Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 12


__ADS_3

“Daniel,TOLONG AKU.”


Jerit JaneWang dari balkon apartemennya. Dia sangat panik. Tiba-tiba saja Xiao Ling pingsan di depan kamar. Dia berniat menggendong sepupunya ke tempat tidur, tapi apa daya, tubuh kecilnya tidak kuat mengangkat tubuh yang lebih besar darinya. Dia hanya mondar-mandir di dalam apartemennya selama beberapa menit, sampai dia teringat pada tetangganya. Dia segera berlari ke balkon dan berteriak memanggil Daniel Chang.


Daniel Chang baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar teriakan Jane Wang. Dengan buru-buru dia berlari ke balkon. Untungnya dia sudah berpakaian lengkap. Tanpa pikir panjang, dia melompati balkonnya dan mendarat di balkon apartemen tetangganya itu.


Jane Wang tertegun melihat kehebatan aksi pria itu. Hanya sekali lompatan, dia sudah berpindah apartemen. Mungkin dia adalah jenderal Meng Yi di kehidupannya yang lalu.


Daniel Chang melihat Xiao Ling tergeletak tak sadarkan diri di depan kamar. Tanpa aba-aba, dia mengangkat gadis itu dan menidurkannya di atas kasur. “Dia kenapa?”


“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia pingsan.” Jelas Jane Wang dengan nada suara cemas.


“Cepat panggil dokter.” Perintah Daniel Chang.


“Baik.” Jane Wang mengambil ponselnya dan hendak memencet nomor seseorang. Tapi tunggu dulu, dia tidak punya kenalan dokter dalam ponselnya. Dia berpikir sejenak. Tapi kenapa saat seperti ini pikirannya malah buntu. Oh benar. Dia akhirnya ingat kalau penghuni apartemen 307 adalah seorang dokter magang. “Aku akan memanggil


penghuni 307. Dia seorang dokter. Semoga dia ada di rumah.” Ucapnya sambil berlalu dengan cepat.


Selagi menunggu Jane Wang kembali, Daniel Chang membuka laci meja yang ada di kamar itu. Dia mencari sesuatu yang berbau untuk mengembalikan kesadaran Xiao Ling. Dia menemukan minyak aroma terapi. Meneteskan sedikit di ujung jarinya dan mendekatkan jarinya di hidung Xiao Ling. Tapi tak ada reaksi apapun.


Tak berapa lama, Jane Wang datang bersama seorang lelaki muda dengan stetoskop di tangannya. Lelaki itu menempelkan alatnya di dada Xiao Ling. Kemudian beralih meraba pergelangan tangannya. “Denyut nadinya lemah.” Ucap dokter muda itu. “Apa akhir-akhir ini dia sering melewatkan makan?”


“Benar.” Jawab Jane Wang cemas.

__ADS_1


“Sepertinya, Nona ini juga terlalu stress. Aku akan memberikan resep multivitamin. Silahkan beli di apotek.”


“Baik.”


“Sebaiknya Nona ini makan teratur. Jika keadaannya tidak bertambah baik, sebaiknya dibawa ke rumah sakit agar diinfus. Untuk mengembalikan kesehatannya.” Ucap dokter itu. Dia kemudian meminta pamit karena harus ke rumah sakit.


Jane Wang mengantar dokter itu sampai depan pintu apartemen dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Saat masuk lagi ke dalam apartemen, ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk. Dalam satu jam dia sudah harus ada di tempat latihan. Ada rapattentang pertunjukan teater yang akan datang. Dia bingung. Dia tidak bisa meninggalkan  Xiao Ling sendirian. Tapi dia juga tidak bisa membolos latihan, karena hari ini ada pembagian peran. Mungkin saja dia mendapat peran utama kali ini.


Jane Wang melihat Daniel Chang yang sedang menonton televisi. Pria itu memang tak punya rasa sungkan sama sekali. Seenaknya menyalakan televisi orang lain tanpa permisi. Tapi dari situ, muncul ide di benak Jane Wang.


“Apa yang kau lakukan hari ini?”


“Tidak ada.” Jari Daniel Chang sibuk memencet tombol remote mencari acara yang dia sukai. Tapi tidak ada. Dia sudah memutar semua chanel sebanyak tiga kali, satu pun tak ada yang menarik perhatiannya.


“Boleh aku meminta bantuanmu?”


Jane Wang mulai kesal. Dia bahkan belum mengatakan bantuan apa, tetangganya itu sudah menolaknya mentah-mentah. “DANIEL.”Jane Wang sedikit teriak.


“Baiklah. Katakan apa itu.” Ucap Daniel Chang dengan pandangan mata yang tertuju ke layar televisi, meski tidak benar-benar menonton acaranya.


“Tolong temani sepupuku, setidaknya sampai dia sadar. Aku harus pergi ke tempat latihan. Ada rapat penting.” Sepertinya tidak apa-apa Jane Wang meminta Daniel Chang seperti ini. Meskipun seorang playboy, tapi dia adalah pria yang baik sejauh Jane Wang mengenalnya. Tidak mungkin pria itu berbuat macam-macam pada gadis yang sedang sakit, kurang sehat lebih tepatnya.


“Boleh saja. Tapi aku tidak bisa menjamin sepupumu akan baik-baik saja dan dalam keadaan utuh saat kau kembali.”

__ADS_1


Jane Wang memelototi Daniel Chang dengan mata sipitnya. “DANIEL!” Serunya penuh penekakan.


“Aku hanya bercanda.”


“Jadi kau mau?”


“Hmmm…”


“Kalau begitu, aku pergi sekarang.” Jane Wang menyambar tas di dekat Daniel Chang. “Aku akan kembali sebelum malam. Oh iya, tolong belikan multivitamin untuk Xiao Ling. Resepnya ada di atas meja kamar. Juga tolong pastikan Xiao Ling untuk makan.”


Permintaannya banyak sekali, gerutu Daniel Chang.


“Terima kasih Daniel. Aku akan mentraktirmu lain kali.” Ucap Jane Wang sebelum menghilang di balik pintu.


Sudah sepuluh menit Daniel Chang duduk di depan televisi. Dia menengok ke dalam kamar, tapi gadis itu masih diam berbaring di atas kasur, belum juga sadar. Dia masuk ke kamar. Mengamati keadaan Xiao Ling. Rona wajahnya sudah sedikit berubah. Tidak sepucat tadi. Daniel Chang meletakkan jari telunjuknya di depan lubang hidung gadis itu. Ada hembusan napas. Berarti gadis ini masih hidup. Dia kemudian keluar kamar dan kembali duduk di sofa.


Dua puluh menit berlalu, tapi Xiao Ling belum juga siuman. Daniel Chang entah kenapa mulai merasa sedikit khawatir. Dia masuk ke kamar untuk melihat keadaan Xiao Ling lagi.


Gadis itu masih pulas. Daniel Chang mengusap keringat di kening Xiao Ling dengan tisu. Samar-samar dia mencium aroma lavender. Apakah ini parfum dari gadis ini? Tanyanya pada diri sendiri. Tanpa sadar, dia memandangi wajah Xiao Ling lekat-lekat. Mulai dari mata dengan bulunya yang lentik. Turun ke hidungnya


yang mungil. Kemudian bibirnya yang tipis. Kenapa gadis ini bisa begitu cantik saat terlelap? Daniel Chang memperhatikan setiap detil wajah gadis yang masih terlelap itu. Ada perasaan lain. Tapi apa itu? Mungkin dia hanya mengagumi kecantikan gadis ini.


Kekaguman Daniel Chang terhenti oleh suara getar ponsel di atas meja. Dia menengok ponsel berwarna silver dan di layar muncul nama ‘Xiao Lung jie’. Dia langsung bisa menebak orang yang menelpon itu adalah keluarga Xiao Ling, karena marga mereka sama. Mungkin saja keluarganya yang berada di China.

__ADS_1


Daniel Chang ragu. Apakah dia harus menjawab telepon itu? Lalu, apa yang harus dia katakan pada si penelepon kalau dia mengangkatnya? Bagaimana dia menjelaskan keadaan yang sedang terjadi? Bagaimana kalau si penelepon bertanya tentang dirinya siapa? Terlalu sulit untuknya berkata-kata. Tapi, jika dibiarkan saja, pasti orang itu akan menghubungi lagi. Berulang-ulang. Dan suara getaran ponsel itu sangat menganggu.


“Halo.” Akhirnya Daniel Chang menjawab telepon.


__ADS_2