
Tubuh tinggi yang begitu gagah terlihat menyedihkan. Bahkan deraian air mata tak kunjung surut keluar dari pelupuk mata sipitnya. Menenggelamkan penglihatan yang mulai blur oleh genangan bulir bening yang terus keluar berjatuhan. Bahkan sampai menetes pada baby mungil yang di dekapnya erat. Saking eratnya sampai membuat baby yang masih merah terbangun dari tidurnya.
Andrian menjatuhkan tubuhnya di hadapan brankar sang istri yang hanya diam dengan mata tertutup. Bahkan tubuh Andrian bergetar hebat menahan isak tangis supaya tidak keluar.
Bahkan baby mungil yang harusnya mendapatkan perawatan Andrian dekap erat. Andrian seolah tak mau anaknya pergi.
Ea.. ea...
Baby itu terus menangis seoalah merasakan kesedihan yang abinya rasakan. Baby itu seolah memanggil sang ummi untuk kembali.
"Sa.. sayang.., a.. apa kamu tak mendengarnya! anak kita menangis..,"
"Ak.. aku mohon bangunlah..,"
Suara Andrian begitu tercekat, sangat sulit untuk meluapkan segala rasa di dada. Apa ini akhir dari kisah mereka. Kenapa! di saat ada baby mungil yang terlahir kenapa harus Asma yang pergi. Sanggupkan Andrian membesarkan putranya. Mendidik, memberi cinta dan kasih sayang seperti seorang ibu pada anakanya.
Sanggupkah Andrian menjalani hari-harinya tanpa sang istri. Kenapa seperti ini, kenapa Allah tak memberi kesempatan.
Kenapa Allah uji Andrian sedemikian rupa, kenapa.
Orang yang selalu ada, menemani, membingbing, menasehati. Siapa yang akan menasehati Andrian ketika lalai. Siapa yang membingbing Andrian ketika hilang arah. Andrian belum sekuat itu harus melepas sang istri.
Apalagi ada malaikat kecil yang tetus menangis seolah merasakan kesedihan abinya.
Anak dan bapak itu terus menangis seakan sedang merayu malaikat maut untuk berbaik hati membantu memohonkan pada Allah untuk mengembalikan Asma. Sungguh siapapun yang melihatnya akan merasa sesak.
Bahkan alampun ikut bersedih di luar sana, membasah bumi yang kering. Ada apa dengan semua ini.
Andrian dengan gemetar menaruh anaknya di lengan sang istri yang tak berdaya. Anak bergerak tak enak seakan mencari sesuatu sumber kehidupannya dengan tangis yang masih sama. Andrian membaringkan tubuhnya memeluk anak dan istrinya. Sungguh miris bukan!
__ADS_1
Bahkan para malaikatpun malu melihat apa yang Andrian lakukan. Tangisan baby itu seakan mengguncang alam langit. Bagaimana pungkin baby itu harus kehilangan sosok ratunya. Bahkan baby itu belum merasakan belain kasih sayang seorang ummi.
Harapan dan impian seakan terhapus, untuk membangun surga sama-sama meraih keridhoan Allah.
Apa Andrian harus sendirian, melanjutkan bangunan itu. Apa Andrian sanggup atau bangunan itu malah semakin roboh karena pemakunya tak ada.
Keluarga Al-muzaky di luar sana semuanya menangis. Tangisan baby mungil dan Andrian begitu meyayat hati keluarga Al-muzaky. Sungguh mereka tak kuat mendengar ini semua.
Semuanya seakan mimpi buruk bagi mereka. Baru saja keluarga Al-muzaky merasakan kebahagiaan karena Fatimah sebentar lagi akan menikah. Tapi, nyatanya Allah sisipkan kesedihan yang tiada tara menyelimuti keluarga Al-muzaky.
Amira sahabat Asma menangis di pelukan suaminya, Arman. Amira tak meyangka, sahabatnya akan secepat ini pergi. Baru saja Asma merasakan kebahagiaan kenapa Allah malah mengambilnya.
Begitupun Wina, bagai orang kesetanan mendengar kabar Asma. Sahabat yang selalu ada untuknya menemani dan memahami dirinya. Kini Asma pergi, siapa yang akan memahami Wina jika Asma tak ada. Satu-satunya orang yang Wina punya hanya Asma kenapa Allah sekejam itu mengambilnya.
Baru dua tahun di tinggal sang ayah kenapa sekarang harus sahabatnya.
Itu semua menjadi pukulan sangat besar bagi Wina.
Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jika Allah sudah mengkehendaki.
"Maaf, pak bu. Ini sudah satu jam, kami harus segera mencabut alat-alat medis yang ada di tubuh pasien. Dan, maaf, kasihan juga buat almarhum jika seperti itu,"
"Maaf dok, apa tak bisa membiarkan dulu menantu saya menerima semuanya. Di dalam di kunci, saya takut jika kita memaksa menantu kami akan semakin mengamuk!"
Paman Fahmi menjelaskan dengan hati-hati takut memang pihak rumah sakit tidak mengizinkan.
Para dokter menghela nafas dalam sangat bingung. Di sisi lain mereka juga merasa sedih dengan apa yang terjadi. Para dokter sudah melakukan yang terbaik tapi, nyatanya Allah berkehendak lain.
Tapi, saat Andrian siuman dan menanyakan keberadaan istri dan anaknya. Andrian merasa terpukul dengan apa yang dokter ucapkan kalau sang istri sudah pulang sekitar dua jam yang lalu ketika Andrian masih pingsan.
__ADS_1
Andrian mengamuk dan mengusir semua tim medis keluar dari ruangan oprasi. Bahkan Andrian bak orang kesetanan membentak dan mengusir semuanya. Lalu Andrian mengunci pintu dan menutup rapat semua penutup.
Semuanya seakan mimpi burul bagi Andrian, jiwa Andrian langsung terguncang hebat mengetahui kenyataan yang ada.
Bahkan Andrian dengan sadisnya memasang kembali alat medis yang baru sebagian dojter melepasnya. Andrian yakin sang iatri masih hidup dia tak akan meninggalkannya.
Cintanya tak akan pergi, Asma tak akan sejahat itu meninggalkan Andrian.
Andrian tahu itu, istrinya tidak mungkin pergi. Sampai kapapun Andrian tidak akan mempercayainya. Semuanya bohong, semuanya palsu.
"Sayang bangunlah, lihat anak kita terus menangis. Bagaimana cara aku menenangkannya. Tolong bantu aku, bantu aku untuk menenangkannya."
Lilir Andrian gemetar mengelus wajah pias sang istri. Hati Andrian sangat hancur melihat anaknya terus menangis seakan mencari sumber kehidupannya.
Apa Andrian sudah gila, apa yang Andrian lakukan. Mungkin iya! nyatanya Asma yang sudah membuat Andrian tak waras.
Andrian tidak tega melihat anaknya terus menangis. Dengan gila Andrian membantu anaknya meraih sumber kehidupannya. Bagaimana mungkin Andrian setega itu.
Raga tak bernyawa hanya diam dengan apa yang kedua orang itu lakukan. Andrian sedikit menyunggingkan senyum ketika melihat anaknya meraup habis sumber kehidupannya. Padahal tak ada satupun tetes sumber kehidupan yang keluar tapi baby itu perlahan mengecilkan tangisannya ketika sudah mendapat apa yang dia mau.
"Sa.. sayang lihatlah anak kita. Dia ingin kamu, aku mohong kembalilah.., jangan siksa aku dan anak kita hiks..."
Andrian kembali menangis melihat anaknya dengan lahap meraih sumber kehidupan walau itu tak ada setetes pun yang keluar.
Ketukan pintu Berkali-kali tak Andrian hiraukan bahkan wajah Andrian kembali mengeras. Takut, semua orang memisahkan Asma dari dirinya dan sang anak. Andrian tak akan membiarkan itu. Asma miliknya dan milik sang anak. Tidak ada yang boleh memisahkan mereka, tidak ada yang boleh mengambil Asma.
Andrian seperti orang tak waras memeluk sang anak dan istrinya takut orang-orang memisahkan mereka.
"Ya Allah jangan pisahkan kami, aku mohon.. Mereka jahat, mereka ingin mengambil istriku!"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote...