Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 30


__ADS_3

Xiao Ling membuka matanya perlahan-lahan. Kepalanya pening. Alkohol masih sedikit meracuni tubuhnya. Dia memutar pandangannya ke ruangan redup yang asing baginya. Sinar matahari terhalang oleh tirai hitam jendela, kamar itu masih terlalu gelap untuk penglihatannya. Dia merapatkan matanya untuk mengurangi efek gelap yang mengaburkan pandangannya. Tiba-tiba saja, dengan cepat dia melihat tubuhnya yang terbungkus selimut. Dia masih berpakaian lengkap. Syukurlah dia tidak melakukan sesuatu yang bodoh.


Xiao Ling bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Memijat-mijat keningnya kemudian mengamati setiap sudut ruangan. Kamar itu seukuran dengan kamar sepupunya, namun ber-cat warna abu muda. Di pojok ruangan terdapat satu set komputer canggih dengan dua layar yang cukup lebar. Mungkinkah ini kamar Daniel Chang? Apa dia sudah kehilangan akal? Kenapa dia bisa tidur di kamar seorang pria?


Xiao Ling berusaha mengingat kejadian tadi malam. Dia minum di bar, kemudian digendong Daniel Chang. Kemudian… dia mengoceh tak karuan. Terlalu banyak yang dia ocehkan. Itu bukan seperti dirinya. Dia mulai menyesali dirinya yang mabuk semalam. Dia memukul-mukul pelan kepalanya.


Xiao Ling beranjak dari ranjang dengan hati-hati, agar tak menghasilkan suara. Dia berjalan pelan-pelan menuju pintu kamar dan membukanya dengan sangat pelan. Dia melihat Daniel Chang masih tidur di sofa. Dia berjalan berjingkit agar langkahnya tak terdengar. Dia terlalu malu untuk menatap wajah pria itu saat ini.


“Kau berniat kabur?” Suara serak Daniel Chang seketika menghentikan langkah Xiao Ling.


Daniel Chang bangkit dan berganti posisi menjadi duduk. Kepalanya sakit seperti dihantam martil, karena hampir semalaman dia tidak tidur. Wajahnya kusut dan matanya sayu. Dia merasa seperti mayat hidup.


“Kau sudah bangun?” Xiao Ling mendekati pria yang terlihat sangat berantakan itu.


“Aku tidak tidur.”


“Kenapa?”


“Tidak bisa.”


Xiao Ling tidak tahu pasti kenapa Daniel Chang tidak tidur semalam. Tapi dia merasa jika dia yang menjadi alasannya. “Maaf, karena merepotkanmu semalam. Aku pulang sekarang.” Dia pergi dengan menundukkan wajahnya.


Secepat kilat Daniel Chang meraih pergelangan tangan Xiao Ling dan menariknya hingga gadis itu terduduk di sampingnya. “Kenapa kau buru-buru ingin pulang? Disini dulu.”


“Jane jie pasti sedang kebingungan mencariku.” Alasan Xiao Ling.


“Jika dia mencarimu, dia pasti sudah menggedor pintu apartemenku sejak semalam. Tapi tidak dia lakukan. Dia pasti juga mabuk.” Daniel Chang menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Ling. Wangi lavender itu kembali menyapa indera penciumannya. Dia menyukainya. “Kau belum mendengar jawaban dari pertanyaanmu semalam.”


Xiao Ling tak bergerak dari posisinya semula. Dia membiarkan Daniel Chang seperti itu. “Apa aku berkata macam-macam semalam?” Dia berpura-pura tak mengingat apapun. “Itu… itu hanya ucapan orang mabuk. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Tolong lupakan.”


“Ucapan orang mabuk adalah perkataan paling jujur di dunia. Berkat itu, aku jadi tahu semua yang ada di hatimu?”


“Tentang?” Xiao Ling tidak begitu paham maksud Daniel Chang. Apa mungkin ada sesuatu yang dia lewatkan? Apa ada yang tidak diingatnya? Apa mungkin semalam dia menyatakan cinta pada pria ini? Dia pasti sudah gila.

__ADS_1


“Pertanyaanmu tentang Jessica.”


Xiao Ling bernapas lega. Ternyata tentang itu.


“Aku tidak pernah membohongimu. Aku benar-benar tidak berbuat apa-apa dengannya. Setiap dia datang ke sini, dia tidur di kamar dan aku tidur di sofa. Seperti kita semalam.”


Mendengar penjelasan Daniel Chang, Xiao Ling tak bisa menahan perasaan senang. Dia tersenyum bahagia. Kini, semuanya benar-benar sudah jelas. Kepercayaannya pada Daniel Chang tidak sia-sia.


“Sekarang giliranmu menjelaskan siapa ‘pria baik’ yang kau katakan semalam.”


Xiao Ling terdiam sesaat. Dia membalik badannya menghadap Daniel Chang dan memandangi pria itu. Dia tidak paham apa maksudnya.


“Kau lupa yang kau ucapkan semalam?” Daniel Chang menangkap ketidak-pahaman dari pandangan mata Xiao Ling. Dia mendesah sebelum kembali berucap. “Semalam kau bilang kenapa kau harus bertemu dengan pria playboy setelah kehilangan pria baik.”


“Benarkah aku bilang seperti itu?” Tanya Xiao Ling dengan nada terkejut. Bahkan tidak jelas arti dari keterkejutannya itu.


“Sepertinya ‘pria baik’ itu seseorang yang istimewa.” Selidik Daniel Chang.


“Kenapa? Apakah rahasia?” Daniel Chang merasa ada yang disembunyikan Xiao Ling dari ke-diamannya itu.


“Tidak. Hanya saja aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Mungkin nanti, saat waktunya tepat akan aku jelaskan.”


“Sepertinya memang benar dia seorang yang istimewa?”


Xiao Ling mengangguk. “Tapi itu dulu. Dan semuanya sudah berlalu.”


“Dulu? Lalu siapa yang sekarang?”


Xiao Ling kembali menatap wajah Daniel Chang. Kemudian mengembangkan senyuman menggoda di bibirnya, seolah mengisyaratkan bahwa pria di depannya lah jawabannya.


Daniel Chang membalas dengan senyuman yang tak kalah menggoda. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Xiao Ling. Semakin dekat dan semakin dekat. Dan berhenti tepat di depan bibir gadis itu. Jarak yang tersisa antara keduanya tak lebih dari satu senti. Masing-masing bisa mendengar suara napas antara mereka.


Daniel Chang mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Xiao Ling. awalnya, Xiao Ling ingin memalingkan wajahnya, tapi hasrat dalam dirinya berkata lain. Dia hanya bisa memejamkan matanya saat wajah Daniel Chang tak lagi berjarak dengannya.

__ADS_1


Daniel Chang tersenyum, lalu dia mengalihkan bibirnya ke dekat daun telinga Xiao Ling dan berbisik, “sekarang kau boleh pulang. Aku mau tidur.”


Xiao Ling seketika membuka lebar matanya. Pipinya merona karena malu, tapi juga ada perasaan kecewa. Ternyata pria ini hanya menggodanya.  “Baiklah.” Ucapnya singkat.


“Apa kau kesal?” Daniel Chang meraih telapak tangan Xiao Ling dan menggenggamnya.


“Tidak. Kenapa?”


“Benarkah? Kalau kau kecewa, kau bisa menemaniku tidur.”


“Aku harus pulang. Jane jie pasti mencariku.”


“Baiklah. Pulanglah, tunggu apa lagi.” Ucap Daniel Chang tanpa melepaskan genggaman tangannya.


“Lepaskan tanganku Daniel.”


“Ups… maaf.” Daniel akhirnya membiarkan Xiao Ling pulang. Tapi baru lima langkah Xiao Ling berjalan, dia kembali berucap.


“Semalam kakakmu menghubungi. Dia mencarimu”


“Kau bilang apa padanya?”


“Aku bilang kau sudah tidur.”


“Kenapa kau bilang seperti itu? Dia bisa salah paham lagi.”


“Kau bisa jelaskan sendiri nanti. Kalau perlu aku akan membantumu menjelaskannya.”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Xiao Ling kembali berjalan keluar apartemen Daniel


Chang.


Setelah Xiao Ling pergi, Daniel Chang merebahkan kembali tubuhnya di sofa. Dia sengaja tidak tidur di kamar. Mungkin saja wangi tubuh Xiao Ling masih disana. Yang pasti akan membuatnya tak bisa memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2