Meraih Keridhoan bersamamu

Meraih Keridhoan bersamamu
Bab 27 Amar putra umi


__ADS_3

Tak henti-hentinya Andrian mengecup tangan sang istri dengan air mata yang terus keluar.


Rasa bahagia yang tak bisa Andrian gambarkan. Betapa bahagianya dirinya. Andrian bersyukur atas keajaiban yang Allah beri. Inilah buah kesabaran itu, sang istri telah kembali. Bahkan Andrian melihat sang istri seperti manusia yang terlahir kembali.


Tak ada wajah pucat pias yang menghiasi wajah Asma. Walaupun masih pias tapi kali ini Asma terlihat bercahaya walau mulutnya masih rapat.


Banyak kata yang ingin Asma ucapkan, tapi tenggorokannya terasa tercekik sulit untuk mengeluarkan suara.


Ingin sekali Asma mendekap erat sang suami dengan gebuan rindu yang sudah temu.


Jangan di kata Asma tak mendengar apapun yang selalu Andrian ceritakan di setiap perjalanan yang Andrian lalui tanpa kehadiran Asma di sisinya.


Asma tahu, dia mendengar walau raga tak bisa bergerak sedikitpun. Asma ingin merengkuh laki-laki yang nampak hancur di depannya.


Lihatlah!


Wajah lusuh dengan kantung mata, bahkan rambutnya terlihat gondrong dengan bulu-bulu halus yang semakin tumbuh di wajak Andrian.


Hati Asma terasa tercubit melihat badan sang suami begitu kurus. Tapi, apalah daya, Asma tak bisa bergerak bebas untuk menarik sang suami kedalam pelukannya. Bahkan bicara pun Asma begitu susah. Hanya gerakan bibir saja yang terlihat namun suaranya tak terdengar.


"Terimakasih sayang, kamu mau pulang.. "


"Terimakasih... "


Hanya ucapan itu yang bisa Andrian ucapkan mewakili rasa syukur dan bahagianya.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Andrian menitikkan air mata sambil mengucapkan kata terimakasih dengan tubuh gemetar.


"Abang yakin kamu pasti akan kembali..,"


"Mereka jahat sayang, mereka sempat meminta abang melepas kamu. Lihatlah kamu sudah sadar, kamu kembali!"


Rasa sakit Andrian begitu terasa di hati Asma mendengar setiap kata yang sang suami ucapkan.


Asma ingin menarik sang suami kedalam pelukannya tapi apalah daya, bicara pun tak bisa. Tangannya hanya bisa bergerak sedikit. Mungkin karena Asma terlalu lama koma hingga semua persendian menjadi kaku.


Begitu tersiksanya kamu bang, maafkan Asma.


Asma hanya bisa menjerit dalam hati tak kuasa melihat kerapuhan sang suami. Tak pernah Asma melihat sang suami terpuruk sampai seperti ini.


"Apa kamu tahu sayang, baby Am sudah tumbuh besar. Putra kita, kamu tunggu di sini Abang mau mengambil baby Am dulu!"


Baby Am, ya Allah putra hamba masih hidup. Terimakasih ya Allah, engkau sudah menjaganya.


Nak...


Sekuat tenaga Asma ingin berbicara, nyatanya belum mampu. Asma hanya bisa menitikkan air mata ketika melihat putranya benar-benar tumbuh dengan sangat baik.


Baru pertama kali Asma melihat wajah putranya yang begitu mirip dengan sang suami.


Nak...

__ADS_1


"Sayang, namanya Muhamad Amar Maulana Lian Chu. Apa kamu menyukai namanya? jika iya, tolong kedipan mata?"


Amar, putra ummi. Maafkan umi sayang, umi belum bisa gendong kamu.


Asma hanya mampu berkedip dengan air mata yang kembali keluar. Air mata Asma keluar semakin deras ketika baby Amar mencium pipi Asma


"M..i mi..,"


"Ya Allah nak, kamu sudah bisa bicara. Kamu tadi panggil apa, umi?"


"M..i mi.."


"U..mi.."


Andrian tak bisa membendung rasa bahagianya ketika mendengar sang putra memanggil nama istrinya. Sungguh sebuah kenikmatan yang tak bisa Andrian dustakan.


Kesadaran Asma dan bicaranya Amar membuat Andrian benar-benar bahagia. Begitupun Asma, kebahagiaan Asma tunjukan hanya lewat air mata dan senyuman tipis menghiasi bibirnya.


*Amar putra umi...


Bersambung* ....


Jangan lupa Like,Hadiah,komen, dan Vote..


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2