
Andrian di buat kelimpungan dengan sikap aneh Asma. Bahkan hari ini Andrian harus berangkat kerja jadi tidak jadi. Karena Asma menahannya bahkan sampai merajuk dan menangis.
Asma tak mau di tinggal sedikitpun oleh Andrian bahkan Asma cemburu ketika Andrian main dengan Amar.
"Ya Allah, ada apa dengan istriku ini,"
Gumam Andrian melihat Asma yang merajuk bahkan mogok makan. Terpaksa Andrian lagi-lagi menitipkan Amar pada bibi Aisyah dan bibi Melati. Karena Andrian harus membujuk istri tercintanya dulu.
Sedang bibi Aisyah dan bibi Melati saling pandang lalu tersenyum. Mereka berdua seakan tahu apa yang membuat Asma bersikap begitu.
"Sayang .."
Andrian menghampiri sang istri yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Makan dulu ya, dari pagi sayang belum makan."
Bujuk Andrian sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Asma. Tapi, Asma malah menahannya.
"Ayolah sayang, nanti kamu sakit. Kalau sayang sakit siapa yang akan jaga Amar kalau Albi pergi!"
"Albi mau pergi hiks ..."
Lilir Asma bergetar sambil menggigit bibir bawahnya. Andrian tertegun lagi-lagi Asma menangis. Entah apa yang terjadi pada Asma dari ke maren sikapnya berubah dan mudah sensitif.
"Maksud Albi pergi kerja,"
"Gak boleh, Albi gak boleh pergi hiks ..."
Asma malah meraung menangis membuat Andrian jadi kelabakan sendiri. Andrian memeluk Asma karena bingung harus bicara apa lagi. Yang ada Asma malah semakin menangis.
Lama Asma menangis, perlahan tangisan itu berhenti. Asma juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa dia jadi cengeng begini. Tapi, Asma sendiri tak bisa mengendalikannya. Pengennya selalu nempel pada Andrian tak mau jauh-jauh. Entah karena takut kehilangan atau ada hal lain.
"Sekarang makan ya,"
Asma mengangguk patuh bak anak kecil. Dengan telaten Andrian menyuapi Asma hingga habis. Mungkin karena lapar atau memang lagi doyan.
Sudah selesai Andrian menyimpan piring kotor dan gelasnya di atas naskah. Andrian memegang dagu sang istri lalu mengangkatnya.
Andrian harus bicara dari hati ke hati, jangan sampai terpancing emosi akibat merajuknya Asma. Karena Andrian tahu, wanita adalah makhluk yang paling unik se dunia. Sifatnya sulit di tebak, hanya dengan kelembutan mungkin Andrian akan tahu jawabannya.
Sejatinya perempuan memang suka seperti itu. Bicara baik-baik dari hati ke hati, karena perempuan selalu menggunakan perasaan dari pada pikiran.
"Coba katakan pada Albi, kenapa?"
Asma menggelengkan kepala karena dia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri. Membuat Andrian mengerutkan kening.
Andrian harus hati-hati dalam bicara jangan sampai menyinggung perasaan Asma. Andrian hanya sedang berusaha memahami apa yang di inginkan istrinya. Jangan sampai gara-gara ini jadi pertengkaran.
"Apa Albi ada salah?"
"Terus?!"
Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang Andrian dapatkan. Membuat Andrian semakin bingung.
Lama mereka saling diam mencerna apa yang terjadi.
"Sayang, apa ada sesuatu yang ingin sayang sampaikan?"
Andrian mencoba menelusuri apa yang di inginkan istrinya. Karena sulit bagi laki-laki memahami sifat diam dan merajuknya perempuan.
Asma mengerutkan kening mencoba berpikir apa yang dia inginkan. Asma mencoba memberanikan diri menatap Andrian.
Yang Asma inginkan hanya di dekat Andrian dan
__ADS_1
Asma menunduk malu, kini Asma seperti seorang ABG yang malu-malu kucing. Membuat Andrian menautkan ke dua alisnya melihat tingkah istrinya.
"Sayang, hey ada apa?!"
Bukannya menjawab Asma malah membuka kancing baju Andrian membuat Andrian tersentak kaget.
Apa Asma ingin bercinta di siang bolong, pikir Andrian terkejut.
Deg ...
Andrian membulatkan kedua matanya ketika sang istri malah menyusup pada keteknya bahkan mengendus-endus. Membuat Andrian merasa geli.
"Sayang, apa yang kamu lakukan. Ih .. jorok,"
"Diam Albi, jangan bergerak. Ketek Albi wangi,"
Asma malah semakin menyusup kan kepalanya di ketek Andrian yang bersih tak ada bulu sedikitpun. Kalau ada gak kebayang!
Dengan terpaksa Andrian diam walau menahan geli.
Jujur baru kali ini istrinya bersikap seperti ini yang menurut Andrian sangat aneh.
"Albi ..,"
Sudah puas Asma mengangkat kepala lalu menyimpannya di dada bidang Andrian.
"Pengen rujak yang pedas, kayanya seger!"
"No, sayang. Kamu gak kuat makan asam-asam apa lagi pedas,"
"Tapi Asma mau,"
"No!"
"Albi,"
"No!"
Deg ...
Ya Allah drama apa lagi ini, jerit batin Andrian. Greget ngilu-ngilu gitu.
Asma kembali menangis seperti anak kecil sambil melempar bantal pada Andrian.
"Ok ok, Albi beli rujak sekarang tapi sayang jangan nangis ya,"
"Ikut!"
Hah ...
Andrian menghela nafas kasar sambil mengangguk lesu. Ok lah Andrian mengalah kalau tidak yang ada istrinya semakin merajuk.
Asma tersenyum langsung bersiap membeli rujak. Entah kenapa Asma ingin rujak, padahal sebelumnya Asma kurang suka sama rujak.
"Kalian mau kemana?"
Tanya bibi Melati melihat suami istri itu yang bersiap ke luar.
"Mau beli rujak!"
Bibi Melati dan Bibi Aisyah saling pandang lalu menatap pada Amar yang baru tertidur. Kemudian kembali menatap pada suami istri itu.
"Ya sudah, pulang beli rujak. Andrian kamu bawa Asma ke dokter!"
__ADS_1
"Buat apa bibi, Asma gak sakit!"
"Andrian nanti bibi WhatsApp ke kamu, sekarang kalian berangkat saja,"
Andrian hanya mengangguk patuh saja karena sudah pusing berdebat. Sedangkan Asma malah nyerocos tak jelas.
"Asma kan gak sakit, ngapain periksa. Bibi aneh-aneh saja,"
Andrian hanya diam saja sambil menengok kanan kiri mencari penjual rujak.
"Albi, ini kan jalan ke rumah sakit. Asma kan gak sakit?!"
"Sayang lupa, jam segini penjual rujak jualannya Deket rumah sakit,"
Bohong Andrian karena memang Andrian sengaja. Andrian sekarang faham apa yang terjadi dengan sang istri. Ketika habis membaca pesan dari bibi Aisyah.
Semoga saja kamu hadir, nak!
Dan benar saja, ada tukang rujak di dekat jalan menuju rumah sakit. Pucuk di cinta penjual Rujak tiba. Entah keberuntungan Andrian atau memang sudah takdir. Penjual rujak ada di sana, jadi ada alasan untuk Andrian membawa istrinya periksa.
"Mang rujaknya satu, yang pedes ya,"
"Siap nenk, ngidam ya?"
Uhuk ...
Asma menyemburkan minumannya ketika penjual Rujak berkata.
"Ngidam!"
Gumam Asma mengulang ucapan penjual rujak. Tanpa Asma sadari Asma mengelus perut ratanya.
"Nenk ini rujaknya,"
Deg ...
Asma tersadar dari lamunannya, sambil tersenyum Asma membayar rujak itu.
"Dimakan sayang, katanya mau rujak,"
"Albi,"
Lilir Asma menggigit bibir bawahnya menatap Andrian dengan mata berkaca-kaca. Asma menduga-duga ketika Asma baru menyadari kalau dia memang telat datang bulan.
"Kita periksa ya?"
Bujuk Andrian yang mengerti akan tatapan istrinya. Andrian berharap bahwa dugaan kedua bibinya benar.
"Asma takut!"
"Kenapa takut?!"
"Apa gak apa kalau Asma mengandung!"
Asma jadi takut akan ada masalah lagi akan kandungannya seperti ketika Asma mengandung Amar
"Albi jangan sembunyikan apapun lagi ya, dari Asma!"
"Kita periksa dulu ya,"
Asma hanya mengangguk sambil mengelus perutnya. Lalu menatap rujak di depannya. Membuat Asma bergidik ngeri melihat banyak sambal.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih...