Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 15


__ADS_3

Seorang gadis sedang memandangi layar ponselnya dengan perasaan kesal yang menumpuk. Sejak tadi siang dia mencoba menghubungi Daniel Chang tapi tak bisa. Dia sudah puluhan kali mencoba, tak sekalipun dijawab.


“Kemana pria ini?” Tanyanya kesal.


“Jessie, sedang apa kau? Cepatlah kesini.” Panggil seorang temannya.


“Iya sebentar.” Jawab Jessica. Dia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam sling-bag dan berjalan menuju arah temannya memanggil.


“Kau kenapa? Apa kau sedang PMS?”


“Tidak.”


“Lalu kenapa? Kenapa suasana hatimu terlihat sangat buruk?” Gadis berambut pendek dibawah telinga bernama Martha semakin penasaran. Dia sangat hafal dengan sifat Jessica. Temannya itu selalu bersemangat setiap ada pesta, tapi entah kenapa malam ini berbeda. Jessica terlihat kesal dan tak bersemangat.


“Aku sedang tak ingin berpesta. Aku akan duduk di meja bartender. Aku mau menikmati minumanku.”


“Baiklah.”


Jessica berjalan mendekat ke meja bartender. Saat ini dia berada di salah satu klub ternama di pusat kota San Fransisko. Dia dan Martha menerima ajakan Paul untuk berpesta, tapi hari ini dia sedang tidak ada mood untuk itu. Suara bising musik dari DJ yang biasanya membuatnya menikmati hidup, hari ini semakin menipiskan kesabarannya. Alunan musik itu sangat mengganggu pendengarannya.


“Jim, give vodka please.” Jessica memerlukan alkohol untuk meredam amarahnya sendiri.


“Okay Jessie.” Pria dengan seragam bartender itu segera menyiapkan pesanan Jessica. Apa mereka saling mengenal? Tentu saja. Ayah Jessica adalah pemilik dari klub ini. Ayahnya membeli klub ini sekitar akhir tahun lalu. Dia sengaja melakukannya karena sangat tahu jika putri satu-satunya itu senang berpesta. Daripada putrinya itu berpesta di sembarang tempat dan terjadi sesuatu terhadapnya, lebih baik dia menyiapkan tempat khusus itu


untuknya.


“Don’t drink too much, babe. Your father always keeps an eye on you.” Ucap Jimmy saat meyerahkan segelas es batu dan sebotol vodka pada Jessica.


“Don’t worry Jim.” Jessica menuang vodka sampai setengah gelas dan langsung meminumnya hingga hanya tinggal bongkahan es saja.


Jimmy hanya bisa menggeleng, kemudian kembali pada kesibukannya melayani para tamu yang datang ke klub.


Jessica mengisi lagi gelasnya yang kosong, sambil membuka ponselnya lagi. Dia menghubungi lagi orang yang sejak tadi tak mengangkat panggilannya. “Daniel, kemana saja kau?”, geramnya kesal. Dia kemudian melihat


jam. Baru jam sepuluh malam. Tidak mungkin pria itu sudah tidur. Apa dia tidak melihat ponselnya? Jessica sudah mencoba menghubunginya sejak tadi siang.


Siang tadi, Jessica berniat mengajak Daniel Chang untuk berpesta. Sudah lama dia dan Daniel Chang tidak pergi bersama. Tapi entah apa yang pria itu lakukan? Sejak tadi siang dia tidak bisa dihubungi.


Jessica mendesah. Dia harusnya paham dengan pria penuh pesona satu itu. Mungkin dia sedang mengejar gadis cantik yang baru saja dia temui. Tak aneh jika memang itu yang terjadi.

__ADS_1


Jessica meneguk gelasnya lagi sampai kosong. Kemudian menuangkan isi botol ke dalam gelasnya. Berulang-ulang sampai botol itu kosong. “Jim, give me another bottle, please.” Teriaknya sambil mengangkat sebelah tangannya, menarik perhatian sang bartender.


“Hei… Santai Jessie. Apa yang salah denganmu?” Martha datang menghampiri Jessica setelah lelah menari-nari di lantai dansa.


Jessica menoleh, menyipitkan matanya. Memastikan orang yang ada di depannya. Sepertinya dia sudah mabuk, sampai tak mengenali suara temannya. “Martha, kau kah itu?”, menaikkan tangan kanannya hendak menyentuh


Martha.


“Iya, ini aku.” Martha meraih tangan Jessica. “Sudah cukup minumnya. Kau sudah mabuk.”


Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku belum mabuk, Sis. Aku masih kuat minum tiga botol lagi.”


“Apa kau mau pingsan? Ayo berdiri, aku akan mengantarmu pulang.” Martha meraih lengan Jessica, hendak memapahnya berjalan.”


Dengan cepat Jessica menyibakkan tangannya. “Aku harus benar-benar mabuk untuk bisa ‘melakukannya’.”


“Melakukan apa?” Mulut Martha tiba-tiba menganga. Dengan cepat dia menutupnya dengan telapak tangan.


“Maksudmu? Kau… dan Daniel?” Dia tak percaya dengan ide temannya itu, yang menurutnya terlalu nekat. Tentu saja dia tahu hubungan antara Jessica dan Daniel Chang.


“Gadis pandai. Duduklah.” Jessica menarik Martha untuk duduk. “Biarkan malam ini aku mengakhiri kekesalanku pada Daniel.”


“Tentu. Makanya aku harus lebih mabuk lagi.”


“Baiklah. Tapi cukup satu botol lagi. Oke?”


Jessica mengangguk. “Jim, where is my drink. Hurry up.”


“Here is yours.” Jimmy melirik Martha. “Is it okay? I think she’s already drunk.”


“It’s okay. I’ll be with her. Don’t worry.”


“Okay then.” Jimmy kembali ke tempatnya kembali.


Jessica segera mengisi gelasnya dan meninumnya dengan sekali teguk. Tidak sabar, dia langsung meneguk minumannya dari botol.


“Pelan-pelan, Jessie. Hari masih sore, tidak perlu buru-buru.” Martha merebut botol dari tangan Jessica.


“Dia kenapa?” Paul datang menghampiri Martha dan Jessica. “Apa dia putus cinta?”

__ADS_1


“Dia sedang merencanakan suatu trik licik. Jadi dia harus mabuk.” Jelas Martha.


“Apa itu?” Paul menjadi penasaran.


“Sesuatu yang kau tak perlu tahu.”


Jessica berdiri dari duduknya, tapi tubuhnya goyah. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dia berpegangan pada meja bartender. Dua botol sudah membuatnya sangat mabuk.


“Kau mau kemana?” Martha memegangi Jessica.


Jessica mengeratkan pejaman matanya. Mencoba tetap tersadar. “Sudah waktunya aku pergi.”


“Kau yakin bisa pergi dengan keadaan seperti ini?”


“Biarkan aku mengantarnya pulang.” Sela Paul.


“Tidak Tuan Walker. (Paul Walker) Aku tidak akan pulang. Aku harus pergi ke tempat lain.”


“Kemana? Aku akan mengantarmu.” Paul masih belum paham rencana Jessica.


“Aku bisa sendiri.” Jessica mulai berjalan keluar klub dengan sempoyongan.


“Tapi Jessie.” Ucapan Paul tak lagi dihiraukan.


“Aku akan mengantarnya, Paul. Tolong bayar bill-nya.” Martha berlari kecil menyusul Jessica.


Jessica berdiri di pinggir jalan menunggu taksi ditemani Martha. Dia menatap temannya. “Kau tak perlu mengantarku. Aku tidak akan tersesat.”


“Aku hanya ingin memastikan kau sampai disana dengan selamat. Kau tak tahu betapa mengerikannya dunia akhir-akhir ini.”


“Bagiku, perasaanku pada Daniel lebih mengerikan.”


Martha hanya menggeleng. Temannya sudah gila karena seorang pria yang bernama Daniel Chang.


Tak berapa lama, sebuah taksi berhenti di dekat mereka. Setelah mereka masuk dan mengatakan tujuan mereka, taksi pun mulai berjalan. tiga puluh menit kemudian, taksi itu berhenti di depan apartemen Daniel Chang.


“Kau bisa masuk sendiri?” Tanya Martha tak begitu yakin.


“Tentu saja. Kau pulanglah.” Jessica berjalan masuk ke depan pintu lift tanpa menunggu taksi yang ditumpangi Martha pergi. Setelah menunggu beberapa detik, pintu lift terbuka. Dia masuk dan memencet angka tiga. Dalam hitungan detik, pintu lift kembali terbuka di lantai tiga. Dia berjalan menuju unit apartemen Daniel Chang. Memencet bel dan menunggu sampai pria itu membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


__ADS_2