Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 46 Perubahan sikap!!!


__ADS_3

Sepulang dari jalan-jalan, Andrian dan Asma langsung mandi. Dan melaksanakan sholat asar berjamaah.


Asma mencium punggung tangan Andrian begitu lama. Baru Asma mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Andrian.


"Kenapa?"


"Anna Uhibuka Fillah,"


Kini Andrian yang tersenyum pada Asma lalu membawa Asma pada pelukannya. Semenjak sadar dari koma banyak banget perubahan dari Asma. Asma kini mulai berani mengungkap kata-kata romantis pada Andrian.


Andrian mengecup puncak kepala Asma berkali-kali sampai Asma sendiri merasa geli.


"Kenapa, hm?"


Andrian kembali mengulang pertanyaan tadi yang belum sempat Asma jawab. Asma menengadah guna melihat wajah tampan sang suami. Asma menangkup pipi Andrian lalu membawanya mendekat.


Cup ...


Asma mengecup bibir Andrian lalu melepaskannya kembali.


"Anna Uhibuka Fillah,"


Asma kembali mengulang ucapan tadi yang belum di balas oleh Andrian.


"Jangan menggoda Albi sayang,"


"Asma gak menggoda, kalau Albi tergoda itu salah Albi,"


Ucap Asma santai sambil terkekeh membuat Andrian gemas saja. Asma begitu di buat jatuh cinta pada suaminya. Apalagi mendengar cerita dari Silvia bagaimana keadaan Andrian saat dia koma. Itulah yang membuat Asma lebih berani mengungkap isi hatinya hanya untuk mengobati luka rindu yang masih membekas.


Andrian melirik ke arah ranjang di mana putranya masih tidur. Andrian ingin sekali menerkam sang istri saat Ini juga. Tapi, Andrian takut putranya terbangun.


Andrian membuka mukena yang masih di kenakan Asma hingga tergerai lah Surai indah milik Asma.


Andrian bersyukur Allah masih memberi ke kesempatan untuknya. Di mana Asma masih berada di sisinya.


"Albi,"


"Hm,"


Suami istri itu masih dalam posisi sama, berpelukan menikmati suasana sore.


"Besok boleh Asma belanja?"


"Belanja apa?"


"Baju Am, baju-baju nya sudah gak muat di badannya."


"Boleh, tapi Albi gak bisa antar. Besok Albi sibuk menyiapkan sajian buat acara pesta!"


"Gak apa, nanti Asma sama bibi saja."


"Tapi, jangan kecapean ya,"


"Siap suamiku,"


Asma mengeratkan pelukannya pada Andrian. Rasanya Asma tak ingin melepaskan. Entah kenapa rasanya Asma ingin selalu menempel pada Andrian.


Entah takut kehilangan atau ada hal lain yang membuat Asma bertingkah seperti itu.

__ADS_1


"Umi .."


Amar bergumam sambil menggeliat bangun tidur. Amar mengucek kedua matanya sambil menatap kedua orang tuanya.


Andrian mengerutkan kening, biasanya Asma akan langsung menghampiri Amar. Tapi ini malah bermalas semakin memeluknya.


"Sayang, Am sudah bangun tuh,"


"Iya,"


"Gak langsung di mandikan?"


"Sama Albi saja ya,"


Ucap Asma Lilir sambil menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa Asma malas sekali.


"Ya sudah, tapi lepasin dulu pelukannya, Amar tuh merengek,"


"Gak mau!"


Andrian melongo mendengar jawaban istrinya. Kenapa seperti itu, ada apa? batin Andrian bingung.


"Sayang, bagaimana Albi bisa mandikan Amar kalau sayang terus peluk Albi,"


Seketika Asma melepas pelukannya dengan bibir mengerucut. Andrian tak ambil pusing dengan sifat istri nya yang menurut Andrian aneh.


Andrian langsung menggendong Amar dan membawanya ke kamar mandi.


"Am mandi sama Abi ya,"


"iya Abi,"


"Abi, gosok gigi .."


Andrian menepuk jidatnya karena lupa Amar belum gosok gigi. Dengan hati-hati Andrian membantu Amar gosok gigi. Sudah selesai Andrian langsung membilas Amar.


"Sudah selesai,"


"Ha .. ha ... Abi ada gelembung,"


Amar terkekeh mengusap gelembung yang ada di rambut dan kening Andrian. Andrian terkekeh juga karena dia belum bisa seperti Asma memandikan Amar.


Ternyata memandikan anak juga tak segampang yang di bayangkan. Pantas saja seorang ibu derajatnya lebih di utamakan dalam berbakti.


Seperti halnya yang sudah di jelas kan dalam sebagian hadist. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:


يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ


“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).


Syaikh Fadhlullah Al Jilani, ulama India, mengomentari hadits ini: “ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada 3x kali bagian dari yang didapatkan ayah. Hal ini karena kesulitan yang dirasakan ibu ketika hamil, bahkan terkadang ia bisa meninggal ketika itu. Dan penderitaannya tidak berkurang ketika ia melahirkan. Kemudian cobaan yang ia alami mulai dari masa menyusui hingga anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Ini hanya dirasakan oleh ibu” ( Dinukil dari Fiqhul Ta’amul ma’al Walidain, hal. 17).


Al Harits Al Muhasibi juga menukil ijma’ bahwa kedudukan ibu lebih utama dari ayah. Walaupun ada sebagian ulama yang menukil adanya khilaf dalam hal ini. Yaitu sebagian ulama mengatakan kedudukan ayah dan ibu sama, dan ini disandarkan kepada pendapat Imam Malik. Namun insya Allah yang tepat adalah klaim ijma’ karena tegasnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut.


Mengingat hadist itu membuat Andrian merasa kecil. Karena ia belum bisa berbakti pada ibunya yang sudah tiada. Andai waktu bisa Andrian putar, Andrian ingin meminta maaf atas segala kesalahannya.


"Abi ..."


Rengek Amar membuat Andrian tersentak kaget dalam lamunannya.

__ADS_1


"Ya Allah nak, maafkan Abi,"


Andrian terkekeh ketika dia tanpa sadar salah memasukan baju bagian lengannya malah Andrian masukan ke arah kepala.


"Anak Abi sudah ganteng,"


Cup ...


Andrian mencium puncak kepala Amar. Lalu Andrian menggendong Amar keluar dari kamar tanpa peduli Asma yang dari tadi cemberut.


"Nenek!!!"


Teriak Amar melihat bibi Aisyah yang sedang membuat kue.


"Wah cucu nenek sudah ganteng, mau?"


"Mau mau .."


Amar mengambil potong kue yang di berikan bibi Aisyah.


Bibi Aisyah memang sedang membuat kue permintaan suaminya. Dan mungkin sebentar lagi suaminya akan pulang.


"Bibi titip Amar ya,"


"Iya Ndri, Amar sama bibi saja,"


Sesudah menitipkan Amar pada bibi Aisyah, Andrian kembali ke kamar guna menemui sang istri.


Cklek ...


Andrian membuka pintu hati-hati karena ingin tahu apa yang di lakukan istrinya.


Deg ...


Andrian terkejut melihat istrinya menangis, dengan cepat Andrian mendekat.


"Sayang, kamu kenapa?"


Tanya Andrian khawatir, sambil membalikan tubuh Asma agar menghadapnya. Perasaan tadi baik-baik saja kenapa sekarang menangis, pikir Andrian bingung.


"Sayang hey, kenapa?"


"Albi gak sayang lagi sama Asma!"


"Hah!"


Andrian terperanjat kaget mendengar ucapan Asma.


"Tuh, Albi melotot hiks ...,"


"Sayang eh, kamu kenapa? Albi hanya terkejut. Maafkan Albi jika ada salah?"


Andrian memeluk Asma yang malah menangis kencang membuat Andrian kebingungan.


Aneh! ada apa dengan istriku!


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, dan Vote Terimakasih ....

__ADS_1


__ADS_2