang membuatkan dia nasi goreng seperti itu,"


"Pantas saja bocah itu maksa, karena katanya disini pernah ada menu berbentuk seperti itu,"


"Apa abang sudah sholat?"


"Sudah sayang, tadi sebelum pulang abang sholat isya dulu di ruangan abang, kenapa, hm!"


Asma tak menjawab tapi Asma sibuk mengelus-elus dada bidang sang suami yang terekspost. Entah kenapa Asma menginginkan sang suami malam ini.


Semenjak hamil sang suami tak menyentuhnya karena takut terjadi sesuatu pada cabang babynya. Kini usia kandungan Asma sudah tujuh bulan, Asma yakin kandungannya pasti sudah kuat.


"Sayang apa kamu menginginkan sesuatu!?"


Asma hanya menunduk mendapat pertanyaan seperti itu. Sangat malu jika mengatakannya, walau sebenarnya sah-sah saja seorang istri meminta duluan. Tapi, Asma bukan tipikal orang yang langsung bicara melainkan menberi sebuah isyarat lewat sentuhannya, kalau Asma menginginkan sang suami malam ini.


Rasa lelah yang sempat membuat stamina Andrian turun kini kembali naik ketika tangan sang istri tidak diam. Dari tadi mengelus dadanya bahkan semua kancing kemeja Andrian sudah terbuka, entah kapan Andrian tak menyadarinya.


Andrian paham akan keinginan sang istri yang menginginkannya, begitupun Andrian yang sudah lama menahannya demi menjaga sang istri dan calon babynya. Tapi, Andrian sedikit takut, jika nanti malah menyakiti sang istri.


"Apa nanti tidak akan menyakiti baby?"


"Tidak tahu, tapi usia kandungan Asma sudah besar dan kuat mungkin tidak akan!"


"Apa sayang begitu menginginkan abang?"


"I.. iya, tapi memang abang tidak ingin?"

__ADS_1


"Sangat sangat ingin sayang, tapi abang cuma takut kalian kesakitan!"


"Coba aja dulu, kalau Asma kesakitan Asma akan bilang. Ta.. tapi, pelan-pelan ya!"


Cup....


Karena tak bisa menahan lagi akhirnya Andrian mencium bibir sang istri penuh kelembutan dan sedikit tekanan. Karena tak ingin menyakiti sang istri dan calon babynya dengan hati-hati Andrian menidurkan sang istri di atas ranjang.


Dengan penuh cinta dan kasih sayang Andrian meberikan kenikmatan surga dunia yang tak bisa di jabarkan oleh pasangan halal itu. Berusaha mengarungi samudra terdalam mencari titik di mana bisa mengungkapkan segala rasa yang ada.


Saling memadu kasih di iringi lantunan dzikir agar apa yang dua inshan itu lakukan menjadi pahal dan pengugur dosa-dosa kecil. Saling memberi kenikmatan tanpa henti dengan ungkapan cinta yang tiada henti. Sampai dimana Andrian mendapatkan kenikmatan luar biasa setelah bekerja keras. Begitupun apa yang Asma rasakan. Walau ada sedikit nyeri tapi tak membuat Asma kesakitan yang ada Asma merasa bahagia bisa memuaskan sang suami. Ungkapan cinta sang selalu keluar dari bibir sang suami membuat Asma hanya merasakan kenikmatan tidak ada yang lain.


"Terimakasih sayang, apa abang menyakiti kalian?"


Asma hanya bisa menggeleng dengan bibir tersenyum sambil mengusap rahang sang suami yang masih berada di atasnya seolah tak rela jika sang suami melepaskannya. Asma menginginkan lebih dari sekedar satu kali berlayar.


Entah apa yang terjadi pada Asma kenapa dirinya menginginkan lebih pada sang suami. Padahal biasanya Andrian yang selalu seperti itu.


Entahlah Asma juga tidak tahu, Asma hanya merasa ini adalah yang terakhir baginya menyenangkan hati sang suami. Asma tidak tahu hari esok dan seterusnya apa yang terjadi dengan dirinya.


Bahkan Andrian juga di buat heran kenapa sang istri menginginkan lebih padahal Asma akan selalu meminta berhenti tapi sekarang ada yang berbeda. Entahlah Andrian tidak tahu, Andrian pikir mungkin karena hormon kehamilan apalagi selama ini Asma jarang meminta hal-hal aneh kecuali buah dan martabrak.


Walau begitu, Andrian juga menginginkannya walau Andrian akan terus melakukannya pelan karena takut menyakiti anaknya.


"Sa.. sayang...,"


"Asma milik abang!"


Pada akhirnya Andrian dan Asma kembali melakukan kegiatan yang terus menghapus setiap dosa kecil yang mereka lakukan.


Memadu kasih dengan pasangan halal adalah sebuah pahala yang begitu indah dan diridhoi. Berbeda dengan yang bukan halal baginya, setiap sentuhan dan perbuatan yang ada akan menjadi simpanan dosa di akhirat nanti.


Naudzubillahimindzalik.....


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote...


__ADS_2