Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 38 Ketika suami masak!


__ADS_3

16:00


Andrian baru pulang sambil membawa buket mawar dan Martabat kesukaan sang istri. Andrian ingat betul ketika sang istri dulu masih hamil, selalu ingin makan martabak.


Sedangkan Bagas masih di jalan, karena jarak Lestoran dia sedikit lebih jauh dari pada lestoran milik Andrian.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam bang,"


Asma mencium punggung tangan sang suami, begitupun Andrian mencium puncak kepala sang istri.


"Bagaimana hari ini sayang, apa saja yang kalian lakukan. Am dimana?"


"Satu-satu dong bang, yang mana dulu yang harus Asma jawab?"


"Am dimana?"


"Am sedang di mandikan sama Wina,"


"Terus!"


"Hari ini Alhamdulillah baik bang, Asma gak melakukan apa-apa. Kamu hanya mengobrol di ruang tamu sambil Nemani Am main."


"Pantas saja mainannya masih berantakan!"


"Maaf!"


"Nanti Abang bereskan, nih buat istriku tercinta,"


Pipi Asma merona ketika mendapat sebuah buket bunga dari sang suami.


"Terimakasih bang,"


"Sama-sama, ini Abang juga beli martabak kesukaan kamu!"


"Loh kok satu, buat Wina mana?"


"Udah Abang taruh di meja makan, masa Abang bawa kesini!"


"Kirain,"


"Ya sudah, Abang mandi dulu ya. Gerah, ini juga mau magrib."


"Sepertinya Bagas baru datang,"


"Abang mandi dulu,"


Andrian langsung melesat ke kamar mandi sedang Asma langsung menyiapkan pakaian sang suami. Walau masih sakit tapi cukup untuk Asma berdiri beberapa menit. Apalagi cuma menyiapkan baju doang.


"Loh sayang, biar Abang saja!"


"Gak pa-pa, ini masih bisa. Ayo pakai bajunya,"


Andrian langsung meraih baju yang sudah sang istri ambilkan lalu memakainya.


"Terimakasih sayang, martabak kok belum di makan?"


"Temenin!"


Andrian tersenyum merasa bahagia sang istri bermanja padanya. Andrian bukan tak ingat dengan putranya tapi pasti putranya sedang dengan tantenya.


Dengan sabar Andrian menyuapi sang istri yang begitu lahap. Seakan Asma sudah lama tak makan martabak. Entah kenapa Asma sangat suka makanan satu ini.


"Minum dulu sayang,"

__ADS_1


Andrian memberikan minum pada sang istri. Tak terasa waktu sudah memasuki magrib.


Andrian menjadi imam untuk sang istri. Mereka sholat berjamaah. Sudah selesai, Andrian dan Asma keluar ternyata Wina dan Bagas juga baru keluar dengan Bagas menggendong baby Am.


"Abi... umi.."


Bocah itu berteriak melihat kedua orang tuanya yang menghampirinya. Andrian langsung menggendong baby Am dari gendongan Bagas.


"Dek, gabung saja sama kak Asma. Biar mas yang menyiapkan makan malam."


"Tapi mas kan baru pulang, pasti cape!"


"Gak apa, adek lebih baik duduk di sini!"


Kalau sudah begini Wina tak bisa membantah lagi. Membiarkan Bagas masak buat makan malam.


"Putra Abi main apa?"


"Main logo bi.."


"Oh Lego,"


Andrian bermain dengan sang putra menyusun lego-lego. Sudah bermain Lego mereka main menyusun fazel-fazel.


Andrian begitu kompak sekali bersama Am, kadang mereka tertawa ketika Lego mereka berantakan kembali karena tersenggol oleh lengan Am.


"Mi lapell.. "


Baby Amar menyudahi mainannya dan berlari pada sang umi meminta makan. Di usia Am yang menginjak satu tahu satu bulan memang Am sudah tak minum Asi lagi, tapi berganti dengan susu dan biskuit.


Jika Am bilang lapar tandanya Am ingin biskuit dan susu.


"Am lapar, sini sama Abi ambil makanan Am,"


"Kita seperti ratu saja, lihatlah para suami yang menggantikan kendali kita,"


"Ha...ha.. iya, sekarang aku faham akan ucapan kamu tadi siang!"


"Ucapan yang mana?"


"Jangan belajar padaku, tapi belajarlah pada pasangan kita sendiri. Kaji bagaimana sifat dan sikap dia. Pelajarilah hal yang di sukai sifat dan sikapnya jangan bertentangan. Kita menikah belajar untuk menerima, memahami, menjaga, mencintai. Aku yakin dia tak akan pernah berpaling dari kita. Namun, jika kita sudah berusaha yang terbaik, maka jangan mengeluh tetap syukuri karena aku yakin suatu saat nanti Allah akan gerakan hatinya untuk tetap melihat kita bukan pundak lain,"


Asma tersenyum, Wina masih mengingat perkataannya. Bahkan kalimat itu dengan jelas Wina mengucapkannya. Seakan itu kata-katanya sendiri.


"Iya, kita hanya perlu mensyukuri nya saja!"


"Iya, aku sangat bersyukur bisa bersanding dengan Bagas,"


"Makanan sudah siap, ayo kita makan..."


Allahuakbar... Allahuakbar....


"Adzan isya, kita sholat dulu berjamaah lalu makan,"


Ucap Andrian tiba-tiba muncul sambil menggendong baby Amar yang belepotan habis makan biskuit.


Bagas hanya mengangguk saja mengiyakan, merekapun sholat berjamaah dengan Andrian menjadi imamnya.


Sedangkan di tempat lain, Riko baru pulang dari lestoran dan singgah sebentar di suatu tempat. Lalu sesudah urusannya selesai Riko langsung pulang ke apartemen.


"Assalamualaikum .."


Tak ada jawaban dari Indria membuat Riko menyerngit bingung. Kemana Indria, pikir Riko.


Riko langsung bergegas masuk kedalam kamar mencari Indria takut terjadi apa-apa pada istrinya.

__ADS_1


"Ria... ria.. kamu di mana?"


Riko berteriak memanggil istrinya sambil melemparkan tas ke atas shopa. Riko takut terjadi sesuatu pada istrinya. Riko mencari Indria di setiap sudut kamar bahkan kamar mandi dan balkon ikut menjadi tempat pencarian tapi Riko tak mendapati sang istri. Seketika ketakutan menghantui Riko takut kalau Indria kabur dari apartemen.


"Ri..ria kamu dimana.. Ria.."


"Ardo ..."


Deg...


Riko langsung berbalik melihat istrinya berada di ambang pintu sambil memegang pisau. Bukannya takut Riko dengan cepat menghampiri Indria lalu memeluknya dengan erat sampai Indria menjatuhkan pisau yang dia pegang.


"Aku pikir kamu pergi.."


"Aku panik, tak ada kamu, aku mohon jangan pergi.."


"Tadi kamu kemana, aku mencari tak ada. Aku mohon jangan pergi.."


Hati Indria mencelos mendengar nada ketakutan Riko, nafasnya begitu memburu. Bahkan Indria bisa mendengar detak jantung Riko yang tak terkontrol.


"Ak..aku di sini, gak kemana-mana.."


Bisik Indria mencoba menenangkan. Sebegitu takutnya Riko kehilangan dirinya. Ada kehangatan di hati Indria karena begitu besar di cintai.


Lama mereka dalam posisi seperti itu membuat kaki Indria pegal. Tak lama Riko melepas pelukannya. Lalu memegang bahu Indria.


"Dari mana, aku pikir kamu pergi?"


"Aku tadi masak, tiba-tiba kebelet pipis. Jadi tadi menggunakan kamar mandi yang ada di dapur. Kalau di kamar kejauhan gak kuat nahan. Jadi aku gak tahu kamu pulang, pas aku sudah selesai pipis mau lanjutin potong buah aku terkejut mendengar kamu berteriak jadi aku langsung lari,"


"Kamu masak!"


"Iya,"


"Kan sudah aku bilang jangan melakukan apapun, nanti kamu kecapean. Bagaimana dengan baby?"


"Gak apa-apa kok, aku cuma mau menyiapkan kamu makan mal... oh ya Tuhan..."


Pekik Indria langsung berlari ke dapur membuat Riko merasa jantungan takut Indria jatuh.


"Oh my good, gosonggg...."


Indria merasa sedih, ini pertama kalinya dia menyiapkan makan untuk Riko tapi lihat hasilnya.


Riko faham apa yang di rasakan Indria, dia pasti kecewa pada dirinya sendiri. Bagi Riko,. Indria mau menerima pernikahan ini saja sudah cukup. Perlahan Riko menarik Indria ke dalam pelukannya.


"Sudah jangan sedih, kan masih ada hari esok. Sekarang kamu duduk biar aku yang masak."


"Ar.."


"Sudah!"


Indria hanya pasrah, dia duduk di kursi yang Riko sediakan. Indria terus memperhatikan setiap gerakan Riko memasak. Tangannya begitu lihai seakan ini sudah biasa.


"Seksi and hot,"


"Apa kamu bilang sesuatu?"


"Ah.. eng.. enggak,"


Elak Indria cepat pura-pura pengupas buah. Indria dalam hati merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa mulutnya memuji Riko dengan mata menatap kagum Riko. Bahkan kali pertama Indria merasa jantungnya berdebar.


Bersambung....


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2