
“Kau yakin akan pulang ke China?”
Jane Wang memperhatikan Xiao Ling yang sedang berkemas di dalam kamar. Sepupunya itu sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Xiao Ling hanya mengangguk. Dia sudah memutuskan untuk kembali ke China. Dia tak punya alasan untuk menetap di San Fransisko. Akan sulit baginya jika bertemu dengan Daniel Chang. Pasti terasa sangat canggung. “Aku merasa melanjutkan hidup disini akan terasa sangat sulit.”
“Aku mengerti maksudmu. Ini yang terbaik untuk kalian berdua. Kapan kau akan pergi?”
“Besok.”
“Kau akan berpamitan pada Daniel?”
Xiao Ling menunduk. Dia tidak yakin bisa mengucapkan selamat tinggal pada pria itu.
“Ucapkan salam perpisahan untuknya.” Jane Wang meraih telapak tangan Xiao Ling. “Katakan padanya bahwa kau baik-baik saja. Agar kalian berdua dapat melanjutkan hidup masing-masing.”
Xiao Ling menatap Jane Wang dengan mata berkaca-kaca. “Aku akan melakukannya.”
Jane Wang memeluk Xiao Ling dan berbisik, “Aku berharap kau bahagia. Lupakan semua kejadian buruk ini. Tinggalkan semuanya disini. Bukalah lembaran baru hidupmu.”
“Iya, jie. Terima kasih.”
Jane Wang melepas pelukannya. “Aku akan mengunjungimu. Kelompok teaterku berencana mengadakan pertunjukan di Beijing.”
“Benarkah?”
Jane Wang mengangguk. “Aku akan mampir ke Guangzhou. Tunggulah.”
“Iya.”
“Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan keluar.” Jane Wang berlalu dari pandangan Xiao Ling.
Xiao Ling terpaku sesaat. Benar kata Jane Wang. Setidaknya dia harus mengucapkan selamat tinggal secara langsung. Dia memutuskan untuk menemui Daniel Chang yang terakhir kali.
***
Xiao Ling mengetuk pintu apartemen Daniel Chang dengan tangan gemetar. Dia menarik napasnya dalam. Berusaha untuk tidak meneteskan airmata. Setidaknya di depan Daniel Chang, dia harus mampu tersenyum. Dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
__ADS_1
Daniel Chang membuka pintu. Pria itu sangat berantakan. Wajahnya sangat kusut dengan lingkaran hitam di kelopak matanya. Brewok dan jambang memenuhi sekitar bibirnya. Sejak mengetahui kebenaran tentang dia dan Xiao Ling, dia sama sekali tak mengurus dirinya. Dia tak bisa tidur. Hanya minum yang dia lakukan. Berharap alkohol bisa menyembuhkan sakit hatinya. Memang benar, saat mabuk, sejenak dia melupakan segalanya. Tapi rasa sakit itu muncul kembali ketika dia sudah sadar dari mabuknya.
“Apa kabar Daniel?” Tanpa dijawab pun Xiao Ling bisa melihat sendiri keadaan pria di hadapannya.
Daniel Chang memaksakan senyuman. “Aku baik. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik.”
Kebohongan keduanya terlihat jelas. Meski ditutupi oleh senyuman. Tingkah keduanya pun sangat canggung. Hubungan mereka tak mungkin kembali seperti dulu, saat kebenaran antara mereka belum terungkap.
“Aku dengar mamaku menemuimu.”
Xiao Ling mengangguk. “Dia sudah menjawab semua pertanyaanku” Ucapnya dengan menunduk. Tak ingin menatap lawan bicaranya. “Aku juga bertemu dengan Papamu. Mereka memintaku untuk tinggal bersama mereka.”
“Apa jawabanmu?”
“Aku tidak bisa. Aku tak pernah berniat menjadi anggota keluarganya. Aku akan kembali kepada keluargaku. Aku menemuimu untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Xiao Ling mengulurkan tangannya. Ini akan menjadi jabat tangan terakhir. Dia tidak akan pernah bertemu dengan Daniel Chang lagi.
Daniel Chang ragu sesaat untuk menerima uluran tangan Xiao Ling. Dia takut tidak bisa menguasai perasaannya dan memeluk gadis itu. Namun akhirnya, dia menjabat tangan Xiao Ling dengan tatapan yang bergetar.
“Kau juga.” Daniel Chang memandang Xiao Ling. Gadis itu tetap menunduk. “Kapan kau pergi?”
“Besok.”
“Maaf aku tak bisa mengantarmu.”
“Tidak apa-apa.” Xiao Ling akhirnya mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Aku kembali ke kamar sekarang. Sekali lagi selamat tinggal.”
“Iya.” Daniel Chang langsung menutup pintu apartemennya. Dia tak bisa lebih lama berhadapan dengan Xiao Ling.
Xiao Ling masih berdiri mematung di depan apartemen Daniel Chang. Airmatanya mulai menetes. Dia berjongkok dan memegang dadanya. Terasa sangat sakit disana. Selama ini, dia memandang Daniel Chang sebagai seorang pria. Sangat sulit baginya untuk merelakan pria itu seperti ini.
Daniel Chang berdiri di balik pintu. Dia tahu jika Xiao Ling masih disana. Dia juga tahu kalau gadis itu menangis. Dia pun sama sakitnya. Tapi hubungan mereka harus benar-benar berakhir sekarang. Taka da jalan lain bagi mereka kecuali berpisah dan mengubur perasaan masing-masing.
***
__ADS_1
Xiao Ling duduk di ruang tunggu keberangkatan. Pesawatnya akan tinggal landas satu jam lagi. dia masih punya waktu untuk menghubungi keluarganya di Guangzhou. Dia menekan nomer rumah di ponselnya.
“Ni hao” Suara Shi Yen Xing terdengar dari seberang.
“Mama..”
“Iya, Ling’er. Ada apa? Kau baik-baik saja?”
“Iya Ma. Bagaimana dengan keluarga disana?”
“Semua baik-baik saja.”
Xiao Ling menghela napas. “Mama, aku akan pulang.”
“Kapan?” Suara Shi Yen Xing terdengar bahagia.
“Hari ini. Aku sedang menunggu pesawat.”
“Baiklah. Nanti Mama jemput di bandara.”
“Iya Ma.” Air mata Xiao Ling mulai menetes. “Aku rindu keluarga disana.”
Shi Yen Xing menyadari suara Xiao Ling yang bergetar dan terdengar parau. “Ada apa Ling’er? Kau menangis?”
Xiao Ling menghapus air matanya. Menarik napas panjang, untuk meredam isaknya. “Tidak. Hanya saja disini dingin. Tiba-tiba hidungku berair.”
“Pakai pakaian yang tebal dan hangat. Jangan sampai terserang flu.”
“Iya. Mama aku harus masuk ke pesawat. Aku tutup teleponnya.”
“Ling’er…”
“Iya Ma. Ada apa?”
Shi Yen Xing diam sesaat, ragu. “Tidak. Kau
hati-hati. Mama tunggu di rumah.”
__ADS_1
“Iya Ma.”
Xiao Ling menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tak ingin orang lain melihatnya sedang menangis. Sebentar saja, dia hanya ingin meluapkan sesak di dadanya. Dia ingin menghabiskan tangisnya disini. Meninggalkan semua rasa sakit hatinya. Meninggalkan semua kenangan, baik yang membuatnya bahagia ataupun yang menyedihkan. Sehingga dia bisa pulang dengan perasaan lega. Bisa menjalani hidupnya dengan lembaran yang baru.