Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 9


__ADS_3

Jane Wang membantu Xiao Ling menyeret kopernya. Bereka berjalan beriringan. “Welcome to Chinatown.” Ucapnya saat sampai di depan gerbang dengan dua patung singa di kiri dan kanannya.


Ketika Xioa Ling sudah melewati gerbang, dia melihat bangunan berderet, saling berhimpitan satu sama lain. Restoran, kafe, butik, pusat perbelanjaan, bar, gym, klinik, dan masih banyak lagi fasilitas umum. Lampion-lampion


bulat berwarna merah  ada di setiap sudut menghiasi jalanan. “Apa akan ada acara? Aku lihat ada begitu banyak lampion?” tanyanya penasaran pada sepupunya.


“Benar. Bulan depan akan ada acara Moon Festival. Kebetulan sekali kau datang kesini.” Jelas Jane Wang.


“Ngomong-ngomong, kau akan disini berapa lama?”


“Mungkin lama. Ada yang harus aku lakukan.”


“Aku tahu. Lung’er sudah menceritakan semuanya dalam emailnya.” Jane Wang menghentikan langkahnya dan


melihat Xiao Ling. “Bagaimana perasaanmu? Kau pasti sangat terkejut.”


Xiao Ling hanya tersenyum. Dia terus berjalan. Dia ingin cepat sampai apartemen sepupunya itu. Dia merasa sangat lelah dan mengantuk.


“Kau tak usah khawatir. Aku akan menemanimu menemukan ibumu.” Jane Wang sangat bersemangat.


“Terima kasih, jie.”


Xiao Ling berhenti sejenak untuk mengistirahatkan kakinya yang mulai pegal.


“Kenapa?” Tanya Jane Wang setelah sadar Xiao Ling tertinggal beberapa langkah di belakangnya. “Capek?”


Xiao Ling hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.


“Du bui qi. Kenapa juga mobilku rusak sekarang?” Ucap Jane Wang lebih pada dirinya sendiri. Dia merasa


kesal sendiri.


“Tidak apa jie.” Xiao Ling mencoba menenangkan.


“Mungkin aku harus mengganti mobilku. Itu mobil memang sudah tua.”


Setelah berjalan sepuluh menit, Jane Wang menghentikan langkahnya di depan sebuah apartemen yang tidak


terlalu jauh dari gerbang Chinatown, jika lewat jalan pintas. Apartemen itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari dua belas lantai dengan sepuluh kamar di setiap lantai. Dari luar, apartemen itu terlihat antik dengan gaya bangunan


khas China. Ada balkon di setiap kamarnya. Seluruh bangunan berwarna abu-abu pucat. Di pintu masuk terdapat dua patung naga, sebagai penjaga pintu gerbang.


“Ayo kita masuk.” Ajak Jane Wang ketika pintu lift sudah terbuka. Jarinya memencet angka tiga. “Aku


tinggal di lantai tiga. Bersebelahan dengan Daniel.”


“Aku tahu.”


“Daniel yang cerita? Sepertinya kalian mudah akrab.”


Pintu lift terbuka, Jane Wang memimpin jalan ke apartemennya. Dia berhenti di kamar nomer 304. Dia

__ADS_1


menekan kode pintu dan tak lama pintu terbuka.


Apartemen Jane Wang tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi yang


bersebelahan dengan dapur, serta satu ruangan yang diisi sebuah televisi dan satu set sofa.


Jane Wang adalah seorang gadis mandiri. Dia meninggalkan China tujuh tahun yang lalu, setelah kedua


orangtuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Dengan alasan untuk melupakan kenangan buruk itu, dia memutuskan hidup di Chinatown. Wilayah kecil dengan tradisi dan kebudayaan yang menyerupai China.


Jane Wang memiliki paras yang cantik berkulit putih dengan mata coklat bening, rambut panjang yang


diwarnai pirang, dan tinggi badan sekitar 157 cm. Tubuhnya yang kecil membuatnya terlihat lebih muda, padahal dia tiga tahun lebih tua dari Xiao Ling.


“Kau istirahatlah. Kamarnya di sebelah sana. Hanya ada satu kamar, jadi kita harus berbagi kamar. Kamar mandi ada disana.” Tangan Jane Wang sambil menunjuk setiap ruangan.


“Baiklah.” Xiao Ling berlalu masuk kedalam kamar. Meninggalkan Jane Wang yang langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa lalu menyalakan televisi.


Xiao Ling duduk di pinggir ranjang. Dia sebenarnya ingin segera merebahkan tubuhnya dan tidur, tapi kemudian dia teringat belum mengabari keluarganya jika dia sudah sampai. Dia melirik jam yang menunjukkan pukul 14.00. Di Guangzhou masih terlalu pagi. Mungkin keluarganya masih tertidur lelap. Tapi Xiao Ling tetap menghubungi mamanya, dia tidak ingin keluarganya merasa khawatir. Setelah bunyi tut sebanyak lima kali, dia terhubung dengan mamanya.


“Halo Ling’er. Kamu sudah sampai?” Suara Shi Yen Xing sedikit serak. Mungkin dia baru saja terbangun karena suara ponsel.


“Iya, Ma. Aku juga sudah bertemu dengan Jane jie. Aku sudah ada di apartemennya.”


“Baguslah. Kau sudah makan?"


“Sudah tadi di pesawat.”


“Nanti Ma. Aku belum lapar.”


“Baiklah kalau begitu. Kau jaga kesehatan.”


“Iya, Ma.”


“Cepatlah pulang sayang. Jangan lama-lama.”


“Iya.”


“Istirahatlah. Mama tutup teleponnya.”


Xiao Ling menghela napas setelah sambungan terputus. Dia memandangi layar ponselnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia juga tidak begitu tahu. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam hatinya. Dia memutuskan untuk istirahat saja dulu. Kantuknya mengalahkan masalahnya.


***


Xiao Ling membuka matanya saat hidungnya mencium bau sesuatu yang… gosong? Dia seketika bangun dan


berlari kedapur. “Ada apa jie?” tanyanya panik.


Ternyata Jane Wang tak kalah paniknya. Dia menyiramkan air kedalam teflon yang berisi makanan yang keseluruhannya sudah menghitam. Bau gosong seketika menyebar ke seluruh ruangan yang membuat mereka berdua terbatuk.


“Aku berniat membuat mi goreng. Tapi kemudian aku tinggal untuk mengangkat panggilan, saat aku kembali

__ADS_1


sudah jadi seperti ini.” Jelas Jane Wang sambil menunjuk mi gosong buatannya.


Xiao Ling menahan tawa. Dia tidak ingin Jane Wang merasa diremehkan. “Biar aku saja yang masak, jie.”


“Tidak perlu Ling’er. Kita makan diluar saja. Kamu bersiaplah. Aku tunggu.”


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Xiao Ling sudah siap.


“Mau makan apa?” tanya Jane Wang.


“Mi goreng saja. Sepertinya kau ingin makan itu.” Xiao Ling teringat kejadian mi gosong tadi. Dia tahu jika Jane Wang menginginkannya, sampai dia memasak sendiri.


“Oke. Diseberang apartemen ada restoran Chinese food yang enak.”


“Ayo kita berangkat.”


Saat mereka keluar dari apartemen, mereka bertemu dengan Daniel Chang yang baru saja pulang. Pria itu langsung


menyapa mereka.


“Mau kemana nona-nona?”


“Mau makan diluar? Kau mau ikut?” Basa-basi Jane Wang.


Daniel Chang diam sejenak, seperti sedang berpikir. “Tidak terima kasih”, jawabnya sambil tersenyum. “Aku


capek. Mau tidur saja.”


“Kau darimana?”


“Tanya saja sepupu disebelahmu. Dia tahu apa yang aku lakukan.”


Jane Wang melihat kearah Xiao Ling, menatapnya penuh dengan pertanyaan.


“Dia jadi sopir taksi.” Jawab Xiao Ling sekenanya.


Daniel Chang terkekeh. Merasa lucu. Xiao Ling menyebutnya sopir taksi. “Sopir taksi tampan tentunya.”


“Kau sekarang bekerja jadi sopir taksi, Daniel?”


Pertanyaan Jane Wang terdengar lebih konyol sampai membuat Daniel Chang tertawa lebih keras. “Tentu tidak. Aku terlalu sempurna untuk itu.”


Jane Wang melengos. “Sok keren,” ejeknya.


“Maaf nona-nona, sopir tampan ini ingin tidur. Silahkan lanjutkan perjalanan kalian.”


“Baiklah, Daniel. Kami pergi.”


“Sampai jumpa lagi nona Xiao Ling.”


Xiao Ling tersenyum. Dia dan Jane Wang kemudian berlalu dari hadapan Daniel Chang. Mereka masuk ke dalam

__ADS_1


lift dan berjalan ke seberang jalan menuju restoran yang dimaksud.


__ADS_2